Pacaran Setelah Menikah

Pacaran Setelah Menikah
Bab 58


Malam sudah berganti pagi.Sinar mentari menerangi bumi memberi tanda bagi para mahluk hidup di dunia untuk memulai semua aktivitas mereka.


Seorang wanita dengan lingkar mata panda hitamnya tengah berada di sebuah kamar dengan sebotol minuman di tangannya.


Wanita itu masih menatap layar televisi dengan tatapan kosong.Entah apa yang ia pikirkan saat ini.Sejak kembali dari bandara kemarin siang,wanita itu yang tak lain adalah Clara mengurung diri di dalam kamarnya.


Ia meminum beberapa botol bir dan yang ada di tangan itu bir terakhir yang ia nikmati.


Botol bekas minumannya berserakan dimana-mana.


Clara masih tetap menatap layar televisinya tanpa beralih ke objek lain.


Di channel yang ia tonton telah sampai pada tayangan acara gosip pagi.


Di layar televisi itu sudah terpampang wajah dua orang manusia berbeda jenis tengah saling menikmati ciuman mereka di bandara.


Clara mengganti channel lain namun hasilnya sama saja,semua stasiun televisi itu menayangkan adegan romantis Arnon dan Melati secara serempak dan itu semua membuat emosi Clara kembali tersulut.


Kesadaran Clara mulai kembali dan melihat ke arah layar televisinya dengan tatapan emosi.


Wanita itu yang tadinya terduduk di lantai kini bangun mendekat ke arah layar televisi dan melempar layar tersebut menggunakan botol minuman terakhir yang ia pegang tepat saat wajah Melati memenuhi layar televisinya.


PYARRRRRR


Suara pecahan botol yang bercampur hancurnya layar televisi LED keluaran terbaru itu terdengar sampai ke lantai dasar rumahnya.


Pelayan yang bertugas menjaga Clara bergegas naik keatas untuk melihat keadaan Nonanya.


Saat pelayan itu sudah berada di depan pintu kamar Clara,ia ingin membuka handel pintu namun terkunci dari dalam.


"Nona! buka pintunya," pinta pelayan tersebut pada Clara namun tak ada sahutan apapun dari dalam kamar itu.


Pelayan wanita tersebut mencari sesuatu dari dalam saku costume maid-nya.


Ia mengeluarkan sebuah kunci cadangan untuk masuk kedalam kamar Nona mudanya.


Ceklek


Pintu berhasil terbuka dan pelayan itu masuk melihat keadaan Clara.


Wanita itu sudah terduduk di lantai sambil menjambak rambutnya sendiri.


"Nona ayo kita pindah ke atas ranjang." Memapah Clara dan mendudukkannya di atas kasur.


"Arnon harus menjadi milikku ... Arnon harus menjadi milikku." Ucapan itu yang selalu Clara ulangi dengan raut wajah kebingungan bercampur ketakutan yang luar biasa.


"Iya,Nona! Tuan Arnon akan menjadi milik Nona,jadi anda harus minum obat ini." Memberikan obat pada Clara beserta segelas air putih.


Clara meminum obat itu dan meneguk air dalam gelas tersebut sampai habis.


"Sekarang anda istirahat dulu,saya akan memasak di dapur." Membaringkan tubuh Clara dan menyelimutinya.


Di dalam kamar yang masih gelap dengan tirai yang tetap tertutup rapat hanya sebagian kecil cahaya yang masuk melalui sela-sela tirai tersebut yang langsung tertuju pada wajah tampan Arnon.


Pria itu merasa terusik dengan cahaya yang membuat tidur nyenyaknya terganggu.


Arnon perlahan membuka kelopak matanya dan mengerjapkan kelopak mata tersebut berkali-kali agar pandangannya terfokus kembali.


Pria itu melihat rambut hitam seorang gadis dengan wangi yang sangat ia sukai tentunya.


Punggung gadis itu bergerak teratur sesuai ritme nafasnya yang menandakan jika ia tengah dalam keadaan tertidur pulas.


Arnon tersenyum saat melihat tangannya tanpa sengaja melingkar di pinggang ramping istrinya.


Arnon bergeser sedikit agar lebih dekat dengan Melati.Ia mencium rambut wangi istrinya dengan raut wajah yang sangat tenang.


