
Keesokan harinya, sebelum Melati kembali ke rumahnya. Ia dan Arnon mampir ke sebuah supermarket untuk berbelanja kebutuhan yang ingin ia makan setelah sampai di rumah.
Sebenarnya semua kebutuhan dapur sudah ada yang mengurus, namun kali ini Melati ingin makan lopster Asam manis dan wanita yang ulet di dapur itu yang akan memasak sendiri lopster tersebut.
Melati dan Arnon berjalan menuju bagian seafood. Saat sedang asyik berjalan, Arnon melihat seseorang yang mirip sekali dengan Edward.
Mata Arnon kembali memastikan jika orang yang ia lihat itu memang sahabatnya. "Edward!" Arnon memanggil pria yang sama dengan sahabatnya yaitu si Dokter tampan.
Pria itu menoleh ke arah Arnon dan benar saja, ia adalah Edward. "Arnon? sedang apa kau disini?" tanya Edward berjalan ke arah Melati dan Arnon sambil menggandeng tangan seorang anak laki-laki tampan.
"Aku sedang berbelanja! kau kira aku sedang olahraga," sahut Arnon yang gemas dengan pertanyaan Edward.
Melati melihat ke arah anak laki-laki tampan itu. "Dia siapa?" tanya Melati pada Edward, namun tatapan wanita hamil itu tertuju pada anak laki-laki ang tangannya tengah di gandeng oleh Dokter tampan tersebut.
"Dia keponakanku, Mel!"
Melati tersenyum pada anak laki-laki itu. Ia memberikan kode dengan tangannya agar keponakan Edward mendekat ke arahnya. "Kemari, Sayang!"
Anak laki-laki itu menatap ke arah Edward untuk meminta izin. Boleh atau tidak dia mendekat ke arah Melati.
Edward mengerti maksud ponakannya itu dan ia menganggukkan tanda mengizinkan. Anak laki-laki itu berlari kecil ke arah Melati.
"Apa dia, William?" tanya Arnon yang sedari tadi mengamati keponakan Edward.
"Iya, Ar! dia Aiden William Pattinson," sahut Edward.
"Wah, dia sudah besar rupanya! dulu saat kedua orang tuanya meninggal, dia masih kecil," ujar Arnon mengusap lembut kepala William.
Melati menoleh ke arah Edward dan Arnon. Ia nampak kebingungan dengan arah pembicaraan keduanya.
Melati mencoba menahan diri agar ia tak menanyakan rasa penasarannya saat ini pada Arnon.
Melati beralih menatap William. "Kau umur berapa, Sayang?" tanya Melati sambil menyentuh pipi William.
"Aku umur 7 tahun, Aunty!"
"Kau sungguh anak yang tampan," puji Melati dengan raut wajah gemas pada William.
"Terimakasih! Apakah Aunty teman, Daddy?" tanya William polos.
Melati terdiam sejenak. "Daddy?" tanya Melati kebingungan.
"Iya! Daddy Edward!" William menjawab pertanyaan Melati.
"Dia memanggilku, Daddy! karena hanya aku dan kedua orangtuaku yang dia punya," sambung Edward menjawab semua pertanyaan yang ada dalam otak Melati.
Melati langsung menatap iba pada William. Bocah itu sama sepertinya, namun bedanya hanya Melati masih bisa merasakan kasih sayang ayahnya, sementara William tidak bisa merasakan kasih sayang kedua orangtuanya.
"Aunty teman Daddy-mu, Sayang!"
"Aunty sangat cantik," ujar William pada Melati.
Arah tatapan mata William tertuju pada perut buncit Melati. "Apa Aunty sedang hamil?" tanya bocah itu.
"Kau benar, Aunty sedang hamil," sahut Melati.
"Apa dia perempuan?" tanya William lagi.
Melati tersenyum mendengar pertanyaan William. "Bagaimana kau tahu jika dia perempuan?" tanya Melati balik.
"Karena Aunty cantik, jadi jika dia perempuan, dia juga pasti akan cantik seperti, Aunty!" William tersenyum pada Melati.
Arnon dan Edward yang mendengar percakapan wanita hamil dan bocah berusia tujuh tahun itu hanya bisa tersenyum.
"Apa kau mau menikah dengannya saat dia sudah dewasa kelak?" tanya Melati iseng.
"Tentu saja aku mau, Aunty! tapi jika dia cantik seperti ibunya," tutur William polos.
Melati, Arnon, dan Edward tertawa mendengar ucapan anak kecil yang sangat jujur.
Wajah Melati sempat terkejut, namun ia kembali menormalkannya.
