
Pria dengan handuk yang hanya melilit bagian pinggangnya keluar dari kamar mandi.
Tetesan air masih terus jatuh dari rambut basahnya. Tubuh yang begitu atletis dengan otot-otot yang sudah meronta-ronta ingin di jamah.
William berjalan ke arah walk in closet untuk berganti baju.
Setelah beberapa menit, William keluar dari walk in closet dengan kemeja berwarna putih dan celana jeans berwarna dark blue.
Kemeja yang ia pakai memperlihatkan bentuk tubuh yang sangat indah dan pastinya ketampanan William meningkat.
Pria itu berjalan ke arah meja rias istrinya.
Ia bercermin merapikan rambutnya yang masih acak-acakan. Tanpa sengaja ia melihat lip balm yang biasanya digunakan Zinnia.
Tangan William bergerak menggapai lip balm tersebut. Pria itu tersenyum sambil menatap lip balm milik istrinya. "Apa kau sengaja meninggalkan ini untuk membuatku ingat padamu?"
William membuka lip balm itu. Ia menghirup wangi berry yang sangat manis sama seperti wangi bibir istrinya saat ia memakan habis benda kenyal milik Zinnia.
William lagi-lagi tersenyum menatap ke arah pantulan wajahnya di depan cermin. Pria itu tersenyum sambil menyentuh bibirnya sendiri. "Aku akan menggunakan bibir ini untuk membuatmu bisa membalas mencintaiku, Zi!"
Tok tok tok
Suara pintu kamar William terdengar. Pria itu masih menggenggam lip balm milik istrinya.
William membuka pintu kamarnya, ternyata Asih yang mengetuk pintu itu.
"Ada apa?" tanya William pada kepala pelayan rumahnya.
"Mobilnya sudah siap, Tuan! satu jam lagi pesawat yang akan anda tumpangi akan terbang," jelas Asih pada William.
"Aku akan segera turun! tolong beritahu sopir untuk menjemput koperku," pinta William pada Asih.
"Baik, Tuan!"
Asih langsung bergegas turun dari lantai atas menuju lantai paling dasar untuk memberitahu sopir agar menjemput koper tuan mereka.
William berjalan ke arah kasurnya. Pria itu mengambil ponselnya, namun saat William mencoba melihat notifikasi, mata pria itu menatap tajam ke arah benda pipih yang ada di tangannya.
Rasa tak percaya tak bisa di tutupi dari wajah William. "Zinnia! meneleponku?"
Pria itu masih mencoba memastikan jika memang itu benar nomor ponsel istrinya.
Saat William sudah merasa yakin, pria itu langsung menghubungi istrinya balik.
William masih menunggu Zinnia agar menjawab panggilannya namun, gadis itu tak kunjung menjawab teleponnya.
William mencoba menghubungi Zinnia kembali, namun tetap saja tak di angkat oleh istrinya.
Sembilan kali Hot Dokter itu menghubungi istrinya, tapi tak ada jawaban.
William memasukkan ponsel itu pada saku celananya dengan kasar. "Apa dia sengaja tak mengangkat telepon dariku? apa dia ingin balas dendam karena aku tadi tak mengangkat panggilan darinya?"
Kedua pasangan itu nampak sama-sama suka berpikir negatif, tapi kenyataannya mereka berdua tak mengangkat telepon karena masih berada di kamar mandi.
William kembali menatap ke arah lip balm milik Zinnia yang berada di tangannya.
Senyum pria itu terpancar saat ia kembali mengingat sang istri. "Kau akan menjadi milikku, Zi! selamanya akan menjadi milikku," tutur William yakin.
Pria itu berjalan keluar kamarnya menuju lantai dasar.
William saat ini sudah berada di bandara. Ia sudah akan masuk ke dalam pesawat, namun ponselnya tiba-tiba berdering.
Saat Dokter tampan itu melihat siapa yang menghubunginya, senyum pria bermata tajam itu terukir indah.
William langsung mengangkat panggilan dari sang istri yaitu Zinnia.
"Halo!" William menjawab panggilan dari Zinnia dengan nada cuek, namun bibirnya terukir senyum manis bagai permen mint.
