
Pram melajukan mobilnya ke arah rumah Arnon.
Tak butuh waktu lama pria dengan rahang kokoh itu sampai di halaman rumah termewah yang pernah ia datangi.
Pram berjalan masuk ke rumah keluarga Gafin dengan nafas yang ia atur agar perasaannya yang sedari tadi sudah kacau dapat ia netralkan kembali.
Arnon tengah berada di ruang tamu. Pria itu tengah bergelut dengan laptop dan secangkir teh hangat buatan istrinya.
"Maaf, Tuan! saya sedikit terlambat," sesal Pram pada atasannya.
Arnon menoleh ke arah Pram. "Kau darimana saja?"
"Bisa anda meminta Nona Melati kemari? karena ada yang ingin saya sampaikan," pinta Pram yang harus memberikan kunci rumah baru Hadi karena saat ini ayah Melati tengah mengurus proyek di luar kota.
Arnon memberi kode pada pelayan agar memanggil istrinya ke ruang tamu.
Beberapa menit kemudian, Melati turun dari lantai atas berjalan ke arah suaminya.
"Ada apa kau memanggilku?" tanya Melati pada Arnon.
"Pram ingin membicarakan sesuatu padamu," sahut Arnon sembari melingkarkan tangannya pada pinggang sang istri.
Melati mengarahkan tatapannya pada Pram. "Apa yang ingin kau bicarakan, Asisten Pram?"
"Kakak anda ... Nona Agnez! sudah berangkat ke Belanda 15 menit yang lalu," jelas Pram yang sudah siap menerima ocehan Melati padanya.
Melati berdiri dengan raut wajah tak percaya. "Kau jangan bercanda, Pram! Kakak tak mungkin tak mengabari aku pergi ke tempat sejauh itu," ujar Melati yang masih tak percaya dengan ucapan Pram.
"Saya tidak bercanda, Nona!"
Pram berjalan ke arah Melati. Meletakkan kunci rumah baru Hadi di atas meja dekat dengan laptop Arnon.
"Ini buktinya, Nona! saya tak asal bicara pada anda."
Melati terduduk lemas. Ia sungguh tak habis pikir. Kenapa Agnez bisa mengambil jalan seperti ini.
Melati menundukkan kepala dengan kedua tangan menutupi wajahnya.
Arnon memeluk istrinya. " Tenang, Sayang! aku akan mencari tahu alasan Agnez pergi ke Belanda," ujar Arnon sembari mengecup puncak kepala istrinya lembut.
Melati berhamburan ke pelukan suaminya. " Aku ingin Kakak cepat kembali."
Arnon menatap ke arah Pram dengan tatapan curiga. Aktor tampan itu tahu, jika telah terjadi sesuatu antara Pram dan Agnez. Tak mungkin Pram bisa memiliki kunci rumah keluarga Melati tanpa alasan yang jelas.
"Kau boleh pergi, Pram!"
"Bagaimana dengan ...."
"Kita bisa membahasnya lain waktu saja! kau tenangkan dulu pikiranmu," tutur Arnon yang tahu akan suasana hati Asistennya saat ini. Arnon mengenal Pram sudah hampir 10 tahun, jadi ia tahu betul kondisi hati Asistennya.
Tanpa bertanya lagi, Pram langsung keluar menuju arah mobilnya. Ia menginjak pedal gasnya melaju ke arah pulang, karena pikiran dan perasaannya kali ini sudah tak dapat melakukan aktivitas seperti biasanya.
Arnon mengirim pesan pada Harry agar mencari tahu alasan kepergian Agnez ke Belanda.
Cari tahu alasan Agnez pergi dan dimana dia sekarang.
Arnon menekan tombol send pada ponselnya dan pesan itu telah terkirim.
Arnon memapah Melati ke arah kamar. Ia ingin istrinya beristirahat sejenak, agar pikirannya lebih tenang lagi.
Arnon membaringkan tubuh Melati di atas ranjang. "Istirahatlah, Sayang! aku masih ada urusan di bawah," ujar Arnon mengecup kening Melati lama.
Pria itu menyelimuti tubuh istrinya. Mengelus puncak kepala Melati lembut sebelum Arnon turun kebawah.
Di ruang tamu, suara ponsel Arnon berbunyi. Arnon masih menuruni tangga.
Secepat kilat pria itu berlari langsung menyambar ponselnya.
