Pacaran Setelah Menikah

Pacaran Setelah Menikah
Bab 237 ( Season 2 )


Sandra masih diam di luar mobil Marquez. "Kenapa kau masih di situ? ayo naik!" Marquez mendekat ke arah Sandra untuk membukakan pintu mobilnya.


"Aku berangkat sendiri saja," tutur Sandra pada Marquez.


"Kita harus berangkat bersama, Nona Asisten! semua orang sudah tahu tentang hubungan kita," ujar Marquez pada Sandra.


"Tidak perlu! aku akan berangkat sendiri saja," tolak Sandra lagi.


Marquez masih melihat ke arah Sandra. Pria itu menatap Sandra intens.


"Nampaknya aku harus sedikit memberikan pelajaran pada wanita kaku ini."


Marquez melepaskan seat belt-nya. Ia bergeser mendekat ke arah Sandra yang masih berada di luar mobilnya.


"Jadi kau ingin berangkat sendiri?" tanya Marquez dengan wajah yang sudah semakin dekat dengan wajah Sandra.


Wanita itu sudah dag dig dug tak karuan. Sandra hanya mengangguk mengiyakan pertanyaan Marquez.


Desainer tampan itu tersenyum pada Sandra dan melihat ke arah sandwich yang masih berada di tangan kekasih palsunya.


Tanpa permisi, Marquez menggigit sebagian sandwich bekas gigitan Sandra dan pria itu mengunyahnya dengan raut wajah santai.


"A-apa yang kau lakukan? itu bekas gigitanku," ujar Sandra dengan raut wajah tak percaya.


"Memangnya kenapa? bukankah kemarin kita sudah berciuman? aku tak merasa jijik dengan bekas gigitanmu," jelas Marquez pada Sandra yang kembali melahap sandwich gigitan terakhir di tangan kekasih palsunya.


Hap


Sandwich itu sudah berada dalam mulut Marquez dan desainer tampan itu mengunyahnya dengan santainya.


Marquez menatap manik mata Sandra cukup dalam. "Apa aku selalu ada dalam pikiranmu?" tanya Marquez membuat tubuh Sandra yang masih belum selesai menegang kembali di buat tegang oleh Marquez.


"Apa-apaan pria ini? apa dia punya indra keenam atau dia seorang peramal?"


"Apa yang kau bicarakan," kilah Sandra yang tak ingin Marquez tahu jika dirinya memimpikan pria aneh yang saat ini berada di hadapannya.


"Kau tak perlu berbohong padaku karena wajahku selalu ada dalam matamu! lihat saja saat ini, wajahku ada dalam matamu," tutur Marquez


Sandra yang kesal spontan memukul bahu Marquez. "Aku ini bukan tipe wanita yang di beri bumbu merayu Langsung meleleh," ujar Sandra pada Marquez.


Pria itu hanya tersenyum pada Sandra. "Suatu saat jika kau sudah kelebihan muatan dengan gombalanku, kau akan mendekat dan jatuh cinta padaku, iya kan?" Marquez kembali menggoda Sandra.


"Pria ini suka sekali membuatku memerah seperti ini ya!"


"Sudah berapa wanita yang kau rayu sampai kelebihan muatan?" tanya Sandra pada Marquez dengan siku wanita itu di letakkan pada kaca mobilnya yang sudah terbuka.


Sandra sengaja ingin menggoda Marquez balik.


"Kau kira aku tak bisa menggoda balik? aku meskipun tak pernah berpacaran, drama romantis juga menjadi makananku setiap ada waktu jika sudah libur bekerja."


"Tumben sekali wanita ini mau mendekat sendiri tanpa aku suruh."


Semua perkiraan Sandra berbanding terbalik dengan kenyataan yang ada. Marquez bukannya menghindar, pria itu malah mendekatkan wajahnya pada wajah Sandra sampai ujung hidung mereka saling bersentuhan.


Tatapan keduanya saling menyatu. Sandra yang sadar akan sesuatu hal yang salah telah terjadi, asisten cantik itu segera membalikkan badannya membelakangi Marquez.


"Kenapa menghindar? malu ya?" Marquez lagi-lagi menggoda kekasih palsunya.


Ide jahil kembali melintas dalam benak Marquez. Pria itu tersenyum licik.


"Apa yang ada di belakang bajumu?" tanya Marquez dengan suara di buat seterkejut mungkin.


Sandra Langsung menyentuh punggungnya mencari sesuatu yang di maksud Marquez.


Wanita itu berbalik menghadap ke arah Marquez dan dahi keduanya tak sengaja berbenturan. "Aw!"


