
Hari ini jadwal Melati periksa kandungan. Kebetulan hari ini juga Arnon libur syuting untuk persiapan dua hari syuting terakhir film yang di bintanginya. Film itu akan tayang kurang lebih 2 bulan lagi setelah melalui proses pengeditan.
Melati masih berada di atas ranjang. Ia masih meringkuk bagai bayi yang sangat susah di bangunkan.
Semenjak kandungannya semakin besar, Melati semakin sering merasa lelah dan malas untuk bangun pagi. Berbeda saat usia kandungannya masih menginjak trimester pertama, Melati lebih giat melakukan apapun dan sangat bersemangat sekali untuk memulai aktivitas paginya.
"Sayang! ayo bangun dulu," pinta Arnon dengan suara lembutnya.
Melati hanya menggeliat manja. Wanita berbadan dua itu terlihat tak ingin bangun dari tidur paginya.
Arnon mengecup kening istrinya berkali-kali. " Ayo bangun, Sayang! kita harus ke rumah sakit untuk memeriksa kondisi anak kita," bujuk Arnon.
Bukannya bangun, Melati malah menarik tangan suaminya agar berbaring menemaninya.
Wanita itu memeluk tubuh Arnon erat dengan wajah yang sudah berada di dada bidang Arnon untuk mencium aroma maskulin kesukaannya.
Arnon tersenyum geli karena wajah Melati tak enak diam. Istrinya terus mengendus aroma wangi tubuh suaminya dengan ujung hidung yang menempel membentuk lukisan tak beraturan.
"Sayang! hentikan! jika tidak ... aku akan menciummu," ancam Arnon pada Istrinya.
Melati perlahan membuka matanya, menengadahkan wajahnya menatap Arnon yang juga tengah merundukkan kepalanya menatap Melati.
Tingkah aneh Melati kembali membuat Arnon tercengang. Wanita itu tersenyum manis pada suaminya dengan bibir yang sudah di majukan ke depan.
Arnon bingung dengan sikap manja dan agresif Melati selama usia kehamilan semakin bertambah bulan. Melati seperti bukan dirinya yang dulu.
"Kau kenapa, Sayang?" tanya Arnon yang masih belum paham akan maksud Melati padanya.
Wajah Melati berubah drastis, dari yang awalnya terlihat bagai bunga yang sedang mekar begitu indahnya, kini wajah itu layu seketika.
"Kau kenapa, Sayang? kenapa wajahmu berubah seperti itu?" tanya Arnon cemas.
"Kau sungguh suami tak peka! suami yang suka ingkar janji!"
Arnon semakin tak paham dengan cara pikir Melati yang susah ia mengerti apa maksudnya.
"Sayang! kenapa kau berkata seperti itu?" Arnon memeluk Melati hangat untuk menyalurkan rasa cinta yang ia miliki untuk sang istri.
"Kau bilang ingin menciumku! tapi buktinya apa? bibirku sudah bagai bibir terkena sengat lebah begitu! tapi kau masih belum juga paham! hiks!"
"Hahahaha!"
Sungguh Arnon tak dapat menahan tawanya lagi. Hormon kehamilan Melati sepertinya sudah melewati batas normal.
"Kenapa kau tak langsung bilang saja, Sayang! kemari! tunjukan padaku! mana bibir yang tersengat lebah itu," bujuk Arnon.
"Tidak mau! aku sudah terlanjur marah padamu," tolak Melati tanpa basa-basi pada suaminya.
"Sayang! jangan begitu! kemarilah! aku ingin mencium anak kita,"
"Tidak boleh! ini anakku!"
Arnon hanya bisa menghela napas menerima kemarahan dari istrinya. Ia harus sabar karena hormon orang hamil memang tak menentu. Yang paling penting dia tak boleh membuat istrinya stress.
Arnon memeluk tubuh Melati erat. "Aku minta maaf! memang aku yang salah karena tak peka akan kemauan, Istriku! aku suami yang tak berguna, aku suami ...."
"Jangan katakan itu lagi! kau suami yang baik, kau calon Daddy yang baik dan kau juga teman hidup yang aku inginkan, jadi jangan pernah berkata seperti itu! seharusnya aku tak boleh bersikap kekanak-kanakan seperti tadi," ujar Melati membalas pelukan suaminya.
