Pacaran Setelah Menikah

Pacaran Setelah Menikah
Bab 99


Arnon dan Melati sudah berada di depan rumah Hadi. Suasana di rumah itu nampak sepi bagai rumah yang tak berpenghuni.


Melati melangkah ke arah pintu rumah tersebut dan menekan bel rumahnya.


Ting tong


Berkali-kali Melati membunyikan bel rumah ayahnya, namun tak ada orang yang membuka pintunya.


Gadis itu menatap ke arah Arnon. Pria itu menganggukan kepalanya.


Melati memberanikan diri membuka pintu dan ternyata pintu rumah tersebut tak di kunci.


Gadis itu mencoba melihat situasi di dalam. Rumah itu memang sepi tak ada satu orangpun di sana.


Melati melangkah masuk menuju ruang tamu diikuti oleh suaminya.


Arnon menghentikan langkahnya saat berada di ruang tamu. Pria itu tak mengekor Melati yang berjalan menuju kamar Agnez.


Tok tok tok


Ceklek


Agnez terkejut saat melihat wajah Melati.


"Melati?"


"Iya, Kak! ini aku."


Agnez langsung bersujud di kaki Melati dengan air mata yang mulai mengucur deras.


"Maafkan, Mama! dia memang sudah kelewatan, Mel! aku tidak tahu jika Mama dan Kak Erick akan berbuat hal seburuk itu padamu."


Melati menarik bahu Agnez untuk berdiri. "Bangunlah, Kak! aku tahu kakak tak terlibat dalam masalah ini."


"Tidak, Mel! mama sudah menghancurka masa depan rumah tanggamu dan Arnon! dia tega menjualmu pada, Kak Erick! hanya demi uang," ujar Agnez mulai menitikkan air matanya.


"Aku tak pernah tidur dengan, Kak Erick! karena kemarin suamiku lebih dulu datang menyelamatkan aku, jadi kakak tak perlu cemas."


Perasaan Agnez lega saat mendengar ternyata rencana ibunya itu gagal.


Agnez memeluk tubuh Melati erat dan penuh kasih sayang.


"Maafkan aku, Mel! mungkin kejadian buruk yang menimpaku adalah balasan dari yang kuasa karena selama ini, aku tak bersikap baik padamu! aku selalu iri padamu karena papa lebih perhatian pada dirimu daripada aku."


Agnez mengucurkan air matanya lebih deras lagi, sementara Melati mengusap lembut punggung kakak tirinya.


"Aku tahu, sebenarnya kakak itu bukan orang yang jahat dan aku juga tahu, jika selama ini yang aku temui selama bertahun-tahun bukanlah sifat asli, Kak Agnez! karena sifat kakak yang aku kenal adalah menyayangi adiknya, bahkan sangat menyayangi adik tirinya."


Suara tangis Agnez semakin terdengar. Ia sungguh bodoh selama ini sudah termakan hasutan dari ibunya sendiri. Agnez merasa kesalahannya pada Melati sungguh sudah menggunung. Ia tak tahu harus meminta maaf bagaimana pada adik tirinya itu.


"Kesalahanku padamu sudah tak terhitung, Mel! harus dengan cara apa aku meminta maaf padamu?" ujar Agnez sambil sesenggukan.


Melati menatap wajah Kakak tirinya yang sudah bengkak karena terlalu lama menangis.


"Cukup Kakak menjadi wanita yang baik dan sayang pada adiknya, itu semua sudah cukup bagiku, Kak!"


Agnez kembali menitikkan air matanya. Ia kembali memeluk adik tirinya dengan isak tangis yang masih mendera.


"Terimakasih, Mel! jika aku menjadi dirimu ... mungkin aku tak dapat melakukan ini semua," ucap Agnez yang sangat merasa bersalah pada Melati.


"Iya, Kak! aku sudah memaafkanmu dan Kakak harus berhenti menangis," bujuk Melati agar Agnez berhenti menangis.


Agnez perlahan menghentikan tangisannya dan mereka berdua sama-sama tersenyum.


Arnon masih setia menunggu istrinya di ruang tamu. Pria itu melihat foto kecil Melati yang nampak sangat lucu.


Arnon tersenyum membayangkan jika nanti anak mereka perempuan, pasti akan secantik dan semanis ibunya.


Saat sedang asyik berkhayal, suara orang mengagetkannya.


