
Lou Sin, istrrinya dan dua pelayan menghampiri Chuan dan Rouyan.
"kog sepi paman" tanya Chuan
"biasalah, kita bisa bertahan itu sudah cukup" balas Lou Sin
"adakah yang bisa memasak daging" tanya Chuan
"meskipun penginapan kecil, mereka berdua ahli untuk itu" jawab Lou Sin membanggakan dua karyawannya.
"tolong dimasak" ucap Chuan dan dari cincinnya, dia mengeluarkan harimau tingkat satu yang sudah dibunuhnya.
"haaahhhh,, haaa,,, harimau" teriak keempat orang itu sambil melompat mundur
"hahaha" tawa Chuan dan Rouyan terdengar melihat tingkah mereka.
"kepala dan kulitnya bisa kalian jual" lanjut Chuan.
"baik, silahkan tuan berdua duduk dulu" balas Lou Sin dengan senang. Mereka bertiga kemudian membawa harimau itu kebelakang.
"dimasak apa" ucap istri Lou Sin
"dipanggang saja" jawab Chuan
"baik" ucapnya dan segera berlalu untuk membantu di dapur.
Chuan dan Rouyan saling pandang lalu keduanya tersenyum, melihat raut bahagia diwajah keempat orang itu. Suara alat dapur yang sedikit berisik terdengar. Canda tawa mereka juga terdengar renyah.
Lou Sin terlihat berlari keluar sambil membawa bungkusan besar. Sedang istrinya muncul lagi sambil membawakan dua guci arak.
Setelah satu jam berlalu, tiga orang muncul dengan nampan besar berisi daging panggang.
"ayo makan bersama" ajak Chuan saat mereka hendak pergi.
"masih ada sisa didalam" ucap istri Lou Sin
"tak apa, sebanyak ini kami berdua tidak habis" ucap Chuan
"baiklah" jawabnya
Kelima orang duduk mengelilingi meja sambil menikmati daging panggang. Tak lama Lou Sin datang dengan wajah berbinar. Lalu menyerahkan 500 koin perak untuk penjualan kepala dan kulit harimau.
Menurut pembelinya, mustika kecil sudah terbentuk yang menjadikan kepala harimau itu berharga. Saat Chuan menolak uang itu, raut Lou Sin kebingungan.
Chuan akhirnya mengambil 100 dan meminta sisanya untuk dibagi mereka berempat. Raut wajah keempatnya berbinar, bulir bulir air mata terlihat jatuh dari sudut mata mereka.
"hahaha, sudahlah mari kita nikmati hidangan ini dulu" tawa Chuan terdengar.
"terima kasih tuan" ucap Lou Sin sambil menyeka air matanya. Lama kelamaan suasana canggung berubah. Semua orang menjadi terbuka pada Chuan.
Lou Sin memberi kedua karyawannya masing masing 100 koin. Keduanya sudah dianggap seperti keluarga bagi suami istri itu. Ketika Lou Sin terpuruk, cuma mereka berdua yang tetap bertahan. Dengan koin yang mereka terima, itu akan meringankan beban mereka dalam beberapa tahun kedepan.
"berhematlah dan tetaplah semangat dalam bekerja" ucap Chuan. Disambut anggukan dan senyuman mereka. Setelah membereskan bekas makan mereka, keduanya datang lagi dengan beberapa guci arak.
Semua orang tetap bercengkrama, bahkan Lou Sin membebaskan seandainya besok keduanya mau libur. Meskipun besok mereka terkantuk kantuk, namun tetap minta penginapan buka seperti biasa.
Malam berganti pagi, sedangkan keempat orang itu tak terasa lelah karena kebahagiaan hadir dihatinya. Saat Chuan berpamitan, keempatnya melepas didepan penginapan mereka.
Keduanya lalu melesat kearah istana kaisar. Saat melewati pemeriksaan, komandan prajurit mengetahui identitas Chuan. Dia lalu mendatangi dan mempersilahkannya masuk tanpa pemeriksaan.
Tanpa menunda Chuan langsung menuju tempat perawatan pangeran. Didalam terlihat permaisuri, putrinya dan Tabib Ho sudah ditempat itu. Senyum ketiganya terkembang saat melihat Chuan dan Rouyan. Menurut Tabib Ho, mereka bertigalah yang terus memantau kondisi pangeran.
Setelah berbincang sebentar, Chuan lalu berdiri didepan pangeran. Saat ini sudah lima hari pangeran berkultivasi dan masih belum terbangun. Keadaannya sudah tidak pucat lagi. Gurat cerah dan kewibawaan mulai terpancar. Energi didalam tubuh sepenuhnya sudah stabil.
"dia sudah masuk ditahap suci awal tingkat satu" batin Chuan sambil tersenyum. Kemudian Chuan kembali bergabung dengan yang lain. Dan mulai berbincang ringan. Siang hampir berlalu dan senja menyambut.
