
William menatap kepergian istrinya yang sudah masuk ke dalam kamarnya.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu pada ruang William terdengar. Pria itu yang membereskan kotak bekalnya segera meletakkan kotak tersebut yang sudah terbungkus rapi.
Ceklek
Suara hendel pintu ruangan William terbuka.
Seorang wanita paruh baya masuk diikuti wanita cantik berpakaian seksi di belakangnya.
William tersenyum pada wanita paruh baya yang bernama Rosa tersebut. "Silahkan masuk! Ibu Rosa ya?" tanya William pada pasiennya yang memang sudah beberapa kali berkonsultasi mengenai penyakitnya yang sudah pada tahap penyembuhan.
Rosa dan Gina duduk di kursi yang sudah di sediakan tepat di depan meja William.
Rosa mulai berkonsultasi mengenai penyakitnya yang sudah pada tahap penyembuhan. Hanya perlu beberapa kali check up saja.
Selama proses konsultasi, Gina hanya fokus memandangi wajah William yang terlihat begitu tampan dengan kacamata yang bertengger pada kedua matanya.
Wanita bergincu merah merona itu sangat memuja Hot Dokter yang menjadi dokter ibunya.
"Terimakasih, Dokter William! karena sudah meluangkan waktunya," ujar Rosa pada William.
"Sama-sama, Ibu Rosa! sudah kewajiban saya sebagai dokter," sahut William ramah.
Ceklek
Pintu kamar William terbuka. Rosa dan Gina menatap seorang perempuan yang keluar dari ruangan itu.
Wajah Gina nampak tak bersahabat saat Zinnia mendekat ke arah kursi William.
"Siapa wanita ini?" tanya Gina dalam hatinya.
"Ini siapa, Dok? adik Dokter yang pernah menghubungi Dokter dulu itu?" tanya Rosa karena pada saat check up, Jonathan anak dari Edward sempat menghubunginya. Jonathan berada di luar Negeri untuk meneruskan studinya di sana, namun William tak memberitahu jenis kelamin adiknya.
Zinnia melirik William dengan tatapan tak mengerti.
"Jadi ini adik, Dokter William ya? wah, cantik sekali!" Gina memuji Zinnia sambil menebar senyum termanis yang ia miliki.
"Kalau begitu kami pulang dulu ya, Dok!" Rosa berpamitan pada William.
"Ayo, Gina! kita pulang," ajak Rosa pada putrinya.
"Mama keluar dulu saja ya? aku masih ada hal yang ingin dibicarakan dengan, Dokter William!"
Gina mengantar sang ibu keluar ruangan. Saat sudah di depan pintu, wanita bergincu merah itu meminta pada Asistennya untuk membawa Rosa ke mobil.
Gina kembali masuk ke dalam ruangan William dimana Zinnia juga masih berada di dekat sang suami.
Gina duduk di kursi tempatnya semula. Wanita itu menatap William dengan wajah yang penuh puja.
"Maaf, Dok! saya ingin mengundang Dokter besok malam untuk makan malam bersama keluarga dan rekan kerja perusahaan untuk acara ulang tahun saya," tutur Gina.
William dan Zinnia saling bertukar pandang. Mereka sudah ada feeling jika wanita di hadapannya ini ada maksud tertentu.
"Bagaimana, Dok! apa anda bisa? sekalian untuk ajang mencari jodoh, Dok! siapa tahu nanti anda menemukan jodohdi acara makan malam ulang tahun saya! Dokter itu tampan dan mapan, pasti banyak wanita yang mau menjadi calon istri, Dokter William!" Gina mulai memberi kode pada William.
"Dih, kau kira aku tak tahu jika kau yang ingin menjadi calon istri suamiku! hah, dasar wanita bermuka tebal! orang bodoh juga tahu jika kau sengaja ingin menarik perhatian, William! harus di beri pelajaran wanita seperti ini."
Zinnia tersenyum pada Gina. "Sepertinya, Dokter William! tak bisa hadir di acara perayaan ulang tahun anda, Nona!"
"Anda juga boleh ikut, Nona!" Gina mulai ingin menarik perhatian Zinnia.
"Tapi Maaf, Nona! Dokter William tak bisa hadir besok, karena kami akan pergi berbulan madu ke Paris, iya kan, Sayang!" Zinnia mengrlingkan matanya menatap ke arah William.
Gina masih dalam mode bingung. "Ini apa maksudnya ya? bukankah kalian berdua kakak beradik, tapi kenapa ingin berbulan madu," tutur Gina.
Zinnia melingkarkan satu tangannya tepat di leher William. Pria itu menatap wajah istrinya yang juga menatap ke arahnya.
"Saya tidak percaya dengan semua ini! kalian berdua pasti berbohong kan?" tanya Gina yang tak ingin mendapatkan kebenaran pahit jika pria yang selama ini ia incar sudah memiliki istri.
"Kenapa anda tak ingin percaya dengan kenyataan semua ini, Nona? apa anda mulai menaruh hati pada suami saya?" tanya Zinnia yang langsung to the poin.
Gina mulai salah tingkah, wanita itu kini sudah terpojok. Mau tak mau Gina harus mengaku saat ini juga.
