Pacaran Setelah Menikah

Pacaran Setelah Menikah
Bab 239 ( Season 2 )


Hari ini tepat satu bulan lebih 20 hari pernikahan Zinnia dan William.


Malam ini malam Minggu, malam dimana para pasangan keluar untuk berkencan meskipun hanya sekedar pergi ke cafe atau jalan berdua mengukur panjangnya jalan sembari bergandengan tangan.


William dan Zinnia berada di sebuah taman dengan kelap-kelip cahaya lampu yang menghiasi tempat itu, membuat suasana romantis menjadi semakin bertambah.


Zinnia bukan tipe bos yang tak ingat akan asisten yang selama ini bersamanya dalam keadaan sedih atau senang.


Sandra dan Marquez berada di belakang Zinnia dan William yang sedang bergandengan tangan, sementara Sandra dan Marquez tak melakukan apapun. Mereka berdua hanya mengikuti langkah Zinnia dan suaminya.


Marquez melihat Zinnia dan William bergandengan tangan sudah tak ada rasa hati nyeri bagai di siram cuka seperti dulu, yang ada hanya rasa bahagia karena wanita yang pernah ada dalam hatinya sudah bahagia bersama jodohnya.


Satu Minggu ini ia jalani berpura-pura menjadi sepasang kekasih dengan Sandra dan itu tak cukup buruk untuk hatinya.


Saat ini hati Marquez berangsur membaik karena ada Sandra yang menjadi objek kejahilannya untuk membuatnya lupa akan perasaannya terhadap Zinnia.


William berhenti di tempat penjualan eskrim. "Kau ingin makan eskrim?" tanya William pada istrinya dan wajah Zinnia seketika berbinar sembari mengangguk mengiyakan pertanyaan suaminya.


William mengusap lembut puncak kepala Zinnia. "Mau yang rasa apa?" tanya William lagi pada Zinnia.


"Green tea," sahut Zinnia dan William medekat ke arah penjual eskrim tersebut. "Eskrim ukuran jumbo green tea satu ya, Mbak!"


Penjual wanita itu mengangguk sembari tersenyum pada William. Tak butuh waktu lama menunggu eskrim itu siap.


Kini eskrim berukuran jumbo sudah ada di tangan Zinnia dan desainer cantik itu menelan ludahnya saat melihat dan mencium aroma eskrim itu.


"Kenapa hanya dilihat saja? coba dimakan," pinta William pada istrinya.


Zinnia melirik ke arah suaminya. "Kau tak membeli eskrim juga?" tanya Zinnia pada suaminya.


William tersenyum sembari menggelengkan kepalanya. "Aku tak butuh eskrimku sendiri karena eskrim yang ada di tanganmu akan menjadi eskrim kita berdua," jelas William pada istrinya.


Zinnia tersenyum manis pada suaminya. "Manis sekali sih! aku mencintaimu, Sayang!" Zinnia mencubit gemas pipi William sampai mata dokter tampan itu terpejam dengan bibir tersenyum manis.


Sandra dan Marquez melihat keromantisan mereka berdua sudah merupakan suatu hal biasa, mereka sudah kebal akan momen manis yang di buat oleh Zinnia dan William.


"Jika kau ingin membeli eskrim seperti ini, kau minta pada kekasihmu yang kaya raya itu," tutur Zinnia pada Sandra sembari menarik tangan suaminya ke arah sebuah kursi yang beratapkan sebuah pohon besar menjulang tinggi.


Marquez dan Sandra saling tatap, mereka berdua bingung harus melakukan apa karena hubungan keduanya hanya sebatas kerjasama yang saling menguntungkan alias kerjasama mutualisme.


"Jika aku tak membelikan dia eskrim, Zinnia dan William akan tahu sandiwara kami."


Marquez menarik tangan Sandra mendekati penjual eskrim. "Dua eskrim macha, Mbak!" Marquez memesan dua buah eskrim yang sama rasa dengan Sandra.


Asisten Zinnia itu melihat ke arah Marquez dengan tatapan datar tanpa ekspresi.


"Pasti karena dia tak ingin ketahuan jika sedang menjalin hubungan palsu denganku."


"Ini eskrimnya," tutur penjual eskrim wanita itu sembari memberikan eskrim yang ada di tangannya kepada Sandra dan Marquez.


Kedua pasangan palsu itu menerima eskrim rasa macha tersebut.


Setelah melakukan proses transaksi membayar eskrim yang di belinya, Marquez menarik Sandra ke arah kursi tempat duduk tepat di sebelah Zinnia dan William.


William dan Zinnia tengah asyik menikmati eskrim jumbo mereka berdua.


