
Malam pun tiba. Melati masih menunggu suaminya di dalam kamar. Gadis itu gelisah karena Arnon tak kunjung masuk ke dalam kamar.
Pria itu masih berada di ruang belajar mempelajari naskah film yang akan ia bintangi tahun ini.
Jam menunjukkan pukul 11 malam. Arnon membuka handel pintu kamarnya. Wajah Arnon tersenyum bahagia melihat gadis yang ia cintai berada di ranjang yang sama dengannya.
Arnon mendekat ke arah Melati yang meringkuk seperti bayi dengan mata sudah terpejam sempurna.
"Kau pasti menungguku kan? maaf, Sayang!"
Arnon mencium pelipis Melati cukup lama. Setelah itu ia menarik selimut menutupi tubuh istrinya yang sudah terlelap tidur.
Arnon membaringkan tubuhnya tepat di belakang Melati karena posisi gadis itu sedang tidur dengan posisi memiringkan badannya.
Arnon melingkarkan tangannya pada perut rata Melati. Mereka berdua sudah berada dalam satu selimut yang sama.
Tiba-tiba saja Melati berbalik dengan wajah sudah berada pada dada bidang Arnon. Tangan gadis itu juga memeluk tubuh suaminya bagai guling.
Arnon tersenyum sambil mengeratkan pelukannya pada tubuh Melati. Perlahan mata Arnon mulai tertutup rapat menyusul sang istri ke alam mimpi.
Cicitan burung di pagi hari mulai terdengar di telinga Melati. Gadis itu mulai membuka matanya dan melihat wajah suaminya yang masih tertidur pulas.
Gadis itu perlahan menyentuh pipi Arnon dengan hati-hati karena tak ingin membangunkan pria yang ia cintai.
"Maafkan aku! kau pasti marah kan? sampai kau tadi malam tak cepat masuk ke kamar." Melati membelai lembut pipi Arnon.
Pria itu tiba-tiba membuka matanya menatap Melati dengan seutas senyum.
Gadis itu terperangah karena ulah Arnon yang bangun begitu saja.
"Maaf! aku pasti mengganggumu," sesal Melati yang seharusnya tak menyentuh pipi suaminya.
Melati tak berani menatap suaminya karena rasa bersalah telah membangunkan Arnon.
Arnon mencium kening Melati kemudian menarik tubuh istrinya dalam pelukannya.
"Aku tak marah padamu! siapa yang berani berkata aku marah pada istriku?" tanya Arnon.
"Buktinya kau tadi malam tak cepat masuk ke kamar! kau pasti marah padaku kan?"
Arnon beralih menatap wajah istrinya yang masih terlihat begitu menyesal.
"Sayang! aku tadi malam masih harus mempelajari naskah film yang akan aku perankan," jelas Arnon menyentuh pipi Melati.
"Sungguh?" tanya Melati memastikan ucapan suaminya.
Arnon menganggukan kepalanya tanda menjawab pertanyaan Melati.
"Aku kira kau marah padaku," ujar Melati lagi masih dengan wajah penuh penyesalan.
"Aku tak akan marah padamu hanya karena kemarin siang tak bisa memilikimu seutuhnya! masih banyak hari-hari lain untuk kita kan?"
"Terimakasih!" Melati tersenyum pada suaminya.
Cup
"Morning kiss, Istriku!"
Cup
"Morning kiss, Suamiku!" berhambur ke dalam pelukan Arnon.
"Apa kita akan tetap seperti ini?" tanya Arnon memeluk tubuh Melati erat.
"Jika kau mau, kita akan tetap seperti ini," sahut Melati.
"Tapi aku ingin mengajakmu pergi ke butik mommy," ujar Arnon sambil menikmati wangi rambut istrinya.
"Untuk apa?" tanya Melati.
"Mencari gaun yang cocok untuk Nyonya Arnon."
"Memang kita mau kemana?" tanya Melati menatap wajah Arnon.
"Baiklah! aku mandi dulu." Melati bangun turun dari kasur menuju arah kamar mandi.
"Apa kita bisa mandi bersama?" tanya Arnon yang menghentikan langkah kaki Melati seketika.
