Pacaran Setelah Menikah

Pacaran Setelah Menikah
Bab 131


Arnon membaringkan istrinya di kasur berukuran King size dengan balutan sprei berwarna putih tulang.


Pria itu tersenyum manis tepat di hadapan wajah istrinya yang terlelap tidur.


"Pasti kau mengira aku marah kan? maafkan aku, Sayang! aku melakukan itu semua untuk memuluskan rencanaku," gumam Arnon mengecup kening Melati cukup lama.


Aktor tampan itu beranjak dari kamarnya. Ia berjalan keluar menuju ruang tamu.


Kamar Arnon berada di lantai dua, sedangkan lantai tiga tak di tempati olehnya karena bagian paling atas dari rumahnya itu khusus untuk kamar anaknya kelak.


Arnon mempersiapkan semuanya dengan sangat matang dan terencana.


Arnon mulai menuruni anak tangga menuju lantai dasar. Di ruang tamu sudah ada Agnez dan Pram.


Agnez sibuk melihat interior rumah mewah itu. Semuanya sungguh terlihat elegan saat nuansa klasik dan modern menjadi satu.


"Apa Nona muda baik-baik saja, Tuan!" Pram menyuarakan pertanyaannya.


"Dia baik-baik saja! sekarang dia sedang beristirahat," jawab Arnon.


Agnez menatap ke arah Arnon dengan tatapan sengit. "Kau tak memukulnya kan?" tanya Agnez dengan raut wajah sangarnya.


"Hahahaha! apa kau bercanda, Kakak Ipar! aku bukan orang gila dan aku tak marah padanya," jelas Arnon dengan nada santai.


"Aku tahu! aku hanya mengujimu saja," elak Agnez sedikit ketus.


"Kalian pulang saja dulu! besok acara pertunangan kalian kan?"


"Tapi Melati ...."


"Kakak Ipar tak perlu cemas, karena aku akan melindungi, anak dan Istriku! di semua sudut rumah ini sudah aku tempatkan pengawal, keamanan di rumah ini aku jamin aman."


Agnez dan Pram saling tatap satu sama lain. Sedetik kemudian keduanya sama-sama menganggukkan kepalanya.


"Baiklah! kami akan pulang dulu," tutur Pram yang memberi hormat pada Arnon kemudian menggandeng tangan Agnez keluar dari rumah Bosnya.


Arnon tersenyum melihat kedua pasangan baru itu. "Pasangan yang masih hangat-hangatnya, pasti mereka merasa dunia milik berdua! hahahaha! dunia tak selebar daun kelor! jodoh Pram! Kakak Iparku! huh, sungguh dunia ini serasa begitu sempit," gumam Arnon sambil geleng-geleng kepala.


Melati menggeliat kecil. Istri Arnon itu mulai membuka sedikit kelopak matanya. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh kamar yang di tempatinya sekarang.


Melati langsung bangun dengan posisi tetap duduk di atas kasur empuk itu.


Wanita berkulit eksotis tersebut menatap tiap sudut ruangan yang di sebut sebuah kamar.


Ranjang yang berukuran besar, sprei berwarna putih tulang, gorden jendela berwarna senada dan karpet sebagai alas berwarna abu tua.


"Aku ada dimana? ini bukan di rumah keluarga Gafin," gumam Melati sembari turun dari atas ranjang empuknya.


Melati menapakkan kakinya pada karpet bulu tebal yang sangat nyaman saat telapak kakinya sudah berpijak di atasnya. Ia melangkah ke arah sebuah ruangan yang ada di dalam kamar tersebut.


Melati di buat takjub dengan ruangan yang ia masuki itu.


Di sana sudah berjejer lemari baju, tas, sepatu, dan beberapa laci dengan desain mewah untuk tempat aksesoris bermerk seperti jam, dompet, dan lainnya.


Ruangan itu berbentuk persegi panjang dengan bagian kanan dan kiri lemari berjejer rapi dan bagian tengahnya di letakkan laci tempat aksesoris.


Bagian kanan lemari khusus untuk keperluan Arnon. Di sana sudah tergantung beberapa kemeja, jas dan celana. Di samping lemari baju, terdapat lemari sepatu. Mulai dari sepatu kasual, formal, dan sepatu olahraga.


Di bagian sebelah kiri adalah lemari bagian Melati. Di sana sudah tergantung gaun malam, dress selutut dan beberapa mantel untuk cuaca dingin. Di sebelah lemari baju, terdapat lemari tas branded. Di sebelah lemari tasnya, terdapat lemari sepatu dengan berbagai macam model seperti heels, wedges, flat , boots dan lainnya.


