
Arnon berada di ruang tamu dengan sebuah laptop yang menyala di atas pangkuannya.
Berbeda dengan istrinya yang sedang berperang dengan peralatan dapur di rumah barunya itu.
Melati sibuk memasak untuk makan malam karena gadis itu tahu jika ibu tirinya tak akan memasak hari ini.Melati berpikir mungkin Anggi masih sibuk dan pastinya lelah merapikan barang-barang yang Anggi bawa.
Setelah 1 jam bergulat di dapur,Melati meminta pelayan wanita itu untuk membawa semua masakannya ke meja makan.
"Bantu saya membawa semua makanan ini ke meja makan ya,Mbak!" Melati membawa sebagaian hidangan itu ke meja makan diikuti oleh pelayannya.
Melati meletakkan semua hidangan dengan rapi dan pastinya wangi dari masakannya tercium sampai ke ruang tamu.
Arnon yang sedang asyik mengutak-atik laptopnya langsung menghentikan gerakan jari jemarinya.
"Wangi sekali,perutku jadi lapar," gumam Arnon meletakkan laptopnya di atas meja dan berjalan kearah dapur.
Saat Arnon sudah berada di dapur,tak ada seorang pun disana,bahkan makanan yang aromanya sangat menggugah selera itu tak nampak olehnya.
"Dari mana asal aroma makanan enak ini?" tanya Arnon pada dirinya sendiri.
Pria itu berjalan kearah ruang makan yang terdengar suara berisik dari sana.Saat Arnon sudah sampai,benar saja suara berisik itu karena Melati tengah sibuk meletakkan beberapa piring dan gelas di atas meja makan.
Arnon mengendap-endap mendekati Melati.Pelayan yang melihat Tuan mudanya berada di belakang istrinya langsung tersenyum namun Arnon memberikan isyarat pada pelayan itu agar diam tak memberitahu keberadaannya pada Melati.
Pelayan itu diam mengikuti semua perintah Tuan mudanya.
Melati melirik pelayan wanita tersebut.
"Kenapa tertawa,Mbak! apa ada yang aneh?" tanya Melati.
"Tidak ada,Nona!"
Karena tak merasa curiga dengan pelayanannya, Melati melanjutkan pekerjaannya kembali.
Saat sedang asik mengisi air ke dalam gelas, tiba-tiba ....
Dor Dor Dor
Arnon mengejutkan istrinya dengan suara tembakan yang ia keluarkan dari mulutnya sendiri.
Melati terkejut bukan main.Gadis itu langsung berjongkok bersembunyi di bawah meja makan dengan wajah ketakutan karena terkejut.
"Hahahaha." Tawa Arnon menggelegar.
Melati yang awalnya merasa ketakutan mencoba mengintip kearah sumber tawa itu.
Bara api muncul dari kedua mata Melati.Gadis itu tersulut emosi karena ternyata orang yang mengagetkannya adalah suaminya sendiri.
Melati tak sadar jika ia saat ini berada di bawah meja,tanpa pikir panjang ia langsung bangun hendak berdiri namun lagi-lagi gadis itu bernasib sial untuk yang kedua kalinya.
DUKKKKKKKK
Suara benturan kepala Melati dengan meja makan sangat terdengar jelas oleh Arnon dan pelayan wanita yang sedang berada tak jauh dari Melati.
Melati otomatis menyentuh puncak kepala yang terasa sakit dan badannya secara spontan kembali terduduk di bawah meja.
Gadis itu menangis sambil mengusap-usap kepalanya yang terasa sakit.
"Hiks hiks hiks hiks." Tangis Melati terdengar oleh Arnon.
Pria yang awalnya asyik menertawakan sang istri diam seketika saat tangisan Melati terdengar olehnya.
Arnon berjongkok melihat kearah istrinya di bawah sana.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Arnon dengan wajah cemas.
Tak ada jawaban dari mulut gadis itu,yang ada hanya suara tangisannya.
Arnon perlahan menarik tubuh istrinya agar keluar dari bawah meja.
Arnon memapah tubuh Melati agar duduk di kursi.
Gadis itu masih tetap menangis mengeluarkan benda cair bening dari kedua matanya.
Arnon berjongkok agar ia lebih leluasa menatap wajah istrinya.
"Maafkan aku," ucap Arnon dengan wajah yang merasa sangat bersalah.
Melati sekilas melihat kearah suaminya namun tak lama kemudian ia kembali menangis.
"Melati! maafkan aku ya? aku tahu ... aku yang salah ... maafkan aku," ucap Arnon menggenggam erat tangan istrinya.
Melati menatap kedua mata suaminya,ia melihat ketulusan dari dalam mata itu dan sebuah kekhawatiran yang amat sangat untuknya.
"Kamu jahat Arnon,kamu jahat." Memukul lengan Arnon berkali-kali sampai ia merasa puas.
Arnon hanya bisa menerima pukulan itu karena ini memang kesalahannya.
"Pukul aku sampai kau puas," ujar Arnon menerima dengan ikhlas pukulan kecil dari tangan istrinya.
