Pacaran Setelah Menikah

Pacaran Setelah Menikah
Bab 55


Mobil Melati dan Arnon sudah sampai di depan halaman rumah baru Hadi dan keluarga serta diikuti pula oleh mobil yang membawa keluarga Hadi.


Mata Anggi tak lepas dari rumah barunya itu.Wanita setengah baya tersebut tersenyum kegirangan melihat rumah yang selama ini ia idam-idamkan.


"Akhirnya! penderitaanku berakhir juga," gumam Anggi yang masih dapat di dengar oleh telinga orang yang berada dalam satu mobil dengannya.


Hadi menoleh kearah istrinya dengan tatapan tajam.


Anggi tak memperhatikan sekitarnya ia hanya fokus dengan rumah yang ada tepat di depan matanya meskipun masih terhalang kaca mobil.


Agnez melihat raut wajah ayah tirinya terlihat sangat kesal dengan ucapan ibunya tadi.Agnez menyenggol lengan ibunya cukup keras.


"Aduh! kamu ini apa-apaan sih Nez,jangan ganggu Mama," desis Anggi pada putrinya.


Agnez merasa ibunya ini benar-benar tak peka dengan keadaan sekitar.


"Astaga! kenapa mama tak paham juga maksudku," gerutunya yang ingin sekali berteriak langsung di telinga ibunya.


"Ma! di panggil Papa!" menyenggol lengan ibunya lebih keras lagi.


"Apa sih Nez?," tanya Anggi yang menoleh kearah putrinya.


Mata Agnez melirik kearah Hadi seakan memberi tanda pada sang ibu harus melihat kearah ayah tirinya.


Anggi melirik kearah Hadi yang sudah menatapnya tajam.


"Kenapa Hadi menatapku begitu? apa aku berbuat salah? sepertinya tidak,tadi aku hanya bilang ...."


Anggi terdiam,ia paham jika Hadi marah karena perkataannya tadi.


Anggi tersenyum manis kearah suaminya sebagai tanda permintaan maaf karena telah sembarang bicara di mobil orang lain.


Hadi mengacuhkan senyuman dari Anggi,ia memilih keluar dari dalam mobil.


Arnon dan Melati sudah keluar dari dalam mobil mereka dan menunggu Hadi.


Hadi dan yang lain juga sudah berjalan kearah Arnon dan Melati.


"Kita langsung masuk sekarang ya Pa," pinta Arnon pada ayah mertuanya.


"Iya,Nak!" tersenyum kearah menantunya.


Namun saat hendak melangkah masuk,ponsel Arnon berbunyi.


"Halo,Mom!" Arnon menjawab telepon dari Susan.


"Kau ada dimana sekarang,Nak!"


"Aku sudah di depan rumah baru Papa Hadi," jawab Arnon.


"Sampaikan pada Hadi,Mama tak bisa menunggu dia dan keluarga datang karena ada urusan mendadak di butik," jelas Susan pada putranya.


"Mommy bicara sendiri saja pada Papa." Memberikan ponselnya pada ayah mertuanya.


"Ini dari Mommy,Pa!"


"Ya,Susan!" Hadi menjawab telepon dari besannya.


"Hadi aku minta maaf tak bisa menunggu kedatanganmu dan keluarga karena ada urusan penting di butik,jadi aku harus segera kembali," jelas Susan dari balik ponsel Arnon.


"Iya tak apa-apa,aku sangat berterimakasih padamu dan Sandi karena telah membelikan kami rumah," ujar Hadi tulus.


"Tidak apa-apa Hadi,ini janjiku pada istrimu itu."


"Terimakasih Susan," ucap Hadi lagi.


"Iya Hadi,aku tutup dulu ya? masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan," tutur Susan yang mengakhiri panggilannya.


Hadi mengembalikan ponsel menantunya.


"Ayo kita masuk sekarang," ucap Arnon sambil melangkah masuk kearah pintu.


Namun sedetik kemudian pria itu berbalik,semua orang yang ada di sana terheran-heran dengan Arnon.


Pria itu tersenyu manis kearah istrinya kemudian mengandeng tangan Melati erat.


