Pacaran Setelah Menikah

Pacaran Setelah Menikah
Bab 135


Melati dan yang lain sudah berada di ruang acara pertunangan Agnez dan Pram.


Waktu sudah hampir menunjukkan pukul 7 malam. Keluarga Pram masih belum datang. Selang beberapa menit. Suara klakson mobil terdengar dari luar rumah Hadi.


Keluarga dari Melati sudah berada di ambang pintu untuk menyambut kedatangan Pram dan keluarganya.


Pram beserta keluarganya turun dari mobil berjalan ke arah pintu masuk rumah Hadi.


Hadi, Arnon, dan Melati menyambut mereka bertiga.


"Selamat datang," sambut Hadi pada calon besannya.


Mereka semua saling berjabat tangan satu sama lain.


Semua berjalan ke arah ruang acara pertunangan. Mereka sudah duduk di tempat masing-masing.


Melati memberikan kode pada pelayan agar memanggil Agnez keluar dari kamarnya.


Beberapa saat saat kemudian, akhirnya wanita dengan gaun berwarna putih keluar dari arah kamarnya. Rambut pendek Agnez di bentuk sedemikian rupa sampai terlihat pas di lihat banyak pasang mata.


Suara pergulatan antara lantai dan hells Agnez terdengar di telinga semua orang yang sudah menunggunya.


Agnez sedikit gugup. Ia masih canggung dengan kedua calon mertuanya. Karena tak ada proses melamar terlebih dulu. Acara ini proses pertunangan sekaligus melamar.


Agnez sudah membayangkan jika wajah mertuanya merengut kesal padanya karena mereka tak berhasil menjodohkan putranya dengan wanita pilihan keduanya.


Agnez terus memupuk dirinya dengan rasa percaya diri yang tinggi, agar keringat dingin yang merembes melalui telapak tangannya bisa cepat enyah.


Mata semua orang tertuju pada wanita yang menjadi putri untuk acara malam ini.


Melati dan Hadi tersenyum bahagia melihat wajah Agnez yang nampak begitu cantik.


Berbeda dengan Pram, pria itu tak berkedip sama sekali, bahkan mulutnya menganga melihat kecantikan wanita yang akan menjadi calon ibu dari anak-anaknya kelak.


Pram terus menatap Agnez dari ujung rambut sampai kaki. Pria itu tersenyum kala melihat kesempurnaan hakiki yang Tuhan persembahkan kepadanya.


Pram sadar jika dirinya sudah terlena dengan kecantikan Agnez, seketika ia mengubah raut wajahnya menjadi datar kembali.


Agnez berjalan ke arah kedua orangtua Pram. Wanita berambut pendek itu mencium punggung tangan kedua calon mertuanya.


Kedua orang tua Pram nampak welcome dengan Agnez. Mereka berdua tersenyum dan kedua orangtua Pram saling bertukar tatapan dengan wajah penuh kebahagiaan.


Setelah Agnez selesai memberi salam pada orangtua Pram, ia hendak duduk di dekat ayahnya, namun wanita berperut buncit itu melarang Agnez. "Itu bukan tempat dudukmu, Kak!"


Melati berdiri membawa Agnez duduk bersama dengan Pram di sofa yang sudah di sediakan untuk mereka berdua.


"Tempat Kakak dan Kakak ipar itu di sini," tutur Melati menggoda Pram sampai wajah pria datar itu bersemu merah.


Melati tersenyum sambil melangkah ke arah sofa tempat duduknya dan sang suami.


"Jadi kedatangan kami kemari ingin melamar Agnez menjadi menantu keluarga kami! apa Bapak bersedia menerima lamaran ini?" tanya ayah Pram pada Hadi.


"Saya serahkan semua jawabannya pada putri saya, Agnez!"


Agnez menatap Pram dengan wajah sedikit tegang.


Pria itu tahu akan maksud tatapan wanitanya. Ia mengedipkan matanya untuk meyakinkan jawaban yang akan Agnez lontarkan.


Wanita berambut pendek itu menarik napas dan menghembuskan secara perlahan.


"Saya menerima lamaran Bapak dan Ibu," tutur Agnez menatap kedua orangtua Pram yang saat ini sudah menjadi mertuanya.


Pelayan datang membawa nampan dengan dua buah cincin di atasnya.


Pram dan Agnez berdiri dengan posisi saling berhadapan. Pram mengambil cincin dari atas nampan itu.


Pria itu memasukkan cincin pada jari manis Agnez dan begitu pula sebaliknya.