"Jangan katakan itu lagi," ujar Arnon menatap kedua mata Melati begitu dalam.
"Kenapa memangnya hah? semua itu benar kan? kau ingin cepat bersama Clara jadi kau mengagetkan aku supaya aku jantungan dan ma ...."
Ucapan Melati terhenti saat Arnon menarik tengkuk gadis itu dan menyatukan bibir mereka berdua.
Mata Melati masih tetap terbuka lebar dengan tindakan yang dilakukan oleh Arnon.
Pria itu menggerakkan bibirnya dengan lembut agar Melati tak mendorongnya untuk melepaskan ciuman mereka.
Mata Melati perlahan mulai tertutup dengan setetes cairan bening yang keluar dari pelupuk matanya saat salah satu tangan Arnon menarik pinggang rampingnya untuk lebih dekat.
Pelayan wanita itu perlahan mundur selangkah demi selangkah,saat jaraknya sudah cukup aman untuk berlari,pelayan tersebut berlari kecil menuju dapur.
Nafas pelayan wanita itu tersengal-sengal saat sudah berada di dapur.
"Astaga! Tuan dan Nona sangat tidak tahu kondisi,aku jadi rindu suami yang ada dirumah," ucapnya sambil menampakkan raut wajah menyedihkan luar biasa.
Karena suara teriakan Melati tadi membuat seluruh penghuni yang ada di kamar keluar menuju meja makan dan melihat adegan romantis pasangan Romeo dan Juliet itu.
Hadi spontan membalikkan badannya membelakangi meja makan dimana putri dan menantunya sedang bermesraan.
Berbeda dengan Anggi dan Agnez yang tercengang dengan pemandangan yang mereka lihat saat ini.
"He'em."
Suara Hadi mengejutkan keduanya.Arnon dan Melati menoleh kearah sumber suara dan wajah keduanya langsung memerah.
"Papa!," Suara Arnon dan istrinya serempak terdengar.
Hadi kembali menghadap kearah Melati.
"Maaf jika Papa mengganggu kalian berdua," jelas Hadi pada anak dan menantunya.
"Ti-tidak Pa,ka-kami hanya ...."
"Lain kali tidak perlu teriak-teriak jika ingin bermesraan," sambung Anggi dengan tatapan datarnya.
Arnon melirik kearah ibu mertuanya itu.
"Kenapa wanita ini terlihat sangat sentimen sekali pada Melati," pikirnya yang kembali menatap kearah istrinya.
"Maafkan aku,Sayang! ini semua salahku." Sambil menyentuh pipi istrinya lembut.
"Sekarang kita makan dulu ya," ujar Arnon pada istrinya sambil duduk di kursi tepat di samping Melati.
"Ayo Pa,Ma,dan kakak ipar! kita makan malam dulu," ajak Arnon dengan seutas senyum yang ia paksakan saat melihat kearah ibu mertuanya.
Mereka bertiga berjalan kearah meja makan dan duduk di kursi masing-masing.
Wajah Agnez terlihat kesal karena lagi-lagi kenyataan yang membuat darahnya mendidih hampir meluap-luap.
"Bagaimana bisa si Melati ini mendapatkan hati Arnon? kejadian tadi membuatku tak selera makan," gerutunya sambil mengambil beberapa hidangan yang tersedia.
"Biar aku yang mengambilnya untukmu," tutur Arnon yang mengambilkan beberapa menu makanan yang tersedia.
"Mau yang ini?" tanya Arnon menunjuk kearah tumis sosis dan kacang panjang.
Melati menganggukan kepalanya.
"Ini?" tanya Arnon lagi menunjuk ayam bakar pedas dan di tanggapi gelengan kepala oleh Melati.
"Ini?" tanya Arnon lagi pada istrinya sambil menunjuk terong balado dan di tanggapi anggukan oleh Melati.
"Ini?" tanya Arnon lagi.
"Sudah cukup itu saja," jawab Melati dengan suara khas orang selesai menangis.
Arnon tersenyum kearah Melati.
"Makanlah,Sayang!" mengusap lembut rambut halus Melati.
Hadi melihat semua drama romantis putrinya dan sang suami,ia senang melihat Melati memiliki suami yang sangat menyayanginya.
"Semoga kalian bahagia selamanya," doa Hadi untuk Melati dan Arnon.
Agnez tak memakan makanannya,ia hanya menyendok makanan itu kemudian menuangkannya lagi ke atas piringnya.
"Dasar manja! punya tangan tapu tak digunakan," umpat Agnez yang semakin kesal karena Arnon sepertinya telah menaruh rasa pada Melati.
Anggi tak memperdulikan semua itu,ia hanya sebagai penonton saja.Setelah semua adegan romantis itu selesai ia kembali melanjutkan makannya.
Author sudah tepat janji ya sama para readers,terimakasih yang sudah vote,like dan komenπππ
Salam cinta dari author untuk kalian semua ππππβ€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈ
Jangan lupa harus tembus lebih dari 200 like yaππππ