"Maaf,Sayang! aku hampir lupa padamu,pantas saja aku merasa ada yang kurang! ternyata tangan ini tak ada di genggamanku." Sambil mengangkat tangan Melati dan mencium punggung tangan istrinya lembut.


Melati dibuat panik oleh Arnon karena ia merasa malu di lihat oleh keluarganya.


"Pria ini bersandiwara terlalu ekstrim," pikir Melati yang mulai merasa resah.


Melati melihat kearah ayahnya sambil tersenyum kikuk.


Hadi hanya membalas tatapan putrinya dengan senyumannya.


"Putriku pasti malu sekali,wajahnya sampai memerah seperti itu." Hadi tersenyum melihat tingkah Melati.


Berbeda dengan Agnez,ia melihat kearah Melati dan suaminya dengan tatapan kesal tak suka.


"Berlagak romantis di depan kami,cih! aku muak melihat kalian berdua," umpatnya sambil mencengkram erat koper yang ia bawa.


Lain lagi dengan Anggi yang masih fokus melihat setiap sudut rumah barunya.


"Aku pasti bahagia tinggal dirumah baru ini." Tertawa kecil dengan fantasinya sendiri.


Arnon dan Melati kembali berjalan menuju teras rumah itu namun lagi-lagi langkah Melati terhenti.


"Apa asisten Pram ini benar-benar seorang jin?" pikiran Melati mulai terfokus pada asisten pribadi suaminya.


Arnon mengerti apa yang sedang ada dalam pikiran istrinya.


"Kau tak perlu banyak berpikir,dia itu jin sakti,jadi wajar jika Pram bisa berada di mana saja," goda Arnon yang mendapat sorot mata tajam dari Melati.


"Darimana kau tahu aku ...."


"Karena aku suamimu,Sayang!" menarik hidung Melati cukup keras.


Gadis itu tak melawan atau berteriak pada Arnon,ia hanya menyentuh hidungnya yang terasa sakit.


"Dasar pria aneh! jika saja tak ada Papa disini,huh! sudah habis kau ku tarik juga hidungmu itu agar sepanjang milik Pinocchio," gerutu Melati sambil melanjutkan langkahnya menuju teras.


Agnez semakin kesal mendengar percakapan pasangan muda itu.


"Mereka berdua ini tak tahu kondisi apa? sudah tahu ada orang di belakangnya tapi masih asyik bermesraan seperti tadi! dasar tak waras," umpat Agnez yang mulai gerah dengan situasi yang lagi-lagi menguntungkan Melati.


Arnon dan yang lain sudah berada di depan teras tepat di depan Pram yang tengah berdiri menunggu Tuan dan Nonanya.


"Ini belanjaan Nona dan semua barang-barang Tuan dan Nona sudah ada di dalam," tutur Pram sambil memberikan 4 buah paper bag pada Nona mudanya.


"Terimakasih Om jin," ucap Melati yang keceplosan dengan perkataannya.


Gadis itu langsung menutup mulutnya rapat-rapat.


Pram yang di panggil dengan sebutan "Om jin" oleh Melati hanya bisa tersenyum.


"Astaga! apa yang aku katakan tadi," rutuk Melati pada dirinya sendiri.


Arnon tertawa kecil mendengar perkataan istrinya.


"Sayang! apa kau benar-benar menganggap Pram jin sakti?" tanya Arnon meledek istrinya.


Bukan jawaban yang Arnon dapat melainkan pukulan lumayan keras pada lengannya.


"Rasakan itu," ujar Melati sambil menyilangkan kedua tangannya di dada dengan bibir yang sudah maju kedepan.


"Maafkan aku,Sayang! ayo kita masuk kedalam," ajak Arnon sambil merangkul pundak sang istri masuk kedalam rumah baru dan diikuti oleh Hadi sekeluarga.


Mereka semua sudah berada di dalam rumah.


Mata Anggi tak henti-hentinya melihat sekeliling rumah barunya.


