
Sebuah tangan mengusap lembut air mata yang terus mengalir dari pipi Melati dengan senyum tampan yang terukir indah pada bibir si empunya tangan yang tak lain adalah Edward.
Air mata Melati kembali mengalir deras saat mengingat Arnon yang kini bersama dengan wanita pujaannya.
"Ssstttt! kau tak boleh menangis seperti ini Melati! seharusnya kau dengarkan dulu penjelasan Arnon karena aku tahu betul dia pria seperti apa,Arnon tak mungkin meninggalkan seorang gadis apalagi itu istrinya tanpa penjelasan apapun," tutur Edward mengusap lembut puncak kepala gadis yang sudah menyandang status sebagai istri Arnon Marvion Gafin itu.
"Hiks hiks hiks hiks ... tapi aku sudah melihat dengan mata kepalaku sendiri,dia lebih memilih Clara dari pada ...."
Melati tak sanggup lagi melanjutkan kalimatnya.Hatinya terasa sangat nyeri bahkan mungkin jika di ibaratkan dengan sebuah benda,hati Melati sudah hancur menjadi butiran debu yang kapan saja pasti terombang-ambing oleh angin entah kemana.
"Mel? dengarkan aku! kau harus mendengarkan penjelasan Arnon terlebih dulu,setelah itu kau bebas untuk memilih tetap tinggal atau pergi dari hidupnya," bujuk Edward menyentuh kedua pundak Melati.
Tiba-tiba muncul 2 orang pria yang tak lain Hamish dan Harry dari belakang tubuh Edward.
"Hai,Melati!" keduanya secara bersamaan menyapa Melati dengan senyum unjuk gigi mereka agar suasana hati gadis itu lebih membaik.
Dan benar saja,senyum kecil Melati terukir meskipun masih hanya sebentar.
"Kenapa kalian berdua lama sekali?" tanya Edward berbalik menghadap ke arah kedua sahabatnya dan membelakangi Melati.
"Kau pikir gampang memanggil mereka kemari? aku harus menunjukkan semua data yang kau berikan dan mereka masih membaca secara cermat,bukan seenaknya menerima laporan dari kita! iya kan Harry?" Hamish menatap ke arah Harry.
"Betul sekali," sahut Harry singkat.
"Terserah ka ...."
Ucapan Edward terhenti saat Clara secara lantang tertawa di hadapan semua orang.
"Hahahaha! aku juga mencintaimu Arnon," ujar Clara hendak memeluk tubuh kekasihnya.
Arnon menahan Clara agar wanita itu tak memeluk dirinya.
Arnon melangkah mundur sampai jarak antara dirinya dan Clara sekitar 5 langkah.
Wajah Clara terlihat kebingungan karena Arnon menjauh darinya.
"Arnon,kau kenapa?" tanya Clara yang sudah satu langkah lebih dekat dengan pria yang ia cintai.
Saat hendak melangkah untuk yang kedua kalinya,Arnon memberikan kode menggunakan tangannya agar Clara tetap di tempatnya.
"Arnon ada apa sebenarnya denganmu? bukankah kau bilang jika kau sangat mencintaiku?"
"Kau benar,Clara! aku sangat mencintaimu dan sungguh sangat mencintaimu ... tapi itu dulu, sebelum aku bertemu denganmu dan ternyata kau menipuku."
"Tapi Arnon ...."
"Cukup sampai di sini hubungan kita yang penuh dengan kebohonganmu ini,aku tak ingin menyakiti hati banyak orang terutama ... istriku,Melati!" Arnon melihat ke arah Melati yang masih tak menghadap ke arahnya.
Pria itu perlahan mendekat ke arah Melati hingga jarak mereka benar-benar sangat dekat.
"Melati!" Arnon menyentuh pundak istrinya lembut.
Tak ada tanggapan dari Melati,gadis itu hanya diam tanpa ingin merespon panggilan Arnon padanya.
"Apa kau marah padaku? coba katakan letak kesalahanku dimana?"
Melati sudah kehilangan kesabarannya,ia langsung berbalik dan memukul keras lengan Arnon dengan sekali pukulan.
"Apa kau masih waras? apa kau masih punya pikiran? semua orang juga tahu salahmu dimana Arnon! kau benar-benar orang yang sangat menyebalkan ... aku benci padamu." Air mata Melati kembali terjun bebas tanpa aba-aba.
"Dan satu lagi,kita akan segera bertemu di pengadilan." Melati berbalik hendak pergi dari tempat itu,namun tangan kekar Arnon menahan tangan istrinya.
"Jangan pergi! aku tak ingin kita berpisah, aku ...."
"Sudah cukup Arnon! cukup! apa kau berniat berpoligami? dan kau harus dengar jawabanku ... tidak!"
Arnon mendekat menggenggam tangan Melati erat.
Melati berontak ingin melepaskan genggaman tangan Arnon,namun pria itu terus menahan tenaga Melati yang cukup kuat karena istrinya saat ini tengah di selimuti kabut emosi.