"hahaha, aku benar benar sembuh" terdengar tawa pangeran. Sang adik langsung melompat dan berlari memeluknya sambil menangis. Suasana haru menyelimuti tempat itu, terlebih lagi saa
Saat permaisuri berkumpul diantara mereka. Air mata kebahagiaan benar benar tumpah. Kesedihan dan keputusasaan yang membelenggu mereka teruraikan hari ini.
Ketika sudah menenangkan diri ketiganya menghampiri Chuan dan ucapan terima kasih yang tulus keluar dari bibir ketiganya. Lalu mengajak untuk menghadap Kaisar Jing.
Keluarnya sang putra mahkota membuat suasana menjadi riuh. Ucapan selamat dari para prajurit yang selama ini menjaga diluar terdengar menggema. Banyak juga pelayan istana yang keluar untuk memberikan ucapan dengan membungkuk hormat padanya.
Setelah membalas hormat mereka, permaisuri mengajak untuk bergegas masuk istana. Dan langsung menuju aula. Para penatua dan para pejabat sedang berkumpul juga diaula. Melihat kedatangan pangeran, terlihat senyum cerah diwajah kaisar. Ucapan selamat menggema ditempat itu yang diteriakkan oleh semua orang.
Chuan dan yang lain dipersilahkan untuk duduk didepan sebelah kanan kaisar. Ada empat kursi kosong yang ternyata sudah disiapkan.
Suasana perlahan tenang kembali, lalu Kaisar Jing mulai berbicara dengan lantang. Ungkapan kebahagian terpancar dari tiap kata. Ugkapan kata hadiah diganti dengan penghargaan.
Kaisar juga menjelaskan dalam mengobati pangeran, Chuan banyak mengeluarkan bahan langka dan berharga secara pribadi. Jika mengucapkan hadiah itu tak sebanding dengan penjuangan Chuan.
Tepukan tangan kaisar terdengar dan keluar prajurit yang membawa sebuah peti. Didepannya seorang wanita membawa nampan dengan token giok diatasnya. Kaisar lalu menyampaikan, mulai hari ini Chuan diangkatnya menjadi pejabat khusus.
Pangeran berdiri dan berjalan mendekati Chuan.
"selamat saudaraku" ucapnya sambil menyerahkan token giok dengan llambang kekaisaran bertuliskan pejabat khusus CHUAN.
"terima kasih" ucap Chuan sambil tersenyum.
Namun raut tenang Chuan sudah berganti dengan ketertegunan yang membuatnya sedikit bingung. Walau sebentar, kaisar juga mengetahui prrubahan diraut wajahnya.
"dibenua ini semua pejabat dan para patriak klan tak akan berani mengabaikanmu" ucap Kaisar Jing sambil tersenyum.
"terima kasih" ucap Chuan sambil membungkukkan badan
"ada kenang kenangan dariku secara pribadu dipeti itu" ucap Kaisar Jing
"ambil dan tak perlu dibuka disini" lanjutnya
"terima kasih" ucap Chuan sambil menyapukan tangannya sehingga peti tersebut hilang karena masuk kecincin naganya.
"selanjutnya, silahkan memasuki gedung harta karun kekaisaran, didalamnya kau bisa mengambil satu item yang kau suka" ucap Kaisar.
"biarlah lain waktu, saat ini kami berdua hendak melanjutkan perjalanan" ucap Chuan menolak halus. Dia berpikir, nanti saat benar benar memerlukan hal yang penting, dia akan mencoba keberuntungan ditempat tersebut.
"hahaha biar muka jelek, ternyata kau tahu diri juga" hardik seorang penatua kekaisaran. Kelihatan dari ucapan tersebut, ada kekesalan dari keberhasilan Chuan. Kegaduhan tercipta juga setelahnya, namun segera reda.
"keluar" teriak Kaisar Jing menatap orang itu
"serahkan token penasihat dan mulai hari ini, tinggalkan komplek istana" lanjut Kaisar tegas
"maaf yang mulia" ucap penatua tersebut sambil sujud.
"Penatua Liu, ambil tokennya dan antar keluar" ucap kaisar mengabaikan orang tersebut dan menyuruh penatua lain yang ada disebelahnya.
Setelah kejadian tersebut suasana hening tercipta. Saat token sudah diserahkan dan Penatua Liu mengantar orang itu keluar, Kaisar Jing lalu membubarkan pertemuan.
Kaisar dan keluarganya mengajak Chuan dan yang lain keruang pejamuan. Suasana terlihat lebih santai ditempat ini. Kaisar juga menyampaikan kalau para tetua sudah kembali kesekte. Sedang lima puluh prajurit dibawah Komandan Xhuan dibawa kesekte.
"Tetua Chuan" ucap permaisuri
"Yang Mulia bisa memanggil Chuan saja" jawab Chuan
"baiklah" ucap permaisuri sambil tersenyum.
Putri Jing Meilin pernah berjanji bahwa siapapun yang menyembuhkan kakaknya, jika dia wanita maka akan jadi saudaranya namun jika laki laki dia siap menjadi istrinya.
"whahahaha" tawa Chuan terdengar mendengar penjelasan permaisuri.