
Arnon masih termenung seperti orang yang tengah kehilangan akal pikirannya.
Ucapan Melati terus berputar-putar di dalam otaknya.
"Apa Melati sungguh jatuh cinta padaku?"
Arnon melirik ke arah Melati,gadis itu masih sibuk melucuti semua foto yang tergantung rapi di sekeliling dinding ruang tamu.
Arnon berjalan mendekat ke arah Melati yang sudah menyusun rapi beberapa foto keluarganya.
Gadis itu berbalik hendak meminta bantuan pada Arnon untuk membantu dirinya mengangkat foto yang sudah siap di bawa ke mobil.
Saat tubuh Melati sudah sepenuhnya berbalik,ia di kejutkan oleh Arnon yang tiba-tiba saja berada di hadapannya.
"Astaga!" Melati mengelus dada.
"Kenapa?" tanya Arnon yang berlagak polos.
"Kau ini ya? bagaimana jika aku jantungan?" menggelengkan kepalanya dengan raut wajah kesal.
Arnon tidak menjawab pertanyaan Melati,pria itu justru menatap kedua manik mata istrinya begitu dalam.
"Apa kau benar-benar sudah jatuh cinta padaku?" tanya Arnon yang ingin memastikan pertanyaan yang selalu berputar di kepalanya sedari tadi.
Melati menghela nafas panjang mendengar pertanyaan dari suaminya yang sudah pasti tahu jawaban dari pertanyaannya itu.
"Apa kau tak percaya padaku?" tanya Melati balik.
"What? kenapa dia bertanya balik padaku? aku ingin membuat gadis ini mengakui perasaannya,ahhhh! ini namanya senjata makan tuan," gerutu Arnon.
"Aku hanya ingin memastikan saja," kilah Arnon dengan santai.
"Jika rumah tangga ini masih bisa aku pertahanan,aku akan terus berjuang." Melati mulai memantapkan hati dan jiwanya.
Dua langkah kaki Melati menapak tepat di depan kaki Arnon.
Gadis itu mengangkat sedikit wajahnya agar dapat melihat wajah Arnon,karena tinggi mereka memang tak sepadan.
Tumit Melati perlahan mulai naik dengan kaki yang bertumpu pada kelima jari kakinya.
Gadis itu mendekatkan wajahnya ke wajah Arnon.
Arnon masih tetap tak bergeming dari tempat ia berdiri.Wajah pria itu terlihat kebingungan dengan apa yang akan dilakukan oleh istrinya.
"Apa yang akan kau laku ...."
Kalimat Arnon harus terhenti di tengah jalan karena bibir indahnya sudah di bungkam oleh bibir kenyal Melati.
Gadis itu tak melakukan pergerakan apapun,ia hanya sebatas menempelkan bibir saja agar Arnon percaya jika perasaan yang ia miliki pada Arnon bukan sebatas wacana semata.
Mata Melati terpejam sempurna menikmati lembutnya benda kenyal milik Arnon yang selalu memakan habis bibirnya.
Mata Arnon masih terbelalak sempurna mendapat tindakan tak terduga dari istrinya.Pasalnya gadis itu tak mungkin berani melakukan hal segila ini.
Melati melepaskan ciumannya pada bibir Arnon.
Gadis itu menatap lekat kedua mata suaminya.
"Aku kira ciuman ini sudah cukup menjawab semua pertanyaan dalam hatimu." Menunjuk dada bidang Arnon.
Pria itu masih diam tak bisa berkata-kata lagi.Kali ini Melati sukses membuatnya menjadi patung.
"Kenapa pria ini seperti orang yang terkena hipnotis?" Melati menatap Arnon dengan tatapan aneh.
Melati melambaikan tangannya tepat di wajah Arnon yang masih diam tanpa ekspresi.
"Arnon! apa kau sehat?" tanya gadis itu menyentuh pipi suaminya untuk memastikan.
Arnon terkesiap dengan sentuhan tangan Melati yang secara langsung menyadarkan dirinya.
"Kau ... bukannya kau tadi ...."
"Tadi kenapa?" tanya Melati pura-pura tak tahu.
"Bukannya kau tadi ...."
Cup
Lagi-lagi Melati berulah membuat Arnon kembali terkejut.
Pria itu menyentuh bibirnya yang di kecup oleh Melati.
"Ini bukan mimpi kan?" Arnon mencubit pipinya keras.
"Awwww!"
Sontak tingkah konyolnya itu membuat Melati tertawa terbahak-bahak sampai memegang perutnya yang terasa sakit.
