Pacaran Setelah Menikah

Pacaran Setelah Menikah
Bab 168 ( Season 2 )


Suara kicau burung mulai saling bersahutan.


Zinnia dan William masih tidur, namun suara jam yang berada di atas nakas mulai berbunyi membuat tidur gadis itu terganggu.


Zinnia menggerakkan kepalanya sambil membuka matanya yang masih terasa sangat pekat.


Zinnia menatap ke arah kirinya. Pria yang tadi malam mengganggunya masih belum terbangun.


Ide jahil zinnia mulai timbul di pagi ini. Gadis itu berjalan ke arah meja rias mengambil eyeliner dan pensil alis, kemudian berjalan ke arah suaminya.


Zinnia tersenyum sambil menggambar alis pria itu dengan bentuk sangat tebal dan hitam seperti tokoh kartun Sinchan.


Zinnia beralih pada daerah mata William yang di gambarnya menyerupai kacamata tebal.


Zinnia kembali beralih pada bagian atas dan bawah bibir suaminya yang di gambar menyerupai kumis dan janggut.


Gadis itu memegangi perutnya karena tawanya ingin pecah saat itu juga.


Karena Zinnia bergerak-gerak tak enak diam membuat William akhirnya membuka matanya secara perlahan.


Pria itu menatap ke arah Zinnia yang tersenyum dengan kedua tangan memegang eyeliner dan pensil alis.


"Kenapa kau tertawa? apa ada yang lucu?" tanya William mengucek matanya sehingga membuat gadis itu tak dapat menahan tawanya kembali.


"Hahaha!"


Tawa Zinnia benar-benar pecah saat ini karena gadis itu melihat eyeliner yang ia lukiskan pada bagian mata suaminya belepotan kemana-mana, sampai wajah pria itu menyerupai hantu.


William masih merasa aneh dengan sikap Zinnia yang tiba-tiba saja tertawa.


"Hei! apa kau mulai gila? ini masih pagi, Zi! kau sudah tertawa begini," celoteh William kesal melihat Zinnia yang tertawa entah karena apa sebabnya.


Gadis itu terus saja tertawa sambil memegangi perutnya.


Insting William menangkap sinyal tak beres pada istrinya.


Gadis itu berhenti tertawa, namun saat kembali melihat ke arah wajah William, gadis itu kembali tertawa terpingkal-pingkal.


"Ini pasti ada yang tak benar dengan wajahku," batin William.


Pria itu langsung mengambil ponselnya yang berada di atas nakas.


Tanpa berlama-lama setelah ponsel itu berada di tangannya, William langsung menatap pantulan dirinya pada ponselnya dan pria itu terkejut dengan penampakan wajahnya yang bagai hantu gentayangan.


Pria itu menatap ke arah Zinnia yang masih tertawa karena gadis itu berhasil membuat suaminya terlihat jauh dari kata tampan.


William langsung menarik tangan Zinnia menggenggamnya erat.


Gadis cantik itu tersentak menghentikan tawanya kala tangan kekar William mencengkram erat pergelangan tangannya.


"Apa yang kau lakukan, Pria mesum!"


"Hahaha! apa aku tak salah dengar! kau yang kenapa membuat wajahku jadi buruk rupa seperti ini," tutur William langsung membaringkan tubuh Zinnia di atas kasurnya.


Pria itu mengunci kedua tangan istrinya agar tak dapat bergerak.


William meraih pensil alis dan eyeliner milik Zinnia untuk membalas perbuatan istrinya.


William mulai membuat lingkaran besar pada bagian kedua pipi istrinya. Setelah itu, ia membuat lingkaran juga pada dahi Zinnia, kemudian beralih pada dagu. William membuat gambar menyerupai taring pada bagian bibir sampai batas dagu istrinya.


Setelah selesai, pria itu tersenyum penuh kemenangan karena sudah bisa membalas perbuatan jahil desainer cantik tersebut.


Proses balas dendam William masih belum selesai. Pria itu meraih ponselnya dan memotret wajah Zinnia yang nampak sangat tak sedap di pandang mata.