Tangan mungil William mengusap lembut perut Melati seraya berkata, "Adik kecil! saat kau dewasa nanti, kau harus menjadi perempuan cantik seperti ibumu, agar aku bisa menikah denganmu."
Melati tersenyum mendengar semua harapan William. "Semoga semua harapanmu bisa terkabul ya, Sayang!"
Arnon dan Edward ikut tersenyum dengan tingkah William.
"Will! ayo kita harus pulang! Grandma pasti sudah menunggu di rumah," tutur Edward pada keponakannya.
William perlahan mulai melangkahkan kakinya menuju ke arah Edward. Tangan kokoh Dokter tampan itu kembali menggandeng tangan mungil William.
"Kami pulang dulu," pamit Edward pada Arnon dan Melati.
Saat Edward dan William hendak melangkah ke arah kasir untuk membayar belanjaan mereka, tiba-tiba William kembali berbalik menatap ke arah Melati.
Dengan secepat kilat bocah tampan itu berlari ke arah Melati mengecup perut buncitnya. "Sampai jumpa adik kecil," ujar William yang langsung berlari ke arah Edward kembali.
Melati dan Arnon tersenyum dengan tingkah lucu William.
"Kami akan benar-benar pulang kali ini," ujar Edward yang menjauh dari tempat Melati dan Arnon berdiri.
Saat Edward dan William sudah benar-benar tak terlihat, Melati menatap ke arah suaminya.
"Kita beli lopster terlebih dulu! setelah itu aku ingin menanyakan suatu hal padamu," ucap Melati melangkah ke arah bahan makanan ikan laut.
Melati dan Arnon sudah berada di dalam mobil menuju arah pulang.
"Kenapa orangtua William bisa meninggal?" tanya Melati pada suaminya.
"Kedua orangtuanya adalah seorang Dokter! ayahnya Dokter bedah sama seperti adiknya yaitu, Edward! sementara ibunya dokter kandungan yang tak lain Kakak ipar, Edward! mereka berdua hendak melakukan perjalanan ke luar Negeri untuk acara penting yang berhubungan dengan dunia medis, namun saat pesawatnya sudah terbang, tiba-tiba pesawat itu kehilangan koneksi dan keesokan harinya sudah ada kabar jika pesawat yang di tumpangi kedua orangtua William jatuh ke laut, semua korban tak selamat," jelas Arnon dengan raut wajah sedih.
Melati ikut prihatin dengan kisah William. "Kasihan sekali anak itu, pasti dia merasa sangat merindukan kasih sayang seorang ayah dan ibu," ujar Melati.
"Pastinya dan beruntung Edward masih bisa menggantikan sosok ayahnya yang sudah meninggal, dan satu lagi yang harus kau tahu, Sayang!"
"Apa?" tanya Melati penasaran.
"William sudah mewarisi 10 rumah sakit besar di dunia dan ayahnya juga lebih tampan dari, Edward! mungkin ketampanan Edward masih separuhnya," tutur Arnon lagi.
"Jadi lebih tampan Kakak Edward daripada dirimu?" tanya Melati menggoda suaminya.
"Masih lebih tampan aku, Sayang!" Arnon tak mau kalah.
Melati tersenyum mendengar ucapan kepercayaan diri dari mulut suaminya.
"Aku tahu jika kau pria paling tampan bagiku," ledek Melati lagi.
Arnon menatap istrinya penuh tanya. "Maksudmu? aku di mata orang lain jelek?"
"Tentu saja! kau hanya tampan di mataku saja," goda Melati lagi.
Arnon memeluk Istrinya erat. "Tak apa, yang penting aku selalu tampan di matamu meskipun aku sudah tua dengan perut buncit saat kita sudah berumur kelak."
"Kau tak akan memiliki perut buncit karena aku tahu kau pasti akan langsung berolahraga ketat jika berat badanmu sedikit naik." Melati nampak acuh dengan godaan suaminya.
Arnon tersenyum mengecup manja pipi Istrinya. "Kau sungguh mengerti aku luar dalam, Sayang!"
"Hahahaha! aku memang sudah tahu kau luar dalam, Suamiku!"
"Wah, nampaknya kau sedang ingin membangunkan singa yang sedang tidur?"
"Sudah diam! aku tak ingin banyak bicara! aku ingin tidur," ujar Melati meletakkan kepalanya pada dada bidang Arnon.
Pria itu hanya bisa tersenyum melihat kelakuan Melati dengan mood yang berubah-ubah.
Arnon mengusap lembut rambut Istrinya sembari mengecup lama puncak kepala Melati.