
William pagi-pagi sekali di kejutkan oleh suara gedoran pada pintu kamarnya.
Tidurnya yang hanya beberapa jam itu kini terusik. William tidur jam 4 pagi dan jam 6 pagi suara yang memekakkan telinganya mulai membuatnya kesal.
Pria itu menutup telinganya dengan bantal agar suara itu tak terdengar olehnya, namun nampaknya semua yang ia coba lakukan itu percuma, karena suara gedoran pintu kamarnya semakin menjadi.
"Ah, siapa sih!"
William berjalan ke arah pintu kamarnya dengan wajah yang sudah menahan emosi. Ia membuka pintu kamarnya sambil berteriak, "Siapa ...."
Kata-katanya terhenti saat ia tahu siapa orang yang berani menggedor-gedor pintu kamarnya sepagi ini.
"Kenapa? apa kau akan marah pada, Daddy?" tanya orang yang menggedor pintu kamar William yang tak lain adalah Edward.
"Bukan begitu, Dad! aku kira bukan Daddy yang membangunkan aku," elak William di hadapan paman yang sudah dianggapnya ayah.
"Ikut Daddy ke bawah!"
Edward berjalan menuruni tiap anak tangga yang berada di rumah itu.
William masuk ke dalam kamarnya lagi untuk mengambil kaos karena ia tidur bertelanjang dada.
Dokter muda itu sedikit berlari kecil untuk mengejar Edward yang sudah menuruni anak tangga di lantai dua.
"Kenapa kau harus tidur di lantai paling atas sih, Will? Daddy lelah jika setiap hari naik turun tangga seperti ini," ujar Edward pada William yang ia sadari jika keponakannya itu sudah berada tepat di belakangnya.
"Agar aku tak di ganggu, Dad!"
Mereka berdua sudah berada di ruang keluarga. Tak disangka Salma ternyata juga sudah berada di ruangan itu sebelum Edward dan William datang.
Wajah William mulai pucat. Ia merasa mungkin mereka sudah tahu tentang hilangnya Marion.
"Ada yang ingin kau katakan pada, Daddy dan Bunda?" tanya Edward coba memancing William.
"Apa yang harus aku katakan, Dad?" tanya balik William pada Edward.
"Terserah kau, mungkin ada yang ingin kau katakan pada kami," tutur Edward sambil melipat kedua tangannya di dada.
Salma tak bertanya apapun, ia hanya diam memperhatikan wajah William yang mulai salah tingkah karena masalah besar yang ia tutupi.
"Ada atau tidak, Will?" tanya Salma yang sudah tak bisa menahan pertanyaan keluar dari mulutnya..
"Aku tahu jika kalian berdua sudah paham apa yang terjadi," tutur William dengan suara lemah.
"Jadi apa solusinyanya sekarang? apa kau akan mengejarnya yang sudah berstatus menjadi istri orang atau kau akan membatalkan pernikahan ini dan membuat keluargamu malu," jelas Edward panjang lebar.
"Aku tak akan pernah mengejarnya yang sudah menjadi istri orang, Dad! tapi aku juga tak bisa membatalkan pernikahannya ini, karena besok acaranya akan berlangsung," tutur William frustrasi.
"Jadi kita harus bagaimana?" tanya Salma yang juga ikut buntu dalam memikirkan jalan keluar dari masalah keluarganya kali ini.
Tak ada yang membuka suara. Semua orang sedang mencari jalan keluar dari acara besok.
"Satu-satunya cara kau harus mencari calon istri pengganti, Marion!" Edward mulai mengeluarkan ultimatumnya.
William ternganga dengan apa yang ia dengar dari mulut Pamannya.
"Itu tidak mungkin, Dad! acaranya besok, apa Daddy pikir mencari pengganti dari keluarga baik-baik itu gampang? aku tak ingin menikah dengan orang yang tak aku cintai," protes William pada Edward.
"Jika kau tak bisa mencari pengganti, Marion! biar Daddy saja yang mencarikannya dan kau harus setuju dengan pilihan, Daddy! dan satu lagi! jika kau lebih dekat dengannya dan kau mau dekat dengannya, cinta diantara kalian akan tumbuh."
Edward berdiri dari sofa yang ia duduki. "Ayo kita pulang, Bun! masalah ini harus segera teratasi," pinta Edward pada Salma dan wanita itu langsung menuruti perintah suaminya.
Sebelum Salma benar-benar pergi dari rumah William, ia masih menoleh menatap keponakannya yang terlihat sangat kebingungan dengan wajah tertunduk ke bawah.
