Pacaran Setelah Menikah

Pacaran Setelah Menikah
Bab 214 ( Season 2 )


Zinnia masuk ke dalam mobil Melati. Mereka berdua duduk di kursi penumpang.


Mata Zinnia masih belum di tutup dengan kain penutup mata yang masih berada di tangan Melati.


"Teman Mommy itu yang mana sih?" tanya Zinnia dengan wajah kesal.


"Nanti kau juga akan tahu, Nak!"


"Pasti teman Mommy itu orang yang aneh!"


Melati hanya tersenyum mendengar umpatan putrinya.


"Sekarang kau boleh mengumpat sesuka hati, Zi! sebentar lagi kau pasti akan bahagia saat melihat siapa orang yang kau sebut aneh itu."


Melati terus memperhatikan arah jalan yang akan mobil itu lewati. Setelah sampai di perbatasan menuju jalan ke rumah Zinnia, Melati memasang penutup mata itu.


"Kenapa di tutup sekarang, Mom?" tanya Zinnia menyentuh matanya yang sudah tertutup oleh kain berwarna putih.


"Agar kau tak tahu jalan menuju kemari karena teman Mommy ini sungguh orang yang sangat berbeda dari orang lain," jelas Melati pada putrinya.


Zinnia meraba kaca mobil. Setelah ia yakin dengan apa yang di pegangnya. Zinnia meletakkan siku tangannya di pintu mobil dengan wajah yang bertumpu pada telapak tangannya.


"Apa masih lama, Mom?" tanya Zinnia dengan suara lemah.


"Sebentar lagi sampai, Zi! sabar ya!"


Dengan posisi mata terpejam membuat gadis itu terbayang akan wajah suaminya.


"Pasti dia sudah pulang dari tadi dan aku tak ada di rumah! maafkan aku, Will!"


Mobil yang di tumpangi oleh Zinnia dan Melati sudah berada di halaman depan rumah mewah milik William.


Melati turun lebih dulu, kemudian ia menghampiri putrinya untuk membantu Zinnia turun dari mobil.


Zinnia sudah turun dengan tangan menggenggam erat tangan ibunya. "Apa kita sudah sampai, Mom?" tanya Zinnia pada ibunya.


Satpam dan para pelayan yang ada di sana diam tak bersuara karena semua orang di rumah itu kecuali Zinnia sudah tahu tentang dinner romantis malam ini.


"Kita sudah sampai, Sayang! Sekarang kau ikuti langkah kemana Mommy akan membawamu," ujar Melati pada Zinnia.


"Iya, Mom!"


Gadis itu mengikuti langkah ibunya. Zinnia sedikit susah berjalan karena matanya tertutup oleh kain.


"Kenapa aku mau sih mengikuti Mommy kemari! seharusnya aku menolak saja tadi dan di rumah suamiku sedang menungguku pulang."


Zinnia terus mengikuti langkah ibunya sampai kakinya berhenti di suatu tempat entah itu dimana Zinnia tak tahu pasti.


Angin kecil menyapu sebagai kulit Zinnia. Lengan Zinnia yang memang terlihat mulus sampai batas sikunya membuat angin kecil itu dengan senang hati menyapu kulit tangannya.


"Apa ini di luar ruangan, Mom?" tanya Zinnia pada ibunya.


"Iya, Sayang! dan sekarang matamu sudah bisa di buka," tutur Melati sembari membuka penutup mata putrinya.


Saat penutup mata itu sudah terbuka, mata Zinnia masih terpejam dan beberapa detik kemudian, ia mencoba membuka matanya namun semuanya gelap gulita.


"Kenapa ...."


Ucapan Zinnia terhenti saat lampu yang melilit pohon cedar tiba-tiba hidup, membuat pohon itu bersinar terlihat sangat indah.


Zinnia menoleh ke arah ibunya. "Ini di rumah kan, Mom?" tanya Zinnia pada Melati.


Zinnia terkejut. "Jadi Mommy dan ...."


"Iya, Zi! kami semua bekerjasama untuk membuatmu bahagia malam ini," sambung Melati.


"Ikuti jalan berbentuk hati itu karena jalan itu yang akan menunjukkan arah dimana lelaki yang sangat mencintaimu saat ini berada," ujar Melati pada Zinnia.


Gadis itu melihat ke arah bawah tepat di bawahnya.


