
Sandra mengeluarkan semua perasaan yang sedari tadi ia tahan. Asisten Zinnia itu menangis cukup lama sampai matanya juga sembab dan memerah.
Zinnia menjauhkan sedikit tubuhnya dari Sandra. Desainer cantik itu menatap wajah Sandra dengan mata yang juga memerah. "Kau harus kuat! kau harus bisa menerima semua ini, Sandra! ingat! jika kalian berdua berjodoh, maka sekuat apapun ujian yang akan kalian rasakan, pasti akan ada jalan menuju kebahagiaan itu," tutur Zinnia ingin menenangkan hati Sandra.
Sandra hanya mengangguk mengiyakan karena perasaannya saat ini sudah lebih membaik setelah ia menangis sejadi-jadinya. "Terimakasih karena Nona sudah mau meluangkan waktu untuk saya," ujar Sandra dengan suara khas selesai orang habis menangis.
Zinnia melihat ke arah suaminya. "Kita pulang sekarang! biarkan Sandra beristirahat dulu," pinta Zinnia pada suaminya.
William berdiri dari duduknya yang sedari tadi hanya menjadi penonton melihat tangisan sang istri dan asistennya yang melebur menjadi satu.
Zinnia mengusap bekas air mata Sandra yang masih menempel di pipinya. "Kau harus segera istirahat dan mulai besok sampai satu Minggu kedepan, kau cuti dan lakukan aktivitas yang menyenangkan selama aku memberikan kau waktu libur," ingat Zinnia pada asistennya.
"Baik, Nona!" Sandra masih berusaha seprofesional mungkin menjawab Bosnya.
"Dan satu lagi! kau jangan katakan semua ini pada, Kak Nina! agar dia tak ikut bersedih," pinta Zinnia dan Sandra sangat menerima saran dari bosnya itu karena ia juga tak ingin sang kakak stres. Cukup urusan rumah saja yang membuatnya lelah badan, jangan sampai masalahnya dan Marquez bisa membuat kakaknya lelah hati dan pikiran secara bersamaan.
"Aku pamit pulang dulu! kau harus segera tidur dan biar aku yang memberitahu kak Nina kalau kau sudah tidur lebih dulu karena merasa tak enak badan."
Sandra mengangguk pasrah dengan rencana bosnya. "Iya, Nona!"
Zinnia membantu Sandra bangun dari kursi tepi kolam renang. Kini Zinnia dan Sandra berjalan beriringan menuju arah pintu masuk rumah Asistennya.
Setelah sampai di depan anak tangga menuju lantai atas, Zinnia melihat Sandra yang perlahan mulai menaiki tiap anak tangga rumahnya menuju lantai atas.
"Nona Zinnia!" Suara Nina mengejutkan William dan Zinnia bersamaan.
Zinnia menolehkan ke arah sumber suara. "Kak Nina! aku kira kakak sudah tidur," kilah Zinnia agar Nina tak curiga jika adiknya tengah dalam keadaan hati yang tak baik.
"Saya masih menunggu Nona pulang."
Zinnia tersenyum kikuk karena ia lupa jika pintu rumah ini harus ada orang yang menguncinya dari dalam. "Aku lupa, Kak! mmmm, aku pulang dulu ya, Kak!" Zinnia berpamitan pada Nina.
"Iya, Nona Zinnia!"
William tersenyum pada Nina sebagai salam pamit darinya dan Zinnia juga melakukan hal yang sama seperti apa yang sudah suaminya lakukan.
Kini Zinnia sudah berada di dalam mobil bersama suaminya. Ibu hamil itu meletakkan kepalanya pada dada bidang sang suami. "Aku tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi padaku jika kita yang mengalami hal itu?" tanya Zinnia pada William.
"Semua orang akan mengalami yang namanya ujian, Sayang! baik itu ujian cinta atau masalah keluarga, dan saat ini yang menimpa Marquez adalah keduanya. Mungkin Tuhan lebih sayang padanya sampai yang kuasa memberikan ujian itu sekaligus pada, Marquez!" William mengusap lembut rambut panjang sang istri.
Zinnia mengeratkan pelukannya pada William. "Aku tak mau hal itu terjadi pada kita, sudah cukup pernikahan yang tak diawali cinta ini terjadi dan membuat hidupku amburadul kala itu," cicit Zinnia.