Setelah keduanya sudah selesai bertukar cincin, suara tepuk tangan terdengar di ruangan yang penuh cinta itu.


"Selamat ya, Kak Pram dan Kak Agnez!" Melati tersenyum bahagia untuk keduanya.


"Jadi kapan pernikahan kalian akan segera di laksanakan?" tanya Arnon pada kedua pasangan baru itu.


"Setelah Tuan muda kecil sudah lahir, Tuan!" Pram menjawabnya dengan nada mantap tanpa ragu.


"Apa tidak terlalu lama, Kakak Ipar? usia kandunganku masih 5 bulan, jadi kalian harus menunggu 4 bulan lagi! apa kalian berdua tahan?" tanya Melati yang menghujani Pram dengan segudang pertanyaannya.


Pram melirik ke arah Agnez dan tunangannya itu mengangguk tanda setuju dengan pilihannya.


"Tidak, Nona! kelahiran Tuan muda kecil lebih penting dari apapun," sahut Pram tegas.


"Baiklah! jika memang itu keputusan kalian."


Semua keluarga sudah berada di ruang makan. Di meja makan itu sudah terdapat berbagai hidangan mewah yang telah di siapkan oleh Arnon.


Aktor tampan itu memang sengaja mengundang koki handal untuk memasak hidangan mewah tersebut.


Agnez mengambilkan beberapa makanan untuk Pram. Semua itu tak luput dari pandangan orang-orang yang hadir termasuk Melati.


"Ehem, ada calon istri idaman ya, Pa! baru kali ini dia perhatian begitu terhadap seseorang," ledek Melati pada Agnez.


Wajah Agnez sudah memerah karena malu dengan ledekan Melati padanya.


"Sudah, Mel! jangan ganggu, Kakakmu! biarkan dia melayani, Pram!" Hadi tersenyum pada Melati sembari mengambil makanan yang sudah terhidang di atas meja.


"Kau mau apa, Sayang?" tanya Melati.


"Tak perlu, Sayang! aku bisa mengambil sendiri, kau sedang hamil! biar aku saja yang melayanimu," tutur Arnon pada Istrinya.


Semua orang kagum akan keromantisan pasangan muda itu, tak terkecuali kedua orangtua Pram.


"Nona dan Tuan! sungguh pasangan yang sangat harmonis! semoga kelak rumah tangga Pram dan menantu kami bisa seperti kalian! selalu harmonis bagai pasangan muda yang baru menikah," ujar ibu Pram pada Arnon dan Melati.


"Amin! saya juga berharap seperti itu, Ibu!" Melati menatap suaminya penuh cinta.


"Terimakasih ya, Sayang! karena kau selalu melimpahkan kasih sayangmu padaku," tutur Melati mengusap pipi Arnon lembut.


Semua orang yang berada di meja makan dibuat iri dengan keromantisan mereka berdua. Yang paling merasa iri adalah Pram dan Agnez.


Mereka berdua termotivasi dari kisah cinta Arnon dan Melati. Keduanya ingin kisah mereka berakhir sampai maut yang memisahkan.


Semua menikmati hidangan yang sudah di siapkan. Seperti biasa, ibu hamil itu memakan hidangan tersebut dengan sangat lahap.


Semua orang paham akan porsi makan Melati yang lebih banyak dari wanita biasanya. Terutama ibu Pram, ia sangat mengerti jika ibu hamil sering merasa lapar karena bayi dalam rahim Melati juga membutuhkan asupan nutrisi yang cukup.


Arnon melihat Melati yang makan dengan lahap hanya bisa tersenyum karena meskipun istrinya makan sebanyak apapun, hanya perutnya yang bertambah besar, sedangkan badannya masih tetap sama saja.


Waktu sudah menunjukkan jam 21.30


Pram dan keluarganya berpamitan untuk kembali ke kediaman mereka.


Pasangan baru itu terlihat nampak masih ingin tetap berlama-lama bersama. Terbukti dengan tangan keduanya yang tak ingin lepas.


Kejahilan Arnon mulai terbesit dalam benaknya untuk menggoda Pram. "Lepaskan tanganmu itu, Pram! dia tak akan lari."


Melati menyenggol lengan suaminya. "Huss! kau ini seperti orang tak pernah jatuh cinta saja! padahal sudah dua kali merasakan jatuh cinta pada wanita," bisik Melati.


"Tapi hanya kau wanita terakhir dalam hidupku, Sayang," bisik Arnon sembari mengecup pipi Melati.