
14 tahun kemudian
Seorang gadis cantik berkulit putih, hidung mancung, bulu mata lentik dan mata hitam pekatnya membuat pria yang menatapnya seakan terhipnotis ingin memilikinya.
Dress berbahan lace berwarna hitam. Bagian depan panjangnya selutut, sedangkan bagian belakang menjuntai ke bawah. Bagian tangannya sampai batas lengan. Hells yang digunakan juga berwarna senada.
Gadis cantik tersebut tengah berlenggak-lenggok di sebuah panggung peragaan busana dengan puluhan kamera yang sudah mengambil gambarnya dari sudut manapun.
Meskipun gadis cantik itu tak melakukan pose ke arah kamera, setiap gerakan pada tubuhnya sudah menjadi pose terbaik dalam jepretan kamera setiap orang yang mengambil gambarnya.
Hari ini merupakan peragaan busana rancangannya yang ke-20 dengan lebel Zi G. Gadis itu sudah bergelut di dunia mode selama dua tahun lamanya.
Umur boleh muda hanya 23 tahun, namun bakatnya tak perlu diragukan lagi. Ia masuk dalam jajaran desainer muda berbakat nomor dua di dunia. Gelar pertama di miliki oleh orang berkebangsaan Amerika.
Nampaknya darah desainernya turun dari sang nenek. Susan merupakan desainer terkenal di Indonesia, bahkan di luar Negeri. Jadi tak heran jika sang cucu memiliki bakat yang lebih baik dari Susan jika berurusan dengan dunia mode.
Gadis berbakat itu adalah Zinnia Putri Marvion Gafin. Senyumnya tak pernah luntur saat kamera membidik ke arahnya.
Zinnia mengumbar senyum pada para awak media yang berasal dari berbagai Negara.
Peragaan busana yang ke-20 ini memang sengaja di laksanakan di Amerika. Untuk membuat karya desainnya semakin dikenal di mata dunia.
Kesuksesan yang dimiliki Zinnia tak luput dari didikan Arnon dan Melati. Gadis itu memang bisa dibilang di didik sangat disiplin oleh ayahnya, jadi ia sangat mudah untuk berkuliah di Parsons school of design, New York City. Kampus yang melahirkan desainer ternama dunia.
Semua pelajaran yang ia dapat dari kampus itu di serap dengan baik dan Zinnia memang tipe orang yang langsung ingin mempraktikkan ilmu yang ia dapat dan hasilnya sungguh tak mengecewakan, malah berbuah sangat manis bagi gadis berkulit putih yang mengikuti gen ayahnya.
Zinnia masih single tak memiliki pasangan, bisa dikatakan tak pernah punya teman dekat laki-laki, karena yang ia pikirkan hanya desain dan desain.
Banyak pria di New York yang ingin berkencan dengannya, namun karena ia memegang janjinya pada sang ayah. Ia memutuskan untuk tak pacaran sebelum ia benar-benar sukses.
Zinnia di mata para orang yang ada di dekatnya di kenal dingin karena ia ingin bersikap profesional jika dalam urusan pekerjaan atau mencari ilmu, namun jika gadis cantik itu sudah berkumpul dengan keluarganya, ia seperti kucing kecil yang minta terus ingin dimanja.
Acara peragaan busana kali ini sudah selesai. Zinnia turun dari atas panggung membawa sebuket bunga di tangannya.
"Semuanya boleh kembali ke kamar kalian masing-masing! untuk Sandra, kau temui para wartawan itu dan jelaskan pada mereka kapan rancangan musim semiku akan launching," titah Zinnia pada Asisten pribadinya.
"Baik, Nona!"
Zinnia keluar dari gedung itu berjalan ke arah mobilnya menuju hotel yang ia tempati untuk menginap.
Kenapa Zinnia tak membeli apartemen atau rumah di New York? karena Arnon tak ingin putrinya berada jauh darinya. Arnon ingin Zinnia tetap berada di Indonesia dan bertempat tinggal di tanah kelahirannya sendiri.
Jika gadis itu membeli rumah di New York, otomatis Zinnia akan jarang pulang.
