Pacaran Setelah Menikah

Pacaran Setelah Menikah
Bab 227 ( Season 2 )


Cahaya matahari kini sudah berganti dengan cahaya bulan yang melewati celah gorden putih di kamar William.


Wanita cantik dengan balutan baju tidur tengah sibuk menggambar sketsa beberapa baju yang masih berputar dalam otaknya.


William berada di balkon kamarnya dengan secangkir kopi yang ia seruput sedikit demi sedikit untuk menghilangkan rasa dingin udara malam yang menusuk tulang.


Zinnia yang sadar akan keberadaan suaminya segera meletakkan kertas dan pensilnya di atas nakas.


Zinnia turun dari tempat tidur untuk menghampiri suaminya.


Dengan gerakan pelan dan tanpa bersuara, Zinnia memeluk tubuh William dari belakang. "Kenapa masih di luar?" tanya Zinnia menempelkan wajahnya pada punggung William.


Pria itu hanya sedikit menoleh ke samping kemudian tersenyum renyah. "Aku hanya ingin mencari udara segar saja," tutur William berbalik berhadapan dengan Zinnia.


Pria itu melihat wajah istrinya. Tangan kekar William menyentuh pipi Zinnia, menatap setiap inci wajah tanpa cacat itu.


"Aku tak ingin ada seekor nyamuk yang berani mengusikmu! aku ingin kau tetap aman seperti saat ini."


William mencium kening Zinnia. Pria itu memeluk tubuh candu istrinya.


"Kenapa?" tanya Zinnia yang merasa aneh dengan sikap William padanya malam ini.


"Aku hanya ingin selalu seperti ini denganmu," sahut William.


"Kita akan setiap hari seperti ini," tutur Zinnia membalas pelukan suaminya erat karena angin yang membawa udara dingin menerpa kulit mereka berdua.


"Besok aku akan mulai bekerja dan aku tak akan bisa memelukmu seperti ini setiap saat," ujar William mengecup puncak kepala Zinnia berkali-kali tanpa henti.


"Apa aku harus ikut ke rumah sakit agar kau semangat bekerja?" tanya Zinnia menggoda suaminya.


"Tidak perlu karena aku semakin tak bisa fokus bekerja jika kau ikut denganku."


Zinnia tersenyum sambil memejamkan matanya menghirup wangi tubuh suaminya.


"Apa kau tak mengantuk?" tanya William pada istrinya.


"Belum! kau sendiri?" tanya balik Zinnia sambil mendongakkan kepalanya memandang wajah suaminya.


"Aku masih memiliki setengah cangkir kopi yang bisa membuatku meronda malam ini," sahut William.


"Apa kau kedinginan?" tanya Zinnia lagi.


"Biasa saja," sahut William sambil menaik turunkan alisnya.


Zinnia melepaskan diri dari pelukan suaminya. Wanita bertubuh ramping dan berambut panjang itu berjalan ke arah ranjang untuk mengambil selimut.


Zinnia membawa selimut berwarna merah hati ke arah suaminya. "Kau pakai selimut ini saja!"


William menerima selimut pemberian istrinya dengan bibir melengkung indah. "Terimakasih, Sayang!"


William melebarkan selimut itu tepat di belakang tubuhnya. Ia menempelkan tubuhnya pada tubuh Zinnia, menutupi tubuhnya dan tubuh Zinnia dalam satu balutan selimut. Mereka berdua terlihat seperti kepompong.


"Apa sudah terasa hangat?" tanya William pada Zinnia dengan wajah yang sudah bertengger pada ceruk leher istrinya.


"Sangat hangat," sahut Zinnia memandang rembulan yang berbentuk sabit.


"Kenapa harus ada malam?" tanya Zinnia pada suaminya.


"Jika hanya ada siang, maka pancaran kecantikanmu kurang sempurna, Sayang!"


Zinnia tersenyum karena suaminya mulai bergombal ria. "Kau bukan tipe pria yang suka merayu macam itu," ejek Zinnia sambil geleng-geleng kepala.


"Betul kan? atau mungkin malam di khususkan untuk aku menerkammu sampai pagi menjelang," goda William menggigit daun telinga istrinya.


"Pria mesum akan selamanya seperti itu," cecar Zinnia memejamkan matanya menikmati terpaan angin malam yang mengenai wajahnya sampai rambut halusnya menutupi bagian wajahnya.


