Pacaran Setelah Menikah

Pacaran Setelah Menikah
Bab 108


Setelah selesai makan, semuanya keluar dari restoran itu menuju arah mobil.


Melati dan Arnon menuju mobil mereka, sedangkan Pram menuju ke arah mobilnya dan Agnez berhenti tepat di antara mobil Arnon dan Pram yang terparkir rapi.


Agnez bingung harus ikut dengan siapa. Jika ia ikut dengan Arnon dan Melati itu tak mungkin, sedang ikut dengan Pram, itu lebih tak memungkinkan lagi.


Melati hendak masuk ke dalam mobilnya, namun matanya tak sengaja melihat Agnez yang masih berdiri tanpa bergerak.


"Kak! kenapa kau masih di situ? apa kau tak ingin pulang?" tanya Melati.


"Aku ... naik taksi online saja, Mel!"


"Kenapa harus naik taksi online, Kak? bukankah ada Asisten Pram yang akan mengantarmu," ujar Melati yang memang sengaja ingin mendekatkan Pram dan kakak tirinya.


"Tidak perlu, Mel! aku bisa pulang sendiri," tutur Agnez.


Melati melangkah ke arah mobil Pram. Gadis itu mengetuk kaca pintu pada sisi kemudi Asisten suaminya.


Tok tok tok


Pram menurunkan kaca mobilnya Secara perlahan. "Iya, Nona! ada apa?"


"Kau antar kakakku sampai ke rumah dengan selamat dan ini perintah tak boleh untuk di bantah, karena aku takut terjadi sesuatu padanya," ucap Melati.


"Tapi, Nona! saya ...."


"Tak ada tapi-tapian! kau harus mengantar kakakku sampai ke rumah."


Melati langsung pergi meninggalkan mobil Pram dan langsung masuk mobilnya sendiri.


Gadis itu menurunkan sedikit kaca mobilnya. "Kakak ikut dengan, Pram! aku pulang dulu," ujar Melati sembari melambaikan tangannya pada Agnez.


Mobil Melati perlahan mulai bergerak meninggalkan tempat parkir tersebut.


Kedua mata Agnez terus menatap lekat mobil yang semakin lama, semakin jauh.


Pram menurunkan kaca mobil di seberangnya. Pria itu menatap datar ke arah Agnez yang masih berdiri.


"Hei! cepat naik kemari! aku akan mengantarmu pulang."


Agnez menoleh ke arah Pram yang memanggilnya. Ia tak ingin berada dalam satu mobil dengan pria datar dan dingin macam Pram.


Karena tak ada pergerakan dari Agnez, akhirnya Pram memutuskan untuk keluar dari mobilnya berjalan ke arah Agnez.


"Sungguh wanita yang merepotkan! jika bukan karena menghormati, Nona muda! sudah kutinggalkan dia," gerutu Pram dalam perjalanan menghampiri Agnez.


"Kau ini bisa mendengar atau tidak? kenapa kau aku suruh naik ke mobil tak menurut? aku akan mengantarmu pulang."


"Tidak mau!"


Pram dibuat melotot oleh Agnez. " Apa kau bilang?" tanya Pram memastikan.


"AKU TAK INGIN PULANG DENGANMU PRIA DATAR DAN DINGIN!"


Agnez menekan setiap kata dengan intonasi cukup tinggi.


"Baiklah! terserah kau saja! jika ada preman atau penjahat yang memberhentikan atau mengganggumu di jalan, aku tak mau ikut campur."


Ucapan Pram membuat bulu kuduk Agnez berdiri sempurna.


"Kenapa pria tak romantis ini berkata seperti itu? aku kan, jadi takut?"


Pram berbalik badan hendak melangkah berjalan ke arah mobilnya, namun tangan pria itu tiba-tiba di tarik oleh Agnez.


Pram menoleh ke arah belakang menatap wajah Agnez yang mulai terlihat ketakutan. "Aku pulang denganmu saja," ujar Agnez pada Asisten pribadi Arnon tersebut.


"Ayo cepat ...."


Belum juga Pram menyelesaikan kalimatnya, ia di kejutkan oleh sebuah mobil yang membunyikan klaksonnya karena posisi Agnez dan Pram berada di tengah-tengah lalu lalang mobil keluar masuk parkiran.


Pram menarik tangan Agnez ke arahnya, hingga tubuh keduanya menempel sempurna dengan kedua tangan Agnez memeluk leher Pram dan tangan Pram sudah bertengger di pinggang Kakak tiri Melati.


Nafas terengah-engah tak terhindarkan lagi dari keduanya. Rasa syok dan takut menjadi satu dalam diri Agnez.


Gadis itu semakin menempelkan tubuhnya pada Pram. Memeluk pria itu erat.


Agnez sungguh takut jika saja dirinya tadi tertabrak. Pasti itu akan menambah masalah dalam hidup Melati dan ayahnya.


