
Salma saat ini sudah berada di kamar Zinnia memeriksa kondisi menantunya dan calon cucunya.
"Semuanya stabil! apa masih tak bisa memakan nasi?" tanya Salma pada menantunya.
"Aku masih belum mencobanya lagi, Bun!" Zinnia menjelaskan pada mertuanya.
"Coba kau makan nasi dulu ya? jika nanti masih tetap terasa mual berarti memang pengaruh dari hormon kehamilanmu," jelas Salma.
Dokter kandungan itu keluar dari kamar Zinnia untuk mengambil makanan.
Beberapa menit kemudian, Salma sudah datang dengan nampan yang diatasnya terdapat satu piring nasi beserta lauknya tak lupa air putih dan juga pisang Ambon kesukaan Zinnia. Pisang itu dihidangkan untuk berjaga-jaga jika Zinnia kembali memuntahkan makanannya.
"Coba kau makan dulu, Zi!" Salma memberikan piring berisi nasi itu pada menantunya dan Zinnia menerimanya.
Zinnia memandang makanan itu lebih dulu. Seperti tak ada selera makan yang muncul dalam dirinya namun, Zinnia mencoba untuk memaksakan dirinya mencoba memakan makanan tersebut.
Satu suapan sudah masuk ke dalam mulutnya dan Zinnia mencoba merasakan makanan itu dan untungnya makanan tersebut berhasil di telannya.
Saat suapan kedua akan masuk ke dalam mulutnya, Zinnia kembali merasa mual dan ....
Huek
Zinnia meletakkan piring itu di atas tempat tidurnya. Ibu hamil tersebut berlari ke arah kamar mandi menuju wastafel yang ada di kamar mandinya.
Suara Zinnia yang hendak muntah tadi sampai terdengar ke lantai dasar, dimana William dan Edward tengah berbincang.
William berlari menaiki anak tangga menuju lantai dua.
William segera menuju ke arah kamar mandi dimana sang istri sudah terlihat pucat dan Salma yang mengusap punggung Zinnia lembut.
"Kita ke tempat tidur saja, Sayang!" William mengangkat tubuh istrinya berjalan ke arah ranjang, membaringkan tubuh Zinnia di atas tempat tidurnya.
William memberikan Zinnia air putih dan desainer cantik itu meminumnya.
Zinnia melihat ke arah pisang Ambon. "Aku mau pisang itu," tutur Zinnia pada suaminya dan William segera mengambilkan satu buah pisang untuk istrinya.
William mengupas kulit pisang itu dan memberikannya pada Zinnia. "Coba kau makan itu, siapa tahu bisa meredakan rasa mualmu," pinta William dan Zinnia segera memakan pisangnya.
Saat pisang itu sudah lumer di dalam mulutnya, nyawa Zinnia serasa tertolong. Mual yang ia rasakan sirna karena rasa pisang itu begitu membuatnya semakin ingin memakan pisang itu lagi dan lagi.
"Bagaimana? apa sudah tak mual lagi?" tanya Salma pada Zinnia dan ibu hamil itu mengangguk.
"Berarti itu pengaruh hormon kehamilanmu, Zi! jika hormonnya sudah normal, maka kau akan kembali lahap makan."
"Aku ingin pisang itu lagi," tutur Zinnia pada suaminya dengan senyum kikuknya.
William tersenyum mengusap rambut dan perut istrinya bersamaan. "Daddy tahu jika ini kemauan kalian berdua," ujar William pada janin yang ada di dalam perut Zinnia.
Salma yang melihat mereka berdua jadi teringat saat dia hamil Jonathan dulu. Edward juga begitu perhatian padanya.
Sebuah mobil di jam yang menunjukkan waktunya untuk orang beristirahat melaju sangat kencang karena kendaraan di jalan raya juga mulai sepi.
Wanita dengan bibir tebal itu melajukan mobilnya menuju suatu tempat untuk bertemu seseorang.
Mobil wanita yang tak lain adalah Marinka berhenti di pinggir jalan. Wanita itu turun dari dalam mobilnya melihat ke segala arah, takut ada yang mengikutinya dan ternyata aman.
Marinka menyandarkan tubuhnya pada mobilnya sembari sebuah benda pipih bertengger pada telinga kanannya.
"Halo! kau dimana?"
"Saya di markas, Bos!
"Aku sudah berada di depan gang markasmu, cepat kemari dan bawakan aku barang yang aku minta!"
