
Zinnia sudah berada di atas ranjangnya dengan pensil dan kertas-kertas yang berserakan memenuhi tempat tidur itu.
Sudah tinggal 1 sketsa lagi untuk merampungkan desain musim semi yang akan ia luncurkan dalam waktu dekat ini.
Zinnia mengerjakan 10 desain langsung mulai dia pulang dari rumah sakit sampai sekarang dan tinggal 1 sketsa lagi.
Waktu telah menunjukkan pukul 8 malam, namun William masih belum juga kembali.
"Kemana Pria mesum itu? apa benar seperti yang dikatakan oleh, Asisten Asih! jika dia ada jadwal operasi?"
Zinnia menatap ke arah jam yang berada di atas nakas.
Gadis itu tak sengaja melihat laci nakas yang tak tertutup rapat dekat dengan tempat tidur William.
Zinnia merangkak di atas tempat tidurnya mencoba menutup laci tersebut, namun ia melihat sebuah foto yang terdapat dalam laci tersebut.
Gambar seorang wanita yang hanya terlihat bagian matanya saja karena posisi laci yang masih sedikit terbuka.
Karena rasa penasaran yang lebih mendominasi, akhirnya Zinnia memutuskan untuk menarik laci tersebut agar gambar wanita itu terlihat utuh.
Tangan Zinnia menarik laci itu dan terlihat foto wanita cantik yang tersimpan di dalam laci suaminya.
Zinnia mengeluarkan foto tersebut yang mana terdapat gambar wanita .
Zinnia masih menatap gambar itu. Ia mencoba membalik gambarnya. Di balik foto tersebut terdapat tulisan Marion in Paris.
Hati Zinnia terasa sedikit tak nyaman saat ia tahu jika wanita dalam laci suaminya adalah mantan calon istri William dan pria itu masih menyimpan foto wanita yang sudah membuatnya sakit hati.
"Jadi ini yang namanya, Marion! ternyata Pria mesum itu suka yang Hot juga rupanya, pantas saja dia mesum sekali, Marion saja berfoto seperti ini."
Zinnia menyandarkan dirinya pada sandaran ranjang. "Tak salah jika William tak bisa suka padaku, mantan calon istrinya saja dewasa begini! dibandingkan aku yang hanya tahu dunia fashion tak tahu dunia percintaan, apa lebih baik aku menyerah saja ya? ... ah, kenapa kau jadi lemah begini, Zi! kau harus bisa mendapatkan dia! tapi jika semua kemampuan sudah kau kerahkan dan dia masih belum juga mencintaimu, saat itu juga lebih baik kau menyerah," gumamnya sambil memandang foto Marion.
Zinnia tersenyum kecut sambil meletakkan kembali foto Marion pada tempatnya.
Gadis itu mulai membuat sketsanya yang terakhir, namun konsentrasi Zinnia sungguh buruk kali ini.
Mood gadis itu sepertinya menjadi buruk setelah ia melihat gambar Marion masih tersimpan pada laci kamar suaminya.
"Sepertinya aku harus tidur! aku lelah sekali," gumamnya sambil merapikan semua peralatan menggambarnya.
Zinnia mulai merebahkan tubuhnya di kasur. Gadis itu menarik selimut sampai batas dadanya.
Zinnia melihat ke arah sampingnya. Tak ada pria yang biasa menemani tidur beberapa hari terakhir ini.
"Pasti dia masih sibuk! lebih baik aku tidur duluan saja."
Zinnia mulai memejamkan matanya. Ia berusaha tak memikirkan foto tadi.
Zinnia ingin membuang pemikiran negatifnya tentang William yang masih mencintai Marion. Ia tak ingin misi dalam menaklukkan suaminya terhenti di tengah jalan.
Di dalam mobil seorang Dokter tampan dengan kacamata yang masih bertengger di kedua matanya melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Pria itu tak henti-hentinya melihat jam tangannya. Waktu menunjukkan pukul 10 malam.
Pria itu tak lain adalah William. Ia merasa bersalah karena dirinya ketiduran di dalam kamarnya yang berada di ruangannya.
