
Jet pribadi milik keluarga Gafin sudah berada di tanah Amerika, dimana pernikahan Marquez dan Niken akan segera dilaksanakan.
Zinnia, William, dan Sandra sudah menapaki kaki mereka bertiga di negara yang akan menjadi saksi pernikahan desainer kenamaan dunia.
Dengan kacamata yang bertengger di kedua mata ketiganya, mereka berjalan memasuki mobil yang sudah menunggu ketiganya sedari tadi.
Zinnia satu mobil dengan William, sementara Sandra di mobil yang lainnya.
Kini roda mobil itu sudah menggelinding melewati jalan berlapiskan aspal.
Sandra berada di kursi penumpang seorang diri. Wajah Asisten cantik itu terlihat sangat cemas antara takut menerima kenyataan dan masih belum siap bertemu dengan Marquez, orang yang sangat ia cintai.
Sandra memejamkan matanya, mencoba meyakinkan dirinya jika ia harus ikhlas menerima kenyataan ini. Ia harus bahagia untuk Marquez dan Niken.
Sandra mengepalkan tangannya mencoba menghilangkan rasa cemas dalam dirinya.
Kini kedua mobil mewah itu sudah berada di depan hotel ternama di Amerika.
Zinnia dan William keluar dari dalam mobilnya, sementara Sandra mengikuti Zinnia dan William dari belakang sembari melangkah menuju hotel tersebut.
Di sebuah ruangan seorang wanita dengan tubuh kurus dan wajah pucatnya kini tengah di rias oleh seorang MUA ternama negeri itu.
Wanita itu adalah Niken. Ia memejamkan matanya sembari menikmati sentuhan halus beauty blend pada kulit wajahnya yang semakin menirus setiap harinya.
Setelah selesai dengan sentuhan foundation di wajahnya, kini wanita itu membuka kelopak matanya perlahan.
Niken melihat ke arah dimana arah matanya langsung tertuju pada seorang pria dengan pakaian texudo-nya.
Pria itu terlihat sangat tampan dengan texudo berwarna putih bersih bagai pangeran berkuda putih dari dalam negeri dongeng.
Kebetulan MUA yang bertugas merias Niken tengah menundukkan tubuhnya mengambil sesuatu.
Senyum Niken mengembang bersama rasa sakit yang berdenyut di dalam rongga dadanya.
"Kau sangat tampan sekali hari ini, Marq! tapi ... semua ini bukan untuk diriku."
Marquez yang sibuk menata rambutnya, tiba-tiba saja mata itu menatap ke arah Niken yang tengah asyik menatap dirinya.
Marquez masih belum bisa menerima pernikahan ini, tanpa sadar ia memalingkan wajahnya dari tatapan mata Niken.
Niken yang tengah tersenyum manis pada Marquez, seketika senyum itu perlahan meredup berganti dengan senyuman pilu.
"Sebentar lagi kau tak akan memasang raut wajah seperti itu, Marq! kau akan terus tersenyum untuk selamanya."
Niken kembali memejamkan mata karena proses makeup masih belum selesai.
Setelah semua riasan sudah menempel pada wajah Niken, wanita itu membuka matanya dan Marquez duduk berdekatan dengannya, tapi pria itu membelakanginya. Hanya punggung pria itu saja yang dapat ia lihat.
Niken hendak menyentuh pundak kokoh Marquez namun, gerakan tangan Niken terhenti karena Marquez pasti tak akan suka jika ia menyentuhnya.
Wanita itu lebih memilih berdiri mengenakan gaunnya untuk acara pemberkatan yang akan dilaksanakan dua jam lagi.
Niken masuk ke ruang ganti untuk mengganti pakaiannya dengan gaun pengantin.
Setelah beberapa menit kemudian, akhirnya Niken keluar dari ruang ganti menggerakkan kursi rodanya tepat di hadapan Marquez.
Wanita itu sudah tersenyum di hadapan pria yang ia cintai. "Bagaimana penampilanku?" tanya Niken pada Marquez dan pria itu menatap ke arah Niken. "Cantik!" nada suara Marquez datar dan lagi-lagi nada suara itu menusuk dada Niken secara tak kasat mata.
Niken hanya tersenyum menanggapi sahutan dari mulut Marquez. "Terimakasih! akhirnya kau mengatakan, jika aku cantik," ujar Niken dengan nada seriang mungkinkah untuk menutupi denyut nyeri dalam dadanya.