"Ada apa?"
"Kenapa kau tak mengangkat teleponku tadi?" tanya William pada istrinya.
"Aku masih mandi!"
"Kau pasti berbohong kan?"
"Aku serius!"
"Kenapa kau cuek sekali padaku?"
"Kita ini sekarang adalah adik kakak!"
"Bagaimana jika aku sudah mencintaimu? apa kau akan tetap menganggapku sebagai kakakmu?"
"Dan kau tak akan mungkin jatuh cinta padaku, Kakak Dokter!"
"Jadi kau mengaku kalah?"
"Ya!"
"Iya!"
"Baiklah! tunggu hukumanmu datang, Gadis cerewet!"
"Ya!"
"Apa kau sungguh mandi saat kau tak mengangkat telepon dariku?" tanya William yang ingin menggoda istrinya.
"Ya, sungguh!"
"Aku tak percaya!"
"Apa kau perlu bukti?"
William tersenyum akhirnya Gadis kecilnya masuk dalam perangkapnya kali ini.
"Tentu saja aku perlu bukti, karena aku tak percaya!"
"Bagaimana cara aku bisa membuktikan jika aku memang baru selesai mandi? kita kan berada di tempat berbeda."
"Video call!"
Yang awalnya hanya panggilan biasa, kini Zinnia sudah meminta untuk melakukan panggilan video. William tersenyum karena istrinya sungguh ingin membuktikan jika dia memang betul baru selesai mandi.
William langsung mengalihkan panggilan itu ke panggilan video.
Wajah William langsung memerah karena Zinnia hanya memakai tank top dan celana pendek di atas lutut dengan rambut yang masih tergulung oleh handuk.
"Apa yang aku lihat ini? kenapa darahku rasanya mengalir semakin cepat saja? apa aku akan mati?"
"Bagaimana? kau percaya kan padaku?"
William masih menatap layar ponselnya dengan tangan yang menggenggam erat benda pipih itu.
"Sabar, Will! setelah kau sudah mendarat di sana, kau bisa melakukan apapun padanya karena dia sudah menjadi milikmu sekarang."
William tersenyum melihat ke arah ponselnya yang masih terhubung dengan sang istri. "Aku percaya padamu, Gadis cerewet!"
Zinnia nampak terlihat bingung dari layar ponsel suaminya. Gadis itu fokus melihat ke arah background suaminya.
"Kau dimana? apa kau sedang di luar?"
"Astaga, Will! kenapa kau bodoh sekali sih! kau tak boleh sampai ketahuan jika kau akan pergi menyusulnya."
"Aku sedang di luar!"
Zinnia masih melihat ke arah sekitar dan ia melihat ada orang yang membawa koper.
"Kau sedang di bandara?"
"Duh, kenapa Gadis cerewet ini harus tahu sih!"
"Iya, aku di bandara, karena ada hal yang harus aku selesaikan sampai tuntas! ini menyangkut kehidupanku kelak, karena aku tak ingin menyesal di kemudian hari, Zi!"
"Kau akan ke luar Negeri?"
"Ya kau benar! aku akan keluar Negeri!"
"Apa demi dia?"
"Ya! demi dia yang harus aku pertahankan."
Zinnia terlihat nampak diam di layar ponsel William. Gadis itu sepertinya sedang memikirkan sesuatu.
"Aku tutup dulu ya! semoga kau berhasil mempertahankan wanita pilihanmu, Kak William!"
"Dan wanita itu adalah dirimu, Gadis cerewet!"
"Terimakasih, Adik Zinnia! aku berharap do'amu terkabul!"
Zinnia tersenyum kecut saat William menatap gadis itu di layar ponselnya.
"Ya, aku berharap demikian! semoga kau berhasil, bye!"
Zinnia memutuskan panggilannya terlebih dulu.
William tersenyum dan langsung masuk ke dalam pesawat.
Di kamar hotelnya, Zinnia diam termenung sambil mendudukkan dirinya di atas kasur kamar hotelnya.
JANGAN LUPA VOTE, LIKE, DAN KOMENTARNYA YA KAKAK READERS 🥰🥰🥰