
Marquez sudah berada di perjalanan menuju arah suatu tempat. Pria itu meletakkan buket bunga mawar yang tadinya akan ia berikan untuk Sandra tepat di samping tempat duduk kursi penumpang yang kosong tanpa penghuni.
Marquez menatap lurus ke depan. Pria itu merasakan lagi sakit yang pernah ia rasakan, bagaimana ia tahu Zinnia telah menjadi milik pria lain.
"Kenapa nasibku harus selalu kalah seperti sekarang ini! apa aku tak bisa memiliki seorang wanita yang aku cintai dan mencintaiku?"
Pertanyaan itu terus muncul dalam benak Marquez dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Ia merasa tak sanggup lagi untuk mencoba mencintai wanita manapun karena rasa sakit hati itu sudah dua kali ia rasakan.
Bayangan akan kenangannya dan Sandra berterbangan di dalam otaknya. Ia tak ingin mengingat itu semua. Ia ingin membuang apa saja yang berhubungan dengan Sandra hari ini.
"Tuhan! sudah cukup kau membuatku merasakan sakit seperti ini! jika untuk menjalin hubungan lagi, sepertinya aku harus berpikir ratusan kali karena sakit hati tak sama dengan sakit yang ada pada kulit yang terluka! sakit pada kulit yang terluka bisa sembuh jika kita obati, sementara sakit pada hati ini, tak akan ada obatnya."
Marquez menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi penumpang. Desainer tampan itu memejamkan matanya dengan setetes air mata yang jatuh meluncur begitu saja dari mata sebelah kanannya.
"Aku mencintaimu, Sandra! tapi cinta ini hanya aku yang merasakannya dan lagi-lagi aku yang harus merasakan sakitnya, bertepuk sebelah tangan tanpa ada balasan."
Sandra melajukan mobilnya ke arah danau yang tadi di informasikan oleh bawahannya. Cukup 15 menit menuju danau itu jika kecepatan mobil itu di atas normal.
Marquez duduk di tepi danau dengan buket bunga mawar yang akan ia berikan pada Sandra pada awalnya.
Marquez menatap miris bunga mawar itu.
"Bunga ini sangat bagus untuk merayakan hari patah hati sedunia untukku," ujar Marquez mencabut satu tangkai bunga untuk ia sisakan di sampingnya sebentar lagi, karena bunga lainnya akan ia lempar ke danau sebagai pertanda membuang kesialannya.
Marquez berdiri dari duduknya. Pria itu menghirup aroma bunga tersebut untuk yang terakhir kalinya.
Marquez sudah mengangkat buket bunga itu tinggi-tinggi. Ia hendak melempar bunga tersebut ke arah tengah danau.
"Marquez!"
Suara teriakan seorang wanita yang sangat ia kenal dan sangat ia rindukan sedari pertama ia menapakkan kakinya di Negara ini.
Marquez menoleh ke arah suara itu dan ia melihat seorang wanita berpakaian cukup tebal berjalan ke arahnya.
Wanita itu tersenyum manis pada Marquez dengan langkah yang semakin lama semakin cepat.
Marquez tersenyum kecut. "Aku sudah salah menyukai istri orang lain," gumamnya di sela-sela pergulatan pikirannya.
Kini jarak Marquez dan Sandra sangat dekat. Wanita itu tersenyum pada desainer kenamaan dunia. "Kenapa kau pergi dari rumahku? kenapa kau tak masuk ke dalam lebih dulu?" tanya Sandra mencoba meluruskan permasalahan yang ada.
"Aku salah tempat berkunjung dan melabuhkan hatiku," sahut Marquez pada Sandra.
Sandra sempat merasa terkejut dengan penuturan Marquez namun, ia mencoba senetral mungkin mengontrol perasaannya. "Apa maksudmu?" tanya Sandra lagi pura-pura tak tahu.
"Aku mencintaimu, Sandra! sangat mencintaimu, tapi ... sepertinya aku harus mengubur jauh-jauh rasa cinta yang salah ini," ungkapnya dengan wajah menunduk.
"Kenapa kau harus mengubur jauh-jauh perasaan itu?" tanya Sandra penasaran.
Marquez menatap ke arah Sandra dengan tatapan penuh keputus-asaan. "Karena kau wanita yang sudah bersuami dan sudah memiliki seorang anak perempuan yang sangat cantik seperti dirimu!"
Sandra lagi-lagi dibuat terkejut oleh Marquez. Ia ingin tertawa karena Marquez mengira dirinya sudah bersuami dan punya anak.
"Pasti yang dia maksud tadi adalah, Jihan!"
