Pendekar Hitam

Pendekar Hitam
# Kalah Sebelum Perang


Chuan telah membagi para prajurit khusus menjadi lima kelompok. Tiga kelompok ditugaskan mencari informasi dan keberadaan orang orang itu. Dua kelompok lain diminta untuk menyiapkan titik penyergapan didua jalur keluar dari kota tersebut.


Malam terus merambat dan pagipun menyambutnya. Dibagian depan sebuah kedai kecil dipinggiran kota, Chuan telah asyik dengan guci arak ditangannya. Dua orang terlihat mendatanginya.


"dua kelompok langsung menuju arah ibukota, dan yang satunya mengambil jalur lain karena saudagar yang dikawalnya hendak singgah dibeberapa kota" ucap salah satu orang tersebut pelan.


"berapa pendekar suci diantara mereka" tanya Chuan.


"tiga pendekar suci, mereka dalam dua kelompok yang langsung kearah ibukota" jawabnya.


"baik,,, satu kelompok menyergap dijalur lain, sedang empat kelompok menyergap dijalur yang langsung keibukota" ucap Chuan.


"siap" jawab keduanya.


"habisi mereka, namun lepaskan saudagar tersebut" ucap Chuan.


"baik" jawab keduanya


"setelah selesai langsung kembali ke ibukota" lanjut Chuan.


"siap" balas mereka lalu pergi meninggalkan Chuan.


Setelah keduanya pergi, Chuan juga beranjak keluar dari kedai tersebut.


"mereka pasti mampu menyelesaikannya" batin Chuan dan langsung melesat menuju arah ibukota.


Waktu terus bergulir, dan hari pun berganti. Chuan dan istrinya ditemani Rouyan. Ketiganya sedang berbincang santai.


Rencana yang buat, telah sukses dilaksanakan. Dalam beberapa hari ini, terlihat keresahan klan tang dan chao. Para penatua dan tetua kedua klan, keluar masuk rumah patriaknya.


Gudang harta yang terkuras, serta beberapa penjaga juga terbunuh. Membuat para petinggi kedua klan kehilangan arah untuk mencari siapa pelakunya.


Disebuah aula besar milik klan chao. Dua patriak dan tetuanya sedang berkumpul.


"bangs**,,, tak ada jejak siapa pelakunya" ucap Patriak Tang


"sepertinya pihak kekaisaran yang melakukannya" ucap seorang tetua klan chao.


Kecurigaan mereka tertuju pada pihak Khaisar Jing. Namun hingga saat ini tak ada seorang pun dari sisi keduanya yang melaporkan adanya pergerakan dari istana kekaisaran.


"bagaimana dengan istana Putri Meilin"


"tak ada yang mencurigakan" jelas tetua klan tang yang baru berkunjung ketempat tersebut.


Putri Meilin tetap menerima kunjungan siapapun dengan ditemani seorang pria paruh baya. Sedang Chuan masih dalam kultivasi tertutup.


Pendapat demi pendapat terlontar dengan kekesalan dalam kebuntuan mereka.


Hari berganti minggu. Klan chao dan klan tang semakin terlihat keterpurukannya. Para pejabat kekaisaran yang berasal dari kedua klan mulai menunjukkan sifat aslinya.


Para tetua yang sebelumnya terlihat diam dengan kepemimpinan patriak klan, kini terlihat bersaing mencari pengaruh diklan masing masing.


Beberapa properti dan bidang usaha mulai dilelang oleh kedua patriak klan. Membuat pamor keduanya menurun. Bahkan keluarga patriak klan chao, ada yang meminta perlindungan dari sekte pedang naga.


Perpecahan dalam tubuh kedua klan besar tersebut membuat kedamaian dikota doucan cukup terganggu. Para petinggi dikedua klan mendatangi istana Kaisar Jing.


Di aula pertemuan, mereka diterima oleh Kaisar Jing. Meskipun bersikap hormat dan seakan tunduk pada kaisar. Para petinggi kedua klan tak dapat menyembunyikan kekesalan pada raut wajah mereka.


"ada apa patriak, penatua, tetua dan para senior klan chao dan tang menghadap pada yang mulia ayahhanda kaisar" tanya Chuan mulai memecah suasana dalam pertemuan tersebut.


"maafkan kedatangan kami mengganggu ketentraman yang mulia" ucap patriak klan tang. Dia mewakili yang lain untuk menanyakan sikap diam pihak istana tentang masalah yang mereka hadapi.


Manis dan indah untaian kata terucap. Dia juga mengungkit jasa kedua klan pada kekaisaran. Selain itu, terdapat juga beberapa yang menambahkan kata kata agar Kaisar Jing bertindak membantu mereka.


"apa yang kalian inginkan" tanya Jenderal Erlong sebelum Kaisar Jing memberikan tanggapannya.


