
Arnon dan Melati sudah berada di kamar mereka berdua. Keduanya masih melihat ke arah jendela dengan pemandangan taman bunga dan kolam ikan milik Susan.
Arnon memeluk istrinya dari belakang dan Melati juga tak sungkan mengecup pipi suaminya, karena wajah Arnon berada tepat di pundak Melati.
"Aku merindukanmu, Sayang!"
Arnon mulai memberikan kode pertempuran sengit pada Melati.
"Kita kan setiap hari bertemu? kenapa masih rindu?" tanya Melati melihat ke arah bulan yang bersinar terang.
Arnon membalik tubuh istrinya. Pria itu mendekatkan wajahnya pada wajah Melati dan gadis itu juga memejamkan matanya hendak menerima ciuman Arnon, namun seketika pria itu mengehentikan aksinya.
"Aku boleh bertanya sesuatu?" tanya Arnon berbisik tepat di telinga istrinya.
Melati melingkarkan tangannya pada leher jenjang Arnon. "Tanyakan saja."
"Aku merasa kita setiap malam tak pernah absen untuk berolahraga? apa kau tak ada tamu bulanan? karena aku tak pernah libur membuatmu meronda hampir pagi, Sayang!"
Seketika jantung Melati berdetak kencang. Ia juga lupa, waktu itu hanya bercak darah saja yang ia kira menstruasi.
"Sayang! apa kau mendengarku?" tanya Arnon lagi.
"Iya aku dengar, Sayang! sebentar ya!"
Melati berjalan ke arah tempat menyimpan pembalut. Saat ia membuka laci itu, alangkah terkejutnya ia melihat dua pack persediaan pembalutnya masih utuh.
Melati memang setiap 6 bulan sekali menyediakan pembalut tiap bulannya, jadi dia berbelanja 6 pack pembalut sekaligus.
Karena Melati tak kunjung kembali. Arnon menyusul istrinya ke dalam ruangan walk in kloset.
"Kenapa lama sekali? apa yang kau lakukan, Istriku?"
Arnon lagi-lagi memeluk tubuh Melati dari belakang sembari mengendus rambut dan aroma wangi tubuh istrinya.
"Dua pack pembalut ini masih utuh dan itu artinya aku sudah dua bulan tak datang bulan, tapi waktu itu hanya bercak darah saja, Sayang!"
Arnon membalik tubuh istrinya. "Apa mungkin kau hamil?" tanya Arnon pada Melati.
"Aku juga tak tahu, aku juga tak punya alat test kehamilan."
Arnon bergegas keluar dari ruang walk in kloset untuk mengambil ponselnya.
Pria itu menghubungi Edward yang selaku seorang dokter.
Melati memeluk tubuh suaminya dari belakang dan Arnon mengusap lembut tangan Melati yang melingkar di dadanya.
"Ada apa kau menggangguku malam-malam begini, Ar?"
"Aku ingin bertanya padamu," ujar Arnon.
"Bertanyalah!"
"Istriku sudah datang bulan dua bulan yang lalu, tapi hanya bercak darah saja dan untuk bulan ini dia belum datang bulan! apa mungkin istriku hamil?"
"Apa dia sudah mengecek dengan alat test kehamilan?"
"Belum, karena kami juga baru sadar sekarang."
"Huh, dasar kau, Ar! lain kali jangan asyik menggempurnya terus menerus, perhatian juga siklus menstruasinya."
"Dasar cerewet! jadi bagaimana ini? hamil atau tidak? jika tidak ...."
"Stop, Arnon! aku tahu apa yang ada dalam otakmu! menurutku dia hamil, tapi besok kau bawa saja istrimu ke rumah sakit untuk diperiksa test urin dan USG, agar hasilnya lebih akurat."
"Jadi aku hari ini ...."
"Iya! kau hari ini libur tak ada jatah dan kau juga harus tahu, Arnon! jika benar Istrimu hamil, maka selama usia kandungannya masih trimester pertama, itu artinya dalam usia kandungannya satu, dua, tiga bulan kedepan! kau tak boleh menyentuhnya, karena trimester pertama itu rawan keguguran jadi kau tahan saja tuyulmu itu."
"Tak ada setiap hari jika Melati positif hamil! kau harus tahan demi anakmu, Arnon! apa kau mau dia kenapa-kenapa di dalam sana?"