"Aku suka wangi rambutmu," gumam Arnon sambil terus mengendus wangi rambut istrinya.


Melati mulai menggerakkan bagian kepalanya,ia merasa ada sesuatu yang membuatnya terasa geli di bagian kepala.


Mata gadis itu mulai terbuka sedikit demi sedikit dan mencoba memfokuskan pandangannya.


Saat menolehkan kepalanya,ia melihat wajah Arnon yang tepat berada di depan wajahnya saat ini,dengan kedua mata yang masih terpejam menikmati aroma menenangkan dari rambut Melati.


Melati masih diam tanpa gerakan apapun.Gadis itu melirik kearah perut dimana terasa ada benda berat yang menindihnya.


Gadis itu melihat ada sebuah tangan kekar yang melingkar di bagian pinggang sampai perutnya.


Melati mengikuti arah tangan itu dan terhubung pada tubuh suaminya.


Melati melihat lengan kokoh itu,mata Melati terus menjalar menatap wajah suaminya dengan kedua mata Arnon yang sudah terbuka menatapnya diiringi senyum tampan yang begitu menggoda.


Deg deg deg


Jantung Melati mulai berdentum kembali.


"Kenapa dengan dadaku? kenapa dada ini lagi-lagi merasakan tendangan bebas yang sangat luar biasa," pikir Melati yang masih menatap senyum tampan suaminya.


Gadis itu terperanjat mendudukkan dirinya sambil melihat ke arah baju yang ia kenakan.


"Syukurlah masih lengkap semua," gumamnya yang terdengar oleh Arnon meski gadis itu sudah setengah berbisik.


Arnon tersenyum melihat tingkah Melati.Ia menarik bahu istrinya untuk berbaring kembali.


Melati diam tak bergerak seperti patung karena tangan Arnon merangkulnya tepat berada di atas dada gadis itu.


Pria itu bergeser mendaratkan wajahnya tepat pada ceruk leher Melati.


"Kau tenang saja,bajumu masih tetap menempel sempurna tanpa ada bagian yang terlepas," tutur Arnon sambil mengendus wangi rambut istrinya yang membuat candu bagi aktor tampan tersebut.


Melati hanya bisa diam seperti patung menatap langit-langit kamarnya karena posisi gadis itu tengah tidur terlentang.


Arnon terus mengendus aroma rambut Melati sampai gadis itu merasa geli pada bagian ceruk lehernya.


Melati menjauhkan kepalanya dari wajah Arnon.


Gadis itu melihat ke arah suaminya yang mana sang suami juga menatapnya.


Pandangan mereka kembali bertemu.


"Kenapa kau menjauhkan rambutmu dariku?" tanya Arnon menatap kedua mata istrinya intens.


"A-aku harus bangun untuk membuat sarapan," kilah Melati yang terdengar receh di telinga Arnon.


"Lihatlah ini sudah jam berapa ... Sayang," ledek Arnon.


Wajah Melati seketika memerah karena Arnon memanggil dirinya dengan sebutan sayang, padahal di sana tak ada orang lain selain mereka berdua.


Gadis itu mengambil ponselnya yang berada di atas nakas,mata Melati membulat sempurna.


Gadis itu langsung bangun dari tempat tidur hendak berjalan menuju kamar mandi,namun langkahnya terhenti saat Arnon kembali menggodanya.


"Mau kemana,Sayang!" Memiringkan badannya dengan posisi tangan kanan menyangga kepalanya sambil menaikkan turunkan kedua alisnya.


Melati merengut kesal menatap kearah Arnon.


"Berhenti memanggilku ... sa-sayang," pinta Melati yang langsung berlari kecil menuju kamar mandi.


Arnon tertawa bahagia melihat wajah istrinya yang nampak memerah.


Pria itu merebahkan tubuhnya di atas kasur dengan posisi terlentang.


"Aku bahagia sekali pagi ini." Memiringkan badannya tepat di sisi tempat Melati tidur.


Arnon mencium aroma wangi rambut istrinya yang masih menempel pada bantal yang Melati gunakan.


Arnon mengambil dan memeluk bantal tersebut serta mengendusnya berkali-kali sambil memejamkan matanya dengan senyum yang setia terukir di bibir indahnya itu.


"Aku ingin tidur lagi," gumam Arnon dengan mata terpejam menikmati aroma rambut Melati yang masih menempel pada bantal istrinya.