
Zinnia sudah keluar dari kamar mandinya. Ia berjalan ke arah kaca rias untuk memulai ritual makeup untuk acara makan malam kali ini.
Gadis itu masih menggunakan bathrobe-nya. Makeup Zinnia kali ini akan sedikit bold karena ia akan makan malam yang hanya akan di terangi oleh cahaya lilin.
Zinnia sengaja membuat makan malam kali ini begitu romantis karena ia tahu kisah cinta kedua orangtuanya dari sang nenek, sedangkan kisah cinta kedua mertuanya ia tahu dari sang ibu saat Zinnia masih kecil. Saat setelah pesta pernikahan Melati dan Arnon, Zinnia kecil bertanya pada ibunya dan Melati menceritakan semuanya.
Gadis itu sudah selesai dengan ritual makeup-nya.
Zinnia mencerminkan wajahnya yang sudah terpoles oleh makeup mahalnya.
"Kau memang cantik, Zi!"
Zinnia tersenyum sambil mengerlingkan sebelah matanya, namun sedetik kemudian, gadis itu cemberut. "Apa benar aku ini cantik? aku jadi tak yakin, karena Pria mesum itu tak kunjung jatuh cinta padaku!"
Zinnia kembali menatap pantulan wajahnya di cermin. "Apa dia masih mencintai, Marion?"
Wajah Zinnia seketika berubah putus asa. Gadis itu merasa William tak mungkin mencintainya dalam waktu dua Minggu ini, karena ia ingat jika William mencintai Marion butuh waktu dua tahun.
"Aku akan menunggu sampai hari keberangktannku ke Amerika 5 hari lagi! jika dia masih tak ada perasaan apapun padaku, aku tak akan membuatnya jatuh cinta padaku," gumam Zinnia yang sudah membulatkan tekadnya.
Zinnia berjalan ke arah kasur. Dimana gaunnya sudah tersedia.
Gadis itu sudah menggunakan gaun malamnya yang berwarna putih dengan bagian punggung terbuka.
Zinnia berjalan ke arah kaca rias untuk menata rambutnya. Gadis itu mengikat rambutnya kuncir kuda namun lebih turun ke bawah.
Zinnia merapikan sedikit bagian rambutnya yang masih ia rasa kurang pas.
Gadis itu berjalan ke arah kasur lagi untuk mengambil antingnya yang berukuran lumayan besar sehingga penampilannya malam ini benar-benar membuat siapa saja pasti akan pangling.
Zinnia memakai hells berwarna senada dengan gaun malam yang ia kenakan.
Setelah selesai, Zinnia melihat ke arah jam pada ponselnya. Waktu telah menunjukkan pukul 18.00 WIB, namun William masih belum kembali juga.
"Pria mesum ini sungguh tak bisa di pegang perkataannya! sudah aku ingatkan jangan pulang terlalu malam! huh, sabar! ingat, Zi! dia itu Dokter! mungkin ada pasien darurat lagi," gumam Zinnia agar gadis itu tak berpikiran yang tidak-tidak pada sang Suami.
Zinnia berjalan ke arah pintu keluar untuk memerintahkan para pelayan agar menyiapkan makan malam yang sudah ia masak.
Gadis itu membuka hendel pintu kamarnya dan pada saat bersamaan, William sudah berada tepat di depan pintu kamar.
Saat pintu sudah terbuka lebar, William melihat Zinnia yang sudah tampil sangat cantik dan seksi dengan gaun yang ia pakai malam ini.
William masih belum sadar jika bagian belakang punggung istrinya terbuka lebar.
William melihat Zinnia dari ujung rambut sampai ujung kaki. Gadis itu sungguh terlihat bagai model yang sudah siap berlenggak lenggok di atas karpet merah.
Berbeda dengan Zinnia yang menatap William dengan tatapan kesal. "Cepat mandi! aku akan menunggumu di bawah," pinta Zinnia yang kemudian berjalan melewati suaminya.
Wangi manis dari tubuh Zinnia sungguh membuat pria itu mabuk.
William menoleh ke arah Zinnia yang sudah menjauh darinya. Pria itu melebarkan matanya kala ia melihat punggung istrinya yang putih mulus tanpa celah.
William mengusap wajahnya kasar. Ia langsung masuk ke dalam kamarnya agar fantasi liarnya tak bermain dalam pikirannya.
Zinnia sudah berada di dapur. Ia sudah memerintahkan Asih agar menyiapkan semua hidangan yang sudah ia masak tadi. Karena 30 menit lagi, orangtuanya akan datang.