Niken berusaha bangkit dari kursi rodanya. Ia tak ingin selalu berada di atas kursi itu.
Dengan bersusah payah mengumpulkan tenaga, akhirnya Niken sudah berdiri dengan gaun yang sangat cantik dan elegan.
"Bukan sudah sembuh, tapi berusaha untuk sembuh karena hari ini adalah hari penting untukmu," sahut Niken ambigu.
Marquez tersenyum kecut menanggapi perkataan Niken. "Bukan untukku, tapi hari bahagia untukmu," celetuk Marquez sekenanya.
Niken menundukkan kepalanya berusaha terus bersandiwara di hadapan Marquez.
"Sabar, Niken! sebentar lagi dia pasti akan bahagia bersama wanitanya! dan tugasmu sudah selesai."
MUA yang bertugas merias Niken datang membawa seorang hair stylist ternama untuk menata rambut pengantin wanita itu.
Marquez tak memperhatikan Niken, pria itu sibuk menatap ponselnya yang terdapat foto Sandra di dalamnya.
Niken yang memperhatikan gerak-gerik Marquez melirik ke arah ponsel pria itu dan ia melihat potret seorang wanita dan Marquez tersenyum bahagia bersama.
Beruntung Niken duduk di kursi yang sudah disediakan oleh hair stylist itu sehingga ia bisa menahan tubuhnya tak ambruk seketika.
"Niken! rasa sakit ini bukan apa-apa dibandingkan rasa sakit yang Marquez rasakan karena ia harus berpisah dengan wanita yang ia cintai."
Niken melihat ke arah atas agar air matanya tak jatuh saat itu juga.
Setelah menata rambut pengantin wanita, MUA tadi memasangkan tudung transparan menjuntai ke bawah pada rambut Niken yang sudah di cepol indah.
Kini dua mempelai sudah siap untuk memulai acara pemberkatan pernikahan yang akan di laksanakan di sebuah gereja termegah di negeri tersebut.
Marquez dan Niken berdiri untuk berjalan menuju mobil yang akan mengantarkan mereka berdua ke gereja tempat dimana keduanya akan di sahkan menjadi suami istri.
"Tuan Copaldi! tolong bantu calon istri Anda untuk berjalan karena gaun yang digunakan cukup menjuntai," pinta MUA tersebut pada Marquez.
Dengan berat hati Marquez mengulurkan tangannya agar Niken menggenggam tangan kekar miliknya.
Sebelum Niken menerima uluran tangan itu, ia melihat raut wajah Marquez yang sangat jelas terpaksa membantunya berjalan.
Niken tersenyum sembari menggelengkan kepalanya. "Tidak perlu! aku bisa berjalan sendiri," tolak Niken sembari berjalan seanggun mungkin meski tenaganya sudah tak se stabil orang normal lainnya.
Niken berjalan menuju pintu keluar tempat itu dimana mereka hanya butuh waktu tempuh 10 menit saja menuju arah gereja.
Marquez merasa bersalah pada Niken. Ia tahu mungkin Niken sadar akan raut wajahnya yang penuh dengan keterpaksaan itu.
Mereka berdua sudah berada di dalam mobil yang berjalan menuju arah gereja.
Tak ada percakapan apapun di dalam mobil itu, yang ada hanya sejuknya AC dan suara halus mobil mewah yang mereka naiki.
Mobil itu berhenti berjalan saat sebuah bangunan megah tempat acara pemberkatan pernikahan mereka berdua sudah terpampang nyata di hadapan Niken dan Marquez.
Wajah Marquez nampak datar karena memang ia tak menginginkan pernikahan itu namun, berbeda dengan Niken yang sangat antusias dengan tempat yang berada di depan matanya.
Senyum manis dan tulus terukir bagai sumber mata air yang terlihat begitu murni.
"Tempat ini yang akan menjadi tempat janji sucimu dan wanita pilihanmu akan terikat, Marquez!"
Niken turun dari mobil itu begitu pula dengan Marquez.
Mereka berdua di sambut oleh dua keluarga yang hadir dan sudah menunggu keduanya sedari tadi.
Niken melihat ke arah kerumunan orang. Tak ada orang yang ia tunggu.
"Semoga saja dia datang tepat waktu!"
JANGAN LUPA VOTE, LIKE, DAN KOMENTARNYA YA KAKAK READERS BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UPDATE-NYA.