"Maaf, Pak! saya dari kepolisian! bisa saya bertemu dengan ibu Anggi?"


"Saya bukan pemilik rumah ini, Pak! saya hanya tamu," sahut Arnon.


Tepat saat itu pula, Agnez dan Melati keluar dari kamar.


Kedua wanita itu nampak terkejut melihat dua orang berpakaian seragam polisi datang kerumahnya.


"Maaf, Pak! ada apa ya?" tanya Agnez yang mendekati kedua polisi tersebut.


"Apa ibu Anggi ada di rumah?"


"Ada, Pak! memang ada apa ya?" tanya Agnez yang mulai cemas.


"Kami dari kepolisian akan membawa ibu Anggi untuk di periksa lebih lanjut atas tuduhan tindakan penjebakan terhadap saudari, Melati!"


Agnez sejujurnya sangat tak rela jika ibunya di bawa oleh kedua polisi itu, namun demi membuat ibunya jera, ia akan memberitahu dimana ibunya berada.


"Ibu saya ada di kamarnya, Pak! kamarnya di sana." Agnez menunjukkan arah kamar ibunya.


Kedua polisi tersebut berjalan ke arah kamar Agnez.


Tok tok tok


Pintu masih tertutup rapat tak ada tanda-tanda hendak di buka.


Tok tok tok


Ceklek


Wajah Anggi memucat melihat dua orang berseragam polisi mengetuk pintu kamarnya.


"A-ada apa ya, Pak?"


"Anda harus ikut dengan kami ke kantor polisi atas tuduhan penjebakan terhadap saudari, Melati! ini surat penangkapannya."


Polisi itu memberikan bukti surat penangkapan pada Anggi.


Tangan Anggi gemetar saat hendak menerima surat penangkapannya.


Wanita paruh baya tersebut membaca surat yang ada di tangannya.


"Saya tidak bersalah, Pak! ini semua ide, Erick! saya tidak bersalah."


"Jangan jelaskan di sini! Anda jelaskan di kantor polisi saja."


Kedua polisi itu mulai melakukan tugasnya. Yang satunya mengunci tangan Anggi dan yang satunya lagi bertugas untuk memborgol.


"Saya tidak salah, Pak!" Anggi mulai berontak pada kedua polisi itu.


"Jelaskan di kantor saja."


Anggi di bawa oleh kedua polisi tersebut. Saat melewati Melati dan Agnez, suara Anggi kembali terdengar.


"Agnez! tolong, Mama! Mama tak salah, Nak!"


"Ikuti saja peraturan yang sudah ada, Ma! Mama harus mempertanggung jawabkan perbuatan, Mama!"


"Agnez! tolong! Mama tak mau mendekam dalam penjara!"


Suara teriakan Anggi terus terdengar sampai lama kelamaan suara itu mulai menjauh dan menghilang.


Agnez terduduk lemas di lantai. Ia sungguh tak bisa melakukan apa-apa untuk membantu ibunya.


"Maafkan aku, Ma! aku tak ingin membuatmu menjadi orang yang lebih jahat lagi! aku ingin kau introspeksi diri."


Melati memeluk tubuh Kakak tirinya yang bergetar hebat menahan tangisannya.


"Tindakan kakak sudah benar! Kakak tak perlu cemas karena mama pasti akan baik-baik saja di sana," bujuk Melati agar Agnez tak menyalahkan dirinya sendiri.


Agnez hanya mengangguk tanpa berkata apa-apa lagi.


Arnon melihat semua pemandangan yang ada di depannya dengan perasaan lega karena satu wanita yang selalu jahat pada istrinya kini mulai sadar akan tindakannya selama ini.


"Semoga ini menjadi awal kebahagiaan keluarga kita, Sayang," batin Arnon menatap ke arah istrinya dan gadis itu juga tengah menatap suaminya.


Keduanya saling melempar senyum, namun mata Arnon cukup nakal. Pria itu mengedipkan sebelah matanya menggoda Melati dan gadis itu memberikan isyarat dengan sebuah kecupan jarak jauh.


Melati sudah berada di ruang tamu rumah Hadi. Gadis itu menghampiri suaminya saat gadis itu sudah mengantarkan Agnez ke kamarnya untuk beristirahat.


"Sayang! apa kau lelah?" tanya Melati duduk di samping Arnon.


"Sedikit."


"Kalau begitu, kau istirahat saja dulu dan aku akan memasak makan siang untuk kalian semua," ujar Melati pada suaminya.


