Pacaran Setelah Menikah

Pacaran Setelah Menikah
Bab 176 ( Season 2 )


William keluar dari kamar mandi. Pria itu berjalan ke arah walk in closet untuk berganti baju tidur.


Setelah selesai, William langsung berjalan ke arah sisi ranjang tempat tidurnya.


William sudah berbaring di atas ranjangnya. Ia melihat ke arah sang istri yang membelakanginya.


William tersenyum melihat punggung Zinnia seakan minta di peluk olehnya.


Sadar atau tidak dengan apa yang ia lakukan. William mendekat ke arah sang istri, memeluk tubuh Zinnia dari belakang dengan bibir yang sudah mengecup rambut istrinya tanpa henti.


Karena terusik dengan kecupan kecil dari suaminya, akhirnya gadis itu mulai bergerak-gerak kecil.


Tubuh Zinnia berbalik ke arah William. Mata gadis itu masih tetap terpejam.


Zinnia memeluk tubuh suaminya erat. Zinnia berpikir ia sekarang sedang memeluk guling yang sangat empuk dan meletakkan kepalanya pada dada bidang William.


Pria itu terkejut, namun sedetik kemudian William tersenyum karena Zinnia menggerakkan kepalanya mencari posisi ternyaman di dadanya.


William membalas pelukan istrinya tak kalah erat. Pria itu memundurkan sedikit wajahnya menatap wajah Zinnia.


Lagi-lagi senyum William terukir sembari mengecup kening istrinya cukup lama.


"Kenapa aku suka sekali melakukan hal ini," gumam William setelah ia melepaskan kecupan pada kening istrinya.


William menempelkan pipinya pada puncak kepala Zinnia. Pria itu nampak terlihat sangat nyaman dalam posisi yang baru pertama ia rasakan saat ini.


Tanpa sadar Dokter tampan itu sudah berada dalam dunia mimpinya.


Kring kring kring


Suara jam membangunkan keduanya yang masih saling peluk menghangatkan satu sama lain.


Tak butuh selimut tebal untuk membuat mereka hangat. Pelukan saja sudah lebih dari cukup.


Keduanya secara bersamaan membuka mata mereka. Pemandangan yang baru pertama kali mereka nikmati di pagi hari, melihat wajah pasangan masing-masing yang saling tatap.


Zinnia melihat ke arah tangannya dan tangan William yang melingkar pada pinggang pasangan masing-masing.


Zinnia tersenyum pada William dan pria itu juga membalas senyuman istrinya.


"Jam berapa kau pulang?" tanya Zinnia pada suaminya.


"Jam 10 malam lebih," sahut William menatap setiap sudut wajah istrinya yang terlihat begitu cantik saat bangun tidur seperti saat ini.


"Apa kau ada jadwal operasi?" tanya Zinnia lagi.


"Tidak!"


"Apa ada sesuatu yang terjadi di rumah sakit?" tanya Zinnia tanpa henti.


William mengangguk membenarkan pertanyaan istrinya.


"Apa sesuatu yang serius?"


William menatap kedua mata Zinnia yang sudah siap menjelaskan semua kejadian semalam kenapa ia tak pulang tepat waktu.


"Aku ketiduran kemarin sore setelah selesai mengoperasi pasien kedua! aku salah tak mengabarimu terlebih dulu karena aku kira aku tak akan tidur selama itu, badanku sudah lelah sekali jadi aku langsung tidur."


Zinnia masih mendengarkan semua penjelasan suaminya dengan posisi mereka masih berpelukan.


"Maafkan aku! kau pasti menungguku kan?" tanya William yang ingin mendengar langsung pengakuan dari mulut Zinnia.


Zinnia tersenyum pada suaminya. "Kau benar! aku menunggumu pulang, bahkan aku sempat berpikir yang tidak-tidak tentangmu, mungkin kau masih memikirkan wanita itu sampai kau tak ingin pulang ke rumah," jelas Zinnia.


Kening William mengkerut tanda tak paham. "Wanita? siapa?" tanya pria tampan yang masih memeluk tubuh istrinya.


"Marion! ... bagaimana jika wanita itu kembali sebelum kau jatuh cinta padaku? apa kau ...."


"Tidak! aku tak ingin dia kembali kemari! aku ingin dia kembali setelah aku benar-benar jatuh cinta padamu," potong William yang menyambut perkataan istrinya.


Zinnia tersenyum. Ada perasaan lega yang menyeruak dalam lubuk hatinya.


"Aku harap itu juga terjadi, tapi aku juga tahu jika di dalam sini aku masih belum ada! yang ada disini masih wanita itu," tutur Zinnia menyentuh dada suaminya.


"Aku akan berusaha membuat diriku yang ada di dalam sini secara permanen," sambungan Zinnia lagi dengan nada percaya diri sambil tetap menyentuh dada suaminya.


Zinnia mendekatkan wajahnya pada wajah William. Mencium bibir William sekilas.


Cup


"Morning kiss, Pria mesum!"