"Hahahaha!"
Suara tawa Harry seketika menggelar dari balik ponsel Android keluaran terbaru milik Arnon.
"Kenapa kau tertawa? apa ada yang aneh dengan suaraku?" tanya Arnon pada Harry.
"Bukan aneh! tapi kau sepertinya cepat atau lambat akan segera menjadi adik ipar dari Asistenmu sendiri "
"Apa maksudmu?" tanya Arnon penasaran.
"Agnez pergi ke Belanda untuk bekerja di sebuah toko bunga di sana, namun menurutku bukan hanya itu masalahnya! dia juga menaruh hati pada Pram dan ia mengira jika Asistenmu itu akan segera menikah karena perjodohan yang di rencanakan oleh orangtua, Pram! dan apa kau tahu berita yang lebih heboh lagi?"
"Tak usah berbelit-belit jika menjelaskan padaku! cepat katakan," desak Arnon agar Harry langsung to the poin.
"Asistenmu itu juga nampak memiliki perasaan pada kakak iparmu."
"Itu tak heboh lagi bagiku dan aku sudah tahu dari dulu," sahut Arnon yang membuat Harry tak percaya sembari berteriak dari seberang teleponnya. "Apa?"
"Hanya itu saja kan? aku tutup dulu teleponnya," ucap Arnon yang hendak menutup teleponnya.
"Tunggu dulu Ar! ada sesuatu yang ingin aku katakan lagi," teriak Harry yang membuat telinga Arnon sakit.
"Kau bisa tidak, jika tak perlu berteriak begitu!"
"Dengarkan ya? kau jangan galak-galak pada calon kakak iparmu, nanti kau bisa di pecat jadi adik ipar, hahahaha!" panggilan langsung di putus oleh Harry.
Arnon melihat ke arah ponselnya dengan tatapan kesal.
"Jika saja kau ada disini, sudah kubuat mulutmu itu diam," umpat Arnon sekenanya.
Arnon berjalan ke arah kamarnya. Melati masih tertidur dengan pulas.
Arnon membaringkan tubuhnya tepat di samping sang istri dan memeluk tubuh Melati hangat.
Gadis itu menggeliat kecil memiringkan tubuhnya menghadap Arnon. Memeluk tubuh suaminya yang memabukkan baginya.
"Kenapa baru kemari?" tanya Melati di sela-sela kesadaran yang masih belum 100%.
"Karena urusan di bawah baru saja selesai, Sayang! apa kau ingin tahu kenapa kakakmu pergi ke Belanda?" tanya Arnon menatap wajah istrinya yang masih memejamkan matanya.
Perlahan kelopak mata Melati terbuka sedikit demi sedikit. "Kenapa?"
"Karena dia ingin bekerja di sana dan kau tak perlu khawatir dengannya! dia berada di tempat yang aman," tutur Arnon pada sang istri.
Arnon sengaja tak memberitahu perihal perasaan Agnez dan Pram karena ia tak ingin membuat masalah mereka menjadi bercabang kemana-mana. Biar keduanya saja yang menyelesaikan.
"Ayo kita tidur siang! aku sangat mengantuk sekali," ajak Arnon memeluk tubuh Melati lebih erat lagi.
Gadis itu membalas pelukan suaminya hangat. Mengendus wangi maskulin yang mengantarkan dirinya ke alam mimpi.
Tangan Arnon meraba perut rata Melati sembari tersenyum. " Semoga rahimmu cepat terisi oleh buah cinta kita, Sayang!"
Melati mencium leher Arnon, kemudian gadis itu kembali pada dada bidang suaminya. "Aku mencintaimu, Sayang!"
"Aku juga mencintaimu, Istriku!"
Keduanya saling menyalurkan kasih sayang yang tak pernah pudar. Doa yang selalu mereka panjatkan agar sang pencipta segera menumbuhkan benih Arnon dalam rahim Melati.
"Semoga apa yang kita inginkan cepat terkabul dan pernikahan kita juga semoga akan selalu bahagia tanpa kesedihan yang menghampiri di kemudian hari. Aku sangat beruntung memilikimu, Arnon!" Melati membatin.
"Aku sangat beruntung memilikimu, Melati!" Arnon juga membatin.
Entah karena pengaruh ikatan batin yang kuat, sehingga keduanya seperti sedang berkomunikasi dalam hati mereka.