
Keesokan harinya di rumah Hadi, Agnez baru bangun tidur hendak bersiap menuju kantornya, namun ponselnya tiba-tiba berdering.
"Halo!"
"Anda di minta oleh direktur untuk segera ke kantor sekarang juga," ucap orang di seberang ponsel Agnez.
"Baik, saya akan kesana."
"Kenapa Bos pagi-pagi sekali memintaku untuk ke kantor? apa jangan-jangan ada rapat penting? ah, sudahlah! aku bersiap saja dulu."
Agnez melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah urusannya di kamar selesai, Agnez berjalan terburu-buru karena ia takut telat, bahkan wanita itu tak sempat sarapan.
Sekitar 20 menit menuju kantornya, akhirnya Agnez tiba dan masuk menuju lantai 68 menggunakan lift.
Ting
Pintu lift terbuka. Agnez langsung bergegas menuju ruangan Bosnya yang juga merupakan ruangannya.
Tok tok tok
"Permisi Pak!"
"Masuk," ujar Bos Agnez.
Wanita itu masuk berjalan menuju meja kebesaran atasannya.
"Ada apa Bapak memanggil saya pagi-pagi sekali," ujar Agnez yang tak memiliki pikiran negatif sedikitpun.
"Duduklah dulu," pinta atasan Agnez.
Agnez mengikuti perintah atasannya dan duduk di kursi tepat di hadapan Bosnya.
"Saya minta maaf sebelumnya, kamu ... dipecat!"
Bagai petir di siang bolong, ucapan atasan Agnez itu membuat hidupnya hancur hari itu juga.
Nyawanya berasa hendak di cabut. Ia langsung lemas tak bertenaga mendengar pemecatannya hari ini.
"Ke-kenapa saya di pecat, Pak?"
"Sepupu saya dari Australia sudah lulus kuliah, dia yang akan menggantikan kamu sebagai sekertaris saya," jelas pria yang usianya masih muda sekitar 30 tahun sama seperti Arnon, namun ketampanannya kalah jauh dari aktor tampan itu.
Wajah Agnez memucat, tangan berkeringat dingin, dan seluruh badan mulai bergetar hebat.
Hal yang paling ia banggakan beberapa bulan terakhir ini sudah lenyap. Gaji yang selalu ia pamerkan pada Melati kini sudah tak dapat mengalir deras pada rekeningnya.
"Ini uang pesangon kamu."
Atasan Agnez memberikan satu amplop coklat berukuran agak tebal. Di dalam amplop coklat itu berisi uang terakhir yang dapat di genggam oleh Agnez.
Tangan Agnez gemetar saat berusaha mengambil uang terakhir untuknya dari perusahaan yang kini sudah memecatnya.
"Terimakasih, Pak!"
Wanita itu keluar dari ruangan Bosnya dengan langkah lemah tanpa tenaga karena urat syaraf yang berada di tubuhnya kini seakan hilang entah kemana.
Agnez berjalan di koridor kantornya dengan tatapan kosong.
"Kenapa hidupku begitu sial!"
Agnez terus berjalan sampai tak terasa dirinya sudah berada di luar kantornya. Lebih tepatnya luar kantor tempat ia bekerja sebelum hari ini ia di pecat.
Wanita itu sudah berada di dalam taksi menuju ke arah rumahnya. Sekitar 20 menit, akhirnya Agnez sampai.
Dengan langkah lunglai, wanita itu berjalan memasuki rumahnya.
Saat berada di depan pintu kamarnya, suara cempreng Anggi menghentikan langkahnya.
"Kok sudah pulang? izin sakit lagi ya?" tanya Anggi yang tak menduga jika anaknya sudah tak bekerja lagi.
Bukan jawaban yang di dapat oleh Anggi, melainkan suara tangis Agnez.
Anggi berjalan mendekati putrinya yang tak ada angin atau hujan tiba-tiba menangis.
"Hei! kau kenapa, Nez?" tanya Anggi menyentuh bahu putrinya.
Agnez langsung berhamburan memeluk ibunya dengan suara Isak tangis sangat memilukan.
"Kau ini kenapa, sih! ayo ceritakan pada, Mama!"
Tak ada jawaban dari mulut Agnez. Ia merasa sudah tak berguna lagi saat ini.
"Ma!"
"Kamu ini kenapa? ayo katakan sesuatu pada, Mama?"
"Aku ... aku di pecat, Ma!"
