
Zinnia malam ini harus di rawat inap meskipun hanya satu malam untuk menstabilkan kondisi tubuhnya.
Sandra dan Marquez pulang lebih dulu, sementara para tetua hanya Melati dan Salma yang akan saling bergantian berjaga di sofa ruangan VVIP tersebut.
Para calon kakek pulang ke rumah masing-masing karena besok pagi mereka harus bekerja.
Untuk William tak perlu ditanyakan lagi, pria itu tetap setiap berada di samping istrinya sembari mengusap lembut perut rata sang istri.
Desainer cantik itu masih belum memejamkan matanya. "Tidurlah, Sayang! ini sudah malam, tak baik untuk kesehatanmu dan anak kita," bujuk William pada istrinya.
"Tapi aku masih belum mengantuk," tolak Zinnia halus dengan suara manjanya.
William menghela napasnya. Ia harus ekstra sabar untuk beberapa bulan ke depan.
"Pantas saja akhir-akhir ini Zinnia manja sekali padaku! ternyata bawaan si kembar rupanya."
William memutar otaknya agar Zinnia mau tidur lebih awal. "Bagaimana kalau aku mengusap perut ratamu agar anak kita juga bisa cepat tidur," bujuk William lagi.
Zinnia masih berpikir. Ia tak ingin membuat dua calon anaknya kenapa-napa di dalam sana. "Baiklah, tapi harus sampai aku tidur," pinta Zinnia dan seutas senyum menghiasai bibir William sembari menganggukkan kepalanya dengan gerakan penuh semangat.
William mulai mengusap perut rata Zinnia yang masih terlapis baju namun, sentuhan telapak tangan William terasa sekali di permukaan kulit perutnya.
Terhipnotis dengan sentuhan lembut tangan William, membuat ibu hamil itu perlahan mulai memejamkan matanya karena sensasi dari gerakan tangan William membuat Zinnia nyaman.
William melihat ke arah Zinnia yang sudah memejamkan matanya. "Akhirnya ibu hamil ini sudah tidur," gumamnya dengan suara pelan.
William tersenyum menatap ke arah perut Zinnia. Pria itu mendekatkan wajahnya ke arah perut istrinya dimana si kembar tengah berkembang di dalam sana. "Selamat tidur anak-anak, Daddy dan Mommy! harus anteng di dalam perut Mommy ya? jangan nakal, kasihan Mommy ya, Baby!" William mengecup perut Zinnia dua kali kecupan yang masih terlapis oleh bajunya.
Cup cup
Melati dan Salma yang masih asyik ngerumpi renyah di buat senyam-senyum dengan kelakuan William.
"Dia pasti sangat bahagia, Mel! karena selama ini hidupnya terasa sendiri dan kesepian, meskipun ada aku dan Edward tapi kami sibuk bekerja, hanya almarhum mama mertua yang menemaniku setiap hari, tapi William masih beruntung ada mama mertua kala itu," curhat Salma pada besannya.
Melati melihat ke arah William yang memposisikan kepala tidur di samping Zinnia. "Semoga dengan adanya si kembar bisa membuat kebahagiaan keluarga mereka semakin lengkap ya, Kak! aku juga kasihan dengan William yang harus ditinggalkan oleh kedua orang tuanya karena kecelakaan," prihatin Melati dengan keadaan masalalu William.
"Biarlah masalalu menjadi kenangan bagi William dan masa depannya akan terang karena ada si kembar." Salma dan Melati bercerita dengan suara yang sangat rendah.
"Kau benar, Kak! semoga si kembar bisa memberikan cahaya bagi keluarga mereka berdua," sambung Melati tersenyum pada Salma dan Dokter kandungan itu juga membalas senyuman manis besannya.
Detik, menit, dan jam terus berjalan sampai cahaya matahari mulai sedikit memperlihatkan sinarnya yang masih samar-samar.
William yang tidur dengan posisi duduk di samping istrinya kini mulai membuka matanya secara perlahan. Pria bertubuh jangkung itu menegakkan badannya. William bangun kesiangan nampaknya, meskipun cahaya matahari masih samar-samar terlihat.
William melihat ke arah istrinya yang masih terlelap tidur. Pandangan mata William beralih pada perut rata Zinnia.
Pria itu sedikit membungkukkan tubuhnya dengan wajah sudah berada dekat dengan perut rata istrinya. "Selamat pagi anak-anak, Daddy dan Mommy!"
