
Gaun berbahan tile premium berwarna putih dengan model lengan balon dan dress yang terlihat mengembang bagai seorang putri dari istana dalam negeri dongeng.
Rambut di ikat ke atas dan rambut panjang itu menjuntai lurus sampai batas lengannya.
Makeup yang glowwing membuat tampilan seorang desainer papan atas itu terlihat begitu fresh dan cantik pastinya.
Hells berwarna senada dengan gaun yang dikenakannya.
Wanita itu berdiri di depan kaca yang menampilkan bayangan dirinya dari ujung rambut hingga kaki.
Senyum Zinnia terukir saat ia melihat pantulan dirinya pada cermin. "Semoga saja penampilan ini tak mengecewakan dia," gumam Zinnia.
"Mengecewakan siapa, Sayang?" tanya William pada istrinya.
Pria itu tengah bersandar di ambang pintu dengan tangan yang sudah di lipat di dada melihat Zinnia dari belakang karena istrinya saat ini tengah memunggunginya.
Zinnia berbalik menghadap ke arah sumber suara. "Kau sudah pulang?" tanya Zinnia pada suaminya.
William diam memperhatikan Zinnia. Pria itu nampak terpukau dengan penampilan istrinya yang begitu menawan.
William melangkahkan kakinya mendekati Zinnia. Saat jarak mereka tinggal selangkah lagi, Dokter tampan bermarga Pattinson itu menghentikan pergerakan kakinya.
William tersenyum pada Zinnia. "Kau cantik sekali malam ini, Sayang!"
Zinnia membalas senyuman William. "Terimakasih!"
"Apa aku boleh memeluk Tuan Putri yang cantik ini?" tanya William menggoda istrinya.
Zinnia maju satu langkah mendekatkan diri dengan suaminya. "Peluk aku!" Zinnia merentangkan kedua tangannya memberikan kode pada William untuk segera memeluknya.
Dengan senang hati, Dokter tampan itu memeluk istri cantiknya. "Aku rindu padamu, Sayang!" William mencium rambut Zinnia mengendus wangi rambut yang sudah tertata rapi itu.
"Kenapa wangi rambutmu berbeda dari biasanya?" tanya William masih terus mengendus wangi rambut Zinnia.
"Tentu saja berbeda, karena yang kau hirup itu aroma wangi dari hair spray, agar rambutku tak berantakan dan tetap tertata rapi seperti saat ini," jelas Zinnia pada suaminya.
William memundurkan tubuhnya. "Aku lebih suka aroma manis rambutmu yang seperti biasanya," tutur William.
"Hanya untuk malam ini saja, agar aku tampil cantik di acara ulang tahun si kutu loncat itu."
William mengusap lembut pipi Zinnia. "Aku mengizinkanmu! aku mandi dulu ya!" William membuka jasnya meletakkan di keranjang cucian kotor. Pria itu menggulung lengan kemejanya.
"Bajumu sudah ada di atas tempat tidur," tutur Zinnia pada suaminya.
Sebelum William benar-benar masuk ke dalam kamar mandi, pria itu masih sempat menoleh ke arah istrinya. "Terimakasih, Sayang!" William tersenyum manis kemudian ia berjalan masuk kamar mandi.
Di sebuah gedung super elit, Marinka dan Marion tengah menyapa para tamu yang sudah mulai berdatangan satu persatu.
Marinka melihat ke arah jam tangannya.
*"Kurang 45 menit lagi acara akan segera dimulai."
Ponsel Marinka bergetar. Wanita berbibir tebal itu melihat ke arah ponselnya.
"Kau sapa semua tamu yang datang! aku akan mengangkat telepon sebentar," tutur Marinka pada saudari kembarnya.
Marion hanya diam tapi kepalanya mengangguk mengiyakan permintaan adiknya.
Marinka bergegas ke sudut ruangan yang sepi akan lalu-lalang orang-orang.
Marion mengamati gerak gerik adiknya yang pasti sedang mendapatkan telepon dari orang kepercayaan Marinka.
"Pasti orang suruhannya sudah mempersiapkan rencananya dengan mulus," gumam Marion masih terus menatap ke arah Marinka yang sedang mengangkat teleponnya.
