Pacaran Setelah Menikah

Pacaran Setelah Menikah
Bab 203 ( Season 2 )


Zinnia dan William sudah sampai di rumah sakit. Keduanya masuk dengan tangan bergandengan.


Di sepanjang jalan, Zinnia meminta William untuk melepaskan tangannya. "Lepaskan tanganku, aku malu dilihat oleh semua orang," tutur Zinnia sambil tersenyum ramah pada keluarga pasien yang sedang berlalulalang berpapasan dengannya.


"Kenapa karus malu, Sayang! kita ini sudah menjadi suami istri yang sah di mata agama dan hukum," jelas William yang semakin menggenggam erat tangan istrinya.


"Tapi ...."


"Kau harus diam, Sayang! jika kau masih mengoceh seperti itu, jangan salahkan aku jika tubuhmu sebentar lagi akan berada dalam gendongan tanganku," ancam William dan bibir Zinnia langsung mengerucut sempurna.


William melirik ke arah Zinnia. Pria itu ingin tahu bagaimana reaksi istrinya dan ternyata bibir Zinnia minta di cium.


"Bibirmu sepertinya meronta ingin aku lahap? apa aku boleh melakukannya sekarang juga?" tanya William yang masih terus menggoda Zinnia.


Gadis itu menghentikan langkahnya. Zinnia melihat ke arah sekelilingnya dan menoleh ke belakang. Gadis itu memastikan jika tak ada orang di sekitarnya saat ini.


Beruntung sekali William dan Zinnia berada di sebuah jalan yang sepi karena jalan itu penghubung ke aula serbaguna tempat acara pembagian bantuan untuk kaum dhuafa dan anak yatim.


Zinnia mendekati suaminya. Langkah gadis itu semakin mendekatkan jarak antara dirinya dan William.


Tangan Zinnia sudah berada di kedua bahu William. "Apa kau sungguh ingin menciumku di sini?" tanya Zinnia balik menggoda suaminya.


William hanya diam menatap wajah Zinnia yang masih menunduk ke bawah dengan jari telunjuk yang sudah melukis abstrak di dada bidang William.


Zinnia membuka satu kancing kemeja William. Ia sengaja ingin menggoda suaminya saat ini.


Tangan kekar yang sedari tadi mengepal menahan gejolaknya kini menggenggam erat tangan Zinnia yang sedari tadi berkeliaran di dadanya tanpa henti dan gerakan jari telunjuk itu menciptakan sensasi panas bagi William.


"Apa kau sungguh ingin membangunkan macan yang sedang tidur, Sayang?" tanya William mengunci tangan Zinnia ke belakang tubuhnya.


Mata Zinnia menatap wajah suaminya. Gadis itu bukannya takut, tapi Zinnia lebih menggoda William lagi dengan kerlingan mata indahnya.


"Aku mencintaimu, Sayang!" Zinnia melancarkan aksinya kembali dengan kata-kata mautnya.


"Jika macan ini sudah benar-benar bangun, kau tak dapat mundur lagi, Sayang! aku sungguh akan melahapmu di sini," ancam William lagi.


Zinnia tersenyum manis pada suaminya. Desainer cantik tersebut mendekatkan wajahnya sampai hidung mereka berdua saling menyentuh.


"Lakukan apa yang kau mau! aku milikmu, Sayang!" Zinnia kali ini sungguh ingin membuat William terpancing akan godaannya.


Senyum simpul William sudah terbit. Pria itu mengunci tangan Zinnia yang satunya lagi. Tangan yang masih bertengger di bahunya.


"Kau nikmati saja semua sentuhan yang akan aku berikan padamu, Istriku!"


William sudah ingin melahap habis bibir cerry istrinya namun, suara langkah sepatu berhak tinggi seorang wanita terdengar oleh keduanya.


Tak tak tak tak


William dan Zinnia saling pandang. "Nampaknya keberuntungan kali ini berpihak padaku! aku akan menantikan sentuhanmu, Suamiku Sayang!" Zinnia tersenyum manis pada William.


Cup


Gadis itu mengecup manja bibir William sebelum ia menjauhkan jarak dari suaminya. "Itu sebagai bonus karena aku selamat dari jeratan singa yang sedang kelaparan," ledek Zinnia menggandeng tangan suaminya kembali melanjutkan perjalanan menuju aula serbaguna rumah sakit.


