
Arnon, Melati, dan Erick maju ke depan karena nomor yang mereka dapatkan adalah angka 5.
"Inilah misteri number yang kita tunggu-tunggu sedari tadi, akan ada triple dance untuk nomor urut lima," ucap MC acara tersebut.
Arnon menatap tajam ke arah Erick. Melati melihat rahang Arnon yang secara perlahan mulai mengeras.
"Tidak bisa! jika aku meneruskan dansa ini, emosi Arnon pasti akan semakin menjadi-jadi! aku harus mencari cara," batin Melati.
Ketiganya sudah berada di tengah-tengah lantai dansa. Arnon terlebih dulu memulai dansa bersama istrinya.
Pria itu menatap lekat kedua mata Melati. Gadis itu juga tengah menatap kedua mata suaminya.
Erick tersenyum penuh kemenangan karena sebentar lagi ia akan berdansa bersama Melati. Gadis yang selama ini ia cintai.
Tiba saat pergantian pasangan. Melati tersenyum ke arah suaminya, sedangkan Arnon masih tetap dengan raut wajah datar.
Erick sudah bersiap hendak membawa Melati mengikuti alunan musik yang begitu romantis, namun hal yang tak terduga tiba-tiba terjadi.
Melati tersenyum simpul pada Arnon sambil mengedipkan matanya menggoda sang suami. Tanpa aba-aba, gadis itu mendorong tubuh Arnon agar berputar menuju ke arah Erick yang sudah menunggu berganti pasangan dansa.
Semua mata terperanjat melihat aksi Melati yang membuat semua orang tersenyum-senyum sendiri.
Erick menatap Arnon tajam dengan kedua tangan menggenggam keras tangan Arnon.
Arnon tersenyum menatap wajah Erick yang sudah masam minta ampun.
"Jangan berharap bisa menyentuh tubuh istriku," bisik Arnon.
"Heh, jangan terlalu sombong! kau itu hanya orang baru dalam kehidupan Melati, sementara aku ... sudah lama mengenal dia," ujar Erick yang ingin membuat emosi Arnon meledak-ledak.
Perkiraan Erick kembali meleset. Arnon justru tersenyum bahkan mengajaknya berdansa di depan semua tamu undangan.
Kelakuan kedua pria itu sontak membuat para undangan tertawa melihat tingkah lucu dua pria tampan yang berada di depan mereka, namun aura ketampanan Arnon lebih terpancar daripada Erick tentunya.
Melati melihat Arnon dan Erick sambil tersenyum sendiri.
"Syukurlah, otakku masih berfungsi dengan cepat saat keadaan darurat seperti tadi! jika tidak ... diriku ini pasti akan mendapat pencerahan saat sudah pulang ke rumah."
Acara sudah selesai. Semua tamu sudah pulang ke rumah masing-masing. Tak terkecuali Arnon dan istrinya.
Mereka berdua sudah berada di dalam mobil dengan posisi kepala Melati berada pada pundak Arnon.
"Kenapa kau bisa mempunyai ide sekonyol itu?" tanya Arnon memecah keheningan.
"Karena aku takut mendapat hukuman darimu saat kita sudah berada di rumah, jadi otakku secara langsung memunculkan ide konyol itu," sahut Melati memejamkan matanya karena merasakan kantuk yang luar biasa.
Arnon tersenyum sambil mengusap rambut halus istrinya.
Tak ada pembicaraan apapun lagi sampai mobil mereka sudah berada di halaman rumah keluarga Gafin.
"Sayang! ayo kita turun," pinta Arnon masih tetap mengusap rambut halus Melati.
Tak ada jawaban dari Melati. Gadis itu tetap diam tanpa bergerak atau bersuara.
Arnon mencoba mengangkat kepala istrinya. Benar saja, Melati sudah tertidur pulas.
"Dasar gadis hibernasi!" Arnon tersenyum sambil mengangkat tubuh Melati membawanya ke dalam rumah.
Melati sudah terbaring di atas tempat tidur. Arnon membuka setelan kemejanya berjalan ke arah kamar mandi.
Tak butuh waktu lama, pria itu sudah keluar mengenakan piyama tidurnya.
Arnon mendekat ke arah Melati yang masih tertidur pulas.
"Sayang! ayo bangun! kau harus berganti baju dan membersihkan riasanmu dulu sebelum tidur," pinta Arnon mengusap lembut pipi Melati.
Gadis itu menggeliat menerima sentuhan pada pipinya.
Mata Melati mulai terbuka sedikit demi sedikit.
"Aku mengantuk, Sayang!"
"Sebentar saja! apa kau mau wajahmu besok menjadi keriput," tutur Arnon agar Melati mau membersihkan riasan pada wajahnya.