Sandra mendekati Marquez. Menyentuh tangan kekar yang terlihat tak bertenaga. "Jangan hapus perasaanmu itu!"
Marquez menatap kedua manik mata Sandra yang penuh akan ketulusan memintanya untuk tak menghapus perasaan cintanya.
"Kenapa, San? bukankah kau sudah memiliki keluarga yang bahagia?" tanya balik Marquez pada Sandra.
Sandra memantapkan hatinya untuk memperjuangkan cintanya kali ini. Ia sadar jika dirinya sudah terjerat dalam pesona seorang Marquez Copaldi.
Sandra tersenyum sembari menyentuh pipi Marquez. "Yang akan menjadi ayah dari anak-anakku kelak adalah pria yang saat ini berada di hadapanku! aku masih single, Tuan Copaldi! anak perempuan yang kau lihat tadi adalah keponakanku," jelas Sandra dengan nada lembut.
Marquez masih ingin mencari kebenaran dalam mata Sandra. "Kenapa dia memanggilmu, Mami!"
Marquez melempar buket bunga yang ada di tangannya sembarangan. Pria itu menyentuh kedua pipi Sandra penuh kasih. "Apa kau mencintaiku?" tanya Marquez menatap lekat manik mata Sandra.
Asisten Zinnia itu tersenyum sembari berkata, "Aku mencintaimu dan merindukanmu, Tuan Copaldi!"
Dada Marquez naik turun kala ia mendengar balasan cinta dari wanita yang ia cintai. Marquez menarik pinggang Sandra agar mendekat ke arahnya. "I love you, Sandra!"
"I love you, Mr. Copaldi!"
Marquez mendekatkan wajahnya pada wajah Sandra. Sapuan angin menerpa kulit keduanya tanpa permisi.
Kini hembusan hangat mulai terasa pada wajah keduanya. "I want to kiss you," izin Marquez dan bibir itu sudah mendarat pada bibir Sandra.
Marquez yang menguasai ciuman kali ini karena Sandra memang amatir dan tak tahu apa-apa mengenai ciuman.
Marquez ingin melakukan lebih dari itu. Tangan Sandra mulai reflek terkalung indah pada leher Marquez.
Desainer tampan itu mengigit kecil bibir Sandra sampai mulut asisten Zinnia itu terbuka dan Marquez mengobrak-abrik apa saja yang ada di dalamnya.
Marquez memeluk erat pinggang Sandra. Kini ia tak akan membiarkan Sandra jauh darinya.
Sandra menjauhkan sedikit wajahnya dengan napas keduanya yang mulai terengah-engah bagai habis lari balap karung tingkat RT.
Kening mereka masih menyatu dengan ujung hidung yang juga masih bersentuhan. "Apa aku hanya pelarianmu?" tanya Sandra di sela-sela napas hangat mereka.
Marquez yang masih memejamkan mata, perlahan mulai membuka kelopak mata indah itu, memandang pahatan wajah seorang wanita yang berada tepat di depan matanya.
Pria itu tersenyum manis dengan bibir yang terlihat setengah basah bekas ciumannya tadi. "Zinnia mungkin wanita pertama yang ada dalam hatiku, tapi kau wanita terakhir yang akan terus bersemayam dalam hati ini," tutur Marquez pada Sandra.
Wajah asisten cantik itu mulai bersemu merah mendengar rayuan maut pria yang ia cintai.
Sandra mengeratkan lingkaran tangannya pada leher Marquez. "Sejak kapan aku mulai jatuh cinta padamu? ... aku juga tak tahu kapan rasa itu mulai datang! tapi yang aku tahu, saat kau menangis untukku yang dalam keadaan sekarat, membuat aku yakin jika kau pasti sangat mencemaskan aku! mulai dari itulah bayangan wajah jelekmu ini mengitari isi kepalaku," tutur Sandra tersenyum pada Marquez.
Pria itu tersenyum memeluk pinggang istrinya erat.
Cup cup cup
Triple kiss mendarat pada bibir lembut milik Sandra. "Aku akan segera melamarmu, Sayang!"
Sandra tersenyum memeluk tubuh kekasihnya erat. "I love you," tutur Sandra.
"I Love you, My women!"
Dibawah ini hanya visual, jika tidak berkenan, para readers bisa membayangkan pemain yang kalian inginkan 😊
ZINNIA PUTRI MARVION GAFIN
AIDEN WILLIAM PATTINSON
MARQUEZ COPALDI
SANDRA ADISTA
JANGAN LUPA VOTE, LIKE, DAN KOMENTARNYA YA KAKAK READERS BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UPDATE-NYA.