Di dalam aula ternyata semua orang sedang menunggu kedatangan William, karena pria itu adalah aktor utama hari ini.


Edward melihat ke arah jam tangannya. Pria paruh baya itu melihat ke arah pintu masuk aula namun, tak muncul juga tubuh jangkung keponakannya.


"Jika 5 menit lagi dia belum datang, terpaksa aku yang harus memberikan sambutan pada mereka semua," gumam bekas Dokter tampan itu.


Tiga menit kemudian, William dan Zinnia datang. Pria itu beserta istrinya langsung menuju ke tempat dimana biasanya dirinya memberikan sambutan setiap tahunnya.


Semua orang yang memang sudah tahu dengan William terlihat nampak heran, saat Dokter tampan itu menggandeng seorang perempuan tinggi, cantik, putih, dan seksi tentunya.


Beberapa orang saling berbisik karena mereka penasaran dengan perempuan yang berada di samping William.


"Mohon maaf sebelumnya karena saya hari ini datang hampir terlambat!"


William menatap ke arah Edward dan pria itu menatap William dengan tatapan tajam.


"Pasti Daddy marah padaku karena hampir saja terlambat."


William menarik napas panjang, kemudian menghembukannya secara perlahan.


"Terimakasih untuk semuanya yang sudah hadir pada acara ulang tahun rumah sakit kita semua. Semoga rumah sakit kita bisa semakin baik lagi kedepannya, baik dalam segi pelayanan dan fasilitas lainnya. Sebenarnya hari ini bukan hari tepat dimana rumah sakit ini berdiri, hari ini adalah hari dimana kedua orangtua saya meninggal dunia, saya ingin menjadikan hari meninggalnya mereka berdua sebagai hari peringatan ulang tahun rumah sakit agar semua orang terutama saya sendiri, selalu ingat perjuangan kedua orangtua saya membangun beberapa rumah sakit besar lainnya dan bagaimana mereka berdua telah melahirkan saya kedunia ini sampai saya bisa bertemu dengan perempuan yang berada di samping saya, perempuan yang sudah sah menjadi istri saya saat ini."


William tersenyum melihat ke arah istrinya. Kemudian tatapannya fokus ke arah depan kembali.


"Do'akan saja, agar penerus saya segera hadir di sini," tutur William sembari mengelus perut rata istrinya.


Tatapan mata Zinnia sedari tadi tak lepas dari wajah William yang sedang asyik dengan sambutannya.


Gadis itu menatap ke arah suaminya sambil tersenyum saat tangan kekar William menyentuh perut ratanya.


William kembali menghadap ke arah depan. "Mari kita sama-sama berdo'a."


William menundukkan kepalanya dan semua orang yang ada di sana juga ikut menundukkan kepalanya tak terkecuali Zinnia.


Setelah semuanya selesai berdo'a, para panitia memberikan bahan pokok pada kaum dhuafa dan makanan beserta uang kepada anak yatim.


Zinnia melihat ke arah suaminya yang melihat para panitia membagikan santunan pada mereka yang membutuhkan.


Gadis itu tersenyum dan tanpa ragu memeluk tubuh William dari samping.


Dokter bedah itu sampai terkejut karena Zinnia tiba-tiba memeluk dirinya tanpa permisi.


Kepala Zinnia sudah berada di dada bidang William.


Gadis itu menengadahkan wajahnya menatap wajah suaminya. "Siapa yang memiliki ide seperti ini?" tanya Zinnia yang membuat William bingung.


"Ide apa?" tanya William balik karena ia memang tak mengerti maksud dari istrinya.


"Ide untuk memberi pada orang yang lebih membutuhkan," jelas Zinnia.


William tersenyum pada istrinya sembari mengusap lembut rambut Zinnia. "Aku yang memiliki ide seperti itu karena aku sering melihat orang tua yang masih bekerja banting tulang dengan tenaga yang di paksakan, padahal usia mereka sudah waktunya istirahat bukan bekerja," tutur William pada istrinya.


Zinnia sungguh bangga bisa memiliki suami seperti William. Dia juga bangga sudah bisa jatuh cinta dan di cintai oleh lelaki sehebat suaminya.


"Aku bangga padamu," tutur Zinnia dengan posisi yang masih memeluk suaminya.


"Bangga padaku?" tanya William dengan nada sedikit ragu.