Tubuh William merasa lelah setelah jadwal operasi keduanya selesai. Ia sebenarnya ingin segera pulang, namun tubuhnya tak mendukungnya.
William memutuskan beristirahat di kamarnya sampai ia ketiduran dan baru bangun jam 10 kurang 5 menit.
Ia takut Zinnia berpikir yang tidak-tidak karena dirinya tak memberi kabar pada sang istri.
Kakinya kembali menginjak pedal gas sedalam mungkin sampai kecepatan mobilnya kembali bertambah dan melesat memecah jalanan ibu kota.
Saking cepatnya, biasanya jarak dari rumah sakit menuju rumahnya membutuhkan waktu 30 menit, kali ini hanya butuh waktu 15 menit saja.
William langsung keluar dari mobilnya. Pria itu langsung berjalan ke arah pintu masuk.
Seperti biasa, Asih sudah menunggunya. "Nyonya sudah tidur?" tanya William dengan wajah cemas karena ia takut Zinnia marah padanya.
"Sudah, Tuan! dari tadi setelah makan malam, Nyonya tak keluar kamar."
"Apa dia menanyakanku?" tanya William memastikan lagi.
"Iya , Tuan! sepertinya Nyonya ingin sekali menunggu anda untuk makan malam bersama, namun saya bilang mungkin anda ada jadwal operasi dadakan."
Wajah William semakin penuh dengan guratan rasa bersalah. Ia seharusnya mengabari Zinnia terlebih dulu sebelum tidur tadi.
William tak tahu kenapa rasa bersalah itu muncul begitu saja, yang jelas saat ini ia ingin sekali menjelaskan pada istrinya jika ia ketiduran di rumah sakit.
William langsung berlari menuju lantai paling atas rumahnya.
William berlari menaiki tiap anak tangga yang berada di rumah itu. Rasa pegal pada kakinya yang menaiki anak tak tangga yang berpuluh-puluh jumlahnya itu tak ia rasakan, karena wajah Zinnia terus terbayang dalam benaknya.
Asih tersenyum melihat raut cemas pada wajah William.
"Akhirnya bocah kecil itu sudah mulai membuka hatinya kembali! semoga Tuhan mempersatukan mereka berdua, karena aku yakin jika Nyonya Zinnia adalah sosok istri yang pasti akan membuat dunia Tuan William berwarna."
William dengan nafas ngos-ngosan sudah berada tepat di depan pintu kamarnya.
Pria tampan itu berharap Zinnia sudah tidur karena ia tak mampu mengatakan sesuatu lagi jika istrinya masih dalam keadaan terjaga.
William mulai memberanikan diri membuka hendel pintu kamarnya.
Pelan tapi pasti pintu kamar itu mulai terbuka lebar.
Di dalam kamar yang masih dalam kondisi terang karena Zinnia lupa mematikan lampunya. Seorang gadis dengan wajah cantiknya sudah tertidur pulas.
Nafas William yang awalnya naik turun tak beraturan, kini mulai berangsur kembali normal.
William berjalan ke arah sisi ranjang tempat tidur istrinya.
Pria dengan wajah penuh kelegaan itu duduk tepat di samping istrinya yang tertidur pulas.
William membuka kacamatanya, meletakkan kacamata itu di atas nakas dekat istrinya.
William menatap wajah Zinnia yang masih tertidur pulas tanpa terganggu dengan keberadaannya.
Pria itu mengusap lembut puncak kepala Zinnia. "Kau pasti menungguku! maaf, sudah membuatmu menunggu," gumam William terus mengusap rambut hitam Zinnia.
Perasaan William merasa lega karena ia sudah bisa menjelaskan semuanya pada Zinnia meskipun gadis itu dalam keadaan tidur.
William tak tahu apa yang terjadi padanya. Ia hanya ingin menjelaskan semua itu pada Zinnia, agar gadis itu tak salah paham.
Pria itu mungkin masih yakin jika dirinya tak ada perasaan pada Zinnia, namun hatinya berkata lain.
Entah kapan seorang Aiden William Pattinson sadar akan perasaannya sendiri.