Pacaran Setelah Menikah

Pacaran Setelah Menikah
Bab 187 ( Season 2 )


Besok Zinnia harus berangkat ke Amerika. Gadis itu sengaja tak memberitahu keberangkatannya pada William karena beberapa hari belakangan setelah makan malam bersama orangtua keduanya, William tak kunjung menyatakan perasaannya. Di tambah lagi saat ia melihat foto Marion di laci kamarnya, foto itu masih ada di dalam sana.


Zinnia berpikir, mungkin William masih belum bisa melupakan wanita yang memang lebih lama di kenal oleh suaminya daripada dirinya.


Keduanya memang akhir-akhir ini jarang di rumah karena kesibukan masing-masing. Mereka hanya pulang tidur, itupun Zinnia sudah tidur lebih dulu saat William pulang.


Selain sibuk dengan urusan pasiennya, pria itu juga sibuk dengan persiapan ulang tahun rumah sakitnya yang memang setiap tahun dirayakan.


Meskipun jarang bertemu, Zinnia seperti biasa melakukan tugasnya sebagai istri William.


Dari tugas baru bangun tidur yaitu morning kiss untuk suaminya, mempersiapkan baju yang akan di kenakan William saat ke rumah sakit, serta sarapan dan makan siang untuk suaminya. Semua itu di lakukan oleh Zinnia agar William cepat jatuh hati padanya.


Zinnia saat ini hendak berangkat ke rumah Jennifer untuk mengemas baju-baju yang dua hari lagi akan di kenakan oleh para model profesional dunia.


Zinnia sudah menyiapkan makanan untuk William. Ini hari terakhir ia akan bersikap layaknya istri yang sangat mencintai suaminya jika William masih belum juga bisa mencintainya.


Pria itu sudah berada di meja makan dan Zinnia menyusulnya.


Keduanya sudah sarapan roti masing-masing dengan segelas susu hangat seperti biasanya.


"Aku akan ke rumah temanku untuk melihat baju yang akan di tampilkan saat peragaan busana musim semi di Amerika," tutur Zinnia pada William.


Pria itu menatap ke aras istrinya sambil mengangguk.


"Kapan kau akan ke ...."


Perkataan William terhenti karena ponselnya tiba-tiba berdering.


"Halo!"


"..."


"Baik, saya akan segera kesana!"


William menutup panggilan itu lebih dulu.


Zinnia menatap suaminya. Ia berharap mungkin William akan mengatakan hal yang ia tunggu selama beberapa hari ini, namun dugaan Zinnia salah. Pria itu bangun hendak berangkat ke rumah sakit.


"Kau sudah ingin berangkat?" tanya Zinnia pada suami.


"Iya!"


"Tenang, Zi! masih ada nanti malam jika pria itu tak pulang telat lagi."


William hendak melangkah keluar dari rumahnya, namun Zinnia lebih dulu bersuara. "Tunggu!"


Gadis itu mengambil kotak bekal suaminya di dapur, Zinnia kembali dengan kotak bekal di tangannya.


Zinnia memberikan bekal itu pada William. "Kau selalu lupa dengan kotak bekal ini! jika aku suatu saat nanti sudah tak bersikap baik padamu, kau harus selalu ingat untuk membawa bekal ini," tutur Zinnia yang sudah hampir saja putus asa.


William nampak ganjal dengan perkataan istrinya, namun karena rapat sudah menunggunya, ia harus cepat.


Pria itu menerima kotak bekal dari tangan Zinnia. Sebelum William benar-benar pergi, gadis itu langsung mengecup bibir suaminya.


Cup


"Morning kiss! maaf tadi pagi aku melupakan hal ini," tutur Zinnia dengan senyum manisnya.


William tersenyum. Ia juga merasa ada yang kurang tadi pagi. Pria itu tak sadar jika ia setiap pagi biasa mendapatkan morning kiss dari istrinya.


William mengusap puncak kepala Zinnia lembut. "Aku berangkat dulu," tutur William pada istrinya dan di angguki oleh Zinnia.


William melangkah keluar menuju mobilnya, sedangkan Zinnia hanya bisa menundukkan kepala dengan wajah kecewa.


Zinnia sudah berada di dalam rumah Jenifer. Gadis itu melihat beberapa bajunya yang masih terpajang belum di kemas.