Salma sebenarnya kasihan melihat William harus menerima keadaan seperti itu. Namun nasi sudah menjadi bubur, mau tak mau ia dan suaminya harus mencari jalan keluar dari masalah ini.
Salma berjalan keluar dari rumah William menuju ke arah mobilnya.
Saat kepergian Edward dan Salma, William menjatuhkan kepalanya pada sandaran sofa sambil mengusap wajahnya kasar.
Salma dan Edward sudah berada di dalam mobil. Mereka berdua nampak kebingungan.
"Apa yang harus kita lakukan, Sayang?" tanya Salma dengan wajah cemas.
"Huh, aku juga tak tahu! kenapa wanita itu bisa berani sekali melakukan hal gila ini."
Edward teringat pada Arnon. Ia langsung mengarahkan mobilnya menuju arah rumah Melati dan Arnon.
Beberapa menit mobil itu memecah jalanan, akhirnya keduanya sampai di halaman rumah mewah milik Arnon.
Keduanya langsung turun dari mobil berjalan masuk ke dalam rumah sahabatnya.
Di sana ternyata sudah ada Miranda yang menyambut mereka, "Selamat pagi, Tuan dan Nyonya Pattinson!"
"Selamat pagi! Arnon ada?" tanya Edward.
"Tuan dan Nyonya ada! anda dan Nyonya Pattinson bisa menunggu di ruang tamu, saya akan memanggil, Tuan!"
Edward mengangguk, kemudian berjalan menggandeng tangan Istrinya ke arah ruang tamu rumah mewah itu.
Miranda berjalan ke arah halaman belakang untuk memanggil si pemilik rumah.
Tak beberapa lama, Arnon dan Melati muncul dari arah halaman belakang.
"Edward, Salma? tumben kalian pagi-pagi sudah berada di sini?" tanya Arnon sembari mendaratkan bokongnya pada sofa empuk rumahnya, di susul sang istri.
"Ada masalah besar yang terjadi, Ar! dan aku bingung harus bagaimana."
"Masalahnya sebesar apa sampai kau kebingungan seperti itu?" tanya Arnon balik dengan senyum remehnya.
"Calon istri William ... kabur!"
Mendengar semua ucapan sahabatnya, Arnon dan Melati di buat menganga dengan kedua mata mereka terbelalak sempurna.
"Kau jangan bercanda, Ed! ini acara pernikahan, jangan di buat lelucon," ledek Arnon kembali dengan nada meledek.
"Kami serius, Arnon! kami hari ini harus bisa mendapatkan calon menantu yang baik untuk, Edward! menantu yang bisa menerima dia apa adanya, bukan memanfaatkan kebaikan hatinya," sambung Salma menatap Arnon dan Melati dengan raut wajah sendu.
Belum juga Arnon dan Melati menanggapi ucapan Salma, seorang gadis cantik menuruni tiap anak tangga dengan senyum yang terpancar indah menghiasai wajah yang membuat siapa saja terhipnotis seketika itu juga.
Rambut yang di kuncir asal-asalan, dengan setelan baju tidur bergambar kelinci, membuat gadis itu selain cantik, namun terlihat menggemaskan.
Saat telapak kakinya sudah menyentuh lantai rumahnya yang paling dasar, Zinnia memanggil kedua orangtuanya, "Dad, Mom!"
Melati menoleh ke arah sang putri, sementara Arnon hanya geleng-geleng kepala mendengar suara anak sulungnya itu.
Arnon melihat ke arah jam tangannya. Ia tahu jika jam tujuh pagi merupakan waktu Zinnia memberikan ciuman selamat pagi pada kedua orangtuanya.
Karena Zinnia tak tahu jika ada tamu, ia langsung berlari ke arah Melati dan Arnon.
"Morning ...."
Ucapan Zinnia terhenti saat ia sadar jika ada Uncle Edward dan istrinya.
"Uncle ada di sini?" tanya Zinnia kebingungan.
"Ini, Zinnia?" tanya balik Edward menatap ke arah Arnon.
"Iya," sahut ayah dari Zinnia.
"Wah, kau cantik sekali, Nak! maaf, Uncle tak mengenali wajahmu yang sangat cantik ini, karena Uncle tak sering menonton televisi di rumah! yang Uncle tahu, kau seorang desainer muda berbakat dunia," puji Edward untuk mengambil hati Zinnia.
"Zinnia adalah orang yang pas untuk, William! bukankah dulu Melati sempat menjodohkan mereka saat masih kecil? mungkin ini sudah takdir tuhan untuk mereka berdua."
Edward tersenyum lega karena ia yakin jika calon menantunya kali ini mau mendampingi William tanpa memandang kekayaan atau jabatan keponakan yang sudah ia anggap anak sendiri.