Pacaran Setelah Menikah

Pacaran Setelah Menikah
Bab 213 ( Season 2 )


Zinnia sudah selesai makan dan menandatangani kontrak kerjasama.


"Jadi kapan kalian berdua akan membuat desainnya?" tanya pihak agensi itu.


Marquez dan Zinnia saling tatap. Zinnia menganggukkan kepalanya memeberikan pria itu kode agar ia yang menjawab pertanyaan yang di tujukan untuk dirinya dan Marquez.


"Kami akan mengerjakan secepatnya dan seminggu sebelum acara berlangsung, baju rancangan kami akan selesai."


Pihak agensi itu mengangguk setuju. "Kami dari pihak agensi sangat tepat memilih baju kalian berdua sebagai rancangan pembuka acara ini," tuturnya.


Zinnia dan Marquez tersenyum. "Kami berdua juga sangat berterimakasih karena anda, kami bisa saling mengenal," tutur Zinnia yang membuat Marquez tersenyum kecut.


"Ternyata kau tak mengingat aku sama sekali, Zi!"


Mereka berdua memutuskan untuk menyelesaikan pertemuan kali ini. Perwakilan pihak agensi sudah berpamitan untuk pulang.


Kini tinggal Zinnia dan Marquez yang masih berada di meja tempat mereka makan tadi.


"Apa kita masih bisa berbincang sebentar?" tanya Marquez pada Zinnia.


"Maaf, aku tak bisa jika hari ini karena aku masih ada janji dengan, mommy! lagipula aku belum meminta izin suamiku untuk pulang terlambat bersama dengan rekan priaku, jadi lain kali saja ya?"


Marquez tersenyum pada Zinnia. "Apa kau sudah mencintainya? bukankah saat di pergelaran ...."


"Itu dulu! sekarang aku sudah mencintainya," sambung Zinnia langsung tanpa basa basi.


"Semoga pernikahan kalian bahagia," ucap Marquez sambil memasang wajah penuh kebahagiaan yang palsu.


Zinnia tersenyum pada Marquez. "Terimakasih untuk do'anya."


"Aku akan tetap menjagamu dari belakang, Zi! aku ingin melihat perempuan yang aku cintai bahagia karena cinta tak harus memiliki."


Sebenarnya jika Marquez ingin, ia bisa merebut Zinnia dari tanga William namun, ia tak ingin perempuan yang ada dalam hatinya terluka karena perbuatannya yang mungkin akan menyakiti perasaan Zinnia jika ia memisahkan Zinnia dan William.


Marquez lebih memilih membiarkan Zinnia bahagia bersama pria yang dicintainya.


Zinnia sudah menunggu ibunya di sebuah mall. Zinnia menunggu ibunya dengan sebuah permen lollipop di mulutnya.


"Zinnia!"


Si empunya nama menatap arah sumber suara. "Mommy!"


Gadis itu berdiri. "Mommy lama sekali sih! aku hampir jamuran menunggu Mommy di sini," tegur Zinnia terus melihat jam tangannya.


"Kau ini kenapa sih, Zi! tak biasanya kau kesal jika menunggu, Mommy?"


"Aku sekarang sudah punya suami, Mom! dan Suamiku sebentar lagi akan pulang bekerja, jadi aku harus berada di rumah," jelas Zinnia pada ibunya.


Melatih tersenyum simpul. "Jangan bilang jika kau sudah di mabuk cinta oleh Dokter bedah itu," tebak Melati.


Wajah Zinnia memerah. "Mommy apa sih! ayo kita belanja sekarang," ajak Zinnia pada ibunya.


Melati dan Zinnia sudah berada di sebuah toko tas branded.


"Mommy ingin membeli tas?" tanya Zinnia pada ibunya.


Wajah Melati nampak kebingungan. Ia masih tak ada ide untuk berbohong pada putrinya.


"Aku harus bicara apa ini? lebih baik aku bilang saja iya, tapi aku tak mau membelinya, aku akan membuatnya kesal karena aku akan hanya melihat-lihat saja."


"Iya jika ada yang cocok, Nak!"


Melati mulai mencari model yang kiranya ia suka dan cocok namun, tak ada yang cocok. "Mommy tak mau membelinya, Sayang! kita ke toko hells saja," ajak Melati dan Zinnia mengikutinya.


Saat sudah berada di toko hells, Melati lagi-lagi tak membeli. Ia hanya berputar-putar saja.


