
William berjalan ke arah tempat tidur dimana letak ponselnya berada.
Sementara Zinnia langsung berlari ke arah kamar mandi.
Nafasnya naik turun tak karuan. Ia bingung kenapa badannya sekarang terasa panas.
Ia menatap ke arah cermin yang tergantung di atas wastafel kamar mandi.
"Kenapa wajahku merah? ini pasti gara-gara dia yang terlalu lama menarik bajunya! dasar pria gila!"
William langsung mengambil ponsel tersebut dan melihat siap yang menghubunginya.
Tertera nama "Daddy" di ponselnya.
"Ada apa, Dad?"
"Kau ada dimana, Will?"
"Di rumah, Dad!"
"Maksud, Daddy! di kamar atau di ruangan lain?"
"Di kamar."
"Baguslah, Nak! jika kau berada di ruangan selain kamarmu itu? semua aktivitasmu akan terlihat oleh para penguntit yang sudah Daddy tugaskan!"
Kening William mengkerut sempurna. "Penguntit? jangan bilang Daddy menyuruh orang untuk memata-mataiku," tebaknya.
"Kau salah besar, Nak! bukan orang yang Daddy utus, melainkan para kamera pengawas yang tanpa letih berada di tiap sudut rumahmu, mereka akan selalu meronda siang dan malam untuk memastikan kau tak akan melakukan hal yang aneh-aneh pada, Istrimu!"
"Apa Daddy sungguh meletakkan kamera CCTV di setiap sudut rumah ini?"
"Dad! kenapa kau berlebihan seperti ini! aku tak mungkin melakukan hal yang tidak-tidak pada gadis cerewet itu."
Beruntung sekali perkataan pria itu tak di dengar oleh istrinya, karena Zinni saat ini sudah berada di dalam kamar mandi.
"Hanya untuk berjaga-jaga, Will!"
"Dad! please! buang semua CCTV itu, aku merasa tak nyaman melakukan kegiatan apapun jika terus begini."
"Jika kau merasa tak nyaman melakukan sesuatu, kau tetap di kamarmu saja, karena hanya di sana yang aman dari kamera penguntit itu."
William kesal. Ia tak habis pikir kenapa Edward harus melakukan hal itu padanya.
"Baiklah! terserah Daddy saja."
"Anak yang baik! selamat menunaikan malam pertama, Will! jangan lupa buatkan Daddy cucu yang banyak ya?" Edward langsung menutup panggilannya setelah ia meledek William.
Tut tut tut tut
Wajah William mulai meradang. Ia ingin sekali membanting ponselnya, namun pria itu berpikir dua kali karena ponsel keluaran teranyar miliknya baru dua hari yang lalu ia beli.
"Daddy benar-benar kelewatan! jadi malam ini aku dan Zinnia harus satu kamar? ah, kenapa kau menyiksaku seperti ini, Dad! dan lagi ... cucu yang banyak? lelucon macam apa yang Daddy katakan? cinta saja tak ada, apalagi membuat cucu? Daddy kira membuat cucu seperti orang membuat kripik singkong," celoteh William sekenanya karena ia sudah merasa kesal tingkat akut.
Ia berjalan ke arah walk in kloset untuk berganti baju.
Sementara pintu kamar mandi sudah terbuka. Seorang gadis dengan rambut yang sudah di gulung menggunakan handuk kecil berjalan ke arah meja rias.
Ia lupa jika peralatan wajahnya tak di bawa.
Zinnia memilih membuka gulungan handuk pada rambutnya dan mengeringkan rambut itu dengan handuk.
"Andai saja di kamar ini ada hair dryer! pasti rambutku sudah kering," gumam Zinnia yang terus mengeringkan rambutnya.
"Coba kau lihat di dalam laci itu," celetuk William dengan setelan baju santainya.
Zinnia menoleh ke arah suaminya sampai rambutnya juga ikut terkibas indah.
William kembali menatap wajah sang istri dengan tangan yang mulai mengepal menahan sesuatu.
Rambut basah Zinnia memberikan kesan seksi pada wajah desainer cantik itu.
"Kau yakin jika di laci ini ada hair dryer?" tanya Zinnia pada William.
"Jika kau tak mau melihatnya, abaikan saja! dasar gadis cerewet!"
Zinnia menatap William dengan mata melebar. "Kau memang suka sekali ya mengatai seseorang seperti itu? apa mulutmu ingin aku sekolahkan?"
"Terserah!" William berjalan ke arah sofa.
Zinnia tak ingin meladeni suaminya. Ia lebih memilih mengeringkan rambutnya yang basah agar tak masuk angin.
Setelah selesai, gadis itu berjalan hendak keluar dari kamar William.
Mata William seketika langsung tertuju ke arah Zinnia. "Mau kemana kau?" tanya William sambil berdiri dari posisi duduknya.
"Aku akan tidur di kamar lantai tiga," sahut Zinnia hendak melangkahkan kakinya kembali ke arah pintu.
"Kau tidur di sini!"
Zinnia mulai berkacak pinggang dengan raut wajah sedang berpikir. "Apa kau ingin tidur satu kamar denganku?" tanya Zinnia tersenyum simpul.
