Pacaran Setelah Menikah

Pacaran Setelah Menikah
Bab 283 ( Season 2 )


Jet pribadi milik Marquez sudah mendarat dengan sempurna. Marquez dan Sandra saat ini sudah berada di sebuah mobil menuju arah hotel dimana William dan Zinnia sudah mengeluarkan keringatnya untuk membuat kamar hotel itu agar terlihat begitu romantis.


Alis Sandra hampir menyatu karena jalan yang dilewati oleh supir pribadi suaminya tak melewati jalan ke arah rumahnya. "Ini bukan jalan menuju ke arah rumah kan?" tanya Sandra sembari menatap suaminya penuh tanya besar.


Marquez mengangguk dengan tatapan mata masih menatap lurus ke depan.


Sandra masih terlihat kebingungan. "Kita mau kemana?" tanya Sandra lagi.


"Kau lihat saja nanti kita akan kemana, Sayang!" Marquez sengaja tak mengatakan pada istrinya agar Sandra merasa penasaran.


"Semoga saja dekorasi kamar itu akan membuat Sandra bahagia."


Setelah beberapa menit perjalanan menuju arah hotel, akhirnya roda mobil yang dinaiki oleh Marquez dan Sandra berhenti di sebuah hotel mewah.


Sandra masih enggan untuk turun dari mobil itu. Ia memandang ke arah suaminya meminta penjelasan pada Marquez maksud dari semua ini.


Marquez tersenyum sembar mengusap lembut rambut Sandra. "Kita akan tinggal di hotel ini untuk satu malam karena aku ingin kita mendapatkan tempat untuk berduaan saja," jelas Marquez pada istrinya.


Sandra masih menyipitkan matanya tanda tak mengerti dengan semua ucapan suaminya.


"Lebih jelasnya kita masuk saja kedalam dulu! setelah kau sampai, kau akan mengerti," tutur Marquez yang langsung turun dari mobilnya dan Sandra mau tak mau harus ikut turun.


Marquez menghampiri sang istri dan meraih tangan Sandra agar tangan itu saling bertautan. "Kita masuk sekarang!"


Marquez dan Sandra berjalan masuk ke dalam hotel tersebut dan menuju meja resepsionis untuk mengambil kunci kamarnya.


Tangan Marquez dan Sandra masih bergandengan berjalan masuk ke dalam lift setelah Marquez mengambil kunci kamarnya di meja resepsionis.


Sandra dan Marquez sudah berada di dalam lift hanya berdua saja. Sandra menatap lurus ke depan sambari terus berpikir apa yang akan dilakukan oleh suaminya.


Berbeda dengan Marquez yang tersenyum sendiri melirik ke arah Sandra secara diam-diam karena ia membayangkan bagaimana sebentar lagi ekspresi wajah istrinya itu jika Sandra tahu malam pertama yang tertunda akan dilakukan malam ini juga.


Waktu telah menunjukkan jam lima sore dan denting lift menandakan jika ia dan sang istri sudah bisa keluar dari ruangan tersebut.


Marquez menarik tangan istrinya keluar dari dalam lift tersebut dan berjalan ke arah kamar nomor 122.


Kini Marquez dan Sandra sudah berada di depan kamar mereka. Sandra melihat ke arah suaminya. "Apa sebaiknya kita pulang saja! kita tinggal di rumah saja," ujar Sandra pada Marquez.


"Kita sudah terlanjur sampai dan sudah membooking kamar ini, Sayang!"


Sandra menurunkan bahunya dan ia menganggukan kepalanya mengiyakan permintaan sang suami.


Marquez tersenyum manis karena ia menang kali ini dan malam pertamanya tak akan tertunda.


Marquez mulai memasukkan kuncinya dan pintu kamar itu langsung dibuka oleh Marquez.


Sandra melihat ke arah dalam kamar tersebut yang gelap tak ada cahaya apapun.


Asisten cantik itu menatap wajah suaminya. "Pasti kamar ini butuh perbaikan! mana ada kamar hotel gelap seperti kuburan macam ini," gerutu Sandra melipat kedua tangannya di dada.


Sandra berbalik badan karena ia sungguh kesal. Sandra sudah tak langsung pulang kerumahnya dan saat sampai di kamar hotel, kamarnya seperti ini.


Setelah Sandra selesai mengumpat sesuka hati, tiba-tiba cahaya kamar itu hidup. Entah siapa yang meletakkan lilin tersebut dan kini Marquez sudah berada di tepi ranjang kamar hotelnya.


"Sayang! berbaliklah," pinta Marquez dan Sandra dengan wajah terpaksa berbalik ke arah suaminya dan mata Sandra yang awalnya meredup, kini wajah itu terlonjak kaget karena Marquez sudah berada di dalam kamar hotel tersebut dan kamar itu sudah di terangi oleh lilin di lantainya serta kelopak bunga mawar sebagai taburannya.


Sandra melihat itu semua dengan perasaan takjub karena ia belum pernah melihat hal seromantis ini sebelumnya.


Tatapan mata Sandra kali ini beralih pada kedua mata suaminya. "Apa kau yang menyiapkannya?" tanya Sandra pada Marquez.


"Bukan aku, tetapi William dan Zinnia yang melakukan ini semua," jelas Marquez pada istrinya.