Anggi spontan mendorong tubuh Agnez agar ia dapat melihat wajah putrinya.
"Apa! kau di pecat? bagaimana bisa, Nez? bukankah kau pernah bilang pada, Mama! kau itu karyawan yang di senangi oleh atasanmu, tapi kenapa kau tiba-tiba di pecat?"
"Aku juga tidak tahu, Ma! aku bingung, kita harus memakai apa membayar sewa pada, Papa!"
Mendengar kata sewa dari mulut Agnez, Anggi mulai berspekulasi jika pemecatan secara mendadak pada Agnez ada sangkut pautnya dengan Arnon.
"Ini pasti ulah si Arnon! ah, aku harus bekerja untuk membayar sewa rumah ini."
Anggi mulai geram. Ia harus merencanakan sesuatu agar dapat membalas perbuatan Arnon karena Anggi yakin jika Arnon yang berada di balik pemecatan putri semata wayangnya.
"Tunggu pembalasanku, Arnon!"
Anggi mengusap kepala anaknya. Memapah Agnez menuju ke arah kamarnya.
Agnez sudah terbaring di atas ranjangnya dengan selimut menutupi tubuhnya.
"Nez! Mama ingin minta nomor telepon, Erick! ada yang ingin Mama bicarakan padanya."
"Apa yang ingin Mama bicarakan dengan, Kak Erick?" tanya Agnez yang merasa janggal dengan ucapan ibunya.
"Mama ingin meminta bantuan padanya agar bisa cepat mendapatkan pekerjaan, sedangkan kau sekarang masih terpuruk seperti ini, jadi Mama yang akan bekerja."
"Nomornya ada di ponselku, Ma! Mama lihat saja di sana," ujar Agnez.
Tanpa pikir panjang, Anggi langsung menyambar ponsel anaknya yang berada di dalam tas Agnez.
Wanita paruh baya itu membawa ponsel Agnez ke dalam kamarnya untuk menyalin nomor telepon Erick.
Anggi mulai mengutak-atik ponselnya sendiri menyimpan nomor telepon Erick pada ponselnya.
Seringai licik terpancar jelas di wajah wanita paruh baya itu. Ia kali ini akan membalas perlakuan Arnon pada putrinya.
"Kau pikir aku tak akan berani membalas perbuatanmu, Arnon? kau salah besar! aku ini bukan orang yang tak bisa melakukan hal itu! kita lihat saja nanti, siapa yang akan memohon ampun."
Anggi mencoba menghubungi nomor Erick. Beruntung si empunya nomor mengangkat panggilan dari Anggi.
"Halo!"
"Ini, Tante Anggi, Nak Erick!"
"Oh, iya, Tante! ada apa?"
"Bisa nanti kita bertemu di Cafe jalan Cempaka?"
"Jam berapa ya, Tante?"
"Saat jam makan siang, Nak!"
"Baiklah, Tante! nanti saya akan menunggu di sana karena kebetulan saya ada jadwal pemotretan di daerah Cafe itu."
"Terimakasih ya, Nak Erick!"
Anggi menutupi panggilannya diiringi seringai licik. "Rencanaku kali ini harus berhasil."
Anggi melenggang menuju kamar Agnez untuk mengembalikan ponsel putrinya.
Waktu telah menunjukkan jam makan siang.
Cafe yang menjadi tempat bertemunya Anggi dan Erick sudah dipenuhi oleh banyak orang untuk sekedar nongkrong atau memesan makanan dan minuman yang ada di Cafe tersebut.
Erick tiba terlebih dulu karena jarak tempat pemotretannya dengan Cafe itu cukup dekat.
Pria itu menunggu kedatangan Anggi sembari memesan coffe latte.
Tak butuh waktu lama menunggu, akhirnya Anggi datang menghampiri meja Erick.
"Maaf ya, Nak Erick! Tante terlalu lama." Dengan wajah menyesal yang di buat-buat.
"Tidak apa-apa, Tante! oh, ya! Tante mau pesan apa?" tanya Erick karena kebetulan pelayanan mengantarkan pesanannya.
"Tante pesan ekspresso saja."
Pelayan itu meletakkan pesanan Erick kemudian mencatat pesanan Anggi.
Setelah pelayan itu pergi, Anggi mulai membuka suaranya.
"Kedatangan Tante kemari, ingin meminta bantuan padamu, Nak!" diiringi wajah memelas.