"Hentikan, Will! jika kau tetap begini, aku akan membuatmu jatuh cinta padaku agar kau berhenti menjahiliku, Pria mesum!"


"Kau jangan coba-coba, Pria mesum!"


Zinnia mulai menggeliat, bergerak dengan gerakan brutal, namun ia masih tetap tak bisa lepas dari tindihan tubuh suaminya.


William semakin menggoda Zinnia dengan menunjukkan tombol posting pada akun media sosialnya.


Gadis itu semakin bergerak tak karuan hingga pada akhirnya ia menangis.


"Kau jahat! kau kejam! aku benci padamu, William!"


Pria itu berpindah tempat duduk di samping Zinnia dengan raut wajah kesalnya.


"Lain kali jangan main-main lagi denganku! kau yang membuat ulah, kau juga yang menangis! padahal itu semua bukan aku yang salah," celoteh William yang semakin membuat gadis itu menangis sekencang-kencangnya.


Zinnia menatap ke arah William dan pria itu juga menatapnya.


Wajah Zinnia juga saat ini sama seperti hantu yang sangat menakutkan, karena bekas air mata istrinya tumpah kemana-mana.


Kini William yang tertawa melihat wajah istrinya.


Zinnia tahu jika William menertawakan wajahnya yang mungkin sama seperti badut.


Tangisan gadis itu terhenti. "Sudah puas! kita impas kan? aku akan mandi sekarang."


Zinnia turun dari tempat tidur berjalan ke arah kamar mandi, namun suara William lagi-lagi terdengar memekakkan telinganya.


"Aku dulu yang mandi," pinta William yang masih tak ada niatan beranjak dari atas tempat tidur yang sudah porak-poranda itu.


Zinnia tetap dengan posisi membelakangi suaminya. "Tidak! aku dulu," sahut Zinnia dingin.


"Aku dulu, Zi!"


"Tidak! sekali tidak ya ...."


"Zi! coba berbalik ke arahku," pinta William.


Zinnia sebenarnya malas menuruti perintah pria menyebalkan itu, namun tubuh Zinnia mulai berbalik menghadap ke arah suaminya.


William sudah akan menekan tombol posting lagi dan membuat gadis itu mengepal tangannya kesal.


"Kapan kau bisa membuat hidupku tenang, Will? apa jika kau sungguh jatuh cinta padaku, kau akan memperlakukan aku bagai ratu dalam hidupmu?"


William tersenyum sambil turun dari ranjangnya mendekati sang istri.


Saat jarak mereka sudah tinggal tiga langkah, William diam di tempat tak bergerak maju ke depan.


"Mungkin cara yang kau sebutkan tadi itu bisa kau coba, namun jawabannya masih tidak mungkin semudah itu aku jatuh cinta padamu, Zi! apa kau ingin tahu berapa tahun aku bisa jatuh cinta pada, Marion?"


Zinnia mengerutkan dahinya. Gadis itu masih mencerna kata-kata William.


"Tahun? jangan bilang pria ini susah di taklukkan? astaga! kenapa aku jadi pesimis seperti ini? ingat, Zi! kau pasti bisa! intinya, buat hidup pria itu berbunga-bunga setiap harinya dan limpahkan rasa cinta padanya setiap hari agar kau bisa membuatnya takluk dalam waktu kurang dari dua Minggu."


Zinnia mendekati suami. Ia memeluk pinggang William dengan raut wajah berbeda jauh dari semula.


Zinnia tersenyum manis pada William. "Aku tak ingin tahu berapa tahun atau abad kau bisa jatuh cinta pada wanita itu! yang aku tahu saat ini adalah, bagaimana membuatmu bisa jatuh cinta padaku, Will!"


Tangan Zinnia melepaskan pelukan pada tubuh suaminya. Tatapan mata William kini tertuju pada bibir Zinnia yang sedari tadi ingin ia terkam karena telah membuat dadanya bergetar hebat mendengar suara sensual istrinya itu.


Cup


Zinnia mengecup kilat bibir suaminya. "Morning kiss, Pria mesum!"


Zinnia tersenyum manis diiringi kerlingan mata menggoda pria yang saat ini menjadi targetnya.