
William dan Zinnia sudah berada di meja makan, saat mereka berdua sedang asyik menikmati sarapan, lebih tepatnya sudah termasuk makan siang karena waktu makan siang tinggal beberapa menit lagi, Asih datang menghampiri William.
"Ada Nona Marinka di depan, Tuan!"
William yang awalnya menikmati makanannya seketika berhenti mengunyah makanan yang berada di dalam mulutnya.
Zinnia juga melakukan hal yang sama namun, ia lebih tenang dari William.
"Suruh dia tunggu di ruang tamu! sebentar lagi kami berdua akan keluar," ujar Zinnia dan diangguki oleh Asih.
Zinnia menatap suaminya. Ia bisa melihat raut wajah William berubah karena kedatangan Marinka.
Zinnia berdiri mendekati suaminya. "Apa kau sudah kenyang?" tanya Zinnia mengusap lembut pundak William.
Pria itu kembali mengunyah makanannya dan menelannya, kemudian William meminum susu hangat buatan Zinnia.
William memeluk tubuh Zinnia erat. Posisi William masih duduk sementara Zinnia berdiri. "Aku tak ingin bertemu dengannya! jika aku melihat wajah itu, aku merasa muak dengan wajahnya yang sama dengan wajah kakaknya."
Zinnia tahu jika suaminya sakit hati dengan kelakuan Marion yang meninggalkan William saat pesta pernikahan sudah tinggal satu hari.
"Kau harus kuat! kau harus bisa melawan rasa sakit itu, jika kau tak menemuinya, kau akan terus lari kenyataan yang ada. Sementara kau harus terus menjalani hidupmu. Mungkin sekarang kau bisa lari darinya namun, suatu saat kau pasti akan bertemu dengannya entah dimana aku tak tahu hanya yang kuasa yang tahu semua itu, jadi kau harus berani melawan semua rasa benci yang berlebihan dalam hatimu," jelas Zinnia mengusap punggung William dengan kepala keduanya saling menempel satu sama lain.
William semakin mengeratkan pelukannya pada perut Zinnia. "Kau benar, Sayang! jika aku terus menerus memendam kebencian ini, maka aku sendiri yang akan terpuruk."
Zinnia melonggarkan sedikit pelukannya pada William. Ia menyentuh pipi suaminya lembut. "Ini baru, Suamiku!"
William tersenyum menatap wajah Zinnia yang membuatnya terasa tentram. "Aku beruntung memilikimu dalam hidupku, meskipun kedua orang tuaku sudah tiada, tapi Tuhan mengirimkan seorang istri yang merangkap dari keduanya. Sosok ayah yang memberikan nasihat pada putranya dan sosok ibu yang melimpahkan kasih sayang pada putranya," tutur William dengan mata berkaca-kaca.
Zinnia tersenyum dengan mata berkaca-kaca pula. "Aku akan selalu ada bersama denganmu sampai akhir dari napas ini berhembus."
Zinnia mendekatkan wajahnya pada wajah William. Bibir desainer cantik itu mendarat mulus pada bibir suaminya.
Cup
"Aku mencintaimu, Sayang!" Zinnia mengusap air mata William yang tiba-tiba menetes.
William kembali memeluk perut Zinnia. "Aku sangat sangat sangat mencintaimu, Zinnia!"
"Tuhan! tolong segera berikan kami keturunan agar suami hamba tak kesepian lagi! hamba ingin melihat suami hamba di kelilingi oleh orang-orang terkasihnya."
Zinnia memejamkan mata dengan do'a tulus yang ia panjatkan dalam hati.
"Sekarang kita ke luar untuk menemui, Marinka si kutu loncat itu," ujar Zinnia tersenyum pada William.
Dokter tampan itu mengangguk menggenggam tangan Zinnia, kemudian berjalan ke arah ruang tamu.
Tangan mereka berdua tetap berpegang erat sampai di depan mata Marinka.
"Ada apa kau kemari, Marinka?" tanya William sembari duduk berdampingan dengan Zinnia dan berhadapan dengan Marinka.
Tangan pasangan muda yang masih di mabuk cinta ini tetap tak terlepas.
Marinka yang awalnya tersenyum pada William tiba-tiba senyuman manis itu hilang kala ia melihat tangan keduanya menggenggam erat.
Marinka melihat ke arah Zinnia. Mata kembaran Marion itu melotot ingin keluar melihat tanda merah pada leher Zinnia yang berwarna merah keunguan dan warnanya sangat pekat. Ditambah lagi jumlahnya bukan hanya satu, dua, atau tiga, melainkan seluruh leher Zinnia di penuhi oleh tanda kepemilikan William bagai kain motif polkadot.