Zinnia berjalan ke arah ruang tamu, saat ia hendak duduk. Zinnia mendengar suara langkah kaki yang menurui tiap anak tangga rumahnya.
William sudah tampil sangat tampan dengan setelan kemeja yang di pilihkan oleh sang istri. Pria itu nampak terlihat sangat tampan dan gagah.
Zinnia memperhatikan suaminya yang saat ini juga tengah melihat ke arahnya.
Zinnia tersenyum manis pada William. Gadis itu mendekati William yang sudah hampir sampai di lantai dasar.
"Pilihanku memang tepat! kau terlihat sangat tampan sekali malam ini," puji Zinnia yang memancing bibir William tertarik sempurna.
"Bukan begitu, kau selalu tampan, tapi sayangnya kau mesum sekali," ledek Zinnia.
William sudah menggenggam pergelangan tangan istrinya erat. Ia hendak memberikan Zinnia hukuman', namun suara bariton kedua Daddy-nya terdengar.
William langsung melepaskan tangan Zinnia. Pria itu menegakkan tubuhnya menyambut kedua pasangan yang sudah berusia setengah baya itu.
"Selamat datang!" Sambut Zinnia dengan senyum manisnya.
Gadis itu berjalan ke arah sang ayah dan ibunya untuk mencium pipi mereka berdua secara bergantia, sedangkan untuk kedua mertuanya, Zinnia mencium punggung tangan Edward dan mencium pipi Salma.
William mencium punggung tangan keempatnya.
Kedua pasangan yang sudah mulai menua itu nampak masih terlihat begitu romantis, buktinya tangan Melati dan Salma masih melingkar indah pada lengan suami mereka masing-masing.
"Daddy dan Mommy seperti anak muda saja! masih bergandengan tangan seperti itu," goda Zinnia pada kedua orangtuanya.
"Karena kami selalu mengungkapkan kata cinta di setiap harinya, Sayang! kami akan selalu melimpahkan rasa cinta ini dalam bentuk tindakan kasih sayang dan salah satu contohnya seperti ini," jelas Melati yang secara tak langsung mengkode Zinnia agar bisa bersikap romantis juga pada suaminya.
Gadis itu langsung tanggap akan perkataan yang di lontarkan oleh ibunya.
Zinnia langsung mendekati William dan menggandeng lengan suaminya erat.
"Aku juga tak mau kalah romantis dengan orangtuaku dan mertuaku! iya kan, Sayang?" tanya Zinnia tersenyum manis menatap ke arah William.
Pria itu tersenyum manis pada istrinya.
"Aku akan mengikuti permainanmu malam ini, Gadis cerewet!"
Orangtua keduanya nampak sangat bahagia melihat William dan Zinnia akur dan harmonis seperti saat ini.
Mereka berenam masuk ke dalam ruang makan. Anehnya ruangan itu gelap tak seperti biasanya.
William nampak heran. Pria itu mulai berpikir apa yang terjadi dengan ruang makannya.
"Kenapa ruang makan di rumahku jadi gelap seperti ini? apa lampunya sudah mati dan lupa di ganti?"
Semua pertanyaan itu muncul dalam benak William.
Berbeda dengan Zinnia yang tersenyum bahagia karena rencananya malam ini untuk acara triple date pasti akan berhasil.
Saat William dan Zinnia masuk terlebih dulu ke dalam ruang makannya, Hot Dokter tersebut di buat takjub dengan ruangan yang awalnya biasa saja, kini sudah di sulap menjadi ruang makan super romantis.
Lilin cantik dan rangkaian Bungan mawar merah menghiasi ruangan tersebut.
Tak hanya William, Melati dan yang lain juga ikut takjub dengan dekorasi ruangan itu.
William mengentikan langkahnya, pria itu menatap ke arah sang istri. "Apa kau yang merencanakan semua ini?" tanya William menatap kedua mata Zinnia.
Gadis itu membalas tatapan mata suaminya. "Tentu saja! karena aku ingin malam ini menjadi malam paling manis untuk keluarga kita," sahut Zinnia tersenyum manis pada William.
Wajah gadis itu terlihat semakin cantik di mata William saat cahaya lilin langsung mengenai wajah Zinnia.
William mendekatkan wajahnya pada wajah sang istri. Pria itu mengecup lembut kening Zinnia.
Cup
"Terimakasih, Sayang!" William mengucapkan itu dengan wajah dan nada penuh ketulusan tanpa ada sandiwara sedikitpun.
Zinnia bisa menyadari itu semua. Seketika jantung gadis itu berdetak kencang.
Deg deg deg
"Aku harap kau bisa benar-benar mencintaiku mulai dari malam ini, Will!"