Pendekar Hitam

Pendekar Hitam
# Bebas


Disaat ketiganya berbincang bincang, beberapa kali anak anak menyelesaikan putarannya.


"nenek dan tetua, apa bisa aku minta tolong" ucap Chuan. "hahaha, tak perlu sungkan" ucap Tetua Lifan.


"carikan kuda buat mereka" ucap Chuan sambil menyerahkan kantong berisi koin emas.


"berapa" tanya Tetua Lifan.


"seadanya dulu, cari kuda yang masih muda" jelas Chuan. "baik, kami berangkat dulu" ucap tetua sambil mengajak Nenek Hong.


"hati hati, jangan enak enak berduaan jadi lupa pulang nek" goda Chuan.


"usil" guman Nenek Hong sambil terus berlalu.


"whahaha" tawa Chuan keras.


Sinar matahari terasa menyengat, dan peluh anak anak sudah membasahi pakaian mereka. Bibi Fei dan anak anak telah berkumpul didepan Chuan. Semuanya mulai meditasi, agar energi dan nafas mereka stabil.


Chuan hanya tersenyum melihat semangat mereka semakin hari kian bertambah besar. Penampilan mereka tetap sederhana. Sifat rendah hati juga terus dipupuk dihati mereka.


Saat ini mereka belum pernah latih tanding dengan pihak luar. Keseriusan saat latih tanding diantara mereka tak bisa diabaikan. Bahkan memar dan luka ringan sering terjadi pada mereka.


Bukannya rasa takut, malah senang karena saat terluka akan menerima obat obatan yang sangat berguna bagi peningkatan mereka.


Dua bulan ini, mereka sudah bisa mengabaikan rasa sakit saat terluka. Kecepatan dan reflek dalam mengantisipasi gerakan lawannya meningkat cepat. Rutinitas yang biasanya menjemukan tetapi tidak dihati anak anak ini.


Sore menjelang saatnya mereka kembali kerumah. Tetua Lifan dan Nenek Hong sedang sibuk disamping rumah. Sisa lahan mereka beri pagar keliling, untuk tempat kuda yang baru mereka beli.


"kak, itu kuda siapa" tanya Xue saat melihat dua belas ekor kuda baru disamping rumah.


"itu untuk bersama, jadi bukan milik siapa atau untuk siapa" ucap Chuan. Dia ingin agar anak anak terus menanamkan rasa berbagi diantara mereka.


"iya kak" ucap mereka kegirangan.


Mereka minta waktu dua sampai tiga bulan, sebab kuda yang masih muda sedikit sulit untuk mendapatkanya. "terima kasih" ucap Chuan setelah menerima penjelasan tetua lifan.


Kemudian Chuan dan tetua meneruskan membuat pagar, dibantu beberapa anak laki laki. Sedang yang lain sibuk dengan aktifitasnya.


Senja berlalu dan malampun datang. Sebelum berkultivasi, mereka belajar berkuda. Jumlah kuda yang bertambah banyak, membuat mereka bersuka ria. Rasa persaudaraan yang lekat dihati mereka seakan tak ada perselisihan yang terjadi.


Lima hari berlalu, sore ini Chu Guan datang lagi. Mereka memberitahu kalau tetua dan lima muridnya sudah keluar dan sekarang ada dipenginapan yang pernah Chuan tempati.


Rencananya nanti malam akan diantarkan ketempat chuan. Dan juga tentang syarat yang chuan ajukan diterima oleh beberapa penatua klan chu. Mereka minta besok untuk mulai pengobatan, sebab kondisi yang terus menurun.


"baik paman, besok aku akan ketempat mereka" ucap Chuan saat penjelasan Chu Guan habis. Malam ini anak anak hanya berkultivasi sebentar dihalaman, semuanya sedang menunggu Tetua Tian dan yang lain datang.


Dengan memakai tandu sederhana tetua tian diangkat muridnya sampai ditempat mereka. Raut suka cita terpancar diwajah Tetua Tian dan yang lain.


Saat hendak didudukkan dikursi dia menolak, dan ingin duduk dilantai bersama sama. Suasana akrab cepat terjalin diantara mereka. Sikap anak anak yang terbuka dan menghormati orang tua, membuat Tetua Tian dan yang lain serasa mendapatkan semangatnya lagi.


Malam semakin larut, nenek dan Bibi Fei menyuruh anak anak untuk segera tidur.


"beberapa waktu ini kalian selalu sibuk dengan latihan dan meditasi, tapi malam ini nikmati tidur kalian" ucap Nenek Hong.


"iya nek" jawab mereka lalu berhamburan menuju kamar.


"Chuan" ucap Tetua Tian.


"iya guru" jawab Chuan.


"tak tahu dari mana aku mulai bertanya, yang pasti ada rasa penasaran yang besar terhadapmu" ucap Tetua Tian. Didepan tiga tetua, lima murid sekte, nenek dan Bibi Fei, chuan lalu bercerita.


Masa lalu dia ceritakan ringkas. Tugas untuk membantu sekte pasir putih apapun yang terjadi dan bagaimanapun caranya.