Pacaran Setelah Menikah

Pacaran Setelah Menikah
Bab 225 ( Season 2 )


William dan Zinnia sudah berada di rumahnya. Mereka berdua baru turun dari sepeda tandem yang di gunakan untuk berkencan.


Matahari semakin turun menampakkan warna jingganya.


William dan Zinnia bergantian membersihkan diri.


Zinnia sudah selesai dengan ritual mandinya dan wanita itu sudah berpakaian rapi.


Tok tok tok


Suara ketukan pintu terdengar. Zinnia berjalan ke arah pintu.


Ceklek


Ternyata Asih yang mengetuk pintu kamarnya. "Ada apa, Asih?" tanya Zinnia.


"Ada undangan dari, Nona Marinka!" Asih memeberikan undangan tersebut pada Zinnia.


"Terimakasih ya!" Zinnia menerima undangan itu dan masuk kembali ke dalam kamarnya.


Karena William masih berada di kamar mandi, Zinnia memutuskan untuk membaca isi undangan dari Marinka terlebih dulu tanpa menunggu suaminya.


Zinnia mulai membaca undangan tersebut.


"Undangan ulang tahun? jika Marinka ulang tahun berarti ...."


"Kenapa, Sayang?" tanya William keluar dari kamar mandi dengan wajah yang sudah segar dan sudah berpakaian rapi.


"Ada undangan untukmu," sahut Zinnia melambaikan undangan dari Marinka yang berada di tangannya.


William mendekati istrinya. Bukannya mengambil undangan itu, William lebih memilih memeluk istrinya erat dari arah samping.


"Ada undangan untukmu, kenapa kau malah memelukku seperti ini," ujar Zinnia dengan nada sedikit dingin.


"Aku lapar!"


"Jika kau lapar ya makan!" Zinnia melempar undangan itu ke arah tengah ranjangnya.


"Aku tidak mau!"


"Kau bilang lapar kan? sana ke dapur," titah Zinnia dengan nada sedikit cuek.


William melihat ke arah istrinya dan Zinnia juga melihat ke arah William. "Kenapa kau berbeda?" tanya William yang mulai sadar akan keanehan pada istrinya.


Zinnia bergeser menjauhi Wilayah. Desainer cantik itu nampak mengacuhkan suaminya.


"Kenapa dia berubah cuek begini? perasaan aku tak pernah melakukan hal yang membuatnya marah!"


William bergeser mendekati istrinya. "Sayang! kau kenapa sih?" tanya William menggenggam tangan Zinnia erat.


"Aku tidak apa-apa," sahut Zinnia menatap lurus ke depan dengan wajah datar dan nada bicara yang sama datarnya dengan wajahnya saat ini.


William menghela napasnya. Pria itu tak sengaja mengedarkan pandangannya pada kasurnya yang sudah tergeletak sebuah undangan.


Karena penasaran dari siapa undangan itu, akhirnya William meraihnya dan melihat untuk siapa undangan itu di tujukan.


Saat membacanya ternyata namanya dan nama Zinnia yang tertera pada undangan itu.


William mulai membaca isi dari undangan dengan desain simpel namun, elegan.


Ternyata itu undangan dari Marinka. Saat ia membaca secara seksama, bukan hanya Marinka yang merayakannya, tapi kembarannya juga akan hadir yaitu Marion. Mantan calon istrinya.


William melihat ke arah Zinnia. Ia tersenyum dan sudah dapat menyimpulkan apa penyebab istrinya merajuk.


"Apa gara-gara undangan ini kau marah padaku?" tanya William pada Zinnia dan desainer ternama itu tak menanggapi pertanyaan suaminya.


William menggeser duduknya agar lebih dekat dengan Zinnia. "Katakan padaku! apa karena Marion akan hadir di acara ini juga?" tanya William dengan nada selembut mungkin karena ia tak ingin Zinnia bertambah kesal padanya.


Wanita itu menoleh ke arah suaminya. "Cinta pertama sulit untuk dilupakan dan kalian berdua berpisah bukan karena ada masalah tapi ...."


"Aku tahu cinta pertama sulit di lupakan tapi cinta terakhir juga sudah aku patenkan padamu," sambung William meyakinkan istrinya.


Zinnia menatap mata William mencari kebenaran yang sesungguhnya. "Aku takut," tutur Zinnia memejamkan matanya dengan tangan yang sudah mengepal erat menahan sesuatu.


William menyentuh wajah Zinnia. "Aku mencintaimu, Sayang! dia hanya masa laluku dan kau masa depanku!"


Zinnia membuka matanya menelusuri tiap inci wajah suaminya. "Maaf! seharusnya aku tak bersikap kekanak-kanakan seperti tadi," sesal Zinnia.


"Aku mengerti kenapa kau bersikap seperti tadi, karena kau sangat mencintaiku, Sayang!"


Zinnia berhamburan ke dalam pelukan suaminya. "Aku takut dia mengambilmu kembali, aku takut kau tertarik lagi padanya," tutur Zinnia memeluk erat tubuh William.