"Benar-benar rumah yang bagus! ada untungnya juga si Melati menikah dengan orang kaya,kami tak perlu susah-susah mengumpulkan uang untuk membeli rumah sebagus ini." Sambil tersenyum berjalan menuju kamar paling tengah.


Saat Anggi membuka pintu kamar itu, matanya lagi-lagi terpana akan indah dan luasnya kamar tersebut.


"Kamarnya besar sekali,aku ingin kamar ini menjadi milikku," gumam Anggi yang masuk kedalam melihat isi ruangannya.


"Semua barang-barang ini pasti mahal!" menyentuh tiap benda yang ada di dalam kamar tersebut.


Arnon dan yang lain masih berada di ruang tamu.


"Kak Agnez pilih saja kamar Kakak sendiri," pinta Melati.


"Apa aku boleh lihat-lihat dulu?" tanya Agnez pada Melati.


"Boleh Kak,silahkan." Tersenyum kearah Agnez.


Agnez membuka tiap kamar yang ada di sana termasuk kamar yang diincar oleh Anggi.


Agnez tak tahu jika Anggi ada di dalam salah satu kamar itu karena ibunya masih melihat isi kamar mandi.


Agnez berjalan kearah lantai dua,disana hanya ada satu kamar saja.


Saat Agnez membuka pintu kamar tersebut,raut wajahnya nampak datar.


"Tidak seluas kamar yang lain! memang sih barang-barang di kamar ini lebih bagus dan mewah tapi kemarnya terlalu sempit aku tak suka." Menutup pintu kamar itu kembali dan berjalan menuruni anak tangga menuju lantai bawah.


"Aku mau kamar yang paling ujung saja," cetus Agnez sambil menyeret kopernya ke arah kamar barunya.


Anggi keluar dari kamar yang ia incar.


Seorang pelayan datang menghampiri Arnon dan Melati.


"Tuan dan Nona malam ini ingin tidur di kamar yang mana? biar saya bersihkan dan merapikan semua barang-barang Tuan dan Nona," jelas pelayanan wanita tersebut.


Arnon dan Melati belum juga menjawab pertanyaan pelayan itu,suara cempreng Anggi mengalihkan pandangan semua orang yang ada di ruang tamu.


"Saya mau tanya? kamar yang paling luas dimana ya?" tanya Anggi dengan nada sedikit angkuh.


"Saat saya membersihkan rumah ini,kamar yang paling luas di tengah itu," ucap pelayan wanita tersebut.


"Kalau begitu Mama mau kamar itu ya Melati?" menatap kearah anak tirinya dengan tatapan datar.


"Iya Ma," jawab Melati.


"Ma,kita ambil kamar yang biasa saja! jadikan kamar itu kamar tamu saja," ujar Hadi pada istrinya.


"Mama mau yang itu Pa! dan keputusan Mama sudah bulat." Membawa barang-barangnya kedalam kamar tengah.


"Maaf ya Arnon,mama Anggi memang begitu," jelas Hadi dengan wajah tak enak hati.


""Tidak apa-apa Pa,ini kan memang sudah menjadi rumah Papa." Tersenyum lembut kearah ayah mertuanya.


"Lebih baik Papa istirahat saja dulu," pinta Melati pada ayahnya.


"Iya,Nak!" berjalan menuju kamar yang dipilih oleh istrinya.


Melati menatap punggung ayahnya yang semakin lama semakin jauh dan menghilang dari pandangannya.


Arnon merasa aneh dengan sikap ibu dan kakak tiri Melati yang nampak dingin pada istrinya.


Arnon melihat raut wajah istrinya yang nampak sangat sendu.


"Sebenarnya ada apa dengan Melati? kenapa dia melihat kepergian papa dengan tatapan seperti itu," pikir Arnon yang masih terus menatap kearah Melati.


Note:Jika jumlah like dalam 1 hari mencapai 200 like, author akan update 1 bab lagi hari ini😘😘😘😘😘


jangan lupa komen,jadikan favorit,dan vote juga ya,semua itu dukungan besar bagi author dan untuk yang sudah like,komen,vote,dan yang sudah menjadikan novel ini favorit terimakasih banyak,author cinta kalian semua😍😍😍❀️❀️❀️