Arnon mengecup kening Melati kemudian pria itu berlalu menuju lantai dua dimana kamarnya berada.


Melati tersenyum bahagia sembari melangkahkan kakinya menuju arah dapur.


Saat membuka lemari pendingin, tak ada bahan makanan apapun di sana.


"Ya ampun! kenapa tak ada sayur seikat pun di sini? huh, kali ini aku harus meminta bantuan, Asisten Pram!"


Melati mengambil ponselnya yang berada dalam saku celananya. Gadis itu melihat daftar kontak pada ponselnya.


Cukup gampang mencari nomor kontak Pram, karena hanya ada 3 daftar kontak yang terdaftar di ponselnya.


Yang pertama, kontak ayahnya. Yang kedua, kontak suaminya, dan yang ketiga, kontak Pram dengan nama kontak "Om Jin".


Melati ingin sekali tertawa melihat nama Pram yang tercantum pada ponselnya. Itu semua sudah pasti ulah Arnon.


Melati menekan tombol panggil pada ponselnya.


"Halo!"


"Ini aku, Melati!"


"Iya, Nona! ada apa?"


"Boleh aku meminta tolong padamu?"


"Tentu saja, Nona!"


"Belikan aku semua kebutuhan dapur mulai dari sayur, ikan, daging, telur, buah, dan lainnya." pinta Melati.


"Baik, Nona! 10 menit lagi, saya sampai!"


Pram memutuskan panggilan terlebih dulu.


Melati masih diam tercengang dengan ucapan Pram tadi.


"10 menit? sudah sampai? apa dia sungguh Om jin? mana ada orang berbelanja kebutuhan dapur secara lengkap hanya butuh waktu 10 menit?"


Pertanyaan mulai memenuhi tiap sudut otak Melati. Gadis itu masih tak percaya dengan Pram yang akan sampai tepat waktu dalam 10 menit.


Melati iseng menyalakan stopwatch agar ia tahu perkataan Pram ini sungguh bisa di pegang atau tidak.


Melati menunggu di ruang tamu. Ia melihat ke arah ponselnya. Waktu hampir mendekati 10 menit. Pram belum juga datang.


Saat kurang 5 detik untuk pas 10 menit, Pram sudah berdiri di samping Melati yang duduk menunggu stopwatch menunjukkan waktu 10 menit.


Melati menoleh ke arah samping dan benar saja, Pram sudah meletakkan beberapa belanjaan di dekat sofa yang ia duduki.


"Ini semua pesanan, Nona!"


Melati menatap Pram tak percaya. Bagaimana bisa dia berbelanja dalam waktu 10 menit sudah sampai?


Melati melihat semua pesanannya. Mungkin ada sesuatu yang ketinggalan dan ternyata tak ada, bahkan semuanya lengkap termasuk bumbu dapur juga ada.


"Apa kau sungguh Jin dari lampu ajaib yang bisa mengabulkan semua permintaan, Tuanmu?" tanya Melati memastikan.


Pram hanya bisa tertawa kecil mendengar ucapan dari mulut Melati.


"Jika anda menganggap saya seperti itu, tak apa, Nona! asal anda bahagia."


"What? asal anda bahagia? jawaban macam apa itu?"


"Jika kau bukan Jin yang keluar dari lampu ajaib, bagaimana bisa kau berbelanja dengan waktu sesingkat itu?"


"Karena saya menghubungi pihak supermarket terlebih dulu untuk menyiapkan semua kebutuhan dapur dengan lengkap tanpa kurang satu apapun dan tentunya dengan kualitas yang sudah terjamin serta kebersihannya juga sudah dapat di pertanggung jawabkan, Nona!"


Melati menepuk jidatnya. Ia tak berpikir sampai sejauh itu.


"Astaga! kenapa aku tak berpikir sampai ke situ ya? Pram ini kan orang yang perfeksionis, jadi bukan hal besar hanya urusan sepele seperti ini."


"Hahahaha! kau benar, Asisten Pram! aku percaya jika kau manusia biasa sama sepertiku."


Melati berjalan membawa semua bahan makanannya ke arah dapur. Pram tanpa di suruh juga ikut membawa belanjaan tersebut ke dapur.


"Terimakasih ya, Asisten Pram! kau tunggu saja di ruang tamu, nanti kita akan makan siang bersama," pinta Melati pada Asisten pribadi Arnon.