Zinnia tersenyum melihat hasil karyanya. "Syukurlah semua berjalan dengan lancar," gumam Zinnia sambil melihat baju yang ia desain dengan gambar bibir. Zinnia ingat saat ia mendesain baju itu.


Baju yang ia desain di ruangan William. Seketika itu juga ia mengingat misinya juga masih belum masuk 50%. Gadis itu duduk di kursi ruangan Jenifer.


Zinnia menopang kepalanya dengan kedua tangannya. Kepala gadis itu tertunduk ke bawah dengan mata yang terpejam mengingat semua kenangan dirinya dan William.


"Kau kenapa, Zi?" tanya Jenifer yang baru saja keluar dari dapur membawa dua gelas jus di kedua tangannya.


Zinnia kembali menegakkan kepalanya. Gadis itu mengumbar senyum palsunya pada Jenifer. "Aku tak apa-apa, Jen!"


Jenifer meletakkan jus itu di atas meja. "Kau akan berangkat jam berapa besok?" tanya Jenifer.


"Jam 10 pagi!"


"Suamimu ikut?" tanya Jenifer lagi.


"Tentu saja tidak! dia pasti sibuk dengan profesinya sebagai Dokter."


"Mungkin dia juga tak perduli denganku setelah ini, Jen! dan mungkin setelah ini hubungan kami tak akan sebaik hari-hari kemarin."


"Oh! Eh, Zi! apa kau tahu desainer muda berbakat nomor satu di dunia?" tanya Jenifer yang mengaktifkan mode bergosipnya.


"Tidak! karena identitasnya di rahasiakan, tapi yang aku tahu dia seorang pria," tutur Zinnia sambil meminum jus buatan sahabatnya.


"Aku tahu dari temanku yang juga berasal dari dunia fashion, jika pria itu tampan dan sangat gagah, Zi! aku ingin tahu seberapa gagah dia sampai temanku itu memujinya seperti itu! dia juga akan ikut andil dua hari lagi di acara peluncuran massal baju musim semi tahun ini," jelas Jenifer.


"Aku tak perduli dengannya, yang aku ingin semua baju desainku di sukai oleh para wanita di dunia."


"Hei, Zi! kau tak boleh sesumbar! jika kau nanti bertemu dengannya, kau bisa klepek-klepek," ledek Jenifer.


"Itu tak mungkin, Jen! karena aku sudah mempunyai suami," jelas Zinnia.


"Meskipun suamiku tak mencintaiku,"


"Aku hanya bercanda, Zi! aku tahu kau sudah punya Suami dan kau pasti sudah klepek-klepek padanya kan?"


"Aku saja tak tahu rasanya klepek-klepek itu seperti apa."


"Aku pulang dulu, biar Sandra yang mengurus semuanya," tutur Zinnia tersenyum pada Jenifer, kemudian melangkah pergi dari rumah temannya itu.


Zinnia sudah berada di rumahnya. Ia berada di dalam kamar memasukkan beberapa baju untuk ia gunakan saat di Amerika besok.


Zinnia hanya dua hari di sana. Gadis itu tak butuh banyak baju untuk ia gunakan karena ia hanya sebentar di sana.


Semua baju dan keperluan lainnya sudah masuk dalam koper besarnya.


Zinnia melihat ke arah jam, waktu telah menunjukkan pukul 7 malam, namun suaminya masih belum pulang juga.


Zinnia meletakkan kopernya tepat di dekat meja riasnya. Gadis itu langsung melangkah ke arah kasur dan menjatuhkan tubuhnya.


Zinnia menatap langit-langit kamarnya. Gadis itu tersenyum kecut mengingat hari ini William pulang terlambat lagi.


"Cukup sampai di sini saja, Zi! pria itu mungkin memang tak akan bisa jatuh cinta padamu dan semua apa yang kau lakukan selama ini sia-sia! ... ya ampun! apa yang terjadi padaku! kau harus bisa melupakan semua kenangan manis kalian, karena pria itu tak akan mengingat momen yang menurutmu indah."


Zinnia berusaha memejamkan matanya. Ia berharap besok pagi William sudah berada di sampingnya.


Jangan lupa vote, like, dan komentarnya ya Kakak 🥰