"Iya! karena kau contoh imam yang baik untuk keluarga kecil kita," sahut Zinnia.


William tersenyum nakal saat mendengar penuturan sang istri. "Apa kau sudah siap menjadi ibu?" tanya William yang membuat wajah Zinnia memerah.


Tak ada jawaban dari mulut Zinnia, gadis itu hanya diam menundukkan kepalanya.


"Sayang! katakan saja padaku! jika kau siap, maka aku akan segera melakukan tugasku untuk membuat perut ini membuncit," goda William sambil mengelus perut rata istrinya kembali.


"Apa aku sudah cukup menjadi seorang ibu?" tanya Zinnia pada William.


"Tentu saja sudah cukup karena ada aku di sampingmu," sahut William percaya diri.


"Aku mencintaimu," ucap Zinnia.


William mengecup kening istrinya lembut. "Aku juga mencintaimu, Sayang!"


Keduanya saling berpelukan. Mencurahkan kasih sayang yang mereka miliki untuk pasangannya.


Acara di aula serbaguna sudah selesai, kini berganti di halaman belakang rumah sakit untuk acara game.


Zinnia dan William berencana hanya ingin menonton game itu namun, Edward tak mau tinggal diam.


Edward mendekati William dan Zinnia yang sedang duduk di sebuah kursi panjang.


"Apa kalian berdua hanya ingin melihat saja?" tanya Edward pada William dan Zinnia.


"Kami berdua memang hanya ingin melihat saja, Dad!"


"Kalian harus ikut untuk perayaan kali ini saja karena Daddy sudah bersusah payah menyiapkan semuanya," tutur Edward agar Zinnia dan William sedikit luluh hatinya.


"Tak ada yang menyuruh Daddy untuk membuat game macam ini," ucap William yang membuat Edward mati kutu.


"Jika saja kau bukan keponakanku, sudah ku pukul kau, Bocah!"


"Pesertanya kurang satu pasang, Will! jika hanya dua tak seru," bujuk Edward lagi.


"Semoga saja hati bocah ini terbuka."


Zinnia melihat ke arah Edward. Zinnia tahu jika mertuanya itu sangat ingin melihat dirinya dan William ikut andil dalam game romantis ini.


Zinnia menyentuh lengan suaminya lembut. "Sayang! kita ikut saja ya?" Zinnia mulai mencoba membujuk William.


Pria itu menatap ke arah istrinya. "Apa kau ingin ikut bermain?" tanya William pada Zinnia.


"Sebetulnya aku tak terlalu ingin, tapi sepertinya seru! kita tunjukkan pada semua orang jika kita berdua pasangan paling romantis," tutur Zinnia membuat senyum William terbit.


William mengusap pipi Zinnia. "Jika kau yang memintanya, aku akan menuruti."


"Terimakasih, Sayang!" Zinnia tersenyum pada suaminya.


"Aku mencintaimu!" William kembali dengan gombalannya.


"Jangan begitu! ada, Daddy!" Zinnia malu pada mertuanya.


William menarik tangan Zinnia untuk bergabung dengan dua peserta yang tak lain adalah dokter di rumah sakitnya juga.


Edward sedari tadi melihat kemesraan keduanya hanya diam memperhatikan.


"Ada apa dengan mereka berdua? kenapa belum bermain game ini sudah begitu romantis? apa aku melewatkan sesuatu?"


Tiba-tiba ponsel Edward berbunyi dan itu panggilan dari orang kepercayaannya.


"Halo!"


"Maaf, Tuan! saya terlambat mengabari anda! tadi Tuan muda William pergi ke makam Tuan Roy dan Nyonya Wanda bersama dengan, Nyonya muda! di sana Nyonya muda menyatakan perasaannya pada, Tuan William!"


"Benarkah informasi yang kau katakan?"


"Benar, Tuan!"


Senyum di bibir Edward terukir indah.


"Baiklah! terimakasih!"


Edward menutup panggilannya terlebih dulu.


"Pantas saja mereka tak canggung memanggil nama kesayangan di depanku, ternyata sudah gol! ... eh, tunggu! masih belum gol, karena cucuku belum ada kabar beritanya," gumam Edward sambil tersenyum-senyum sendiri.


JANGAN LUPA VOTE, LIKE, DAN KOMENTARNYA YA KAKAK READERS 🥰🥰🥰