"bantu kami dalam menstabilkan kondisi klan dan minta keringanan pajak yang harus kami serahkan dalam tiga bulan lagi, mohon keadilan dari yang mulia" ucap Patriak Chao.


"hemmmm,,,," guman Chuan terdengar. Bersamaan itu telihat Kaisar Jing menyunggingkan senyumannya.


"saat kalian mencanangkan ambisi besar dan perencanaan yang matang kami diam, begitupun saat pergerakan tersebut berantakan, kami juga tetap diam" lanjut Chuan.


"dimana salah dan tidak adilnya akan sikap kami" tanya Chuan tegas.


"apa maksud Tuan Muda Chuan" tanya balik Patriak Tang.


"apa aku harus membongkar segala perbuatan kalian" balas Chuan.


Tanpa berbelit belit Chuan mengeluarkan surat yang diperoleh pasukan khususnya saat membinasakan bantuan untuk klan tang. Surat pengantar tersebut berisi dukungan dan perjanjian keuntungan yang akan diterima kedua belah pihak.


Setelah membaca surat tersebut, para petinggi dan patriak kedua klan terdiam. Suasana yang sesaat gaduh, kini sunyi senyap. Kaisar Jing dan pejabat yang hadir hanya tersenyum melihat situasinya berubah dengan cepat.


Kesunyian pecah saat seorang prajurit jaga memasuki aula pertemuan.


"Jenderal Han Cun dari Kekaisaran Han dibenua timur ingin menghadap, Yang Mulia" ucapnya sambil terus menghormat pada Kaisar Jing.


"baik, persilahkan dia masuk" jawab Kaisar Jing.


Tak lama sepeninggalan prajurit tersebut. Terlihat serombongan orang memasuki aula pertemuan.


"salam yang mulia kaisar, Han Cun menyampaikan salam dari Kaisar Han" ucap Han Cun berpakaian lengkap.


"salam jenderal, silahkan duduk" balas Kaisar Jing sambil menunjuk sisi kanannya yang sudah dikosongkan untuk menerima kedatangan tersebut.


Sebelum Han Cun dan yang lain duduk, Chuan menghampirinya.


"salam saudara Chuan" ucap Han Cun.


"salam paman, lama tak bertemu" balas Chuan.


"ini pesananmu" ucap Han Cun sambil menyerahkan bungkusan kain hitam.


"ini,,,," ucap Chuan terhenti melihat isi bungkusan tersebut.


"dia Chao Liin, komandan tertinggi dari pasukan keamanan klan chao" ucap Han Cun menjelaskan kepala yang diserahkan pada Chuan.


Dia membawa lima ratus lebih prajurit tahap langit saat hendak melintas perbatasan. Mereka semua tewas dalam insiden tersebut.


"terima kasih, atas bantuannya" ucap Chuan.


"silahkan paman dan yang lain duduk dulu" ucap Chuan.


"kalian mau bilang apa sekarang" lanjut Chuan sambil melempar kepala Chao Liin pada Patriak Chao.


"kami,,,,"


"kami,,,," ucapan kedua patriak tercekat.


"aku mengampuni kalian untuk saat ini" ucap Ksisar Jing. Semua pejabat dan komandan prajurit dari kedua klan harus diperiksa. Jika ada penyelewengan langsung lepas jabatannya. Bagi yang bersih, turunkan satu tingkat sebagai hukuman dari perbuatan klan mereka.


Titah sang kaisar segera tertuang dalam kesempatan tersebut. Jenderal Erlong dan penasehat kaisar diberi mandat penuh dalam mengaturnya. Selanjutnya Kaisar Jing mengajak Jenderal Cun dan yang lain menuju ruang pejamuan.


Dalam ruang pejamuan, mereka duduk mengelilingi meja. Suasana santai dan persahabatan tercipta dari bincang bincang mereka. Sepucuk surat yang berisi harapan, untuk semakin mempererat kerjasama antar dua kekaisaran diserahkan oleh Han Cun.


Kaisar Jing tak keberatan dengan hal tersebut. Dia juga akan mengirimkan utusannya untuk berkunjung.


"jenderal sudah saling kenal dengan Chuan" tanya Kaisar Jing


"hahaha,,, dulu ada seorang jenderal muda yang begitu segan dengan seorang anak kecil" jelas Han Cun. Sang jenderal itu sedang berbicara saat ini, dan anak yang dimaksud ada disamping Kaisar Jing.


"untung, saat itu aku tidak bersikap arogan dengannya" lanjut Han Cun. Jika itu yang terjadi, bagaimana mukanya akan ditegakkan saat bertemu lagi dengan Chuan.


"hahaha,,,, akupun sampai saat ini masih terus terkejut dengan identitas menantuku ini" balas Kaisar Jing.


"hemmmm,, memang tak ada yang menarik dariku" bela Chuan.


Dengan santai dia membeberkan garis besar dari identitasnya.