
William membantu istrinya berdiri. Pria itu masih melihat Zinnia dari atas ke bawah.
Zinnia yang di tatap seperti itu oleh suaminya merasa risih. "Kenapa melihatku seperti itu? apa kau sungguh mulai tergila-gila padaku," cecar Zinnia pada suaminya.
Pria itu yang awalnya cemas, kini William malah melotot menatap sang istri. "Aku hanya ingin memastikan jika kau tak apa-apa! kau jadi perempuan bisa tidak jika kau lebih lembut tak perlu langsung menyemburkan unek-unekmu seperti itu."
Zinnia hanya menjulurkan lidahnya pada William. Ia kemudian berbalik mencari sesuatu yang membuat dirinya tersandung.
Mata gadis itu masih celingak-celinguk mencari benda yang membuatnya samping hendak mendarat bebas di atas rumput gajah.
William menghela nafas panjang. "Kau sedang apa, Gadis cerewet! apa kau sedang menjadi seorang penguntit yang mengendap-endap mencari mangsa," sindir William karena Istrinya berjalan pelan dan mengendap-endap.
"Ssstttt! kau bisa diam tidak! kenapa penyakit cerewetku pindah kepadamu?"
"Kau yang kenapa berjalan mengendap-endap seperti itu?" tanya William kembali menatap istrinya kesal.
"Aku sedang mencari benda empuk berbulu yang membuatku hampir terjatuh tadi! aku yakin ada di sini, tapi kenapa tidak ada," tutur Zinnia melihat tempat benda yang iya yakini telah membuatnya hampir terjatuh.
Tiba-tiba seekor kelinci kecil berbulu coklat muda keluar dari arah hamparan bunga mawar yang berada di tengah taman tersebut.
Kelinci tersebut menghampiri Zinnia. Gadis itu takjub dengan keimutan yang di miliki kelinci tersebut.
Zinnia berjongkok sambil tersenyum manis ke arah kelinci lucu yang berada di hadapannya.
"Kau lucu sekali! siapa namamu kelinci kecil?" tanya Zinnia pada hewan peliharaan suaminya seakan kelinci tersebut bisa menjawab pertanyaan yang diajukannya.
William menggelengkan kepalanya tanda pria itu sungguh tak habis pikir dengan jalan pikiran Zinnia yang mengajukan pertanyaan pada seekor kelinci.
"Hei! apa kau waras? dia itu hewan dan dia tak mungkin menjawab pertanyaan yang kau ajukan, Gadis cerewet!"
Zinnia menatap ke arah William dengan sorot mata menukik tajam. "Kau yang cerewet! aku sedang berinteraksi dengannya agar dia tak terkejut jika aku ingin mencoba menyentuhnya," celoteh Zinnia pada suaminya.
"Jadi kau ingin mencoba dekat dengannya?" tanya William tersenyum simpul.
Zinnia dapat membaca gelagat tak benar dari senyum suaminya yang seakan mengisyaratkan jika pria itu akan melakukan sesuatu padanya.
"Aku harus jawab apa? aku takut dia merencanakan hal yang tak baik padaku."
"Bukan urusanmu! kau pergi saja sana!" Zinnia mengusir suaminya secara blak-blakan tanpa rasa takut karena ia lebih takut jika William melakukan hal yang licik padanya.
Ucapan Zinnia tak di indahkan oleh William. Pria itu malah memanggil pelayan yang tadi bersama Zinnia pergi ke halaman belakang. "Pelayan! bawa wortel yang tadi kau bawa," pinta William dan pelayan tadi tak berani membuka matanya karena ia tahu jika zona yang ia masuki adalah zona terlarang di rumah Tuannya.
Pelayan itu menjulurkan kantuk plastik berisi wortel pada William dengan kondisi mata tertutup.
Pria itu menghampiri pelayan tersebut dan mengambil kantuk plastik yang berisi beberapa wortel di dalamnya.
William berjalan menghampiri istrinya dan memberikan sekantung plastik wortel tersebut pada Zinnia.
Gadis itu masih bingung. Zinnia menerima wortel tersebut dan menatapnya cukup lama.
"Kenapa kau hanya menatapnya? cepat berikan wortel itu pada kelinci peliharaanku! bukannya kau ingin berinteraksi dan lebih dekat padanya?"