Hap


William memakan eskrim itu dalam sekali gigit dengan porsi besar. Zinnia melirik kesal suaminya. "Kenapa kau banyak sekali memakan eskrimku," protes Zinnia pada suami.


"Tapi kau membelikan untukku kan?" tanya Zinnia dengan wajah yang sudah cemberut.


William menghembuskan napasnya pasrah. "Aku minta maaf ya? kau bisa menghabiskan itu semua," ujar William dan senyum Zinnia bagai matahari terbit bagi William, kini senyum itu sudah terpancar indah.


Wanita itu melahap eskrimnya dengan wajah berseri-seri seperti orang tengah jatuh cinta.


"Kenapa istriku kekanakan sekali sih?"


Sandra dan Marquez memakan eskrim mereka tanpa ada yang membuka suara satu sama lain.


Sandra melirik Zinnia yang tengah khusuk dengan eskrimnya.


Sandra melirik Marquez yang masih menatap lurus ke depan. "Apa kau tak ingin melihat Nona Zinnia memakan eskrim? dia sangat lucu, lihat saja sampai berantakan mengenai bibirnya seperti itu," bisik Sandra pada Marquez dan pria itu hanya melihat ke arah Zinnia sebentar, kemudian beralih menatap lurus ke depan. "Biasa saja," sahut Marquez dengan eskrim dalam genggaman tangannya.


"Kau pasti sedang cemburu kan? melihat kemesraan Nona Zinnia dan suaminya?" Sandra kembali menggoda Marquez.


Desainer tampan itu menatap Sandra sembari tersenyum manis. "Jika kau tak mau diam, aku akan menciummu di tempat ini juga! perasaanku padanya sudah mulai memudar," jelas Marquez dengan suara berbisik pada Sandra agar William dan Zinnia tak mendengar pembicaraan mereka berdua.


"Wah, bagus kalau begitu! perjanjian kita akan segera berakhir setelah ini! aku akan membantumu untuk mencarikan wanita yang pas denganmu," bisik Sandra lagi.


"Tidak mau!" Marquez menolak mentah-mentah niat baik Sandra yang ingin segera lepas darinya.


"Kau harus segera jatuh cinta pada wanita lain, agar perasaanmu pada Nona Zinnia cepat hilang sampai musnah ke akar-akarnya."


Marquez menoleh ke arah Sandra. Kursi yang memiliki sandaran itu membuat Marquez bisa leluasa balik menggoda Sandra.


Desainer tampan itu merangkul Sandra sembari berkata, "Untuk apa aku mencari wanita lain jika sudah ada dirimu," tutur Marquez pada Sandra dan membuat jantung asisten cantik itu berdetak bagai sedang melakukan lari maraton.


"Apa ini? kenapa jantungku seperti melompat-lompat bagai kodok yang ingin melompat ke dalam air?"


Marquez melihat perubahan pada wajah Sandra yang mulai memerah.


"Kena kau, Nona Asisten! salah siapa kau berani menggodaku."


Wajah Sandra sudah memerah karena Marquez berhasil membuatnya salah tingkah.


"Kau jangan bicara sembarangan, Tuan Copaldi! hubungan kita ini hanya sebatas kerjasama saja," jelas Sandra masih dengan suara berbisik.


Marquez menatap ke arah Sandra dan Sandra juga tengah menatap ke arahnya. "Bagaimana jika kita berdua benar-benar jatuh cinta?" tanya Marquez pada Sandra.


Wajah mereka sangat dekat, bahkan tubuh Marquez secara spontan mendekat ke arah Sandra.


Hidung mereka berdua sudah hampir menyatu dan tak ada penolakan dari keduanya.


Sampai pada saat bibir mereka hendak menempel, Zinnia berteriak, "Kalian mau apa?" tanya Zinnia pada Sandra dan Marquez, membuat keduanya menjauhkan diri.


William merangkul Zinnia. "Apa yang kau lakukan, Sayang? kasihan mereka ingin bermesraan tapi kau menganggunya," ujar William pada istrinya.


Zinnia hanya tersenyum geli. "Biarkan saja! salah siapa mereka saat di butik, aku di jadikan obat nyamuk! itu balasannya karena sudah berani membuatku merindukanmu," tutur Zinnia mengangkat kepalanya menatap wajah William.


"Apa kau sangat mencintaiku?" tanya William mengeratkan rangkulannya pada tubuh Zinnia dan membersihkan sisa eskrim yang menempel pada sudut bibir istrinya.


"Tentu saja! karena kau cinta pertama dan terakhirku," sahut Zinnia memeluk William erat.


JANGAN LUPA VOTE LIKE DAN KOMENTARNYA YA KAKAK READERS BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UPDATE-NYA.