Sandra masih melihat tiap satu persatu cahaya lilin yang menerangi lantai kamar hotelnya.


"Desain kamar ini pasti masih masuk kategori biasa saja! bagaimana saat proses malam pertama Nona Zinnia ya?"


"Dasar Sandra bodoh! apa yang kau pikirkan? buang jauh-jauh pikiran aneh itu, Sandra!"


Sandra menepuk-nepuk pipinya agar ia sadar dari lamunannya.


"Kemarilah, Sayang!"


Marquez merentangkan kedua tangannya sembari berkata, "Hari ini akan menjadi malam penyatuan kita berdua."


Sandra masih menatap ke arah Marquez dan dirinya seakan terhipnotis oleh senyum tampan pria itu dan tanpa sadar kaki Sandra mulai melangkah ke arah Marquez yang juga menatapnya penuh puja


Tangan Sandra tak lupa menutup pintu kamar hotelnya. Asisten cantik itu terus berjalan ke arah suaminya dan Sandra meraih tangan Marquez.


Senyum di bibir Marquez bagai bulan sabit yang terbentuk sangat sempurna. "Apa kau sudah siap untuk malam yang panjang?" tanya Marquez mendekati istrinya dan menarik pinggang Sandra agar lebih menempel pada tubuhnya.


Sandra terlonjak karena ia sungguh tak mengira jika suaminya nampak berbeda saat ini.


Marquez mendekatkan bibirnya pada telinga Sandra seraya berbisik, "Waktunya untuk menjadikanmu Nyonya Copaldi seutuhnya."


Sandra diam tak mengatakan apapun. Sementara Marquez tersenyum tepat di belakang kepala istrinya sembari mengigit daun telinga Sandra gemas.


Sandra menggeliat memundurkan sedikit wajahnya agar ia dapat melihat wajah Marquez.


Kini wajah mereka sudah bertemu dengan mata yang sudah saling pandang.


Marquez mendekatkan wajahnya mendekati wajah Sandra.


Ujung hidung Marquez sudah menyentuh ujung hidung istrinya dan Sandra otomatis memejamkan matanya saat terpaan napas hangat Marquez menyentuh bagian bawah hidungnya.


"I want you," gumam Marquez dengan jarak bibir mereka yang sudah dekat bahkan sudah hampir menempel. Hanya jarak setipis tisu saja yang dapat diukur kala itu.


Saat Marquez sudah ingin menempelkan bibirnya, pria itu menghentikan gerakannya.


Kepala Marquez mundur dan menatap ke arah Sandra yang sudah memejamkan matanya. "Kau belum memakai obat kontrasepsi?" tanya Marquez tiba-tiba menghancurkan momen romantis yang sudah ia tebarkan sedari tadi.


Mata Sandra spontan terbuka karena ia sedari tadi menunggu bibir suaminya mendarat pada bibirnya.


Sandra terlihat kesal namun, ia menghela napas panjang. Tangan Sandra perlahan terangkat naik menjalari leher suaminya dan sudah melingkarkan indah disana.


"Aku sudah meminum obat itu sebelum kita berangkat naik jet pribadimu karena aku tahu jika pria normal seperti dirimu tak akan menunda hal yang sudah menjadi hakmu," tutur Sandra menelusupkan jemarinya pada sela-sela rambut Marquez dan gerakan itu menciptakan sensasi sengatan listrik yang tak terhitung jumlahnya.


Marquez tersenyum sembari mengangkat tubuh istrinya dan kedua kaki jenjangnya Sandra melingkarkan indah pada pinggangnya.


Beruntungnya Sandra mengenakan loose pant dan baju dengan kancil berada di bagian belakang tubuhnya.


Kini Sandra sudah bagai anak monyet yang bergelantungan pada uduknya namun, pose Sandra saat dilihat membuat Marquez terbakar semakin panas lagi.


Marquez tanpa pikir panjang mendaratkan bibirnya pada bibir sang istri. Kaki Marquez bergerak maju dan menempelkan punggung Sandra pada dinding kamar hotel itu.


Mata keduanya sudah sama-sama terpejam dengan gerakan yang saling membalas ciuman masing-masing.


Sandra bergerak ingin diturunkan dan Marquez mengerti akan maksud sang istri.


Kini Heels yang Sandra kenakan sudah kembali menapaki lantai kamar hotel itu dan ciuman mereka masih berlangsung sampai Marquez melepaskan penyatuan bibirnya.


Marquez mengangkat tubuh istrinya ala bridal style membawa tubuh itu ke arah ranjang yang sebentar lagi akan ia obrak-abrik sampai meneriakkan namanya sepanjang malam di kamar hotel yang akan menjadi saksi penyatuan pertama keduanya.


Marquez membaringkan tubuh Sandra di atas ranjang dan ia juga ikut naik ke atas ranjangnya. "Makan malam akan kita mulai," bisik Marquez menarik selimut dan menutupi semua tubuhnya dan tubuh sang istri.


Satu persatu pakaian yang mereka berdua kenakan mulai melompat melalui celah selimut berwarna putih bersih itu dan terjadilah pergulatan hebat yang tak bisa dijabarkan lebih lanjut lagi.


JANGAN LUPA VOTE, LIKE, DAN KOMENTARNYA YA KAKAK READERS BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UPDATE-NYA.