"Semuanya sudah beres, Boss! wartawan sudah menunggu di tempat yang aman, nanti kita tinggal menunggu dua tikus itu masuk ke dalam perangkap dan pada saat itu tiba ... BOOM!"
Marinka tersenyum licik penuh kemenangan. "Kau memang anak buahku yang paling bisa ku andalkan."
"Jangan lupa! bayaranku harus lebih dari biasanya karena mengumpulkan wartawan bukan perkara hal yang mudah, Boss!"
"Kau tenang saja! aku akan membayarmu tiga kali lipat dari biasanya jika rencana malam ini berhasil, tapi jika rencana kita gagal, kau tak akan mendapatkan apapun dariku."
"Pasti berhasil, Boss! karena aku sudah merencanakan semuanya dengan persiapan yang matang, jadi kau jangan mencemaskan hal yang tak mungkin terjadi."
"Bagus! aku percaya padamu! sudah dulu, aku akan menyapa para tamu."
Marinka menutup panggilan dari anak buahnya. Wanita dengan balutan gaun berwarna hitam dengan model lengan terbuka dan punggung juga terbuka melenggak-lenggok berjalan menuju ke arah Marion yang sedang sibuk menyapa para tamu.
"Kenapa kau lama sekali?" tanya Marion pura-pura polos, padahal ia hanya ingin mengulik sedikit info dari gelagat mencurigakan saudari kembarnya itu.
"Biasa! aku kan orang penting dan bergelut di dunia jual beli online, jadi para costumer langgananku menghubungi aku untuk keep barang dan besok tinggal packing," jelas Marinka dengan santainya.
Marion tak percaya akan semua bualan saudari kembarnya itu.
"Pasti dia sedang menerima telepon dari antek-anteknya!"
"Apa para costumer-mu itu tak tahu jika kau sedang ada acara penting?" tanya Marion lagi mencoba memancing Marinka kembali.
"Jika mereka menghubungiku saat ini berarti memang ada urusan penting yang tak bisa di tunda ... maksudku, urusan penting mengenai baju," ujar Marinka dengan wajah menegang karena ia hampir saja memberikan sedikit celah pada Marion untuk berpikir hal buruk padanya.
"Untung saja aku masih bisa mengelak, jika tidak, pasti Marion akan terus menghujaniku dengan berbagai pertanyaan yang bisa membongkar rencanaku malam ini."
"Sudah jangan mengobrol terus! kita tebar senyuman saja pada para tamu yang hadir," tutur Marinka agar Marion tak bertambah curiga padanya.
Mobil William dan Zinnia sudah berada di halaman parkir gedung yang akan menjadi tempat perayaan ulang tahun si kembar.
Dokter tampan itu keluar lebih dulu dari dalam mobilnya dengan setelan jas berwarna putih dan dasi kupu-kupu yang bertengger di kerah lehernya.
William berjalan ke arah sisi pintu mobil tempat Zinnia menunggunya untuk membukakan pintu mobil tersebut.
William membuka pintu mobil itu.
Ceklek
Tangan William terulur pada istrinya agar wanita itu mau menerima uluran tangannya. "Silahkan turun, Nyonya Pattinson!"
Zinnia melihat ke arah William dengan senyum merekah. "Terimakasih, Tuan Pattinson!"
Tangan Zinnia menggapai uluran tangan suaminya.
Hells yang di kenakan Zinnia terlihat jelas saat desainer cantik itu turun dari mobil menampakkan betapa mewahnya hells yang ia kenakan.
Saat kedua kakinya sudah menapak pada halaman parkir gedung itu, tangan Zinnia melingkar pada lengan suaminya. "Kau hanya milikku, Tuan Pattinson!" Zinnia mengerlingkan matanya menggoda William.
"Kau juga hanya milikku, Nyonya Pattinson! malam ini dan selamanya."
Keduanya sama-sama saling memandang dengan tatapan penuh cinta dan penuh puja.
Zinnia dan William melangkahkan kaki mereka menuju tempat acara.
Sepanjang jalan menuju tempat acara, tangan Zinnia terus melingkar pada lengan William dan tangan William selalu mengusap lembut tangan istrinya.
JANGAN LUPA VOTE, LIKE, DAN KOMENTARNYA YA KAKAK READERS 🥰🥰🥰