Cup cup
Dua kecupan selamat pagi untuk calon anak William dan Zinnia sudah mendarat sempurna di perut rata desainer cantik yang masih terlelap tidur.
Saat tubuh William kembali menegak, ternyata sepasang mata indah tengah memperhatikannya sedari tadi.
"Kau sudah bangun, Sayang?" tanya William pada istrinya dan Zinnia hanya mengangguk tanpa berkata apapun.
William tersenyum kemudian membungkukkan kembali tubuhnya mencium kening istrinya.
Cup
Zinnia tersenyum kecil kala suaminya memangilnya dengan sebutan Mommy.
Ceklek
Suara pintu ruangan itu terdengar, William dan Zinnia menoleh ke arah pintu, ternyata Melati yang datang membawa makanan untuk sarapan.
"Kalian sudah bangun?" tanya Melati pada keduanya.
"Mommy darimana?" tanya Zinnia pada ibunya.
"Mommy membelikan kalian sarapan! Zinnia boleh makan makanan dari luar kan, Will?" tanya Melati pada menantunya untuk memastikan.
"Tak apa, Mom! Istriku tidak sakit, tapi karena kelelahan saja," jelas William pada mertuanya.
"Mommy membelikan aku makanan apa?" tanya Zinnia pada ibunya.
Melati tersenyum dan dengan sengaja mendekati putrinya sembari membuka mengeluarkan bungkusan makanan yang ia beli dari dalam kantung plastik.
Meskipun bungkus makanan itu belum di buka namun, wangi khas makanan berbumbu kacang ini sangat menggugah indera penciuman Zinnia.
Ibu hamil itu berusaha bangun dan William membantu Zinnia menegakkan tubuhnya.
"Mommy tahu saja jika aku ingin makan nasi pecel," ujar Zinnia segera mengambil bungkusan dari tangan ibunya.
William mengambil alih bungkusan nasi pecel yang ada di tangan istrinya. "Biar aku yang menyuapimu, Sayang!"
Melati tersenyum bahagia. Ia teringat akan suaminya. Arnon juga tipe suami yang sangat menyayangi istri dan anak-anaknya.
"Mana sendoknya, Mom?" tanya William dan Melati segera mengambil sendok yang sudah tersedia sepaket dengan nasi pecel itu dan memberikannya pada William.
Saat bungkus nasi pecel itu sudah di buka, di dalamnya terdapat sayur, tempe, telur, lodeh, dan bumbu kacang yang melimpah. Aromanya menyeruak masuk ke dalam indera penciuman William.
Dengan telaten, William menyendok nasi dan lauknya. "Aaaaak! buka mulutmu, Sayang!"
Zinnia menuruti permintaan suaminya. Ibu hamil itu mengunyah makanan yang ada dalam mulutnya.
"Enak sekali! bumbu kacangnya aku suka," tutur Zinnia kembali membuka mulutnya meminta William menyuapinya kembali dan Dokter tampan itu dengan sangat sabar menyupi istrinya sembari membersihkan sudut bibir Zinnia yang menyisakan sedikit bumbu kacangnya.
Melati senang sekali melihat kemesraan mereka berdua. "Biar Mommy saja yang menyuapi istrimu! kau makan dulu sarapan ini," pinta Melati pada menantunya.
"Biar aku saja, Mom! lagipula bumbu kacangnya di pisah kan?" William terus menyuapi istrinya.
"Kamu mau dengan makanan sederhana ini, Will?" tanya Melati yang penasaran.
"Mommy tidak tahu sih, dia setiap hari membawa bekal saat bekerja dan isinya semua itu lebih banyak sayur daripada ikannya, jadi dia pasti suka makanan sederhana seperti ini," jelas Zinnia pada ibunya sembari mengunyah makanannya.
"Aku suka makanan apapun, Mom! aku bukan tipe pemilih! asalkan jangan batu yang dimasak oleh istriku pasti akan aku makan," ledek William tersenyum kecil.
Melati tertawa renyah mendengar celotehan menantunya. "Kau bisa saja, Will!"
"Mommy sudah makan?" tanya Zinnia pada ibunya.
"Sudah, Nak!"
Zinnia kembali melanjutkan makannya sampai makanan itu habis tak tersisa.
JANGAN LUPA VOTE, LIKE, DAN KOMENTARNYA YA KAKAK READERS BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UPDATE-NYA.