Pacaran Setelah Menikah

Pacaran Setelah Menikah
Bab 128


Melati dan Arnon masih menatap kedua pasangan misterius itu dengan tatapan tajam mematikan.


"Pram! kau ikut denganku," titah Arnon pada pria itu yang tak lain adalah Asisten pribadinya.


Arnon berjalan ke arah mejanya, namun sebelum itu, pria itu meminta pelayan restoran tersebut untuk menyediakan dua kursi kosong di mejanya.


Pram tanpa sepatah katapun langsung berjalan mengikuti langkah Bosnya.


Langkah Pram sedikit gemetar saat ia membayangkan wajah Arnon penuh dengan kilatan emosi yang sudah siap menumpahkan segala kemarahannya.


Berbeda dengan Melati yang masih menatap datar wanita pasangan Pram, yang tak lain adalah Kakak tirinya.


"Ikut aku, Kak!"


Melati melangkah menuju arah mejanya. Agnez mengikuti langkah Melati dengan langkah lunglai. Ia tak tahu harus dari mana dirinya akan menjelaskan pada Melati jika adiknya itu mengintrogasinya sebentar lagi.


Saat sudah hampir sampai di mejanya, Melati melihat Arnon dan Pram sudah duduk dengan posisi saling berhadapan.


Melati duduk tepat di sebelah Arnon, sedangkan Agnez duduk bersebelahan dengan Pram.


Agnez duduk dengan gerakan ragu-ragu sambil menatap ke arah Pram.


Asisten Arnon itu tak mengalihkan tatapannya dengan kedua jempol tangannya yang saling bertautan. Pram baru kali ini merasa gugup sampai keringat dingin mengucur dari pelipisnya.


"Pram!" panggil Arnon menatap tajam ke arah Asistennya.


"Iya, Tuan!" Pram mencoba setegas mungkin menjawab.


"Sedang apa kau di sini bersama dengan, Kakak Ipar?" tanya Arnon pura-pura tak tahu.


"Saya ... saya ingin makan siang dengan, Agnez! ah, maaf! maksud saya, Nona Agnez!"


Sungguh Arnon ingin tertawa sampai guling-guling di lantai restoran itu saat melihat raut wajah Pram yang nampak sangat tegang.


"Kalian berdua janjian?" tanya Arnon lagi.


"Ya, Tuan!"


"Sudah berapa lama kalian ada di restoran ini?" tanya Arnon sambil mengetuk-ngetuk mejanya dengan sebelah tangannya lagi berada pada dagunya.


"Kami baru sampai dan pesanan kami juga masih belum datang," sahut Pram secara mendetail.


Melati menyentuh tangan suaminya. Ia mengisyaratkan pada Arnon, agar dirinya kali ini yang melanjutkan pertanyaan pada Agnez.


Aktor tampan itu memberikan respon positif pada Istrinya.


Melati menarik napasnya dalam-dalam, kemudian menghembuskan secara perlahan.


"Apa hubungan kalian berdua sebenarnya?" tanya Melati tanpa basa-basi karena wanita berbadan dua itu sudah tak bisa menahan rasa penasaran yang sedari tadi sudah berada pada pucuknya.


Agnez menatap Melati ragu-ragu, namun wanita berambut pendek itu tetap berusaha senormal mungkin menghadapi pertanyaan adiknya.


"Jawab aku, Kak!"


Melati menatap Pram dan Agnez bergantian.


"Se-sebenarnya, kami sudah berpacaran saat aku membuatkan kue cucur untukmu, Mel!"


Wajah Melati syok bukan main. Melati menutup mulutnya tak percaya dengan apa yang ia dengar.


"Kue cucur pembawa cinta," pikir Melati


"Kenapa Kakak tak memberitahuku?" tanya Melati.


"Sebenarnya aku ingin memberitahu kalian hari ini, karena malam ini keluarga Pram akan kerumah untuk melamarku," jelas Agnez yang tak sadar akan ucapannya bisa membuat Melati semakin naik darah.


"Apa? melamar? malam ini?" Melati menghujani Agnez dengan berbagai macam keingintahuannya.


"Iya!"


"Astaga! kenapa aku merasa di asingkan seperti ini olehmu, Kak!"


"Bukan begitu, Mel! aku akan memberitahumu setelah kita membeli cincin pertunangan," jelas Agnez lagi.


Melati meletakkan kepalanya pada meja restoran itu. Ia sungguh tak tahu apa-apa akan kisah cinta Agnez dan Pram.