Arnon tersenyum bahagia sambil mencium puncak kepala istrinya. Hormon wanita hamil memang sungguh tak dapat ia tebak. Saat sudah bad mood, seorang suami harus ekstra sabar, namun saat sudah good mood, seorang suami bagaikan menemukan harta karun yang bertahun-tahun lamanya terpendam. Asalkan seorang suami itu bisa tahu cara mengambil hati istrinya, wanita itu pasti akan luluh dengan sendirinya.
"Apa aku boleh mencium anak kita?" tanya Arnon.
"Tentu saja tidak, Sayang! ibunya juga akan aku cium sampai puas! tapi untuk saat ini tidak! nanti malam baru aku akan memuaskan Mommy-nya, saat ini aku akan mencium anakku saja," tutur Arnon yang mensejajarkan wajahnya dengan perut buncit sang istri.
"Maafkan Mommy ya, Son! Mommy tak bermaksud membuat kau merasakan kekesalan hatinya! ini semua salah, Daddy!"
Selesai mengucapkan permintaan maaf pada anak dalam perut istrinya, Arnon mengecup hangat perut buncit Melati.
Cup
"Kau tidur lagi ya, Son! Mommy sudah merasa tenang sekarang," ujar Arnon lagi pada bayi dalam perut istrinya.
Arnon menatap ke arah Melati yang juga menatapnya dengan senyuman.
Pria itu mendekatkan wajahnya pada kening sang istri. "Ini kecupan untukmu, Sayang!"
Cup
"Kemarin malam aku tak bisa menjenguk anak kita karena aku tahu kau pasti lelah setelah pesta kue cucur itu! nanti malam, aku akan menjenguk anak kita," jelas Arnon yang langsung mengangkat tubuh Melati ke arah kamarnya mandi.
Arnon berjalan ke arah kamar mandi dengan membawa tubuh Melati dalam gendongannya. "Kau harus mandi dulu, Sayang! karena sebentar lagi kita akan ke rumah sakit untuk bertemu dengan, Dokter Salma!"
"Kenapa jika aku hanya cuci muka saja?" tanya Melati pada suaminya.
"Apa kau ingin anak kita juga seperti itu saat dia sudah lahir?" tanya balik Arnon yang membuat kepala istrinya menggeleng dengan cepat."
"Jika kau tak ingin anak kita seperti itu? kau harus mandi agar kau cantik! anak kita juga akan terlihat cantik atau tampan, sama seperti Daddy atau Mommy-nya," jelas Arnon.
"Benarkah?" tanya Melati lagi.
"Benar, Sayang! airnya sudah aku siapkan! sekarang kau tinggal mandi saja dan aku akan menunggumu di luar," ujar Arnon sambil menurunkan istrinya.
Pria itu berjalan keluar tanpa menutup pintu kamar mandinya rapat-rapat. Ia takut jika Melati membutuhkan bantuannya karena perut istrinya sudah semakin membesar.
"Aku ada di ranjang, Sayang! jika kau membutuhkan sesuatu, panggil aku saja," tutur Arnon dengan suara sedikit meninggi.
"Siap, Sayang! aku mencintaimu," teriak Melati dari dalam kamar mandi.
"Aku juga mencintaimu, Istriku!"
10 menit Melati melakukan ritual mandinya. Setelah selesai, ia keluar dengan baju mandi yang sudah nampak tak muat di pakainya, karena di tarik oleh perut buncitnya.
Arnon menoleh ke arah sang istri karena mendengar derap alas kaki berbentuk kelinci yang sangat menggemaskan.
Pria itu berjalan menghampiri Melati yang masih asyik mengerikan rambut basahnya dengan handuk kecil.
"Biar aku bantu," pinta Arnon mengambil alih tugas istrinya.
Arnon menggiring Melati agar duduk di kursi meja rias. Pria itu dengan telaten mengusap lembut rambut Melati yang masih basah.
"Hair dryer-nya ada dimana?" tanya Arnon yang masih sibuk mengerikan rambut istrinya.
"Ada di dalam laci," sahut Melati menatap ke arah wajah suaminya yang fokus dengan rambut basahnya.
Melati tersenyum melihat Arnon yang begitu penuh kasih sayang mengerikan rambutnya dengan hair dryer.
"Jika kau selesai keramas, rambutmu harus cepat di keringkan, Sayang! agar kau tak demam jika kau terus berlama-lama dengan rambut basah ini," jelas Arnon yang sibuk dengan rambut Melati.
Rambut istrinya bagai di acak-acak oleh Arnon. Melati sampai tertawa kecil melihat rambutnya sendiri yang seperti singa baru bangun tidur sudah terangkat dan terombang-ambing entah kemana.