"Anda benar, Nona! saya memang menyukai, Dokter William sejak saya mengantarkan Mama saya kemari," jujur Gina.
"Saya suka dengan cara anda jujur seperti ini, Nona! daripada harus berlama-lama memendam rasa, itu tak baik juga." Zinnia tersenyum manis pada Gina.
"Karena saya sudah jujur, kalian juga harus jujur pada saya! apa sebenarnya hubungan kalian berdua?" tanya Gina yang masih belum percaya jika Zinnia dan William sudah menikah.
"Jika anda ingin bukti dari saya, akan saya turuti," tutur Zinnia menatap ke arah suaminya.
"Aku sebenarnya tak ingin melakukan hal ini di depan salah satu keluarga pasienmu, Sayang! tapi karena situasi yang memaksa, aku harus melakukan ini padamu," izin Zinnia yang langsung mendaratkan bibirnya tepat di pipi William.
Cup
Wajah mereka berdua saling pandang. "Aku akan memberikan hal lebih saat kita sudah berada di Paris," tutur Zinnia mengusap lembut pipi William dengan ibu jari tangannya.
Zinnia menatap ke arah Gina. "Suami saya tak bisa hadir besok malam ke acara ulang tahun anda, Nona! karena malam ini kami akan berangkat ke Paris," tutur Zinnia lembut.
Gina sudah mengepalkan tangannya. Wanita berbaju seksi itu langsung keluar dari ruangan William tanpa pamit.
Zinni yang melihat itu semua tertawa kecil. "Rasakan kau wanita bergincu merah! siapa suruh berani mendekati suami orang," ledek Zinnia yang tak sadar jika William menatapnya dengan tatapan tak dapat di jabarkan lagi.
Saat Zinnia menatap suaminya dengan senyum yang masih mengembang, senyum gadis itu tiba-tiba hilang ketika tangan kekar William melingkar pada pinggangnya.
"Apa nanti malam kita akan menunaikan bulan madu yang pertama?" tanya William memainkan rambut Zinnia.
"Waduh! kenapa urusannya jadi begini? aku tadi hanya bercanda agar si wanita bergincu itu pergi."
"Aku akan menjelaskan padamu! jadi tadi itu hanya alasanku saja, karena aku tak ingin wanita begincu merah itu, seenaknya mengajakmu ke arah ulang tahunnya! dia pikir aku gadis tak tahu taktik amatiran seperti itu? hah, aku tahu jika dia tergila-gila padamu dan aku tak ingin kau sampai jatuh dalam pelukannya, karena aku yang akan membuatmu bertekuk lutut, Pak Dokter!" Zinnia membenarkan posisi duduknya sampai sesuatu ada yang mengganjal di bagian bawah.
"Kenapa paha William jadi ada benjolan seperti ini? apa dia punya penyakit serius pada bagian pahanya?"
Zinnia hendak bangun dari pangkuan suaminya, namun tangan William menahan tubuh Zinnia agar tetap berada di atas pangkuannya.
"Kau tak boleh kemana-mana! nanti kau harus mendapatkan hukuman karena telah membuat William junior bangun, Zi!"
Zinnia masih dalam mode tak paham. "William junior? apa kau sudah punya anak? dengan siapa? kau berani ya berbuat ...."
"Sssstt! jangan menyimpulkan sesuatu tanpa mendengar penjelasan terlebih dulu, aku tak pernah melakukan hal apapun baik itu selingkuh atau hal yang menyimpang lainnya bersama perempuan lain! istriku hanya satu, yaitu dirimu dan maksud dari kata William junior itu bagian dari diriku yang bisa menebar benih dalam rahimmu, Istriku!" William berbisik pada telinga istrinya.
"Sesuatu yang dapat menebar benih? pada rahimku?"
Wajah Zinnia tiba-tiba menegang karena ia mengingat sesuatu yang mengganjal pada bagian paha suaminya.
"Apa yang dia maksud William junior adalah senjata rudalnya itu?"
Zinnia langsung bangun menatap William dengan wajah sudah memerah. "Kau sungguh pria mesum, William!"
Gadis itu langsung menyambar kotak bekal suaminya dan berjalan dengan langkah cepat menuju ke arah pintu keluar, namun sebelum Zinnia sampai di depan pintu, William kembali bersuara, "Nanti malam kau harus mendapatkan hukuman karena sudah berani membuat William junior bangun bukan pada waktunya, Gadis cerewet! dan jangan lupa dengan kata-katamu yang akan memberikan aku hal lebih dari sekedar ciuman saat di depan, Gina!"
Zinnia membuka hendel pintu ruangan William, namun ia masih berbalik menghadap ke arah suaminya. "Aku tak perduli," tutur Zinnia sambil mengulurkan lidahnya pergi dari ruangan William.
Pria itu hanya bisa tersenyum sambil menahan sesuatu dari dalam dirinya yang ingin di puaskan.
Maaf baru bisa update karena author ada urusan keluarga yang tak bisa di abaikan, tolong di maklumi ya para readers.
Yang sudah mau menunggu update novel ini terimakasih banyak๐