"Mommy kemari ingin membeli barang atau tidak sih? kenapa hanya berputar-putar saja dari tadi seperti game cacing yang sering Jenifer mainkan," ujar Zinnia yang sudah kesal pada ibunya.


"Maaf, Zi! Mommy kan memang orangnya pemilih sekali," elak Melati pada putrinya.


"Kita pulang sekarang saja," tutur Zinnia dengan nada kesal.


"Tapi ...."


"Ini sudah jam 5 sore, Mom! suamiku pasti sudah pulang," ujar Zinnia dengan nada lebih kesal lagi.


"Kamu itu cerewet sekali ya, Zi! nanti Mommy yang akan bilang pada suamimu jika kau masih ingin Mommy ajak bertemu dengan teman, Mommy!"


Wajah Zinnia bingung. "Bertemu? jadi aku masih harus menemani, Mommy?" tanya Zinnia.


Melati hanya mengangguk mengiyakan pertanyaan putrinya.


Zinnia memutar bola matanya kesal. Ia akan lebih lama lagi bertemu dengan suaminya.


"Aku merindukanmu, Suamiku!"


Zinnia berjalan lebih dulu dengan langkah lunglai.


Sementara Melati bernafas lega karena ia masih bisa menahan putrinya untuk tak pulang lebih awal.


"Zi! kau mau kemana?" tanya Melati pada putrinya.


"Aku ingin ke toilet, Mom!"


Melati menggunakan kesempatan itu untuk menghubungi William.


"Ya, Mom!"


"Bagaimana, Nak? apa di sana sudah selesai?"


"Sudah, Mom! hanya tinggal sentuhan akhir saja agar Zinnia menutup mulutnya karena takjub."


Melati tersenyum mendengar penuturan menantunya. Tanpa terasa air matanya luruh begitu saja.


"Terimakasih, Tuhan! karena engkau telah mengirimkan seorang pria yang sangat mencintai putri hamba!"


"Terimakasih, Nak!"


"Mommy tak perlu berterimakasih padaku, ini memang sudah menjadi tugasku sebagai seorang suami menyenangkan hati istri."


"Mommy tutup dulu ya? nanti jika Zinnia mendengar bisa gawat."


"Apanya yang gawat, Mom?" tanya Zinnia yang sudah berada di belakang ibunya.


Melati langsung meletakkan ponselnya ke dalam tas. Ia tak ingin Zinnia curiga.


"Nanti bisa gawat jika kita telat ke acara tempat teman Mommy itu," elak Melati dengan senyum palsunya.


"Kau harus berdandan secantik mungkin karena teman Mommy ini adalah teman paling penting dalam hidup, Mommy!"


"Memang harus ya, Mom?" tanya Zinnia memastikan.


"Wajib," sahut Melati membuat bibir Zinnia maju ke depan.


"Kita sekarang pulang ke rumah untuk membuatmu cantik lebih dulu," ajak Melati dan Zinnia dengan berat hati harus mengikuti semua keinginan ibunya.


Beberapa jam kemudian, Zinnia sudah keluar dari kamarnya dengan gaun yang sudah di sediakan oleh William.


Gaun malam berwarna putih dengan hells berwarna senada. Rambut Zinnia di gerai dengan sentuhan jepit mutiara yang indah.


Riasan wajah Zinnia terlihat fresh tanpa sentuhan bold di dalamnya. Semua terlihat segar karena Zinnia menggunakan warna-warna peach pada eye shadow, lipstik, dan blush-on.


Gadis itu berjalan dari lantai dua rumah orangtuanya. Bagai merpati yang baru keluar dari sangkarnya. Pancaran ke cantikan Zinnia membuat mata Melati silau.


Semua pelayan rumah itu juga sampai menutup mulut mereka karena Zinnia memang sungguh wanita yang sangat cantik.


Zinnia sudah berada di lantai dasar. Melati menghampiri putrinya dengan sebuah penutup mata.


"Apa itu, Mom?" tanya Zinnia pada ibunya.


"Kau gunakan saja ini dulu, Nak! karena tempat yang akan Mommy kunjungi sangat rahasia jadi tak boleh ada orang yang tahu jalan menuju rumah teman Mommy itu," elak Melati dan Zinnia mau saja melakukan apa yang dikatakan oleh ibunya.


*"Apa teman Mommy ini seorang yang tak ingin identitasnya di ketahui? atau dia artis papan atas seperti, Daddy?"


Semua pertanyaan itu berputar di kepala Zinnia.


JANGAN LUPA VOTE, LIKE, DAN KOMENTARNYA YA KAKAK READERS 🥰🥰🥰