William tersenyum sembari menarik hidung Zinnia. "Tapi sekarang kau sangat mencintaiku kan?" tanya William memastikan sekaligus menggoda istrinya.
Zinnia menengadahkan wajahnya menatap ke arah William. "Aku sangat mencintaimu! buktinya sudah ada dua nyawa yang berada di dalam rahimku saat ini," ujar Zinnia tersenyum manis pada suaminya.
"I love you, My Wife!"
"I love you, My husband!"
Di halaman rumah megah nan mewah, seorang pria tengah turun dari dalam mobilnya.
Pria itu berjalan dengan langkah tegas dan raut wajah datar tanpa ekspresi.
Pria itu sudah menguatkan hatinya untuk menerima kenyataan yang ada.
Pria itu adalah Marquez. Ia disambut oleh seorang kepala pelayan yang menunggunya di depan pintu masuk rumah megahnya.
Saat langka kaki Marquez sudah menapaki anak tangga pertama menuju kamarnya, suara sang ibu menghentikan langkah kakinya.
"Marquez!"
Si empunya nama menoleh ke arah sumber suara dan sang ibu sudah mengenakan piyama tidurnya.
(Anggap saja ini dalam percakapan bahasa Inggris ya readers 😂)
"Ada apa, Mom?" tanya Marquez pada ibunya.
"Kau ternyata anak yang baik, Nak! Ibu bangga padamu," puji ibunya dengan senyum merekah.
"Hanya itu? jika tak ada lagi, aku akan ke kamar!" Marquez hendak berbalik badan melanjutkan perjalanannya menuju arah kamarnya namun, lagi-lagi suara sang ibu menghentikan langkah kakinya.
"Maafkan Mommy, Nak!"
Marquez mendengarkan suara ibunya bergetar hebat kala wanita paruh baya itu meminta maaf padanya.
Marquez berbalik melihat ke arah sang ibu dan ibunya tengah menundukkan kepalanya.
Hati Marquez sakit karena ia tahu jika ibunya merasa bersalah telah memintanya menikah dengan Niken.
Perlahan tapi pasti, kini langkah kaki Marquez berjalan ke arah sang ibu.
Marquez memeluk ibunya erat. "Maafkan aku, Mom! seharusnya aku tak bersikap seperti tadi pada, Mommy!"
Bukan tanggapan yang di dengar oleh Marquez, melainkan suara isak tangis ibunya. "Maafkan, Mommy!"
Marquez menghela napas panjang. "Apa Mommy sudah tahu tentang lamaran yang aku lakukan pada ...."
"Sandra!" Ibu Marquez melanjutkan ucapan putranya.
"Jadi Mommy sungguh tahu?" tanya Marquez memastikan lagi.
"Mommy tahu, Nak! dan Mommy ...."
"Sssttt! Mommy tak perlu terus-menerus meminta maaf padaku, memang tugasku patuh pada Mommy karena Mommy sudah membesarkanku dengan sepenuh hati, jadi saat ini aku harus membalas semua jasa, Mommy!"
Ibu Marquez hanya menggelengkan kepalanya. "Tidak, Nak! memang tugas seorang ibu membesarkan anaknya sepenuh hati tanpa pamrih karena Mommy sangat menyayangi, Sayang!"
Ibu Marquez memeluk putranya penuh kasih sayang. "Jika saja keluarga kita tak berhutang budi pada keluarga, Niken! kau bisa bersama dengannya, Nak! dan ...."
"Hentikan, Mom! aku bahagia bisa membantu keluarga kita dan Mommy tak perlu memikirkan hal itu lagi," tutur Marquez memundurkan sedikit wajahnya menghapus air mata sang ibu.
"Terimakasih, Marq! kami semua bangga padamu, Nak!"
Marquez kembali memeluk ibunya erat.
"Aku akan melakukan apapun demi kebahagiaan keluarga ini, meskipun aku harus mengorbankan perasaanku, Mom!"
Evelyn ibu Marquez merasa bersalah pada putranya karena permintaan terakhir Niken, sementara Marquez harus berkorban demi keluarganya.
JANGAN LUPA VOTE, LIKE, DAN KOMENTARNYA YA KAKAK READERS BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UPDATE-NYA.