Zinnia sudah berada di pintu masuk lift menuju kamarnya, namun tiba-tiba ponselnya berdering.
"Ya, Dad?"
"Kau dimana sekarang, Sayang?"
"Aku sudah di hotel, ada apa Daddy menghubungiku?" tanya Zinnia yang masuk ke dalam lift menuju ke lantai tempat kamarnya berada.
"Kapan kau akan pulang?"
"Besok! kenapa?"
"Tiga hari lagi kita semua sekeluarga di undang ke acara pernikahan, William!"
Zinnia sedikit terdiam. Ingatan tentang dirinya dan William mulai berputar di otaknya saat pertemuan mereka di acara anniversary pernikahan orangtuanya.
William sibuk mengejar gelar dokternya, sedang Zinnia sibuk dengan sekolah desainnya.
Zinnia mengangkat telapak tangannya. Ia ingat dulu William pernah merekatkan plester pada telapak tangannya yang lecet.
Senyum di wajah gadis itu terukir kala ia mengingat dirinya dan William waktu kecil.
"Zi! kau masih di sana kan?"
Zinnia terkesiap mendengar suara ayahnya yang begitu memekakkan telinga. "Aku masih di sini, Dad!"
"Kau bisa datang kan ke acara pernikahan, William?"
"William anak Uncle Edward?"
"Iya, Sayang! dia sekarang sudah menjadi pria yang mapan dari segala aspek dan calon istrinya sangat beruntung bisa memilikinya sebagai suaminya kelak."
"Aku pasti datang, Dad! besok aku akan pulang."
"Daddy tunggu ya, Baby!"
"Oke, Daddy! Mommy kemana?"
"Mommy masih di dapur bergulat dengan pisau kesayangan."
"Hahahaha! aku kira kalian sedang bermesraan," ledek Zinnia pada ayahnya yang berada di seberang telepon.
"Zi!"
"Oke, Dad! aku minta maaf dan sampai jumpa di Indonesia, i love you."
Zinnia menutup panggilannya karena ia sudah berada di dalam kamarnya. Gadis cantik itu menjatuhkan tubuhnya pada kasur empuk kamar hotelnya.
Ia mulai membayangkan wajah William saat pria itu masih remaja.
"Zi! apa yang kau pikirkan? di pria yang sudah akan menikah! astaga, pasti dia lebih tampan! dulu saja dia sudah tampan, apalagi sekarang? huh, beruntung sekali calon istrinya," gumam Zinnia menatap langit-langit kamar hotel itu.
Rasa kantuk mulai menyerangnya, dari pagi sampai sore ia harus memastikan acaranya agar berjalan sukses tanpa hambatan. Ia harus terjun langsung ke lapangan agar rasa was-was di hatinya hilang. Semua peragaan busananya harus sukses.
Mata Zinnia perlahan mulai meredup. Deru nafasnya juga mulai terdengar teratur sampai ia terbang ke alam mimpinya.
Zinnia berlari di sebuah taman yang penuh dengan bunga matahari. Ia senang sekali sampai tak sadar jika ada seseorang yang memperhatikannya sedari tadi saat dirinya berlarian bagai anak kecil yang tak pernah di ajak jalan-jalan.
"Hei!" seseorang yang sedari tadi mengamati Zinnia memanggil.
Gadis berambut panjang itu menoleh ke arah sumber suara bariton yang berada di belakangnya. Saat ia menoleh, Zinnia melihat tubuh seorang pria jangkung dan gagah, namun anehnya, wajah pria itu tak dapat ia lihat.
"Kenapa wajah pria ini tak terlihat? apa yang terjadi? jangan-jangan dia ...."
"Do you will marry me?" tanya pria tadi sembari mengulurkan tangannya, memperlihatkan cincin berlian pada Zinnia.
Gadis itu terpaku dan tiba-tiba ....
Zinnia terbangun dari tidurnya. Entah kenapa ia bisa memimpikan dirinya di lamar oleh seseorang.
"Ini hanya mimpi, Zi! hanya bunga tidur dan sekarang kau lanjutkan tidurmu," gumamnya
Gadis itu memutuskan kembali tidur agar besok ia tak ketinggalan pesawat.