
William menarik pinggang istrinya agar ciuman mereka semakin lebih intim lagi.
Pria itu mulai mengerakkan bibir atas dan bawahnya menikmati rasa manis dan kenyal yang membuatnya ingin lagi dan lagi.
Gadis itu masih diam tak merespon ciuman suaminya, namun saat bibir William hendak menjauh, Zinnia melingkarkan kedua tangannya pada leher William. Gadis itu menggunakan kedua tangannya menarik tengkuk suaminya sampai bibir seksi nan legit itu menyatu sempurna dengan bibir indah William.
Zinnia menggerakkan bibirnya secara perlahan dan lembut. Gadis itu ingin membuat suaminya terbuai akan permainannya kali ini.
Tanpa Zinnia sadari, dadanya bergerak secara otomatis hingga menempel pada dada bidang William.
Pria itu awalnya tak membalas ciuman istrinya, namun saat dua benda sensitif yang berada tepat di dada Zinnia menempel pada dadanya, membuat Hot dokter itu tak tinggal diam.
William melepaskan penyatuan bibir keduanya. Ia menatap kedua manik mata Zinnia. "Nikmati hukumanmu, Nyonya Pattinson!"
William mengangkat tubuh Zinnia. Pria itu membalikkan posisi sang istri berada tepat di depan meja kerjanya.
William mengangkat tubuh Zinnia mendudukkan gadis itu di atas meja kerjanya.
Tangan Zinnia masih melingkar pada leher suaminya. Gadis itu bingung apa yang akan dilakukan oleh William kali ini. "Apa yang akan kau ...."
"Kau diam saja, Gadis cerewet! ini pelajaran selanjutnya yang akan kau terima," tutur William langsung meraup bibir istrinya tanpa ampun.
Pria itu melakukan pemanasan dengan gerakan lembut. William tak ingin langsung melakukan pertukaran saliva, karena ia tahu jika istrinya adalah gadis yang sangat polos.
William mengigit bibir Zinnia agar gadis itu bisa membuka mulutnya dan William bisa mengobrak-abrik apa saja yang ada di dalam sana, namun respon Zinnia berbanding terbalik dengan apa yang sudah ada dalam angan-angannya.
Gadis itu langsung melepaskan bibirnya dan memukul keras lengan William. "Kenapa kau menggigitku, Pria mesum! sakit sekali," tutur Zinnia mengusap bibirnya yang terasa sakit karena William mengigit bibirnya cukup keras.
"Aku bukan tanpa maksud mengigit bibirmu, Zi! aku ...."
"Oh, jadi kau ada maksud mengigit bibirku! kau ingin bibirku bengkak berhari-hari supaya aku terlihat jelek dan kau bisa sepuasnya menertawakan aku," cecar Zinnia dengan mata yang sudah merah padam meluapkan emosinya.
William memejamkan matanya agar emosinya juga tak ikut terpancing.
"Gadis ini benar-benar polos atau bodoh sih?"
"Dengarkan aku ya, Gadis cerewet! apa yang kau katakan padaku itu, semuanya tak benar! aku mengigit bibirmu agar kau membuka mulutmu karena aku ingin memporak-porandakan semua isi di dalam situ," ujar William mendekatkan wajahnya pada wajah Zinnia.
Gadis itu langsung menutup mulutnya dengan kepala yang sudah geleng-geleng.
William menatap istrinya dengan tatapan bingung. "Kau kenapa?" tanya William berusaha membuka tangan yang menutupi mulut istrinya.
Zinnia masih tak ingin membuka tangannya yang menutupi mulutnya itu.
William menyerah. Pria itu menempelkan keningnya pada kening sang istri.
"Aku tak akan berusaha membuka tangan itu lagi," tutur William dengan mata terpejam.
Tangan Zinnia perlahan mulai luruh dengan sendirinya dari atas mulutnya. Gadis itu percaya dengan pria yang ada di hadapannya pasti akan menepati janji.
Mata William perlahan terbuka menatap kedua mata indah milik istrinya. "Kenapa kau tak mau membuka mulutmu?" tanya William dengan nada lembut.