Zinnia takjub dengan dekorasi lampu yang berbentuk hati sebagai jalan untuk ia menapaki langkah kakinya menuju arah di balik pohon cedar dimana suaminya berada.


Zinnia mulai melangkahkan kakinya pada tiap lampu yang berbentuk hati tersebut. Gadis itu tersenyum manis karena William sudah bersusah payah membuatkannya kejutan semanis ini.


Saat kaki Zinnia sudah lebih dekat dengan pohon cedar, nafasnya mulai naik turun tak beraturan karena ia penasaran dengan kejutan apalagi yang ada di balik menjulangnya pohon-pohon cedar yang berbaris rapi tersebut.


Saat kaki Zinnia sudah melewati pohon cedar, gadis itu menutup mulutnya takjub. Ia sungguh terkesima melihat pemandangan taman yang di sulap menjadi tempat dinner yang sangat manis dan romantis.


Dua buah kursi dan satu buah meja yang di atasnya sudah terdapat lilin dan alat makan lainnya.


Meja dan kursi itu di kelilingi oleh lilin berbentuk hati dan jalan yang akan Zinnia lewati untuk mencapai tempat paling romantis itu juga di kanan kirinya terdapat lilin.


Patung malaikat yang berada di tengah air mancur juga di kelilingi oleh lampu-lampu kecil, sementara air mancurnya berganti warna dari mulai warna kuning, merah biru, ungu, dan warna lainnya secara bertahap.


Zinnia melihat seorang pria yang tersenyum padanya sembari mengulurkan tangannya mengisyaratkan jika Zinnia harus datang kepadanya.


Tangan Zinnia sudah lepas dari mulutnya. Gadis itu langsung berjalan perlahan menuju arah lelaki dengan setelah jas berwarna putih.


Pria tampan yang tak lain adalah William berjalan mendekati istrinya yang sudah hampir sampai.


Tangan Zinnia dan William kini sudah saling genggam. Pria itu membawa istrinya masuk ke dalam lingkaran cintanya, menuntun Zinnia duduk di kursi yang telah disediakan.


Zinnia duduk di kursi yang memang disediakan untuknya. William bukannya duduk di kursi yang lurus dengan Zinnia, pria itu memilih menurunkan satu lututnya sebagai tumpuan.


Kini tinggi pria itu sudah lebih rendah dari Zinnia.


William mengeluarkan sebuah kotak kecil dari dalam saku jas putihnya.


Zinnia menatap suaminya. "Apa ini?" tanya Zinnia bingung.


"Tanda cinta kita karena saat hari pernikahan, kau dan aku tak bertukar cincin pernikahan," jelas William sambil membuka kota kecil yang tadi ia keluarkan dari dalam saku jasnya.


Saat kotak itu di buka, Zinnia melihat dua buah cincin berwarna silver yang sangat indah dengan desain simpel.


William mengambil satu cincin berukuran lebih kecil untuk Zinnia. "Aku berdo'a kepada, Tuhan! hanya akhir usia yang dapat memisahkan kita," tutur William sembari memasukkan cincin berwarna silver itu pada jari manis Zinnia.


Desainer cantik tersebut tersenyum tanpa terasa air matanya juga ikut luruh.


William menatap wajah Zinnia. Pria itu mengusap air mata istrinya yang tiba-tiba keluar dengan sendirinya. "Kau kenapa, Sayang?" tanya William dengan suara lembut.


"Aku bahagia sekali malam ini karena Tuhan mengirimkan aku seorang suami yang sangat mencintaiku seperti dirimu." Tangan Zinnia mengambil cincin berwarna silver yang berukuran lebih besar dari miliknya. "Aku berdo'a pada, Tuhan! cinta kita akan abadi untuk selamanya," ujar Zinnia sembari memasukkan cincin itu pada jari manis William.


Keduanya saling tatap. Zinnia menyentuh pipi William menggunakan tangan yang sudah tersematkan cincin pernikahan mereka. "Aku mencintaimu, Sayang!"


William tersenyum mendengar penuturan tulus istrinya. Tangan William menyentuh tangan Zinnia yang berada di pipinya.


Pria itu membawa tangan sang istri pada genggamannya. "Aku juga mencintaimu, Sayang!" William mengecup punggung tangan Zinnia menyalurkan rasa cintanya pada perempuan yang sebentar lagi akan seutuhnya menjadi miliknya.


JANGAN LUPA VOTE, LIKE, DAN KOMENTARNYA YA KAKAK READERS 🥰🥰🥰