"Tak perlu, Nona! saya ...."


"Sssssttttt! diam saja tak perlu banyak protes! kau tunggu saja di ruang tamu," ujar Melati yang mengambil apron dan memakainya kemudian memulai aktivitas memasaknya.


Pram mau tak mau harus menuruti permintaan Melati karena ia tak ingin berurusan dengan Arnon.


Melati masih asyik berkutat dengan peralatan memasaknya. Gadis itu sambil bersenandung ria memotong bawang dan beberapa sayuran.


Pram masih berada di ruang tamu. Agnez keluar dari kamarnya menuju ruang tamu untuk mencari lowongan pekerjaan yang cocok untuknya.


Saat hendak menuju ke arah sofa, Agnez melihat seorang pria dengan wajah datar tanpa ekspresi menatap ke arahnya.


"Siapa pria ini? aku seperti pernah melihatnya? tapi dimana ya?" batin Agnez mulai bertanya-tanya.


Wanita itu tak terlalu memikirkan Pram. Agnez lebih memilih duduk berseberangan dengan Asisten Pram yang memiliki wajah datar tanpa ekspresi.


Pram menatap Agnez penuh selidik. Ia masih terus menelisik wajah wanita yang ada di hadapannya.


"Dia bukannya Kakak tiri dari, Nona muda ya?"


Agnez masih sibuk mencari lowongan pekerjaan. Ia tak ingin terus berdiam diri tanpa bekerja. Ia ingin mengumpulkan uang untuk membangun usaha.


Agnez masih fokus pada layar laptopnya, namun tak ada lowongan pekerjaan yang pas baginya.


"Huh, kenapa tak ada lowongan pekerjaan yang bisa aku temukan?" Agnez mulai putus asa dan menyandarkan kepalanya pada sandaran sofa.


Pram yang tadinya melihat ke arah lain, kini pria berwajah datar itu melirik ke arah Agnez karena wanita itu mengeluh.


"Mana ada lowongan pekerjaan untukmu! semua akses pekerjaan bagimu telah di blokir! agar kau jera," batin Pram.


Wanita itu beralih menatap layar ponselnya. Ia mulai mengutak-atik benda pipih tersebut sampai pada akhirnya, Agnez meletakkan ponselnya pada telinganya.


"Halo!"


"Halo, Nez! ada apa?" tanya teman kuliah Agnez yang ada di seberang ponselnya.


"Apa kau tak ada lowong pekerjaan? aku sedang butuh saat ini?"


"Nanti aku carikan ya?"


"Oh, baiklah!"


Wajah Agnez kembali tak bergairah. Ia sungguh putus asa saat ini karena tak ada lowongan pekerjaan yang bisa ia ajukan surat lamaran.


Pram melirik Agnez lagi. Pria itu nampak ingin tahu apa yang terjadi dengan Agnez.


Tanpa sengaja, Agnez menangkap basah Pram tengah menatapnya dalam diam.


"Kenapa anda menatap saya secara sembunyi-sembunyi seperti itu?" tanya Agnez yang merasa risih.


"Siapa juga yang menatapmu," kilah Pram karena telah dipergoki oleh Agnez.


"Halah! Anda sedang curi-curi pandang kan? mengaku saja!"


"Maaf ya, Nona! saya tak ada waktu untuk mengurusi urusan orang lain yang tak saya kenal."


"Hah, berlagak tak curi pandang, kenyataannya? dasar lelaki! mulutnya memang minta di plintir agar tak suka berdusta," celetuk Agnez menatap Pram tajam.


Pram juga balik menatap Agnez tajam.


"Wanita ini sungguh membuat gula darahku naik! eh, kok gula darah ya? tensi darah maksudnya," batin Pram.


"Wah, Kak Agnez sudah bangun?" tanya Melati yang sudah selesai memasak.


"Kakak tak tidur, Mel!"


"Loh, kenapa tak tidur, Kak?"


"Kakak ingin mencari lowongan pekerjaan, tapi tak ada sama sekali lowongan pekerjaan untuk Kakak," ucap Agnez lesu.


"Itu gampang, Kak! pikirkan nanti saja, sekarang kita makan dulu dan aku akan membangunkan, Suamiku!"


Melati berjalan ke arah lantai dua untuk membangunkan suaminya.


Pram dan Agnez masih saling bertukar tatapan yang di penuhi dengan kilatan peperangan.