Pram masih diam mematung. Ia juga syok akan kejadian tadi.


Pria itu perlahan mengusap punggung Agnez lembut. Menyalurkan rasa tenang dan aman.


Agnez masih terus menempelkan tubuhnya pada Pram, sampai dua benda sensitif wanita itu terasa begitu nyata menempel di dada Pram.


"A-apa ini! kenapa terasa ... ah, aku tak boleh berpikir yang tidak-tidak, aku harus segera menjauhkan tubuhku dari tubuh, Agnez!"


Perlahan Pram menarik mundur tubuh Agnez. Saat Pram sudah melihat wajah Agnez, ternyata wanita itu tengah mengeluarkan air mata.


Pria dingin, datar, dan tak romantis itu menghapus air mata yang membasahi pipi Agnez.


Dengan telaten, Pram menghapus semua air mata Agnez dan merapikan rambutnya yang sudah tak berada pada tempatnya.


"Tenanglah! jangan menangis lagi," bujuk Pram agar wanita yang berada di hadapannya tak menangis lagi.


Entah keberaniannya dari mana sampai Agnez memeluk Pram erat. "Aku takut ... aku takut!"


Kedua tangan Pram masih tak merespon pelukan dari Agnez. Pria itu masih mencerna tiap kejadian yang ia alami saat ini.


Tangan pria itu perlahan mulai membalas pelukan Agnez. Ia tak mengerti kenapa tangannya seakan bergerak sendiri menyentuh tubuh Agnez.


Wanita itu sesegukan di bahu Pram. Agnez sungguh takut saat dirinya mengingat kembali kejadian tadi.


"Kau tak apa-apa, kau aman saat ini," ujar Pram menenangkan Agnez.


Gadis itu memundurkan tubuhnya. Ia menatap Pram. "Terimakasih! kau sudah mau menolongku," ujar Agnez.


"Kau tak perlu memikirkan hal itu, jika itu terjadi pada wanita lain ... aku juga akan membantunya," tutur Pram yang membuat dada Agnez terasa nyeri.


"Kenapa dengan dadaku? kenapa rasanya nyeri sekali mendengar dia berkata seperti tadi? apa aku sudah ... tidak boleh! kami tak bisa bersama, dia membenciku dan pasti masih banyak wanita yang akan mengantri menjadi kekasihnya."


Pram berjalan ke arah mobilnya diikuti oleh Agnez.


Keduanya sudah berada di dalam mobil. Pram mulai menekan pedal gasnya.


Mobil milik Asisten Arnon itu melaju menerjang jalanan, hingga suara dering ponsel Pram berbunyi.


"Ya, Ma!"


"...."


"Baiklah! sebentar lagi aku akan segera pulang!"


Panggilan diakhir oleh ibu Pram. Pria itu meletakkan kembali ponselnya pada sakunya.


Agnez masih terfokus menatap ke arah depan. Ia masih memikirkan perasaannya pada Pram.


Karena merasa lelah akibat rasa syok yang membuatnya menangis, akhirnya Agnez tertidur di dalam mobil Pram.


Pram yang melihat ke arah wanita itu langsung menepikan mobilnya. Ia mengambil sesuatu dari kursi penumpang.


Sebuah selimut yang memang ia letakkan di sana untuk menyelimuti dirinya saat tengah menunggu Arnon di lokasi syuting.


Pram menyelimuti tubuh Agnez yang tengah tertidur pulas.


Setelah selesai melakukan pekerjaannya, Pram melajukan kembali mobilnya menuju ke arah rumah Hadi.


Beberapa menit kemudian, mobil itu sudah terparkir di halaman depan rumah baru Hadi.


Pram melihat ke arah Agnez yang masih tak kunjung bangun.


Pria itu mendekatkan tubuhnya pada tubuh wanita yang kini tengah tertidur pulas.


Pram menatap tiap inci wajah Agnez. Mengabsen tiap lekuk wajah yang di ciptakan oleh sang kuasa.


Pram mulai menyentuh pipi Agnez sehingga membuat kakak tiri Melati itu menggeliat kecil terusik dengan ulah tangan nakal Pram.


Agnez perlahan membuka matanya. Ia melihat ke arah sekeliling dan menangkap sosok bayangan pria dengan rahang yang tegas menatap ke arahnya dengan senyuman.


"Apa masih belum cukup kau tidur di mobilku?" tanya Pram dengan wajah yang semakin medekati wajah Agnez.


Agnez hanya menggeleng. Ia tak bisa percaya jika orang yang mungkin saat ini sudah berada di hatinya berada tepat di hadapannya.


"Apa arti dari gelengan kepala itu kau masih belum puas tidur?" tanya Pram lagi.


Pria itu tersenyum simpul mendekatkan wajahnya pada wajah Agnez.