"Kita tidur sekarang!" William mengangkat tubuh istrinya ke arah ranjang dan selimut yang mereka gunakan untuk menghangatkan diri tergeletak di lantai.


"Selimutnya jatuh," tutur Zinnia mengingatkan suaminya.


"Biarkan saja! beberapa menit ke depan kita tak membutuhkan selimut itu, Sayang!"


"Tapi aku ...."


"Pria ini benar-benar tak mengerti waktu ya! apa dia tidak tahu jika tubuhku sudah lelah gara-gara kebuasannya tadi malam."


"Sebentar aku lelah, karena kau memaksa, jadi aku akan mengabulkannya," tutur Zinnia dan pergulatan panas itupun di mulai kembali oleh William.


Keesokan paginya, Zinnia sudah berada di meja makan untuk mempersiapkan sarapan William dengan kotak bekal yang sudah siap untuk di bawa oleh suaminya.


"Selamat pagi, Sayang!" William yang baru turun dari kamarnya menyapa Zinnia yang masih mengoles roti dengan selai kacang kesukaannya.


Zinnia menoleh ke arah sumber suara. "Selamat pagi, Sayang!" Zinnia menyapa balik suaminya.


Cup


Kecup mesra pada kening Zinnia sudah mendarat sempurna.


"Buka mulutmu dulu," pinta Zinnia dan William menuruti permintaan istrinya.


Sepotong roti kecil di berikan oleh Zinnia menggunakan garpu.


Saat roti itu mendarat dalam mulut William, aroma kacang menyeruak berpadu dengan lembutnya roti.


"Kenapa rotinya manis sekali sih?" tanya William sembari duduk di kursinya.


Zinnia tersenyum kecil. "Karena ada aku yang terlalu manis di sini," ujar Zinnia mengerlingkan sebelah matanya menggoda William.


William tersenyum pada istrinya sembari melihat ke arah jam tangannya. "Aku berangkat dulu ya, Sayang!" William bangun dan Zinnia juga ikut bangun dari duduknya.


William mendekati Zinnia menyentuh bahu istrinya. "Aku berangkat dulu!"


Cup


Kecupan singkat mendarat pada kening Zinnia. Wanita itu tersenyum sambil membenarkan kerah kemeja suaminya.


"Selamat bekerja, Suamiku! aku menunggumu di rumah."


Zinnia menjijitkan kakinya dan mengecup bibir William.


Cup


"Morning kiss, Pria mesumku!"


William memeluk istrinya. "Bagaimana aku tak rindu padamu jika kau terus menyuntikkan aku dengan rasa mabuk setiap kali akan berangkat bekerja."


Zinnia mendorong tubuh suaminya. "Kau harus berangkat bekerja sekarang!"


"Baiklah! kau tunggu di rumah dan ingat! nanti malam saat aku sudah di rumah, kau harus sudah berdandan cantik untuk acara ulang tahun, Marinka!"


"Iya, Sayang! kau tenang saja, aku akan berdandan secantik mungkin agar kau tak melirik perempuan lain," ujar Zinnia mengangkat jempolnya.


"Hahaha! aku berangkat dulu ya? aku mencintaimu, Sayang!"


"Aku juga mencintaimu," sahut Zinnia melambaikan tangannya pada William.


Dokter tampan itu berjalan mundur sambil menatap istrinya.


"Stop!" Zinnia menghentikan gerakan langkah mundur William.


"Ada apa?" tanya William terkejut bukan main.


Zinnia meraih kotak bekal untuk suaminya yang tertinggal di meja makan.


Wanita bertubuh ramping itu melenggang mendekati William yang diam mematung karena masih syok dengan teriakan Zinnia.


"Kau melupakan ini, Sayang! apa kau ingin tak ada jatah makan siang untuk hari ini?" tanya Zinnia memberi kotak bekal itu pada William.


Dokter tampan tersebut dengan senang hati menerima kotak bekal pemberian istrinya. "Aku beruntung karena tak jadi menahan lapar siang ini," ucap William.


Zinnia membalikkan badan William agar cepat berangkat ke rumah sakit. "Sekarang waktunya berangkat, Pak Dokter!"


William tersenyum sembari melangkahkan kaki keluar dari rumahnya.