
Di dalam mobil tak ada percakapan apapun.
Agnez masih sibuk dengan pemikirannya tentang status Pram. Pria itu sudah menikah atau belum.
Berbeda dengan Pram, pria itu terlihat gugup. Seorang Pram yang di kenal dingin dan perfeksionis, ternyata bisa gugup juga saat berhadapan dengan orang yang berhasil mencairkan hatinya yang beku itu.
Keheningan masih menghiasi perjalanan mereka berdua, sampai pada beberapa menit kemudian akhirnya mobil menepi di sebuah supermarket terdekat.
Agnez turun tanpa sepatah kata apapun, sedangkan Pram masih mengatur nafasnya. Ia kali ini harus menjelaskan semuanya pada Agnez. Ia tak ingin wanita yang diincarnya menjauh atau bahkan membencinya.
Beberapa saat kemudian, Agnez keluar dari supermarket itu berjalan ke arah mobil Pram.
Wanita berambut pendek tersebut masuk ke dalam mobil Pram sambil memasang seat belt-nya.
Agnez tak banyak bicara. Ia menghadap ke arah depan menunggu mobil Pram melaju.
Karena roda mobil itu tak kunjung berputar, Agnez menoleh ke arah pengemudinya.
Pria itu masih menatap ke arahnya tanpa berkedip.
"Kenapa belum jalan? ayo kita harus ke arah rumah lamaku," ujar Agnez pada Pram.
"Apa tak ada yang ingin kau tanyakan?" tanya Pram.
"Ada yang ingin aku tanyakan? apa yang ingin aku tanyakan padamu?" tanya balik Agnez yang tak mengerti maksud Pram.
*"Jangan-jangan maksudnya itu, tentang ucapan, Tante Susan!"
Agnez menatap Pram ragu. Ia ingin sekali menanyakan kebenaran dari ucapan mertua Melati.
"Aku ingin bertanya sesuatu padamu," tutur keduanya secara bersamaan.
Mereka saling membuang muka dengan wajah yang sudah memerah bagai tomat.
"Kau saja," ujar Pram pada Agnez.
"Kau saja dulu," balas Agnez pada Pram.
"Ladies first," tutur Pram lagi.
"Huh, baiklah! apa maksud dari ucapan Tante Susan tadi?"
Pram tersenyum dengan jantung yang sudah nyut-nyutan tak karuan.
"Apa kau sungguh ingin tahu?" tanya Pram yang masih ingin menggoda Agnez.
"Aisshhhh! jika kau tak ingin ...."
"Aku akan menjelaskannya padamu," sambung Pram yang memotong pembicaraan Agnez.
"Aku masih belum menikah dan statusku masih lajang."
Agnez diam dengan kelopak mata yang berkedip-kedip cepat memastikan jika dirinya tak bermimpi.
"Kau kenapa? apa kau kesurupan?" tanya Pram yang merasa aneh dengan tingkah Agnez.
"Kau serius dengan ucapanmu itu?"
"Aku serius, Nona!"
"Tapi bukankah kau ...."
Pram mendekatkan dirinya pada Agnez yang spontan memundurkan wajah wanita itu ke belakang sampai membentur kaca mobil.
Pria itu semakin mendekatkan dirinya pada wajah Agnez. Hembusan napas Pram mengenai permukaan wajah kakak tiri Melati itu.
"Aku tahu, kau sudah mendengar semua pembicaraan kami! tapi itu masih sebagian bagiku, karena kau terburu-buru pergi dari teras rumahku, Nona! jika kau tahu kelanjutan ceritanya, aku bisa pastikan! kau tak akan meninggalkan Negara ini lima bulan yang lalu."
Agnez memejamkan matanya mendapat serangan langsung dari Pram. Ia perlahan membuka matanya.
Wajah tampan, rahang kokoh dan tatapan matanya yang mampu membuatnya meleleh, kini terpampang jelas di hadapannya.
"Apa yang telah aku lewatkan, Asisten Pram!"
"Apa kau sungguh ingin tahu?" tanya Pram yang sengaja lebih mendekatkan wajahnya pada wajah Agnez.
"Katakan padaku, apa yang telah aku lewatkan."
"Aku akan mengatakannya padamu, tapi dengan satu syarat!"
"Apa syaratnya? jika aku masih sanggup, aku akan menerima persyaratanmu."
"Kau tinggal katakan setuju saja, karena persyaratan itu pasti akan menguntungkan dirimu, Nona!"
"Tapi ...."
"Kau ingin tahu atau tidak apa yang telah kau lewatkan setelah kau pergi dengan derai air matamu itu?"