Tut tut tut tut
Marinka meletakkan kembali ponselnya pada tas jinjing yang terkalung indah pada lengannya.
Wanita dengan rambut kecoklatan itu masih memperhatikan keadaan sekitar gang itu karena tempat itu seperti menyerupai hutan, tak ada rumah atau cahaya lampu. Hanya satu cahaya lampu tepat dibawah ia memarkirkan mobilnya.
Lama menunggu anak buahnya, akhirnya pria dengan kacamata hitam di kedua matanya muncul dari dalam gang sempit yang hanya cukup di lewati satu orang saja.
Pria itu tak terlihat membawa apapun di tangannya. Marinka ingin marah karena anak buahnya berani membohonginya. "Kenapa kau tak membawa apapun?" tanya Marinka dengan nada sedikit meninggi.
Pria berkacamata hitam itu tersenyum licik kemudian mengeluarkan satu botol ukuran sedang dari dalam saku celana belakangnya.
Pria itu menunjukkan pada Zinnia. "Ini yang kau minta, Bos!"
Marinka ingin menggapai barang itu namun, pria itu menjauhkan dari jangkauan Marinka. "Ini tidak gratis, Bos! ada uang, ada barang!"
Marinka menatap pria itu kesal dan ia segera mengambil segepok uang dari dalam tasnya.
PAKKK
Suara peraduan antara segepok uang milik Marinka dan tangan bawahan Marinka terdengar sangat jelas.
"Itu uangnya dan mana barang milikku," pinta Marinka pada bawahannya dan pria misterius itu memberikan botol berukuran sedang tersebut pada Bosnya.
Marinka tersenyum sembari menatap dan menaikkan sedikit ke atas barang yang akan menjadikan anak Zinnia pergi untuk selama-lamanya. "Selamat tinggal untukmu yang masih berada di dalam rahim istri, Kak William!" senyum licik Marinka terukir dan nampak sangat mengerikan karena suasana malam yang begitu sangat mendukung seringai licik adik kembar dari Marion.
Sementara pria bawahan Marinka tengah mencium wangi uang segepok berwarna merah yang berada di tangannya. "Terimakasih, Bos! aku akan menunggu kerjasama kita lagi," tuturnya sembari berbalik badan meninggalkan Marinka.
Marinka juga segera masuk ke dalam mobilnya dan melajukan mobil itu menuju arah apartemennya karena di rumahnya masih ada Marion.
Tanpa di sadari oleh Marinka, ternyata anak buah Sandra mengikuti kembaran Marion itu sedari tadi.
Semua bukti sudah berada di tangan mereka dan besok kedua anak buah Sandra itu akan melaporkan hal penting itu pada Bos mereka.
Di dalam kamarnya Sandra tengah melihat beberapa dokumen penting milik Zinnia yang harus ia simpan. Dokumen itu berhubungan dengan kontrak kerjasama antara Zinnia dan berbagai pihak.
Tring tring
Ponsel Sandra berbunyi tanda pesan masuk. Asisten cantik itu menatap ponselnya kesal. "Siapa sih malam-malam begini mengirim pesan," gumamnya dengan nada kesal.
Sandra melihat ponselnya dan ternyata itu pesan dari nomor yang tak terdaftar dalam kontak ponselnya. "Siapa ini?" tanya Sandra sembari membuka pesan itu.
Saat pesan itu di buka, ternyata pesan dari Marquez. Mata Sandra terbelalak membaca isi pesannya.
Marquez
Apa kau sudah tidur, Nona Asisten. Jika belum, temani aku begadang ya malam ini.
Sandra bergidik ngeri membaca pesan dari Marquez. "Pria ini urat malunya sudah putus apa ya? kenapa mengirim pesan padaku malam-malam begini dan meminta ingin ditemani meronda! maksudnya apa coba!"
Belum juga Sandra membalasnya, pesan dari Marquez masuk kembali.
Marquez
Kenapa tak membalas pesanku? apa kau sudah tidur? ayolah temani aku yang sedang dalam keadaan insomnia iniπ
Kasihani aku, Nona Asisten π
Bukannya membalas, Sandra lebih memilih meletakkan ponselnya di atas nakas dan membaringkan tubuhnya di atas ranjang. "Lebih baik aku tidur saja! daripada mengikuti keinginan pria aneh itu!"
JANGAN LUPA VOTE, LIKE, DAN KOMENTARNYA YA KAKAK READERS BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UPDATE-NYA.