Melati langsung bangkit berjalan ke arah walk in kloset dengan langkah sempoyongan.
Arnon hanya bisa geleng-geleng kepala melihat istrinya yang dalam keadaan setengah sadar itu.
Melati sudah mengenakan piyama tidurnya berjalan ke arah kamar mandi dengan rambut yang sudah acak-acakan.
Arnon mendekati istrinya membawa gadis itu ke depan meja rias.
Arnon dengan telaten menyisir rambut Melati dan mengikatnya rapi.
Gadis itu masih dalam kondisi setengah sadar karena badannya terasa sangat lelah sekali.
Setelah selesai membersihkan wajah Melati, Arnon memapah tubuh istrinya ke arah kamar mandi menuju wastafel.
"Sayang! kau cuci wajahmu dulu ya?"
Melati mengambil sabun wajahnya kemudian mencuci wajah itu dan membilasnya sampai bersih.
Arnon masih setia berada di samping istrinya. Setelah Melati selesai dengan ritual cuci mukanya, Arnon memberikan sikat gigi pada Melati lengkap dengan pasta gigi di atasnya.
Gadis itu menggosok giginya sambil memejamkan matanya yang benar-benar terasa sangat berat.
Arnon menatap pantulan wajah Melati pada cermin yang berada di depan wastafel.
Pria itu tersenyum melihat Melati seperti anak SD yang susah sekali di bangunkan saat tidur.
Setelah Melati selesai menggosok giginya, Arnon membawa Melati berjalan ke arah ranjang.
Saat sudah berada di dekat ranjang, Melati langsung naik ke atas kasur.
Gadis itu mencari posisi ternyaman, namun masih terasa kurang, padahal kasur yang ia tiduri sudah memiliki kualitas yang tak bisa diragukan lagi.
"Sayang! cepat naik ke kasur," pinta Melati pada suaminya.
Arnon menuruti permintaan sang istri. Pria itu naik ke atas kasur berbaring tepat di samping Melati.
Tanpa pikir panjang, Melati langsung memeluk tubuh Arnon bagai guling.
"Selamat malam, Suamiku," ucap Melati dengan suara khas orang yang setengah sadar.
Arnon tersenyum sambil mengecup lama kening Melati.
"Selamat malam, Istriku! aku mencintaimu," balas Arnon menempelkan kepala pada dahi Melati.
Mata Arnon mulai tertutup sempurna, namun kesadarannya masih normal. Matanya mulai terasa berat dan secara perlahan menyusul Melati ke alam mimpi indah.
Pagi mulai memancarkan cahaya yang membuat permukaan bumi menjadi hangat.
Sepasang muda mudi masih belum terlihat membuka matanya. Mereka berdua sudah merubah posisi tidur.
Melati yang awalnya lebih dominan mengambil alih diri Arnon, namun saat pagi menjelang, Arnon justru telah memeluk tubuh Melati bagai gulingnya.
Mata keduanya secara bersamaan terbuka. Arnon menatap kedua mata Melati tanpa henti.begitu pula dengan gadis itu.
Cup
"Morning kiss, Sayang!" Arnon semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh sang istri.
Melati tersenyum kemudian membalas Arnon.
Cup cup cup
"Triple morning kiss, Hubby!"
Arnon tersenyum manis karena Melati sudah semakin berani menggodanya.
Arnon sudah berada tepat di atas tubuh istrinya.
"Apa kau sudah selesai datang bulan?" tanya Arnon mengusap lembut bibir merah alami istrinya.
Melati malu-malu menganggukkan kepalanya. Arnon merasa sangat bahagia mendapat jawaban yang ia inginkan dari Melati.
"Aku menginginkannya," ujar Arnon secara tak langsung meminta haknya saat ini juga pada Melati.
Melati menyentuh pipi suaminya. Ia sudah mempersiapkan kemungkinan ini akan segera terjadi karena dirinya dan Arnon sudah tahu isi hati masing-masing.
"Aku akan memberikan hakmu, tapi tidak sekarang juga," tutur Melati menatap tiap inci wajah suaminya.
Arnon tersenyum mendengar ucapan Melati.
"Aku akan menahannya sampai nanti malam! dan malam ini akan menjadi malam terindah bagimu, Sayang!"
Cup
Arnon mengecup bibir Melati kemudian beranjak menuju kamar mandi.
Gadis itu masih tersenyum sambil memejamkan matanya.
"Malam ini aku akan menjadi istri Arnon seutuhnya," gumam Melati menutup wajahnya dengan selimut.
Challenge : Like tembus 1000 dan komen tembus 100, author update 1 bab lagi ya.
Semangat untuk para readers semuanya, salam cinta author untuk kalian 😘😘😘😘