Gadis itu menoleh ke arah suaminya dengan tatapan mata tajam.
"Sungguh kau ingin ikut mandi bersama denganku?" tanya Melati dengan kedua tangan sudah berada di atas dada.
"Jika kau tak keberatan, Istriku!"
Melati melangkah ke arah kamar mandi. Gadis itu menunggu di ambang pintu.
Arnon tersenyum langsung turun dari tempat tidur berjalan ke arah Melati yang masih tetap berdiri di tempatnya.
Gadis itu memunggungi Arnon. Perlahan baju tidur yang ia kenakan di angkat sedikit ke atas tepat di depan Arnon.
Sontak langkah Arnon terhenti melihat kelakuan nakal Melati yang sengaja menggodanya.
Namun sedetik kemudian gadis itu mengurungkan niatnya membenarkan bajunya kembali.
Gadis itu berbalik menghadap ke arah Arnon.
"Kenapa berhenti, Sayang? apa kau tak ingin mandi denganku?" tanya Melati sambil menjulurkan lidahnya meledek Arnon.
Pintu kamar mandi langsung tertutup rapat.
Arnon tertawa kecil sambil berjalan ke arah pintu kamar mandi.
"Kau bisa nakal sekarang ya? awas saja jika kau sudah selesai palang merah, habis kau, Sayang!"
Arnon tersenyum sambil geleng-geleng kepala menghadapi tingkah kekanakan istrinya yang semakin membuat pria itu gemas ingin segera memakan gadis itu sampai habis.
Melati dan Arnon sudah berada di butik milik Susan. Mereka berdua di sambut oleh para pegawai yang ada di sana.
"Selamat datang Tuan dan Nona!"
Keduanya menanggapi dengan senyuman manis tiada tara. Tangan Arnon masih terus menggenggam erat tangan Melati. Itu merupakan kebiasaan baru sejak mereka mengungkapkan perasaan masing-masing.
Arnon tak ingin Melati di lirik oleh pria lain. Ia ingin semua orang tahu jika gadis yang berada di sampingnya saat ini adalah wanitanya.
"Tolong keluarkan semua gaun rancangan terbaru mommy," pinta Arnon sambil duduk di sofa, diikuti oleh Melati.
Semua pelayan yang ada di sana mengambil rancangan gaun malam terbaru.
Arnon melihat semua deretan gaun yang di bawa oleh para pelayan. Mata Arnon terpana pada sabuah gaun berwarna silver dengan bahan kain tile super premium.
"Aku mau yang itu," ujar Arnon menunjuk gaun berwarna silver tersebut.
Melati melihat ke arah gaun yang dipilih oleh suaminya. Gadis itu juga sependapat dengan Arnon. Gaun malam yang dipilih Arnon memang bagus dan simpel tidak terlalu mencolok.
Pelayan memberikan sebuah paper bag pada Melati yang sudah berisi gaun malamnya.
Arnon menelepon seseorang. "Carikan hells berwarna silver yang paling bagus untuk istriku," tutur Arnon pada orang di seberang ponselnya. Arnon memutuskan panggilannya meletakkan kembali ponselnya ke dalam saku celana.
"Untuk apa kau menyuruh seseorang mencarikan aku hells?" tanya Melati.
"Agar istriku ini tampil cantik," sahut Arnon memeluk tubuh Melati di depan semua pelayan butik ibunya.
Para pelayan yang semuanya wanita tersenyum sambil menatap kedua pasangan yang memang sangat serasi itu.
Mereka berdua berada di dalam mobil menuju restoran bintang lima untuk makan siang.
"Sayang! apa kita nanti harus ke salon dulu untuk meriasmu?" tanya Arnon.
"Tidak perlu, aku bisa merias wajahku sendiri," sahut Melati.
"Upppppsss! aku lupa, kalau istriku ini sekarang sudah pintar merias diri," ledek Arnon mencubit pipi Melati cukup keras.
"Sakit, Sayang!"
Arnon tersenyum melihat raut wajah Melati cemberut seperti itu. Ia ingin terus menggoda istrinya sampai ia merasa puas.