"Melati dengarkan aku dulu!"
Gadis itu enggan untuk mendengar ucapan Arnon,ia terus berontak ingin lepas dari genggaman tangan suaminya.
Arnon mendekap tubuh Melati agar pergerakan gadis itu terkunci.
"Melati aku mohon,dengarkan penjelasanku."
Clara berjalan ke arah pasangan muda itu dengan wajah yang sudah terlihat sangat marah.
Edward dan kawan-kawan langsung bertindak memblokir akses Clara agar tak mendekati Arnon dan Melati yang masih dalam proses memperbaiki hubungan mereka kembali.
"Clara,kau diam di sini," pinta Hamish.
"Tidak! aku harus menjauhkan Arnon dari gadis perebutan kekasih orang itu," ujar Clara pada Hamish yang berusaha menahan dirinya.
Clara terus saja berusaha melewati ketiga pria tampan yang tengah membentengi Arnon dan Melati dari serangan brutal model cantik tersebut.
Beruntung sekali Edward dan kawan-kawan karena petugas dari sebuah panti rehabilitasi datang untuk membawa Clara.
Salah satu petugas menghampiri Edward selaku dokter yang mengetahui informasi tentang kondisi kesehatan mental Clara.
"Selamat siang dokter,Edward! kami datang kemari karena menerima laporan jika kondisi mental Nona Clara perlu perawatan,jadi kami akan membawa Nona Clara sekarang juga agar kesehatannya cepat kembali pulih seperti semula," jelas petugas kesehatan tersebut.
"Silahkan,Pak!"
Edward memberi jalan pada petugas yang akan merawat Clara agar wanita itu cepat sembuh dari sakit mentalnya.
Saat para petugas hendak membawa Clara,wanita itu bersiap-siap untuk kabur,namun dengan sigap Harry dan Hamish menahan tangan Clara dan menguncinya dengan posisi tangan berada di belakang tubuhnya.
"Lepaskan aku!" Clara mulai berteriak kembali dan terus meronta ingin kabur.
"Cepat bawa dia,Pak!" Hamish mulai kewalahan karena tenaga Clara seperti orang yang sedang kerasukan, benar-benar sangat kuat.
Para petugas yang berjumlah 4 orang itu langsung meringkus Clara dan membawanya keluar dari ruangan konferensi pers.
James dan ayah Clara mengikuti putrinya yang sudah di bawa keluar oleh petugas.
Saat berpapasan dengan Arnon dan Melati,ayah Clara menghentikan langkahnya.
"Maafkan Clara,Arno! seharusnya aku lebih awal memasukkannya ke panti rehabilitasi,jadi kondisinya tak akan seperti sekarang ini," jelas ayah Clara dengan raut wajah penuh penyesalan.
"Tidak apa-apa,Pak! ini sudah takdir dari yang maha kuasa," ujar Arnon sambil terus mendekap Melati dalam pelukannya.
Ayah Clara tersenyum kemudian melangkah keluar menyusul putrinya.
Melati masih tetap dengan isak tangisnya.Gadis itu tak membalas pelukan Arnon yang mendekap tubuhnya erat.
"Melati dengarkan penjelasanku," pinta Arnon pada istrinya.
Seperti biasa,jika Melati sudah merajuk,jurus andalannya adalah mode diam tanpa kata.
Arnon mengangkat sedikit dagu Melati agar tatapan mereka dapat bertemu.
Wajah Melati terpampang nyata tepat di hadapannya dengan air mata yang setia membasahi wajahnya.
"Melati! dengarkan aku," pinta Arnon lagi.
Arnon mengusap lembut air mata istrinya sampai tak ada satupun bekas buliran air mata yang membasahi wajah cantiknya.
Melati perlahan menatap kedua manik mata Arnon dengan raut wajah penuh kesedihan.
"Aku memang sungguh mencintai Clara ... tapi itu dulu," tutur Arnon menangkup wajah Melati.
"Dan sekarang kau lebih mencintai kan?" Melati tersenyum kecut mendengar ucapannya sendiri.
"Aku harus membuktikan pada Melati," batin Arnon.
Pria itu menarik tangan istrinya menuju ke depan para media yang masih terus meliput kejadian yang telah terjadi.
Keduanya melewati ketiga pria tampan yang sedari tadi menyaksikan Arnon dan Melati yang sedang asyik berdebat.
Ketiga sahabat Arnon itu tersenyum bahagia.
"Semoga saja masalah mereka cepat terselesaikan," ujar Harry seraya menyunggingkan senyum manisnya.
"Ya,aku harap juga begitu," timpal Hamish.
"Aku yakin jika masalah mereka akan selesai hari ini juga,bahkan ini merupakan awal dari kisah cinta bagi keduanya." Edward terus menatap ke arah Arnon dan Melati yang sudah berada di depan kamera untuk mengabadikan aksi Arnon.
"Aku harap kau bahagia Melati," batin Edward.