"Bantuan apa, Tante?"
"Agnez sudah di pecat dari kantornya dan kami sudah tak dapat membayar uang sewa yang di perintahkan oleh Arnon kemarin."
"Salah kau sendiri jahat pada anak tirimu."
Erick tak terlalu memperdulikan Anggi karena ia sebenarnya cukup geram dengan kelakuannya terhadap Melati.
"Ibu sama anak, sama saja! tak ada yang benar."
"Loh, kok bisa begitu, Tante?" wajah Erick di buat seakan-akan ia terkejut bukan main.
"Tante yakin jika di balik pemecatan, Agnez! Arnon dalang dari semua ini," ujar Anggi agar Erick tahu jika dirinya tak suka dengan Arnon.
"Rasakan! itu balasan karena kau dan putrimu itu telah bertindak bodoh."
"Apa Tante yakin?" tanya Erick mematikan.
"Iya! Tante yakin 1000%."
"Tante ingin mencari pekerjaan, Nak! apa kau bisa membantu? Tante tidak tahu harus bagaimana lagi jika Tante tak membayar sewa rumah itu."
"Kenapa tak bicara pada menantu Tante secara baik-baik?"
"Tante muak dengannya! Tante sakit hati karena telah membuat Agnez di pecat! jujur saja ya, Nak! Tante itu tidak setuju Melati dengannya! lebih baik kamu kemana-mana dari pada Arnon itu," tutur Anggi untuk menarik perhatian Erick.
Ide brilian muncul dalam otak Erick.
"Apa Tante setuju jika aku dan Melati bersama?"
"Tentu saja setuju, Nak! Tante tahu kau juga menyukai Melati, kan? sebenarnya Tante juga tak ingin Agnez berharap terlalu jauh padamu karena hati itu tak bisa di paksakan."
Anggi mulai melancarkan aksinya agar rencananya berjalan dengan lancar.
"Jika kau mau, Tante akan membantumu dekat dengan Melati, bahkan kau bisa memilikinya," ujar Anggi meyakinkan Erick agar mau bekerjasama dengannya.
"Apa Tante sungguh mau membantuku?" tanya Erick.
"Tentu saja! tapi ada syaratnya."
"Hah, aku tahu tak akan gratis kau membantuku."
"Apa, Tante?"
"Anggap saja kita saling bekerjasama! aku yang mengatur semuanya dan kau yang membayar kinerjaku! bagaimana?"
"Baik! mulai hari ini kita rekan kerja," ujar Erick mengulurkan tangannya pada Anggi tanda sepakat bekerja sama dalam membuat Melati jatuh ke dalam pelukannya.
Anggi dengan senang hati menerima uluran tangan Erick diiringi senyuman bahagianya.
"Hahahaha! sekali tepuk, dua nyamuk langsung mati! kau tunggu saja, Arnon!"
Anggi kali ini sungguh akan mengibarkan bendera perang pada Arnon.
"Kapan rencana itu akan kita laksanakan?" tanya Erick yang sudah tak sabar ingin bersama dengan Melati.
"Secepatnya," sahut Anggi dengan seringai liciknya.
"Hahahaha! aku suka bekerjasama dengan, Tante!"
Erick yakin kali ini ia bisa bersatu dengan Melati karena sudah ada Anggi yang akan membantunya dari dalam.
Pram sudah berada di rumah keluarga Gafin. Ia berjalan menuju ruang belajar Tuan mudanya.
Tok tok tok
"Masuk," ujar orang yang berada di dalam ruangan tersebut yang tak lain adalah Arnon.
Pram langsung masuk ke ruangan Arnon.
"Bagaimana?" tanya Arnon pada orang kepercayaannya itu.
"Sudah beres, Tuan! tadi pagi Agnez resmi di pecat dari perusahaan tempatnya bekerja."
"Bagus! itu memang bayaran yang pantas karena dia telah berani menyentuh wanitaku!"
Arnon tersenyum pada Pram karena misi membalas perbuatan Agnez berhasil. Semua rencana Arnon itu tak diketahui oleh Melati.
Arnon sengaja tak memberitahu istrinya karena jika ia masih minta izin pada Melati, gadis itu tak akan memperolehnya karena hati istrinya itu sungguh seperti malaikat.
Arnon dan Pram sepakat. Rencana ini hanya mereka berdua yang tahu. Semua ini mereka lakukan agar tak ada masalah yang muncul di kemudian hari.