Melati berjalan ke arah tempat untuk menyimpan berbagai aksesoris kecil.


Tempat yang mirip dengan laci itu di atasnya terdapat lapisan kaca tembus pandang. Bentuk tempat itu memanjang dan di dalamnya terdapat 3 bagian ruang.


Bagian sebelah kanan untuk menyimpan jam tangan branded Melati dan Arnon. Bagian tengah untuk menyimpan dompet branded Melati dan Arnon. Bagian sebelah kiri untuk menyimpan dasi Arnon.


Setelah puas melihat isi dari walk-in closet tersebut, Melati berjalan ke arah cermin yang sangat besar tepat di tengah-tengah lemari keduanya. Posisi kaca itu diapit oleh lemari yang berjejer.


Melati melihat pantulan dirinya yang terlihat dari ujung kaki sampai rambut.


Wanita itu tersenyum sembari mengelus perut buncitnya. "Usiamu sudah lima bulan berada di rahim, Mommy! sehat terus ya, Sayang! Mommy dan Daddy! sangat mencintaimu," ujar Melati menundukkan kepalanya menatap perut buncitnya.


Tiba-tiba Melati teringat akan suaminya. Ia berjalan keluar dari ruang walk-in closet tersebut mencari tas jinjingnya, ternyata tas itu berada di sofa yang berada di kamar super mewahnya.


Melati menekan-nekan ponselnya. Ia mencoba menghubungi nomor telepon Arnon, namun nomor Arnon masih tetap tak aktif.


Air mata sudah hendak keluar dari kedua sudut mata Melati, namun suara bariton seorang pria membuat tubuhnya diam membeku.


"Kau sudah bangun?" tanya pria itu yang tak lain ada Arnon.


Melati menoleh ke arah sumber suara. Air matanya sudah tak dapat ia bendung lagi.


Sebulir air mata jatuh diikuti buliran lainnya.


Melati langsung berjalan cepat ke arah suaminya. Ia tak berani berlari meskipun lari kecil, karena ia takut tersandung seperti tempo hari.


Melati memeluk erat Arnon dengan linangan air mata. "Sayang! maafkan aku! aku tahu waktu itu salah karena telah mengabaikanmu," tutur Melati sembari sesegukan.


Arnon membalas pelukan istrinya. "Aku tak marah padamu, Sayang! aku hanya ingin mempersiapkan kejutan ini untukmu," ujar Arnon mengecup puncak kepala Melati.


Melati menengadahkan kepalanya. Ia menatap kedua manik mata Arnon dengan bekas air mata yang masih tersisa di kedua pipinya.


"Kejutan?" tanya Melati bingung.


"Iya! rumah ini kejutannya! aku mempersiapkan rumah ini sejak kita sudah saling mengungkapkan perasaan waktu itu dan mulai hari ini, kita akan tinggal di rumah ini," tutur Arnon mengecup kening Melati.


Cup


Saat Arnon menarik kecupannya, Melati masih memejamkan matanya. Perlahan mata wanita itu mulai terbuka. "Kenapa kau sampai membuatkan aku rumah sebagus ini?" tanya Melati mengusap lembut lengan kekar suaminya.


Arnon menyipitkan matanya. " Darimana kau tahu jika rumah ini besar?" tanya Arnon dengan raut wajah penasaran.


Melati menghela nafasnya. "Kamar ini saja sudah sebesar ini, apalagi ruangan lainnya, karena aku tahu kau tak mungkin membuat ruangan lainnya sekecil lubang tikus kan?"


Arnon tersenyum mengapit kedua hidung Istrinya. "Apa kau ingin tahu kenapa aku membuat rumah sebesar ini?" tanya Arnon dan diangguki oleh Melati.


Pria itu mendekatkan bibirnya pada telinga sang istri. "Aku ingin menunjukkan kepadamu, sebesar apa cinta yang aku miliki untukmu, bahkan lebih besar dari rumah ini," jelas Arnon menggigit kecil daun telinga Melati.


Wanita itu tersenyum kegelian. "Benarkah lebih besar dari rumah ini?" tanya Melati memastikan.


"Tentu saja! apa kau meragukan suamimu ini, Sayang?"


"Tentu saja tidak! karena aku tahu jika cintamu sungguh besar padaku," ujar Melati.


Keduanya tersenyum bahagia dengan kening yang sudah saling menyatu.