Zinnia langsung melepaskan tangan William yang melingkar pada pinggangnya. Gadis itu beranjak dari kasur menuju ke arah kamar mandi.


William tersenyum. Ia menarik guling yang berada di belakang tubuhnya.


William memeluk guling itu erat. Wajah pria itu terlihat bingung saat mengendus wangi dari guling miliknya. Wangi tubuh Zinnia ada pada guling yang ia peluk.


"Kenapa semua benda yang ada di dekatku selalu ada wangi tubuhnya? apa aku sudah mulai gila?"


Setelah beberapa menit kemudian, Zinnia sudah keluar dari kamar mandi.


Gadis itu berjalan ke arah walk in closet untuk berganti baju.


William yang berada di sofa kamarnya langsung masuk ke dalam kamar mandi menggantikan istrinya.


Zinnia keluar dengan pakaian rapi karena ia pagi ini akan ke butik untuk mengurus proses penjahitan desain baju musim seminya.


Zinnia berjalan ke arah kaca rias mengaplikasikan satu persatu tutorial makeup ala Zinnia.


Saat sudah pada step terakhir yaitu memoleskan lipcream pada bibirnya, William keluar dari kamar mandi dengan rambut basah yang masih meneteskan air.


Pria itu melihat proses Zinnia saat memoles bibir seksinya dengan lipcream.


Zinnia yang sadar tengah menjadi objek bidikan mata suaminya, gadis itu sengaja mengerucutkan bibirnya seakan ia sedang mencium sesuatu. Gadis itu menatap pantulan wajahnya di cermin, namun sebenarnya ia ingin melihat raut wajah William.


Pria itu mematung melihat istrinya yang sedang asyik bersolek di depan kaca.


"Kenapa dia harus mengerucutkan bibirnya seperti itu sih? tahan, Will! kau baru saja mandi, jangan sampai kau harus berendam air dingin."


William berjalan cepat menuju walk in closet. Sementara Zinnia cekikikan karena ia berhasil menggoda suaminya.


"Rasakan itu, Pria mesum! suruh siapa kau masih menyimpan foto wanita itu," gumam Zinnia langsung berjalan keluar dari kamarnya untuk menyiapkan sarapan untuknya dan William.


Zinnia sudah berada di meja makan dengan selai roti yang sudah teroles selai dan susu hangat buatannya.


William juga sudah turun ke bawah. Pria itu berjalan ke arah meja makan, kemudian duduk berdekatan dengan istrinya.


Zinnia dan William mulai memakan roti mereka masing-masing.


"Aku akan ke butik hari ini," tutur Zinnia membuka suara.


"Jam berapa kau akan pulang?" tanya William sambil meminum susu hangat buatan istrinya.


"Mungkin aku akan pulang agak larut," sahut Zinnia yang mendapat tatapan intens dari William.


"Apa yang kau lakukan sampai pulang selarut itu?"


"Aku akan lembur untuk pembuatan baju musim semi kali ini, karena 1 Minggu lagi ada acara peluncuran desain musim semi secara massal bagi seluruh desainer dunia.


"Kau tidak boleh lembur!"


"Kenapa?" tanya Zinnia yang bingung dengan sikap suaminya.


"Kenapa aku berbicara seperti itu? padahal ini kan urusan dia bukan urusanku."


"Karena ... aku ingin kau pulang kerumah," sahut William.


"Tapi jika terlalu malam, aku takut jika harus pulang sendirian," tutur Zinnia.


"Tapi aku ingin tidur denganmu seperti tadi malam, Gadis cerewet!"


"Aku akan menjemputmu, kau tinggal share lokasinya," ujar William sambil meneguk habis susunya.


Zinnia tersenyum manis. "Nampaknya kau sudah kecanduan ingin tidur denganku ya?" Zinnia mulai meledek suaminya.


William sudah salah tingkah. Pria itu ketahuan oleh sang istri.


Zinnia bangun hendak berangkat ke butiknya lebih dulu. "Kau tak perlu malu, Pria mesum! aku senang jika kau ingin selalu dekat denganku! itu berarti kau sudah membuka hatimu," goda Zinnia mengecup pipi suaminya sekilas.


Cup


"Aku berangkat dulu ya," pamit Zinnia sudah akan melangkah ke arah pintu, namun William menarik tangan sang istri agar menghadap ke arahnya.


"Kenapa?" tanya Zinnia karena William tiba-tiba menarik tangannya.


"Kau melupakan sesuatu," tutur William menarik tengkuk Zinnia mendaratkan bibirnya pada bibir sang istri yang sedari tadi ingin ia cium seperti ini.


Cupppppp


Cukup lama bibir itu menempel, sampai William menjauhkan bibirnya terlebih dulu.


Zinnia terkejut dengan apa yang dilakukan oleh suaminya.


"Itu ciuman permintaan maaf karena aku tadi malam sudah pulang terlambat," tutur William yang langsung melangkah pergi lebih dulu ke rumah sakit.