
Susan masuk perlahan ke dalam kamar putranya. Ia mengendap-endap agar Melati yang tidur dalam dekapan Arnon dalam posisi duduk bersandar di sandaran ranjang tak bangun, karena mendengar derap kakinya.
"Bagaimana? apa dia sudah pulas tertidur?" tanya Susan setengah berbisik pada putranya.
"Sudah, Mom! tapi sebentar lagi, dia pasti ingat lagi saat sudah bangun," jelas Arnon pada ibunya.
Belum juga semenit Arnon berkata, Melati sudah mengigau, "Aku ingin kue cucur! kue cucur hangat ... aku ... menunggumu."
Arnon mengusap lembut puncak kepala istrinya. Ia berusaha membuat Melati nyaman, agar tidurnya tak terganggu.
Mirna datang dengan langkah terburu-buru. "Maaf, Nyonya! di luar ada, Tuan Hadi dan Nona Agnez!"
"Aku akan turun ke bawah!"
Susan turun ke bawah untuk menemui Hadi dan Agnez. "Untung kalian datang."
Hadi dan Agnez yang duduk di sofa seketika berdiri menjabat tangan Susan.
"Ada apa, Tante?" tanya Agnez pada mertua adiknya.
"Melati sedang marah, dia ingin kue cucur gula merah yang di buat sendiri dan memakannya dalam kondisi masih panas hampir hangat, sedangkan di sini tak ada yang bisa membuatnya."
"Pasti dia sedang mengidam," ujar Hadi pada Susan.
"Aku pikir juga begitu, Hadi! orang mengidam ini sungguh unik ya?"
"Biar aku saja yang membuat, Tante! aku tahu cara membuat kue cucur! dulu waktu SMA, aku praktek membuat jajanan tradisional itu."
"Sungguh kau bisa, Nez?" tanya Susan pada Agnez dengan wajah berbinar.
"Iya, Tante! kita tinggal siapkan saja bahan-bahannya."
"Baiklah! kita ke dapur sekarang! untuk kau, Hadi! ... tunggu disini saja, Arnon masih menenangkan Melati yang menangis karena kue cucur itu," jelas Susan.
"Baiklah! kalian buatkan saja apa yang diinginkan cucu dalam perut putriku," sahut Hadi.
"Eh, dia juga cucuku!" Susan tak mau kalah pada besannya.
"Ya, kau benar! dia cucumu, Susan! sekarang kau cepat ke dapur," pinta Hadi yang tak ingin berdebat dengan wanita karena ia tahu jika sudah berurusan dengan wanita, dirinya pasti kalah telak.
Wanita maha benar, sedangkan dirinya maha mengalah.
Susan dan Agnez langsung berjalan ke arah dapur. Mereka melihat persediaan bahan di dapur.
Semua bahan seperti tepung beras, tepung terigu, gula, garam sudah ada. Gula merah dan pandan yang tidak ada.
"Gula merah dan pandan yang tidak ada, Tante! aku akan membelinya."
Agnez dan Susan berjalan ke arah ruang tamu dimana Hadi berada.
"Aku ke supermarket dulu sekalian mampir ke rumah lama untuk mengambil pandan."
"Kau dengan siapa ke sana, Nez?" tanya Hadi sembari meletakkan cangkir tehnya.
Tiba-tiba Pram datang. Susan tersenyum saat melihat kedatangan Pram bagai dewa penolong baginya. "Pram!"
Pria itu mendekat ke arah Nyonya Gafin. " Ada apa, Nyonya?"
"Kau ada urusan apa kemari?" tanya Susan ingin memastikan maksud Pram kemari. Jika urusannya tak mendesak, ia akan meminta tolong pada Asisten putranya.
"Ada yang ingin saya sampaikan pada, Tuan muda!"
"Apa itu cukup mendesak?" tanya Susan lagi.
Senyum Susan terpampang indah. "Bagus kalau begitu! kau antar Agnez ke supermarket ya? sekalian kerumah lamanya untuk mengambil pandan, karena dia yang akan membuat kue cucur untuk Melati," jelas Susan.
Pram menoleh ke arah Agnez dengan tatapan tak yakin jika wanita seperti Agnez bisa membuat jajanan tradisional itu.
"Apa benar dia bisa membuat kue cucur? ah, aku masih tak yakin!"