"Aku takut kau membuat gigiku rontok! kau sendiri kan yang bilang jika kau ingin mengobrak-abrik apa saja isi dari dalam mulutku, jadi aku takut," jelas Zinnia pada suaminya yang memancing tawa kecil pria itu terdengar.
"Makna dari kata mengobrak-abrik itu bukan seperti apa yang ada dalam pikuranmu! kau cukup ikuti dan nikmati saja," ujar William meyakinkan istrinya.
"Kau ingin cepat mahir berciuman atau tidak?" tanya William yang mendapat anggukan dari Zinnia.
Pria itu tersenyum dan menyatukan kembali bibir keduanya.
William masih melakukan pergerakan lembut. Saat waktunya ia kira sudah pas, William menggigit bibir Zinnia dan gadis itu spontan membuka mulutnya.
William tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia melancarkan aksinya membuat apa saja yang ada di dalam sana dalam jangkauannya.
Kedua mata mereka sudah tertutup rapat dengan tanga Zinnia yang masih bertengger pada leher suaminya, sedangkan tangan William berada pada pinggang istrinya.
Semakin lama suhu tubuh mereka terasa sangat panas.
William tak bisa mengontrol nafsunya kali ini.
Pria itu mengangkat tubuh Zinnia membawa tubuh gadis itu ke arah pintu ruangan yang merupakan sebuah kamar tempat William beristirahat jika ia tak ingin pulang ke rumahnya.
Ciuman mereka berdua masih tetap berlanjut. Zinnia tak sadar jika dirinya sudah berbaring di atas kasur dengan posisi William sudah berada di atasnya.
William bergerak begitu liar sampai bibirnya mulai berpindah tempat ke arah leher Zinnia.
Gadis itu kini sudah melambung tinggi menikmati kenikmatan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.
Zinnia tersadar saat William mengigit kecil bagian lehernya memberikan tanda kepemilikan pada leher sang istri.
Gadis itu mendorong tubuh William agar menjauh dari tubuhnya.
Wajah pria itu merah di penuhi aura ingin menerkam mangsanya tanpa henti.
"Kenapa, Zi?" tanya William dengan suara serak orang yang mulai terangsang.
"Jangan sampai melewati batas," sahut Zinnia menatap kedua mata suaminya yang di penuhi kabut gairah.
"Maaf! aku awalnya ingin mengajarimu tahap berciuman selanjutnya, namun aku tak bisa menahan ingin melakukan lebih padamu," jujur William pada istrinya.
Zinnia tersenyum pada William, gadis itu menyentuh kedua pipi suaminya.
"Aku ingin melakukan hal yang lebih dari sekedar ciuman dengan pria yang aku cintai dan juga mencintaiku," tutur Zinnia tanpa rasa malu mengutarakan itu semua pada William.
William menatap Zinnia dengan tatapan tak mengerti. Ia saja bingung dengan perasaannya sendiri. Ia berpikir dirinya merasa nyaman dengan keberadaan istrinya, namun di sisi lain, William juga merasa tak mungkin jika ia sudah jatuh hati pada Zinnia secepat itu.
Karena yang ia tahu, dirinya tak mungkin bisa sembarang mencium orang jika tak ada rasa yang terselip pada bagian hatinya, bahkan ia sudah hampir membuat Zinnia menjadi santapan lezatnya di pagi menjelang siang ini.
Zinnia mengusap lembut pipi William. Gadis itu menarik tengkuk suaminya mengecup bibir William cukup lama.
Cupppppp
"Entah siapa dari kita yang suatu saat nanti akan lebih dulu jatuh cinta! aku berharap kau yang lebih dulu takluk padaku, namun tak menutup kemungkinan aku juga bisa jatuh cinta pada, Hot Dokter! sepertimu," tutur Zinnia tersenyum manis pada suaminya.
Keduanya masih tetap dalam posisi tumpang tindih.
Tiba-tiba suara pintu kamar itu terbuka dan kedua pasangan yang sedang berduaan terlonjak kaget karena melihat siapa yang masuk ke dalam private room William tanpa izin.