"Jangan-jangan hari penting yang dimaksud oleh para resepsionis tadi adalah bulan madu mereka?"
"Tanda kepemilikan sebanyak itu hanya pria perkasa yang bisa membuatnya, kenapa bukan aku yang berada di bawahmu, Kak! kenapa harus perempuan ingusan ini."
"Kak Marinka! apa kau sedang tak enak badan?" tanya Zinnia mengembalikan kesadaran Marinka kembali.
"Aku tak apa-apa, Zinnia!" Marinka tersenyum kikuk karena dirinya sudah ketahuan melamun.
"Jadi ada apa kau kemari?" tanya William mengulang pertanyaan lagi.
"Aku kemari ingin berkonsultasi denganmu, Kak!"
Kening William mengkerut sempurna. "Konsultasi masalah apa?" tanya William bingung.
"Masalah kesehatan, mama!"
"Kenapa harus padaku? aku bukan Dokter ahli jiwa, aku Dokter bedah, Rin!"
Marinka tersenyum renyah tak tahu malu. "Tapi kan Kakak yang mengurusi semua biaya pengobatan mama," tutur Marinka yang masih tetap pada pendiriannya.
"Memang aku yang menanggung semua biaya pengobatan mamamu, tapi Dokter yang menangani penyakit mamamu adalah, Dokter Tomi! kenapa kau tak datang padanya saja," jelas William secara tak langsung ingin membuat Marinka tak dekat-dekat dengannya.
Zinnia hanya sebagai pendengar karena ia memang tak tahu awal mula urusan suaminya ini.
"Pasti ini alasan si kutu loncat ini! mana ada Dokter bedah mengurus orang depresi? bukannya terdengar aneh, bahkan tak masuk akal! memangnya apa yang akan di bedah jika orang itu mengalami depresi! yang pantas di bedah itu urat malu si kutu loncat ini! sudah tahu William memiliki istri, tapi masih saja genit pada suami orang."
"Mungkin kak Marinka ingin main-main ke rumah kita, Sayang!"
Zinnia mengelus pundak William mesra bahkan wanita itu sengaja menempel dadanya pada lengan kekar suaminya.
William yang merasakan benda lembut milik Zinnia menekan lengannya membuat sesuatu miliknya yang berada di bawah ikut merespon.
"Kenapa kau melakukan hal ini, Sayang! apa kau ingin aku menerkammu di depan Marinka?"
Mata Marinka memicing saat ia melihat dada Zinnia menempel pada lengan William.
"Apa perempuan ini sengaja pamer kemesraan di hadapanku?"
"Kak Marinka! kakak kenapa selalu melamun? apa banyak pikiran yang ingin kakak bagi dengan kami?" tanya Zinnia berlagak prihatin pada keadaan Marinka.
"Sebenarnya aku datang kemari bukan hanya ingin membicarakan hal itu, Kak! aku ingin meminta saranmu tentang bisnis onlineku," ujar Marinka yang mencari alasan agar William tak curiga padanya.
"Alasan apa lagi ini! apa dia tak ada alasan lain selain alasan tak bermutu macam itu? memang Suamiku ini pakar bisnis apa! dia itu Dokter bukan pebisnis jual beli sepertimu, jadi saran apa yang ingin kau minta padanya? yang dia tahu itu cara membedah isi kepalamu yang penuh dengan tipu muslihat untuk menikung suami orang lain."
"Saran apa yang ingin kau minta dariku, Rin? aku ini bukan tipe orang pebisnis, yang aku tahu hanya seputar dunia kesehatan," tutur William pada Marinka.
"Astaga! kenapa aku bisa lupa akan hal itu ya? maaf ya, Kak!"
"Halah! alasan kuno lagi kau pakai, dasar Kutu loncat!"
"Kalau boleh tahu? kenapa Kakak cuti hari ini? apa kakak ada urusan penting?" tanya Marinka yang ingin mengulik kejujuran dari William.
"Aku hanya butuh waktu berduaan dengan Istriku saja dan kebetulan hari ini aku free tak ada jadwal operasi," jelas William pada Marinka.
"Benar kan dugaanku! mereka berdua pasti pergi berbulan madu kemarin."
JANGAN LUPA VOTE, LIKE, DAN KOMENTARNYA YA KAKAK READERS 🥰🥰🥰