"Kau ini ... sedang apa sih? hahahaha!" tawa Melati terus saja terdengar.
"Pasti sakit ya?" tanya Melati menyentuh pipi suaminya yang sedikit memerah.
Deg deg deg
Jantung Arnon mulai terpacu lebih cepat.
"Ada apa dengan dadaku ini? kenapa aku merasakan hal ini padanya? apa aku sudah mulai jatuh cinta pada istriku sendiri?"
"Biar aku saja yang mengangkat foto-foto ini," ujar Melati membungkukkan badannya untuk mengangkat beberapa foto dan membawanya keluar.
Gadis itu berjalan melewati pintu keluar,namun saat tepat berada di teras rumah lamanya,Melati menoleh ke arah Arnon.
"Arnon! ayo cepat kita pulang!" Melati memanggil suaminya yang masih termenung sambil menyentuh pipinya.
Pria itu menatap ke arah Melati dan berjalan mendekat.
"Kau tadi menciumku kan?" tanya Arnon lagi yang sudah merasa frustasi dengan ulah Melati padanya.
Pertanyaan Arnon hanya di balas senyuman oleh Melati.
"Mungkin kau sedang bermimpi,Tuan Arnon!" Melati meledek suaminya kemudian berjalan menuju mobil.
Saat gadis itu ingin membuka pintu mobil,ia menoleh ke arah Arnon.
"Cepat masuk mobil! jangan lupa kunci pintunya lagi dan terimakasih." Dengan kerlingan mata menggoda.
Deg deg deg
Dada Arnon kembali berdentum tak karuan.
"Akkhhh! aku ini kenapa sih? apa mungkin aku sudah jatuh cinta padanya!" mengacak-acak rambutnya frustasi.
Arnon mengunci pintu rumah itu dan berjalan menyusul Melati yang sudah ada di dalam mobil.
Di dalam mobil Melati tersenyum-senyum sendiri melihat wajah Arnon yang nampak gusar.
"Hihihi! rasakan kau Arnon!" Melati bahagia bisa menggoda suaminya sampai seperti orang linglung.
"Aku harus menanyakan padanya lagi saat kami sampai di rumah! aku tak ingin jadi gila seperti sekarang ini," pikir Arnon yang sesekali melirik Melati.
Arnon dan Melati sudah sampai di rumah baru Hadi.
"Mbak! tolong letakkan semua foto ini di dinding ruang tamu ya?"
"Baik,Nona!"
Arnon tanpa pamit langsung berjalan ke arah kamarnya.
Melati menyipitkan matanya melirik ke arah Arnon.
"Pasti merajuk lagi," gumam Melati.
Gadis itu menyusul Arnon dengan setengah berlari menaiki anak tangga.
Ceklek
Melati membuka pintu kamar dan melihat Arnon sudah bergulung di dalam selimut yang sangat tebal.
Gadis itu mendekat ke arah suaminya yang memasang raut wajah kesal.
"Kau kenapa?" tanya Melati yang duduk di bibir ranjang dekat Arnon.
Tak ada jawaban dari mulut Arnon,yang ada hanya keheningan.
"Arnon ayo jawab! kau kenapa?" Melati terus mengguncang tubuh Arnon yang masih tak ingin menjawab pertanyaan.
Tiba-tiba saja pria itu terlonjak bangun menatap Melati.
"Aku tanyakan sekali lagi padamu ya? kau tadi menciumku atau tidak? aku hanya ingin tahu jawaban itu karena ... aku merasa tadi itu seperti ... mimpi," ujar Arnon.
Melati kembali ingin tertawa namun ia tahan sekuat tenaga.
"Aku tak akan menjawab pertanyaanmu lagi dan kau tak perlu bertanya lagi karena apa yang kau rasakan itu NYATA," jelas Melati panjang lebar.
Senyum Arnon mengembang sempurna.Ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang dengan suasana hati berbunga-bunga.
"Kenapa lagi dengan pria aneh ini?" Melati mengendap-endap berjalan keluar dari kamarnya.
Arnon masih tak sadar jika Melati sudah tak ada di kamar itu.Ia masih fokus dengan kilas balik kejadian dimana saat Melati menciumnya lebih dulu.
"Kenapa aku merasa seperti sedang bermimpi." Arnon menyentuh bibirnya yang menyunggingkan senyum tampan.
"Melati aku mau ti ...."
"Kemana perginya gadis itu?" mencari keberadaan sang istri.
"Terserahlah,aku hanya ingin beristirahat sekarang." Arnon memejamkan matanya dengan seutas senyum yang tersungging indah.