
Di kota Washington DC, seorang pria melihat ke arah jendela kamarnya yang langsung disambut dengan deretan gedung-gedung pencakar langit, ia menatap gedung menjulang tinggi itu dengan tatapan datar tanpa ekspresi.
Pria itu adalah Marquez. Ia menikmati paginya kali ini tepat di tanah kelahirannya.
Marquez melihat lekat tiap bangunan yang berada tepat di depan matanya. "Hari yang menyakitkan akan segera dimulai," gumamnya sembari berbalik badan mengenakan jam tangan di pergelangan tangannya.
Marquez sudah berpakaian rapi. Ia hari ini akan ke rumah Niken untuk membahas pernikahan yang akan dilaksanakan dua hari lagi.
Kini Marquez sudah berada di lantai dasar rumahnya. Tepat di ruang tamu, Marquez melihat sang ibu sudah menunggunya untuk berangkat bersama ke rumah Niken.
Ayah Marquez juga tengah duduk di sofa ruang tamunya sembari meminum tehnya. "Sudah siap semuanya?" tanya sang ayah.
"Sepertinya sudah siap semuanya, Sayang! buktinya putra kita sudah sangat tampan sekali hari ini," sahut Evelyn pada sang suami.
Sammy ayah dari Marquez berdiri dari posisi duduknya berjalan ke arah pintu keluar. Sementara Marquez berjalan dengan langkah tegasnya dan raut wajah datar bagai papan cucian.
Marquez mendahului ibunya yang menatapnya lekat. Evelyn mengerti raut wajah sang putra saat ini.
"Maafkan Mommy, Nak!"
Sammy dan Evelyn berada dalam satu mobil yang sama, sedangkan Marquez berada di mobil lainnya.
"Apa tindakan kita ini akan membuat anak kita bahagia, Sayang?" tanya Evelyn pada suaminya.
Sammy menoleh ke arah sang istri. "Jika kita tak berhutang budi pada keluarga, Niken! aku tak mungkin memaksakan kehendak seperti ini, Sayang! aku mengerti bagaimana perasaan Marquez saat ini, tapi ini memang sudah jalan hidupnya! andai saja aku memiliki anak laki-laki lain selain dia, sudah pasti aku tak akan membiarkan Marquez dalam posisi seperti saat ini," jelas Sammy pada istrinya.
Arah tatapan mata Evelyn tertuju pada mobil yang berada tepat di depan mobil yang ia naiki.
Mobil itu adalah mobil yang dinaiki oleh Marquez. Desainer tampan itu duduk di bangku penumpang seorang diri.
Marquez memejamkan matanya mengingat wajah Sandra yang selalu berputar dalam otaknya.
Di tempat lain, Sandra tengah berada di kamarnya sembari melihat cincin yang di berikan oleh Marquez.
Asisten cantik itu masih tetap mengenakan cincin pertunangan mereka. Semua momen manis yang Marquez torehkan dalam benaknya terus terekam dalam kepala Sandra. "Aku sangat mencintaimu!"
Dua mobil mewah sudah berhenti di sebuah rumah megah dengan desain tak perlu di jabarkan lagi karena rumah itu rumah yang sangat mewah.
Sammy dan Evelyn turun dari mobil mereka, sementara Marquez masih berada di dalam mobilnya dan beberapa detik setelah kedua orangtuanya turun, Marquez juga ikut turun.
Desainer tampan tersebut dan keluarganya berjalan ke arah pintu masuk rumah Niken. Mereka disambut oleh kedua orangtua Niken yang sebentar lagi akan menjadi keluarga mereka juga.
"Selamat datang di rumah kami," sambut ayah Niken.
Keluarga Copaldi tersenyum manis pada orangtua Niken.
Marquez dan orangtuanya berjalan masuk ke ruang tamu rumah megah tersebut.
Mereka semua duduk di sofa. "Niken kemana?" tanya Evelyn pada kedua calon besannya.
"Evelyn ada di taman belakang sedang menyiram bunga-bunganya," sahut ibu Niken ramah.
Ide cemerlang terlintas pada benak Marquez. "Aku akan menyusulnya ke taman belakang," celetuk Marquez segera beranjak dari tempat duduknya berjalan ke arah taman belakang rumah itu.
Mereka berempat melanjutkan perbincangan rencana pesta pernikahan Marquez dan Niken.
Marquez berjalan ke arah taman belakang rumah Niken. Ia mencari sosok wanita yang sebentar lagi akan menjadi istrinya namun, tak akan pernah ia cintai selamanya dan sampai kapanpun.