Agnez balik membalas tatapan Pram yang seakan tak percaya akan bakatnya dalam membuat kue cucur itu.
"Kau nampak meragukan aku, Pram! heh, lihat saja nanti ya? kubuat kau klepek-klepek dengan kue cucur buatanku."
"Pram! kau bisa tidak mengantar, Agnez?" tanya Susan yang melihat Pram hanya diam sedari tadi.
"Bisa, Nyonya!"
"Bagus! kalian langsung berangkat saja sekarang, sebelum Melati bangun dan dia menangis lagi gara-gara kue cucurnya tak ada di hadapannya."
Pram menatap ke arah Agnez dengan seringai penuh makna.
"Lumayan! hari ini kencan gratis ke supermarket."
Pria itu berjalan ke arah Agnez menggenggam tangan gadis itu sembari menatap ke arah Hadi. "Saya minta izin untuk membawa anak, Bapak! saya jamin keselamatannya aman bersama saya," tutur Pram seakan mereka bagai orang yang tengah berpacaran.
Agnez melihat ke arah Pram dengan tatapan aneh. "Untuk apa kau masih minta izin pada, Papa! kita hanya ke supermarket, bukan untuk berkencan! dasar! sudah punya istri! tapi masih saja main sentuh tangan wanita lain," umpat Agnez sekenanya.
Susan yang mendengarnya ikut tersenyum. Ia tahu jika Pram dan Agnez sama-sama suka. Semua yang berhubungan dengan keluarganya ia tahu.
"Siapa bilang bocah nakal itu sudah menikah," celetuk Susan pada Agnez sehingga wanita itu menoleh ke arah Susan.
"Maksud, Tante?" tanya Agnez kebingungan.
"Dia masih lajang, Nona! kau masih memiliki peluang yang sangat besar untuk masuk menjadi calon kandidat, Nyonya Pram! iya kan, Pram?"
Wajah Pram sudah memerah. Bagaimana tidak? Hadi ada di sana. Secara tak langsung ayah mertua Arnon tahu jika dirinya menaruh rasa pada putri tirinya.
Tanpa menjawab pertanyaan Susan, Pram langsung menarik tangan Agnez menuju arah mobilnya.
Susan berjalan sembari tersenyum ke arah Hadi. "Sepertinya sebentar lagi, kau akan memiliki menantu baru, Hadi!"
"Apa dia sungguh menyukai, Putriku?" tanya Hadi.
"Kau tak perlu ragu dengannya, Hadi! aku tahu sifat bocah itu seperti apa dan kau harus percaya padaku! dia pria yang baik dan cocok untuk, Agnez!"
"Aku tak akan ikut campur urusan pasangan anak-anakku! mereka yang akan menjalaninya, jadi biar mereka sendiri yang menentukan masa depan mereka. Aku sebagai orang tua hanya bisa mengarahkan dan memberitahu mereka, untuk selebihnya, itu urusan mereka karena anak-anak sudah dewasa, sudah tahu mana yang baik dan tidak untuk kehidupannya."
"Kau benar, Hadi! kita sebagai orangtua hanya bisa membimbing dan menasehati mereka," ujar Susan yang sepaham dengan ucapan Hadi.
Tangan Agnez dan Pram masih saling genggam dalam perjalanan menuju mobil. Keduanya tak ada yang berani membuka suara terlebih dulu.
Agnez masih diam memikirkan semua ucapan ibu Arnon. Ia masih tak percaya jika Pram belum menikah, padahal setahunya, Pram sudah di jodohkan dengan wanita yang mapan dan kaya tentunya.
Usia pernikahan Pram seharusnya sudah 1 bulan, tapi kenapa mertua Melati mengatakan jika pria yang saat ini tengah menggenggam tangannya erat itu masih belum menikah.
Pram membukakan pintu mobilnya untuk Agnez. Wanita itu menatap tangannya yang di genggam oleh Pram, kemudian beralih ke wajah pria dengan rahang kokohnya.
"Apa yang kau pikirkan? ayo masuk," pinta Pram pada Agnez.
Agnez terkesiap dengan ucapan Pram. Agnez segera masuk ke dalam mobil dan Pram menutup pintu mobilnya.
Pria itu masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi kemudi.
Agnez dan Pram secara bersamaan memasang seat belt mereka. Tanpa banyak bicara, Pram langsung menginjak pedal gasnya menuju arah supermarket terdekat.