Zinnia tersenyum mendengar pernyataan suaminya. "Aku yakin padamu jika kau hanya mencintaiku saat ini dan selamanya."


William tersenyum nakal. "Aku lapar!"


Zinnia menarik tubuhnya dari dalam pelukan William. "Kita turun ke bawah sekarang!" Zinnia sudah berdiri menarik tangan suaminya namun, William tak bergerak. Pria itu malah menahan tangan Zinnia agar tetap di kamar.


Zinnia melihat William dengan tatapan heran tak mengerti. "Kenapa diam? ayo kita turun! kau lapar kan?" tanya Zinnia kembali menarik tangan suaminya dan sekali lagi tangan kekar itu tak ingin beranjak dari tempatnya.


Wajah Zinnia sudah terlihat kesal. "Kau ini kenapa sih? ayo kita turun jika kau lapar," pinta Zinnia lagi.


"Aku memang lapar, tapi bukan lapar ingin memakan nasi," ujar William pada Zinnia.


"Kau ingin makan apa? katakan padaku!"


William sekuat tenaga menarik tanga Zinnia sampai tubuh wanita itu sudah terduduk di atas pangkuannya.


Kini tatapan keduanya sudah saling menyatu dengan tangan William melingkar pada pinggang Zinnia.


"Aku memang lapar, Sayang! tapi aku tak ingin memakan makanan apapun, aku hanya ingin memakanmu," bisik William pada telinga istrinya.


Zinnia memejamkan matanya karena William bukan hanya berbisik pada bagian telinganya, pria itu masih menggigit kecil bagian tubuh istrinya.


"Sayang!" Zinnia memanggil suaminya di tengah-tengah proses pemanasan menuju penyatuan keduanya.


"Hm!"


"Jangan!" Zinnia berusaha menahan rasa geli yang diciptakan oleh William.


William tak mengindahkan permintaan Zinnia. Justru tangan kekarnya itu sudah menarik resleting belakang dress selutut istrinya.


"Kita akan lembur sampai aku puas! itu sebagai hukuman karena kau sudah berani mengacuhkan aku," tutur William di tengah-tengah pemanasannya.


Karena tubuh Zinnia sudah terlanjur panas, desainer cantik itu beranjak dari pangkuan suaminya.


"Berbaringlah," pinta Zinnia pada William.


"Untuk apa?" tanya William tak mengerti.


"Aku yang akan memimpin permainan malam ini," sahut Zinnia menggulung rambutnya.


William tersenyum mendengar penuturan dari mulut Zinnia dan pria itu langsung berbaring menuruti perintah istrinya dengan senang hati.


"Aku akan membuatmu hanya mengingat namaku, William!"


Zinnia merangkak naik ke atas ranjang dan kini gadis itu sudah berada di atas tubuh suaminya.


"Apa kau yakin?" tanya William ingin memastikan kembali ucapan Zinnia karena ia takut saat dirinya sedang on fire, Zinnia mengeluh ini dan itu, pada akhirnya dirinya yang harus memimpin permainan.


"Kau jangan meremehkan aku, Sayang! aku sanggup memimpin sampai permainan malam ini berakhir," tantang Zinnia tanpa basa-basi langsung menyambar bibir suaminya.


Zinnia sungguh sudah berada pada titik terpanasnya, sampai gerakan brutal dari Zinnia tak dapat William imbangi.


Wanita itu menarik selimut tebalnya. Baju William melayang entah kemana dan beberapa detik kemudian semua pakaiannya ikut melayang.


William berusaha tak mencapai puncaknya karena permainan Zinnia malam ini sungguh membuatnya mabuk. Pria itu terus menyebut nama istrinya berkali-kali karena kenikmatan yang Zinnia berikan padanya.


"Aku ... Mencintaimu, Sayang!" William mengucapkan hal itu di tengah-tengah pergulatan panasnya.


Zinnia hanya tersenyum sambil terus mempercepat gerakannya dan wajah William semakin menegang karena Zinnia terus mempercepat gerakannya.


Saat Zinnia sudah mencapai puncaknya, William juga mencapai puncaknya secara bersamaan dengan istrinya.


Napas ngos-ngosan tak dapat di sembunyikan dari keduanya. "Apa kau berniat membuatku tergila-gila padamu?" tanya William mengecup kening Zinnia yang sudah terkapar di atas dada William.


"Aku ingin hanya aku yang ada dalam pikiranmu," sahut Zinnia mendongakkan kepalanya menatap wajah William.


Pria itu tersenyum pada istrinya. "Apa kau masih kuat?" tanya William mengusap lembut rambut Zinnia.


"Kau menginginkannya lagi?" tanya Zinnia balik.


"Aku masih belum puas, Sayang!"


Zinnia tersenyum lebar dan wanita itu menarik selimut putihnya menutupi seluruh tubuhnya.


Mereka berdua kembali bergulat di atas ranjang tanpa rasa lelah.


JANGAN LUPA VOTE, LIKE, DAN KOMENTARNYA YA KAKAK READERS 🥰🥰🥰