Wajah Agnez memerah, ditambah lagi wajah Pram sangat dekat dengannya.
"Ba-baiklah! aku terima, tapi jika persyaratanmu tak sanggup aku lakukan, perjanjian kita batal," ujar Agnez menatap mata Pram tajam.
"Aku jamin! persyaratan ini pasti akan kau terima dengan senang hati, Nona! karena aku tahu kau suka padaku," bisik Pram pada telinga Agnez.
Gadis itu menganga. Ia tak tahu jika Pram bisa mengetahui isi hatinya.
"Kau tahu dari ...."
"Kau tak perlu banyak bicara, saat ini aku yang akan bicara sepuasnya!"
Pram menjauhkan diri dari Agnez. Memberi wanita itu udara agar bisa bernafas dengan mudah, karena Pram tahu jika jantung Agnez sedari tadi berdetak tak karuan.
"Apa kau sudah siap mendengarkan ceritaku?" tanya Pram.
"Kau sungguh berbelit-belit ya! jika kau tak cepet menceritakannya padaku, perjanjian kita ...."
"Eitsssss! sabar, Nona! jangan marah-marah begitu! dengarkan baik-baik!"
Pram menarik nafasnya dalam-dalam. Ia menatap Agnez kemudian beralih menatap ke arah depan.
"Aku tahu kau pasti pergi saat kau mendengar mama memintaku agar menikahi, Marina! seharusnya saat itu kau tak pergi, karena aku mengatakan pada, Mama! jika aku tak ingin menikahi wanita itu, karena aku sudah memiliki wanita yang mulai menempati hatiku saat itu," jelas Pram tanpa melihat Agnez.
Hati Agnez lagi-lagi terasa nyeri mendengar jika Pram telah memiliki wanita yang ia cintai.
"Jadi itu yang ingin kau katakan padaku! jadi kau ingin aku tahu jika kau menyukai wanita lain! kau sengaja membiarkan aku mengetahui itu semua agar hatiku sakit dan kau ...."
Pram menutup mulut Agnez dengan telapak tangannya. Ia tak ingin wanita itu terus berteriak tanpa rem.
"Aku ingin kau tahu wanita yang aku cintai itu siapa!"
Agnez menggelengkan kepalanya tanda ia tak ingin tahu wanita yang bisa mendapatkan hati Pram dan memusnahkan harapannya lagi.
"Kau harus tahu wanita yang aku cintai, Nona! kau harus dengar baik-baik." Pram mendekatkan bibirnya pada telinga Agnez. Pria itu tersenyum simpul tanpa sepengetahuan Kakak tiri Melati itu.
Air mata Agnez mulai menggenang di pelupuk matanya. Sungguh ia tak ingin tahu wanita mana yang sudah menaklukkan hati Pram.
*"Tuhan! aku mohon padamu! harapanku sudah hancur untuk yang kedua kalinya, jangan sampai hati ini semakin hancur karena mengetahui wanita mana yang sudah menaklukkan pria datar seperti dia."
"Dengarkan aku baik-baik! aku mencintaimu, kucing galak!"
Mulut Agnez menganga bersamaan dengan air mata yang meluncur indah pada pipinya.
Tanpa sadar, tangan Agnez menyentuh lengan Pram. Wanita itu masih tak yakin dengan apa yang di dengar olehnya.
Pram sedikit memberi jarak agar ia dapat melihat wajah Agnez yang sudah berderai air mata. "Kenapa menangis? apa kau tak senang bisa mengetahui wanita yang aku cintai?" tanya Pram tersenyum meledek Agnez.
"A-aku masih tak yakin dengan ucapanmu, aku ...."
Pram mengusap air mata Agnez dengan ibu jarinya. Pria itu menyentuh kedua pipi Agnez lembut dengan tatapan penuh kasih sayang.
"Aku mencintaimu, Agnez! kau wanita yang mencairkan hati yang sudah membeku ini, kau wanita yang telah berhasil membuat pria dingin ini merasakan kembali rasa hangat, dan kau juga yang berhasil membangunkan jiwa penuh kasihku bangkit kembali."
lagi-lagi air mata Agnez meluncur tak terkendali. Bukan air mata kesedihan, melainkan air mata kebahagiaan.
"Apa kau sungguh ...."
Kaca mobil yang tak bisa terlihat tembus pandangan dari luar membuat Pram bisa meyakinkan Agnez, jika dirinya benar-benar mencintai wanita itu.
Bibir Pram mendarat di kening Agnez dengan kedua mata wanita itu terpejam sangat rapat.