"Jangan mimpi! aku ada alasan tersendiri ingin kau tidur di kamar ini," sahut William ketus.
"Kau bisa tidak jika menurut saja! kau sungguh gadis yang sangat cerewet! cepat naik ke kasur sekarang!" William menunjuk ke arah kasurnya.
"Tidak mau!"
"Naik!"
"Tidak mau!"
"Ini yang terakhir kalinya! jika kau tetap tak mau, jangan salahkan aku jika aku melakukan sesuatu padamu," ancam William dengan tatapan mata tajam mengarah pada Istrinya.
"Naik sekarang juga," pinta William yang ketiga kalinya.
"Tidak!" dengan wajah menantang sang suami.
William melangkah cepat ke arah Zinnia. Gadis itu langsung waspada hendak kabur dari kamar William, namun tangan kekar suaminya lebih dulu mengangkat tubuhnya.
William memanggul tubuh Zinnia ke arah ranjang. Gadis itu tak enak diam dan terus berteriak, "Hei! Apa yang kau lakukan pria mesum! turunkan aku!" Zinnia memukul punggung William tanpa henti.
Pria itu hanya memasang wajah datar seperti tak terjadi apa-apa.
Zinnia terus bergerak-gerak dan memukul punggung suaminya.
Secepat kilat pria itu langsung menjatuhkan tubuh sang istri di atas kasur, dimana ia tidur setiap malamnya.
"Diam dan tidur," tutur William dengan suara tegasnya.
"Aku tak ingin tidur denganmu, pria mesum!"
William berjalan ke arah sisi ranjang yang bersebrangan dengan Zinnia langsung menatap gadis itu tajam.
"Siap yang kau sebut pria mesum, hah?" tanya William yang mulai kesal pada Zinnia karena panggilan gadis itu tak enak sekali di dengar oleh telinganya.
"Kau yang pria mesum," sahut Zinnia tanpa dosa.
"Bagian mana dari diriku yang kau sebut mesum?" tanya William lagi.
"Baiklah! aku akan menyebutkan semua kelakuan mesummu itu! Pertama, kau berani ingin menciumku dan yang kedua, kau berani mengangkat tubuhku tanpa izin, semua itu sudah lebih dari cukup untuk memberikan lebel mesum padamu, pria mesum!"
"Kau itu siapaku?" tanya William tersenyum simpul.
"Aku is ...."
Zinnia tak melanjutkan lagi ucapannya. Ia sadar jika apa yang dilakukan William padanya sudah sah dimata agama dan hukum.
"Kenapa diam! apa kau lupa siapa dirimu sekarang?"
"Tidak aku tidak lupa," sahut Zinnia dengan nada kesal.
"Jadi kau siapaku?" tanya William lagi sengaja ingin terus membuat istrinya semakin kesal.
"Jika kau tahu, kenapa kau masih bertanya padaku!"
"Aku tak tahu jawabannya dan kau harus menjawab pertanyaanku! kau itu siapaku, Gadis cerewet!"
Bibir Zinnia sedikit di majukan ke depan. "Istrimu," sahutnya dengan nada pelan.
William tersenyum tipis. "Apa? aku tak dengar," ujarnya dengan tangan berada di telinganya memberikan kode jika dirinya tak mendengar ucapan sang istri.
Zinnia menatap tajam William. "Aku istrimu, pria mesum!"
William tersenyum menang. "Itu jawaban yang sangat tepat dan apa yang aku lakukan itu termasuk kelakuan mesum?" tanya William yang lagi-lagi memancing rasa kesal Zinnia semakin membuncah.
"Tidak! apa yang kau lakukan padaku tidak salah! apa kau sudah puas, Pria mesum!"
"Puas, sangat puas!" William tersenyum menang.
"Sekarang kau tidur," pinta William.
Gadis itu menatap ke arah bathrobe yang dikenakannya. "Dengan bathrobe ini?" tanya Zinnia dengan wajah tak yakin.
"Tentu saja! kau yang mengatakan jika bajumu tak ada di lemariku, jadi kau pakai itu saja," sahut William santai.
"Tapi aku ...."
"Jika kau tak mau menggunakan bathrobe itu, kau bisa membukanya," goda William dengan alis yang sudah naik turun.
Zinnia menatap pria itu kesal. Dengan kasar gadis tersebut menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya sampai batas leher.
William ingin sekali tertawa melihat tingkah konyol Zinnia.
"Apa kau tak ingin meletakkan guling di tengah-tengah kita? biasanya jika di film-film, si wanita akan meletakkan pembatas agar si pria tak berani dekat-dekat."
"Gulingmu saja yang di jadikan pembatas! aku tak bisa tidur jika tanpa memeluk guling," ujar Zinnia yang sudah memunggungi suaminya.
"Enak saja! aku juga tak bisa tidur tanpa memeluk guling! lagi pula aku tak bernafsu ingin menyentuhmu, gadis cerewet!"
Tak ada sahutan atau celotehan dari mulut Zinnia. Yang di dengar William hanya suara deru nafas teratur yang menandakan jika sang istri sudah terlelap tidur.
Pria itu tersenyum sambil merebahkan tubuhnya tepat di samping Zinnia.