"Ah, baiklah! aku yang akan mengalah demi, anakku!"
Arnon mematikan sambungan teleponnya dengan Edward.
Arnon langsung berbalik dan berjongkok mensejajarkan wajahnya dengan perut rata istrinya.
"Son! maafkan, Daddy! jika kau memang sudah tumbuh di rahim, Mommy! Daddy tak dapat mengunjungimu sampai kau sudah kuat di dalam sana, karena Daddy sayang padamu, Son!"
Arnon mengelus perut rata Melati dan mengecupnya cukup lama.
"Dengarkan, Daddy! jika kau memang sudang ada di rahim, Mommy! kau tak boleh membuatnya sakit atau mual-mual ya, Son! karena Daddy tak bisa setiap hari mendampingi, Mommy! Daddy harus bekerja untuk keluarga kita."
Melati merundukkan wajahnya menatap Arnon yang terlihat sangat bahagia mendengar jika kemungkinan besar dirinya hamil.
"Tolong kabulkan keinginan suami hamba, dia ingin sekali memiliki anak hasil cinta kami, Tuhan!"
Melati mengusap lembut rambut Arnon yang tak henti-hentinya mengecup perut rata dirinya.
Pria itu berdiri. Ia menarik Melati ke dalam pelukannya. " Aku mencintaimu, Sayang! semoga hasil pemeriksaan besok benar-benar bisa membuat kita berdua menjadi orangtua sesungguhnya," tutur Arnon.
"Aku juga berdoa yang terbaik untuk besok, Sayang! karena aku ingin melihat dirimu."
"Melihat diriku?" tanya Arnon yang tak mengerti maksud Melati.
"Iya! aku ingin melihatmu, bisa atau tidak menjadi hot Daddy bagi anak kita," jelas Melati menengadahkan wajahnya.
"Apa kau ragu pada kemampuanku?"
"Sedikit," ledek Melati pada suaminya.
Arnon menggendong tubuh Melati. Ia meletakkannya di atas kasur empuk secara perlahan.
"Kita langsung tidur saja, karena aku tak ingin membuat anakku begadang untuk malam ini dan malam-malam berikutnya sampai dia benar-benar sudah kuat di dalam sana."
Arnon lagi-lagi mencium perut rata istrinya. "Selamat tidur anak, Daddy!"
Arnon memeluk tubuh Melati dengan selimut yang sudah menutupi tubuh keduanya.
Arnon berada pada ceruk leher Melati. Ia tak henti-hentinya tersenyum karena apa yang ia tunggu dan impikan selama beberapa bulan terakhir membuahkan hasil.
Tak sia-sia ia menggempur Melati jika istrinya benar-benar hamil.
"Jika Melati positif hamil, berarti aku cukup tokcer," batin Arnon.
Mereka berdua memejamkan mata lebih awal dari biasanya. Melati memang sudah merasa lelah, sedangkan Arnon ingin malam cepat berganti pagi.
Pria itu ingin segera tahu hasil pemeriksaan yang akurat karena dengan hasil dari dokter membuat Arnon lebih percaya lagi jika istrinya sudah hamil.
Arnon besok juga akan ikut. Ia ingin tahu bagaimana bentuk anaknya saat usia trimester pertama.
Arnon berniat untuk izin sehari. Ia ingin meluangkan waktu satu hari itu untuk Melati dan calon bayinya.
Di rumah Pram, pria itu masih asyik memandangi gelang karet pemberian Agnez.
"Apa aku rindu padamu? sampai tadi aku melihat orang yang hampir mirip denganmu di jalan, tapi rambut wanita itu pendek! huh, sungguh kau telah menghukumku dengan benar! aku lelaki yang tak peka dan tak mau terbuka pada perasaanku sendiri. Jika kau kembali dari Belanda, aku pastikan! kau akan aku kejar sampai aku tak bisa berlari lagi."
Pram terus menatap gelang karet pemberian Agnez dan hanya itu kenangan yang tersisa.
"Aku harap, masih ada jalan agar membuatmu kembali padaku."
Pram mencoba memejamkan matanya. Ia ingin tidur lebih cepat karena besok Arnon harus berangkat pagi dengannya ke lokasi syuting.