Melati menatap Pram tajam. Pria yang di tatap oleh Melati mulai merinding karena tatapan Nona mudanya itu, sungguh membuatnya takut.


"Apa kau serius dengan Kakakku?" tanya Melati pada Pram.


Wajah Pram sudah pucat pasi mendengar nada bicara Melati seakan menggertaknya. "Sa-saya, serius, Nona!"


Arnon mengepalkan tangannya agar ia tak lepas kendali untuk tertawa berguling-guling di restoran itu. Sungguh raut wajah Pram baru pertama kali ini Arnon melihatnya.


"Kau pasti kuat Arnon! jangan tertawa! jangan tertawa!"


"Huh, baiklah! aku akan memaafkan kalian berdua! aku tak ingin terus merasa kesal pada kalian! nanti anakku bisa mirip dengan Pram!"


"Kenapa jika mirip dengan Pram, Sayang?" tanya Arnon.


"Dia itu pria datar, dingin dan ... terlambat menikah! aku tak ingin putriku sampai tak cepat menikah, bisa-bisa anakku di gosipkan tak laku-laku oleh orang lain," jelas Melati sekenanya.


Pram hanya diam menganga mendengar ucapan Nona mudanya. Ia tak tahu harus berkata apa-apa lagi karena semua yang dikatakan Melati itu benar adanya.


"Kau jangan marah ya, Asisten Pram! ini bawaan ibu hamil," jelas Melati dengan senyum manisnya.


Pram hanya mengangguk tanpa bersuara sedikitpun.


"Bawaan orang hamil memang sangat menusuk hati," batin Pram berteriak pilu.


Arnon tersenyum kecil mendengar ucapan Melati yang blak-blakan pada Asistennya.


Agnez hanya diam mendengarkan ucapan Melati, tanpa ingin menyela.


Pesanan Melati dan Arnon sudah datang.


Pelayan meletakkan semua pesanan itu di atas meja.


Agnez dan Pram bingung melihat semua makanan yang sangat banyak itu.


"Ini kau yang memesannya, Mel?" tanya Agnez yang mulai bertanya-tanya.


"Iya, Kak!


"Untuk apa semua makanan ini?" tanya Agnez lagi yang memandangi semua makanan seafood di depannya.


"Ya untuk di makanlah, Kak!"


"Ini semua mau kau makan?" tanya Agnez dengan mata terbuka lebar.


"Iya, Kakakku Sayang."


"Apa kau sang ... aku lupa! kau makan untuk dua orang ya!"


"Itu Kakak tahu!"


Agnez tak bisa berkata apa-apa lagi. Ia kalah telak dari adiknya kali ini.


Agnez melihat pelayan wanita yang bertugas melayaninya tadi.


"Maaf, Mbak! pesanan saya bisa di bawa ke meja ini!"


"Ibu ini yang ada di meja sebelah sana kan?" tanya pelayan wanita itu sambil menunjuk meja Agnez sebelumnya.


"Iya, Mbak!"


"Bisa, Ibu! nanti saya antar kemari ya!"


Pelayan itu kembali melakukan pekerjaannya.


"Kalian berdua makan saja dulu, nanti aku dan Pram menyusul," ujar Agnez pada Arnon dan Melati.


Setelah Agnez selesai mengatakan hal itu pada Melati dan Arnon, pesanannya sudah datang.


Tanpa harus menunggu lama, akhirnya mereka berempat bisa makan bersama-sama.


Melati yang paling antusias kali ini. Istri Arnon itu memakan gurame bakar madunya terlebih dulu. Setelah gurame bakarnya habis, Melati berganti pada lobster kuah santannya dan berlanjut ke makanan lainnya, sampai pesanan Melati semua habis tanpa sisa. Hanya tulang dan cangkang saja yang menghiasi piring kotornya.


Arnon melihat istrinya makan dengan lahap merasa sangat bahagia. Ia tak cemas jika anaknya kekurangan gizi.


Arnon semakin yakin, jika anaknya yang berada dalam rahim Melati pasti sehat dan kuat, karena makanan yang di konsumsi Melati sudah pasti sehat.


Berbeda dengan Agnez yang melihat Melati dengan mata tak berkedip. Ia tak yakin jika orang yang berada di hadapannya ini adalah Melati.


"Ini Melati kelaparan atau kesurupan," batin Agnez.


Pram menyenggolnya lengan Agnez agar melanjutkan makannya. Agnez terkesiap saat Pram membuyarkan lamunannya.


Pram mengisyaratkan agar kekasihnya itu melanjutkan makannya tanpa harus memperdulikan Melati yang sedang asyik meminum lemon tea-nya.