"Itu makanan kesukaannya, jadi dia pasti akan suka," jelas William yang mengambil sebungkus wortel tersebut dari tangan Istrinya.
Zinnia tanpa pikir panjang kembali mengambil makanan kelinci tersebut. "Biar aku saja! kau pergi saja sana!" lagi-lagi Zinnia mengusir suaminya.
William hanya tersenyum simpul menanggapi ucapan Istrinya. "Apa kau yakin ingin menyentuhnya? dia akan menggigitmu, Zi!"
"Kau pasti berbohong kan! agar aku tak jadi menyentuhnya?"
Zinnia langsung memberikan satu buah wortel pada kelinci tersebut. Zinnia mencoba berinteraksi dengan kelinci itu agar ia dapat mengusap lembut bulu lebatnya.
Kelinci tersebut mulai mendekati Zinnia yang menggoda kelinci itu dengan memberikannya wortel yang tak lain makanan kesukaannya.
Kelinci itu mulai memakan wortel yang masih berada di tangan Zinnia. Gadis itu mencoba menyentuh bulunya, namun saat ia mencoba menyentuhnya, rasa geli lebih dulu menghampiri sekujur tubuh Zinnia.
Tanpa sengaja kelinci itu malah semakin mendekat ke arah Zinnia dan menyentuh bagian tangan istri William itu.
Gadis itu langsung menjerit dan melepaskan wortel tersebut sambil terbangun.
Karena posisi William yang tepat berada di sampingn langsung menjadi sasaran utama untuk gadis itu berlindung.
Zinnia melompat ke tubuh William. Tangan gadis itu sudah melingkar pada leher suaminya. Dengan dada yang sudah menempel sempurna dan kedua kakinya melingkar di pinggan William.
"Aku takut, Pria mesum! bulu hewan itu sangat menggelikan," ujar Zinnia dengan badan yang masih sedikit menggigil kegelian.
Pria itu tersenyum menang. Ia tahu Zinnia tak akan berani pada hewan seperti kelinci karena yang ia tahu di rumah gadis itu tak ada hewan peliharaan semacam kelincinya, yang ada hanya ikan koi.
William berpura-pura ketus pada Istrinya. "Apa yang kau lakukan, Gadis cerewet! apa kau sengaja ingin membuatku tergoda padamu?" tanya William.
Zinnia menjauhkan sedikit wajahnya dari bahu suaminya. Ia menatap William tajam, setajam pisau dapur.
"Apa yang kau katakan? aku ingin menggodamu? hah, kau sungguh pria yang sangat memiliki tingkat kepercayaan diri yang tinggi, Bapak Dokter William Pattinson! asal kau tahu ya? aku tak ingin menggodamu dengan cara seperti itu! tapi karena kau yang memberikan aku ide cemerlang, maka aku akan mewujudkan apa yang sedang kau pikirkan, Suamiku," bisik Zinnia pada telinga suaminya.
Wajah William sudah tak karuan karena ia gagal mengerjai istrinya sendiri.
"Kenapa gadis ini lebih memilih melakukan hal itu padaku? apa dia sungguh-sungguh akan melakukannya?"
"Jangan sembarang ya kau, Gadis cerew ...."
Zinnia langsung menempel bibirnya pada bibir William. Gadis itu memejamkan matanya dengan otak yang penuh berbagai pertanyaan.
"Apa yang harus aku lakukan? jika aku hanya diam begini, dia tak akan cepat takluk padaku! jika aku menciumnya seperti di adegan film yang aku tonton, aku tak tahu caranya bagaimana."
Dengan pikiran yang masih berkecamuk, Zinnia akhirnya meyakinkan pilihannya jika pilihan kali ini benar dan harus ia lakukan agar William cepat tertarik padanya dan dirinya lah yang akan menjadi pemenang dalam permainannya dan sang suami.
"Aku harap pria ini tak membalasnya jika aku nanti menggerakkan bibir yang masih kaku tak mahir ini."
Maaf author dua hari sibuk terus di dunia nyata jadi mohon dimaklumi ya kakak readers tercinta.
insyaallah besok update 2 bab, di tunggu aja ya kakak😍