Sandra memejamkan matanya sembari merintih kesakitan.


Dengan sigap Marquez mengusap lembut dahi Sandra yang berbenturan dengan dahinya. "Apa masih sakit?" tanya Marquez sedikit cemas.


Sandra hanya mengangguk dan pria itu tersenyum manis pada Sandra.


Kecupan singkat mendarat pada dahi kekasih palsunya. "Pasti akan cepat sembuh," ujar Marquez dan Sandra langsung menatap ke arah bos barunya.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Sandra.


Marquez bukannya menjawab, pria itu melihat ke arah jam tangannya. "Jam tujuh kurang 10 menit dan kita hanya punya waktu 10 menit untuk sampai di butik, Zinnia! jika kau tak ikut denganku, maka kau akan di tegur olehnya," jelas Marquez membuat Sandra terlihat kesal.


"Minggir! aku mau masuk!" Sandra sudah kesal pada Marquez.


Pria itu tersenyum karena ia berhasil membuat Sandra berangkat dengannya.


"Aku senang sekali mengganggunya seperti ini."


Mobil yang dikendarai oleh Marquez melesat memecah jalanan. Pria itu terus tersenyum sepanjang perjalanan menuju butik Zinnia karena wajah Sandra masih setia di tekuk.


Zinnia sudah menunggu di mejanya. Wanita itu masih sibuk dengan pensil dan kertasnya yang masih kosong untuk menuangkan karyanya.


Tok tok tok


Sandra dan Marquez masuk ke dalam ruangan Zinnia.


"Maaf, Nona Zinnia! saya tadi masih ...."


"Membuatkan aku sarapan," sambung Marquez.


Zinnia meletakkan pensilnya pada pelipisnya. "Kalian sungguh di mabuk asmara ya? apa sehari saja tak bisa untuk tak begitu mesra," tutur Zinnia pada keduanya.


"Tidak bisa, Zi! karena aku ingin selalu bersamanya," sahut Marquez sekenanya.


Zinnia membulatkan matanya kesal. "Apa perlu aku nikahkan kalian saat ini juga?" tanya Zinnia kesal.


"Boleh," sahut Marquez lagi.


Sandra menatap ke arah Marquez dengan tatapan tajam.


"Dasar pria sinting! kau kira pernikahan itu main-main."


"Maaf, Nona! Tuan Copaldi nampaknya butuh asupan mineral yang cukup karena tadi dia tak meminum air putih setelah sarapan," tutur Sandra.


Zinnia beranjak dari kursi kebesarannya. Wanita dengan tubuh ramping itu bergerak ke arah sofa.


"Kita bahas rancangan kolaborasi itu di sini saja," pinta Zinnia pada Marquez dan Sandra.


Marquez berjalan ke arah sofa namun, Sandra tak mengikuti langkah kekasih palsunya.


Marquez sudah duduk di sofa tepat berhadapan dengan Zinnia. Pria itu menoleh ke arah Sandra. "Kenapa kau masih di situ? kemarilah! duduk di dekatku," pinta Marquez pada Sandra.


"Tapi ...."


"Duduk saja, San! biar dia tak cerewet," ujar Zinnia pada asistennya.


Sandra akhirnya duduk di dekat Marquez. "Nah, begini kan lebih enak!" Marquez tersenyum manis pada Sandra.


Zinnia hanya bisa melihat keduanya dengan tatapan kesal bukan main.


"Ingat ya kalian berdua! aku ini bukan obat nyamuk bakar jadi jangan membuatku membatu melihat kalian berdua," tutur Zinnia memberikan beberapa kertas dan pensil pada Marquez.


Zinnia dan Marquez mulai membahas rancangan kolaborasi mereka. Zinnia dan Marquez mendesain busana yang terlihat mewah nan elegan.


Tubuh Zinnia dan Marquez agak sedikit condong ke depan membuat wajah keduanya terlihat sangat dekat.


Marquez tanpa sadar menatap Zinnia dari jarak dekat.


"Kau memang cantik, Zi! tapi aku harus membuang rasa ini karena kau telah mencintai dan dicintai oleh orang yang sangat tepat."


Sandra melihat semua kejadian itu. Asisten Zinnia itu hanya bisa tersenyum simpul.


"Katanya sudah tak cinta, tapi tatapan matanya saja penuh cinta begitu! dasar pria! memang pandai bersilat lidah."


JANGAN LUPA VOTE, LIKE, DAN KOMENTARNYA YA KAKAK READERS BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UPDATE-NYA.