Hembusan napas Pram sungguh sudah tak dapat Agnez elak lagi. Hangat, lembut, dan geli saat menerpa bagian kulit wajahnya.


Agnez memejamkan matanya. Sesuatu yang kenyal bagai jelly terasa menyentuh bagian bibirnya.


Agnez tahu apa itu. Ia mengalungkan tangannya pada leher Pram. Menelusuri tiap jengkal rambut pria beraroma maskulin tersebut.


Agnez menyentuh rahang Asisten Arnon yang sungguh terasa sangat kokoh.


Tangan Pram membawa tubuh Agnez ke dalam pangkuannya.


Agnez saat ini sudah berada di atas pangkuan Pram.


Asisten Arnon membalik posisi agar wanita yang saat ini berada di pangkuannya bisa mengambil alih permainan panas mereka.


Benar saja, Agnez tahu maksud Pram. Ia tanpa sungkan menggerakkan bibirnya. Melahap habis bibir Pram yang terasa sangat manis baginya.


Gerakan Agnez semakin menjadi sampai ....


"Bangun!"


Pram menepuk pundak Agnez yang masih terlelap tidur dengan bibir di majukan ke depan hendak mencium seseorang.


Agnez terkesiap oleh tepukan Pram pada bahunya. Ia bangun dengan mata terbelalak dan mulut di majukan ke depan.


"Kenapa kau memajukan mulutmu seperti itu? apa kau kehausan macam ikan yang tak masuk ke dalam air sama sekali?" tanya Pram yang membuat Agnez menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


"Kenapa aku sampai bermimpi hal yang tak jelas seperti tadi? ah, apa aku sungguh sudah mulai jatuh cinta padanya?"


Pram menatap ke arah Agnez dingin. "Kau mau turun atau tidak? aku masih ada urusan penting."


Agnez tanpa basa-basi langsung turun dari mobil Pram.


Mobil yang ia tumpangi melaju tanpa salam perpisahan apapun padanya.


"Kau ini sedang memikirkan apa, Nez? sadar diri! dia tak mungkin jatuh hati pada wanita sepertimu, apalagi dia tak terlihat menaruh hati padamu," gumamnya sembari berjalan masuk ke dalam rumah.


Pram sudah berada di halaman rumah orangtuanya. Ia sudah memarkirkan mobilnya.


Pram berjalan masuk ke dalam rumah orangtuanya. Ternyata mereka berdua tengah menunggu Pram di ruang tamu.


"Ada apa, Ma?" tanya Pram mencium kening ibunya.


"Duduklah, Nak!" Ibu Pram memerintahkan putranya agar duduk.


"Karena kau masih belum memiliki calon istri, kami akan menjodohkanmu dengan seseorang, Pram!" Ayah Pram mulai bersuara.


"Menjodohkan aku?" tanya Pram yang terkejut dengan ucapan ayahnya.


"Iya! dan besok, Papa dan Mama! akan mengajaknya ke rumahmu untuk bertemu denganmu!


"Tapi aku tak ingin di jodohkan, Pa! aku ingin mencari istri sendiri."


"Kau lihat saja dulu wanita yang akan kami jodohkan padamu, Nak!


Tak ada jawaban dari mulut Pram. Pria itu langsung berlalu pergi dari rumah orangtuanya.


Pram menancapkan gasnya. Ia sungguh tak suka dengan perjodohan macam ini.


Di lain tempat, Agnez masih terus memikirkan Pram.


Wajah dingin, datar, dan kokohnya itu selalu terbayang dalam benaknya.


"Aku ini kenapa? entahlah, dari tadi otakku di penuhi Asisten datar itu! aku tak ingin tersiksa seperti ini," ujar Agnez dengan raut wajah frustrasi.


Ia menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidurnya. Wajah Pram terus berputar mengitari kepalanya tanpa henti.


"Tidak bisa terus begini! aku harus mengungkapkan isi hatiku ini, aku tak ingin terus seperti orang tak jelas seperti sekarang! setidaknya jika dia menolakku, aku sudah mengungkapkan isi hatiku."


Tekat Agnez sudah bulat. Ia besok pagi akan ke rumah Pram.


Agnez menghubungi Melati.


"Halo, Mel?


"Halo, Kak! ada apa?


"Apa kau tahu alamat rumah, Pram?


"Kenapa memangnya, Kak?"


"Aku ingin mengembalikan, selimutnya yang aku bawa tadi karena aku tertidur di mobilnya."


"Baiklah! akan aku kirim alamatnya."


Panggilan berakhir dan Agnez langsung mendapat notifikasi pesan dari Melati yang berisi alamat lengkap rumah Pram.


"Semangat, Nez!"


Agnez menyemangati dirinya sendiri.


note : visual Melati, Arnon, Pram, dan Agnez akan saya share di grup chat novel ini ya kakak 😊