Marquez sebenarnya enggan untuk mendekati Niken. Pria itu berpikir dua kali. Daripada harus berada di dalam bersama para orangtua yang tengah membahas pesta pernikahannya, ia lebih memilih disini saja.
Marquez dengan langkah berat hati berjalan ke arah Niken yang di sampingnya sudah terdapat seorang pelayan wanita menunggu tuannya melakukan kegiatannya.
Pelayan wanita itu melihat ke arah Marquez dan jari telunjuk desainer tampan tersebut sudah berada di bibirnya menandakan jika pelayan wanita tadi tak perlu memberitahu Niken perihal keberadaannya.
Pelayan wanita tadi bergerak mundur dan pergi dari samping Niken.
Marquez kini yang menggantikan posisi pelayan wanita tadi dan pada saat itu juga Niken menoleh ke arah Marquez. "Tolong mat ...."
Ucapan Niken terhenti saat ia melihat sosok pria yang sangat ia cintai selama beberapa tahun terakhir ini.
Marquez nampak terkejut dengan wajah Niken yang terlihat sangat pucat dan badannya juga terlihat kurus.
Niken tersenyum pada Marquez. "Kau sudah kembali?" tanya Niken dengan senyum yang ia paksakan agar Marquez tak merasa risih padanya karena penampilannya yang sudah tak bisa memikat hati pria manapun termasuk pria yang ada di hadapannya saat ini.
Marquez yang awalnya tertegun menormalkan raut wajahnya kembali.
Wajah pria itu datar dan dingin. Ya, semenjak Marquez tahu jika Niken menyukainya, ia tak pernah seakrab dulu dengan Niken. Bahkan Marquez terkesan menjauhi Niken dan wanita itu sadar akan hal tersebut.
"Aku kembali bukan karena aku ingin menikah de ...."
"Aku tahu! kau pasti terpaksa kan menikah denganku?" tanya Niken dengan suara lembutnya tanpa ada nada rasa kesal atau marah pada Marquez karena berkata apa adanya di hadapan Niken.
Wajah Marquez masih datar dan dingin serta tatapan mata Marquez menatap lurus ke depan tanpa ingin melihat sahabatnya itu. "Baguslah jika kau tahu betul tentang hal itu," cicit Marquez ketus.
Niken tersenyum menahan rasa sakit hatinya yang mungkin dapat ia rasakan sebagai kenangan terakhir baginya sebelum ia benar-benar tak bisa merasakan rasa sakit itu lagi.
"Apa kau sangat mencintai wanita bernama Sandra itu?" tanya Niken lagi.
"Tentu saja! aku sangat mencintainya melebihi apapun," sahut Marquez yang lagi-lagi denyut nyeri di dada Niken kembali dirasakannya.
Niken hanya bisa tersenyum menikmati setiap rasa sakit dalam dadanya.
"Apa kau tak sedikitpun mencintaiku meskipun hanya seujung kuku saja?" tanya Niken lagi pada Marquez dan pertanyaan itu sukses membuat tatapan Marquez menajam ke arahnya.
"Kau tak perlu memastikan hal itu! aku tak pernah ada rasa apapun padamu, hanya rasa kasih sayang sebagai sahabat saja yang bisa aku berikan padamu," jelas Marquez menekankan tiap kata pada Niken.
Wanita berwajah pucat itu memang sengaja bertanya seperti itu dan ia sudah tahu pasti jawabannya seperti apa.
Niken memang sengaja memancing Marquez agar melihat ke arahnya saja meskipun hanya sekali ini.
Niken menatap wajah Marquez. Wanita itu melihat setiap inci wajah pria yang pasti akan selalu ada dalam hatinya meskipun pria itu tak mencintainya.
"Mata, hidung, bibir, dan wajah itu yang akan menjadi kenangan terakhir dalam hidupku!"
"Bisakah kita berkencan satu hari saja sebelum hari pernikahan?" tanya Niken dengan suara memohon.
"Tidak bisa! setelah hari pernikahan masih banyak waktu untuk kita berkencan," sahut Marquez ketus.
Niken kembali menanggapinya dengan senyuman.
"Tapi aku menginginkan hari ini, Marquez! sebelum aku benar-benar tak bisa melihat wajahmu."
JANGAN LUPA VOTE, LIKE, DAN KOMENTARNYA YA KAKAK READERS BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UPDATE-NYA.